← Magnum Opus

Chapter Ten

Surat yang Salah Alamat

POV: Theo


SURAT EDARAN — ORDO PERAK, KANTOR KOMANDAN
Nomor: 0417-K (Edaran ke-417)
Kepada: Seluruh Cabang Guild, Distrik Perbatasan Timur

Terlampir satu salinan diagram formasi tanpa tanda tangan, berasal dari arsip operasional tahun 819.

Ordo Perak memohon bantuan seluruh cabang untuk satu hal saja: apakah ada personel di wilayah Saudara yang mengenali tulisan tangan pada lampiran ini.

Permohonan ini tidak berkaitan dengan penyelidikan pidana. Tidak ada tuduhan. Tidak ada tuntutan.

Tolong tanyakan kepada orang-orang Saudara. Tolong tanyakan juga kepada mereka yang tidak terdaftar.

Balasan dapat dikirim ke kantor ini kapan saja, tanpa batas waktu.

Hormat saya,
Roan Ferrant
Komandan, Ordo Perak


BALASAN CABANG MARROW:
Tidak ada. — B. Ravik


Kurir dari kecamatan datang setiap dua puluh hari dan biasanya membawa dua karung surat, dan biasanya setengahnya untuk cabang guild dan setengahnya untuk keluarga yang punya anak di kota.

Hari itu ia membawa tiga karung, karena kecamatan akhirnya bereaksi terhadap laporan Anomali, dan reaksi birokrasi selalu berbentuk kertas sebelum berbentuk apa pun yang berguna.

Aku tahu tentang surat itu karena Lyra datang ke tokoku jam empat sore sambil membawanya, dan karena wajahnya sudah kehilangan seluruh warnanya.

“Tutup pintunya,” katanya.

Aku menutup pintunya.

Dia meletakkan selembar kertas di atas mejaku.

Aku tidak perlu membacanya. Aku melihat lambangnya dari jarak tiga langkah — burung pemakan bangkai perak di atas garis lurus, lambang yang dipilih delapan tahun lalu oleh seorang laki-laki yang bilang dia ingin lambang yang jujur tentang pekerjaan mereka.

Aku tetap membacanya.

Aku membacanya sampai selesai, lalu membacanya lagi.

“Edaran ke-417,” kata Lyra. Suaranya sangat rata. “Saya cek nomor arsipnya. Edaran pertama dikirim tiga tahun lalu. Bulan kesebelas, tahun 822.”

Tiga bulan setelah Ashen Crown bubar.

“Empat ratus tujuh belas edaran,” lanjutnya. “Ke seluruh cabang di benua. Selama tiga tahun. Isinya sama persis setiap kali.”

Aku meletakkan kertas itu di meja.

“Theo.”

“Ya.”

“Komandan Ordo Perak,” katanya, “orang paling kuat kedua di benua ini menurut daftar mana pun yang pernah saya baca, sudah menghabiskan tiga tahun mengirim surat ke empat ratus tujuh belas kantor cabang untuk menanyakan satu pertanyaan.”

Aku tidak menjawab.

“Dan pertanyaannya adalah apakah ada yang mengenali tulisan tangan ini.”

Ruangan itu sangat sunyi. Di luar, seseorang menggiring kambing.

“Tuan Belden sudah membalasnya,” kata Lyra.

Aku mengangkat wajah.

“Satu kata. ‘Tidak ada.’” Dia mengeluarkan lembar kedua dari mapnya dan meletakkannya di sebelah yang pertama. “Dia menulisnya di depan saya. Butuh empat detik. Dia bahkan tidak melihat lampirannya.”


Aku duduk di kursi di belakang mejaku, yang tidak biasa kulakukan saat ada orang di toko.

Kakiku terasa jauh.

Empat ratus tujuh belas.

Roan tidak pernah pandai menulis surat. Dia mengeja “koordinasi” dengan dua i selama enam tahun dan aku tidak pernah mengoreksinya karena dia akan malu.

Empat ratus tujuh belas surat.

Dan setiap satu dari mereka dibalas dengan satu kata oleh orang seperti Belden, di empat ratus tujuh belas ruangan yang berbau kandang.

“Anda tahu,” kata Lyra pelan. “Anda tahu tentang ini.”

“Tidak.”

“Anda tidak terkejut.”

“Aku sangat terkejut,” kataku. “Aku hanya tidak punya wajah untuk itu.”

Dia berjalan mendekat dan berdiri di sisi lain meja.

“Kenapa dia mencari lewat tulisan tangan?”

“Karena dia tidak punya cara lain.”

“Dia komandan ordo. Dia punya tiga ribu prajurit.”

“Dia tidak punya namaku.”

Kalimat itu keluar sebelum aku memutuskan apa pun tentangnya.

Lyra tidak bergerak.

“Apa maksudnya,” katanya, “dia tidak punya nama Anda.”

Aku memandangi permukaan meja kayu, lekukan-lekukan kecil yang dibuat botol tinta selama tiga tahun.

“Ada hal-hal yang tidak bisa kuceritakan,” kataku, “bukan karena aku tidak mau. Karena aku tidak tahu.”

“Anda tidak tahu nama Anda sendiri?”

“Aku tahu namaku.” Aku mengangkat wajah. “Aku tidak tahu kenapa orang lain tidak.”


Ini yang bisa kuceritakan, dan aku menceritakannya malam itu, di kedai Nenek Odel yang sudah tutup, dengan dua cangkir teh yang mendingin di antara kami.

Bahwa aku pernah bekerja dengan lima orang.

Bahwa pekerjaan itu berlangsung sepuluh tahun.

Bahwa berakhir tiga tahun lalu, di sebuah tempat bernama Menara Vessel, dan bahwa aku ingat berangkat ke sana dan aku ingat pulang dari sana dan di antara keduanya ada tiga hari yang tidak ada isinya.

Bahwa ketika aku bangun di reruntuhan, kelima orang itu hidup, dan aku hidup, dan sesuatu terasa salah dengan cara yang tidak bisa kutunjuk.

Bahwa dua bulan kemudian aku pergi ke kantor guild pusat untuk memperbarui kartu, dan petugas di sana mencari namaku di daftar keanggotaan Ashen Crown, dan tidak menemukannya, dan menatapku dengan sabar dan berkata bahwa mungkin aku bingung.

Bahwa aku memeriksa kodeks. Aku memeriksa monumen. Aku memeriksa empat ratus tujuh puluh buku.

Lima nama. Selalu lima.

Bahwa aku berhenti mencari setelah tahun pertama, karena mencari sesuatu yang tidak ada di mana pun akhirnya berhenti terasa seperti mencari dan mulai terasa seperti mengarang.

Dan bahwa yang paling sulit — bagian yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun sampai malam itu — bukanlah dunia yang melupakanku.

Melainkan bahwa setelah beberapa saat, aku mulai berpikir bahwa mungkin dunia benar.


Lyra tidak berkata apa-apa selama waktu yang sangat lama.

Lalu dia meletakkan kedua tangannya di atas meja, sangat rapi, seperti orang yang memutuskan sesuatu.

“Boleh saya bilang sesuatu yang mungkin menyinggung?”

“Silakan.”

“Itu omong kosong.”

Aku mengangkat alis.

“Bagian terakhir,” katanya. “Bahwa mungkin dunia benar. Itu omong kosong, dan Anda tahu itu omong kosong, karena Anda orang yang paling teliti yang pernah saya temui dan Anda tidak akan pernah menerima kesimpulan dengan bukti sebanyak itu bertentangan.”

“Buktinya nol.”

“Buktinya nol koma empat persen,” katanya. “Sembilan puluh enam raid. Lampiran Empat. Empat ratus tujuh belas surat dari seorang komandan ordo yang tidak berhenti selama tiga tahun.” Suaranya naik. “Dan seorang benda tanpa pola di ladang barat yang tahu cara Anda menulis angka delapan. Itu bukan nol, Theo. Itu tumpukan.”

“Tumpukan yang tidak menjelaskan apa-apa.”

“Tumpukan yang tidak bisa dijelaskan kalau Anda tidak ada,” katanya. “Itu berbeda. Itu sangat berbeda dan Anda tahu itu.”

Aku memandangi teh yang sudah dingin.

“Kau tahu apa yang paling kutakutkan?” kataku.

“Tidak.”

“Bukan bahwa mereka melupakanku.” Aku memutar cangkir itu setengah putaran. “Roan mengirim empat ratus tujuh belas surat. Berarti dia tidak melupakan. Berarti ada laki-laki di suatu tempat yang ingat ada seseorang dan tidak bisa mengingat siapa, dan itu menyiksanya selama tiga tahun.”

“Lalu?”

“Lalu aku bisa mengakhirinya besok,” kataku. “Aku bisa menulis satu surat. Empat baris. ‘Aku di Marrow. Tulisan itu punyaku.’”

“Kenapa tidak?”

Aku tidak menjawab.

“Theo,” kata Lyra. “Kenapa tidak?”

Dan jawabannya keluar dengan cara yang tidak kuinginkan, dengan suara yang tidak terdengar seperti suaraku sendiri.

“Karena kalau dia datang,” kataku, “dan berdiri di depanku, dan tetap tidak ingat—“

Aku berhenti.

Kedai itu sangat sunyi. Tungku Nenek Odel berderak sekali.

“Aku bisa hidup dengan dunia yang tidak mencatatku,” kataku akhirnya. “Aku sudah melakukannya tiga tahun. Aku cukup baik dalam hal itu.”

Aku meletakkan cangkir itu.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa hidup dengan Roan Ferrant menatap wajahku dan tidak menemukan apa-apa.”


Lyra mengantarku sampai depan toko, yang tidak masuk akal karena tokoku searah dengan cabang guild dan dia yang lebih jauh.

Di depan pintu, dia berhenti.

“Saya akan mengarsipkan surat itu,” katanya. “Sesuai prosedur. Balasan Tuan Belden juga.”

“Baik.”

“Tapi saya akan membuat satu salinan tambahan,” katanya. “Untuk arsip pribadi saya. Yang tidak masuk sistem.”

“Kau melanggar peraturan arsip lagi.”

“Ya.”

“Kedua kalinya dalam tiga minggu.”

“Ketiga,” katanya. “Yang kedua Anda tidak tahu.”

Dia mengatakan itu dengan wajah lurus dan berjalan pergi sebelum aku sempat menjawab, dan aku berdiri di depan pintuku sendiri dan tertawa — sungguhan, di jalan kosong, sendirian, jam sebelas malam.

Bunyinya masih terdengar asing.

Tapi kurang asing dari minggu lalu.


Malam itu aku duduk di meja kerja dan mengeluarkan selembar kertas.

Kertas yang bagus. Yang kusimpan untuk pesanan besar dan yang tidak pernah kupakai karena tidak pernah ada pesanan besar.

Aku mencelupkan pena.

Roan,

Aku memandangi satu kata itu selama sekitar lima menit.

Lalu aku meletakkan pena, dan melipat kertas itu dua kali, dan memasukkannya ke laci — ke laci yang sama, di atas kertas berisi sembilan nama saksi yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun untuk apa.

Aku menutup laci.

Open Status Window.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99

Party Affiliation (Archived) :
[ ASHEN CROWN ] — Disbanded, Year 822
Members : 5
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Lima.

“Roan,” kataku, kepada kotak biru pucat di ruang tamu yang gelap, seperti orang bodoh.

Sistem tidak menjawab.

Sistem tidak pernah menjawab.

Close.


Empat hari kemudian, sebuah party berkuda masuk lewat gerbang selatan Marrow dengan lambang burung camar perak dan surat penugasan resmi dari Guild Kecamatan Distrik Perbatasan Timur.

Dan kali ini mereka datang bukan untuk lewat.


Bersambung — Bab 11: Silverline

Jumlah kata: 2.109