← Magnum Opus

Chapter Eleven

Silverline

POV: Theo


GUILD KECAMATAN — SURAT PENUGASAN 88/AN

Party Silverline (Rank A, 6 personel) ditugaskan sebagai Regu Penanggulangan Anomali untuk Distrik Perbatasan Timur, berpangkalan di Desa Marrow.

Wewenang: penuh atas seluruh operasi lapangan di wilayah tugas. Seluruh personel guild lokal, termasuk pemburu berlisensi, berada di bawah koordinasi ketua party selama masa tugas.

Ketua Party: Aldric Vane

Catatan: Penugasan diberikan atas dasar rekam jejak dan atas permintaan pribadi ketua party yang bersangkutan.


Mereka masuk jam sebelas pagi, dan seluruh desa keluar untuk melihat.

Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk itu. Party rank A yang datang untuk tinggal adalah hal yang belum pernah terjadi di Marrow, dan orang-orang di sini sudah kehilangan sebelas orang survei dan hampir kehilangan enam penambang dalam waktu tiga minggu.

Mereka ingin merasa dijaga. Itu wajar.

Enam kuda. Formasi yang, lagi-lagi, cukup rapi.

Dua wajah yang kukenal dari malam tandu itu — ranger dengan bahu miring, dan seorang mage perempuan yang waktu itu tidak berkata apa-apa selama enam jam. Empat wajah baru.

Dan di depan, tanpa helm, dengan sisi kanan tubuhnya yang bergerak sedikit lebih hati-hati dari sisi kiri:

Aldric Vane.


Aku menghitung.

Aku tidak mau. Aku benar-benar tidak mau kali ini — aku sedang menurunkan karung biji galat dari gerobak dan aku memutuskan secara sadar untuk tidak melihat.

Kepalaku melakukannya lewat suara.

Enam kuda. Langkah kaki tidak seragam — kuda ketiga pincang ringan, kaki belakang kiri, mungkin dua hari.

Zirah baru. Bunyinya berbeda; pelat yang belum pernah ditempa ulang berbunyi lebih tinggi. Berarti empat orang baru ini bukan sekadar pengganti — mereka direkrut dengan anggaran.

Bunyi langkah Aldric turun dari pelana: dua tahap, bukan satu. Dia masih tidak bisa menumpu penuh di kanan.

Dia belum sembuh dan dia mengambil penugasan.

Aku mengangkat karung biji galat dan membawanya masuk.


Dia datang ke tokoku jam dua siang.

Sendirian, tanpa zirah, dengan pakaian sipil yang jelas mahal dan jelas tidak nyaman dipakai di desa berdebu.

“Penjual tinta.”

“Ya.”

“Kau ingat aku?”

“Aldric Vane.”

Dia berhenti. Aku rasa dia tidak menduga aku tahu namanya.

“Kau mengangkat tanduku,” katanya.

“Salah satunya.”

“Aku ingin—“ Dia berhenti lagi, dan aku melihat sesuatu yang menarik: laki-laki ini sedang mencoba mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya dan menemukan bahwa terima kasih kedua jauh lebih sulit daripada yang pertama. “Aku kembali. Kau lihat suratnya?”

“Aku tidak baca surat penugasan.”

“Aku yang minta.” Dagunya naik sedikit. “Distrik menawarkan tiga party. Aku minta yang ini.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuatnya diam selama tiga detik penuh.

“Karena aku yang membuatnya lolos,” katanya akhirnya. “Chimera itu. Aku membuatnya mundur ke hutan, dan aku pulang, dan dua minggu kemudian sebelas orang mati di sana.”

“Chimera itu sudah mati sebelum tim survei masuk.”

“Aku tahu.” Dia mengusap wajahnya. “Itu tidak membantu sebanyak yang seharusnya.”

Aku memandanginya.

Dan aku harus mencatat hal ini dengan jujur, karena nanti akan ada banyak orang yang menceritakan Aldric Vane dengan cara yang tidak adil:

Dia bukan orang jahat.

Dia dua puluh empat tahun. Dia sangat berbakat. Dia kehilangan dua orang untuk pertama kalinya, dan alih-alih pulang ke ibu kota untuk sembuh, dia meminta dikirim kembali ke tempat yang membuatnya kalah.

Itu bukan kesombongan. Itu hal yang sebaliknya, dibentuk dengan buruk.

“Apa yang bisa kubantu?” kataku.

“Tinta. Dan kertas gambar, kalau ada.” Dia mengeluarkan daftar dari saku. “Kami perlu memetakan sektor. Aku mau semua sarang dan titik kemunculan dicatat.”

Aku membaca daftarnya.

Daftar yang bagus. Sungguh. Sistematis, lengkap, dan disusun oleh seseorang yang jelas belajar dari kesalahan.

“Kau perlu tinta arsip untuk peta,” kataku. “Yang encer akan luntur di lapangan. Tapi tinta arsip butuh empat hari kering di kertas gambar, jadi kau tidak bisa melipat petamu di hari yang sama.”

Dia mengangkat wajah.

“Tidak ada yang pernah memberitahuku itu.”

“Sekarang sudah.”

Dia membeli dua belas botol.

Di pintu, dia berhenti.

“Penjual tinta.”

“Theo.”

“Theo.” Dia mengangguk sekali, seperti mencatat. “Kau ada di tambang. Waktu enam orang itu keluar.”

Aku tidak menjawab.

“Orang-orang bicara,” katanya. “Aku dengar tiga versi berbeda sepanjang pagi. Salah satunya bilang kau berteriak ke lubang selama satu jam.”

“Empat puluh menit.”

Dia memandangiku.

“Jadi versi itu benar.”

“Aku berteriak ke lubang,” kataku. “Ya.”

Aldric Vane berdiri di ambang pintuku, dan aku bisa melihat pikirannya mencari tempat untuk meletakkan informasi itu, dan tidak menemukan rak yang muat, dan akhirnya melakukan hal yang dilakukan semua orang.

Dia meletakkannya di rak “kebetulan”.

“Party rank C,” katanya. “Mereka pasti panik. Kadang orang cuma butuh suara dari luar supaya tidak panik.”

“Kadang begitu.”

“Ya,” katanya, puas. “Itu bagus. Itu berguna.”

Dia keluar.

Aku berdiri di balik meja untuk waktu yang cukup lama setelah pintunya tertutup.

Bukan marah. Aku sudah lama tidak marah untuk hal seperti itu.

Hanya lelah, sedikit, dengan cara yang tidak enak.


Yang lain tidak seperti Aldric.

Itu bagian yang harus kucatat juga, supaya adil di arah sebaliknya.

Empat rekrutan baru Silverline berumur antara dua puluh dan dua puluh enam tahun, semuanya rank B, semuanya dari ibu kota, dan semuanya mendapat penempatan pertama mereka di sebuah desa yang tidak punya jalan beraspal.

Mereka menanganinya sebagaimana orang muda menangani rasa kecewa: dengan menjadi menyebalkan.

Aku mendengar sebagian besarnya lewat Nenek Odel, yang kedainya menjadi markas tidak resmi mereka dalam waktu dua hari.

“Yang tinggi itu tanya apakah kami punya air panas,” katanya, sambil menaruh sup di depanku. “Aku bilang punya. Dia tanya apakah ada yang lain selain sup. Aku bilang tidak.”

“Lalu?”

“Lalu dia makan supnya.”

“Bagus.”

“Dua mangkuk.” Dia duduk. “Aku suka anak yang mengaku kalah.”

Yang lebih buruk terjadi hari keempat.

Aku sedang mengantar tinta ke cabang guild ketika salah satu dari mereka — perempuan muda, warrior, rambut dipotong pendek dan sikap orang yang belum pernah gagal — melihat kartu guild yang tergantung di leherku.

Dia tidak mengatakan apa-apa yang kasar.

Dia hanya mengambilnya. Mengangkatnya dengan dua jari, membacanya, dan tertawa sekali — pendek, tanpa niat jahat, seperti orang membaca lelucon di dinding kedai.

“Rank F,” katanya. “Aku belum pernah lihat rank F di leher orang dewasa.”

Rekannya menyikutnya.

“Apa? Aku tidak menghina.” Dia melepas kartu itu, dan kartunya jatuh menggantung kembali di dadaku. “Cuma belum pernah lihat.”

“Sekarang sudah,” kataku.

Dia mengerjap.

Lalu dia tertawa lagi, kali ini dengan cara yang lebih ramah, dan menepuk bahuku, dan berkata “kau lucu, Pak”, dan pergi.

Aku mengantar tintaku.


Yang tidak kuduga adalah reaksi Pip.

Anak itu ada di sana. Duduk di anak tangga cabang guild dengan botol tinta encer yang kuberikan padanya dua minggu lalu, menggambar entah apa.

Dia berdiri sebelum aku sempat berkata apa-apa.

“KAU—“

“Pip.”

“Kau tidak boleh—“ Wajahnya merah sampai ke telinga. “Dia tidak boleh pegang kartumu!”

“Tidak apa-apa.”

“TIDAK APA-APA?”

“Pip.”

“Kau membunuh empat belas serigala!” Dia berteriak itu ke seluruh alun-alun, dengan suara anak sepuluh tahun yang pecah di tengah kalimat. “Dan Chimera! Dan kau mengeluarkan enam orang dari tambang! Dan mereka—“

Aku berlutut.

Lututku berbunyi, seperti selalu, dan aku menyesal berlutut, tapi sudah terlanjur.

“Pip. Lihat aku.”

Dia melihat. Matanya basah dan dia sangat marah tentang itu.

“Apa yang kau lihat di ladang timur?”

“...Tidak ada apa-apa.”

“Betul.” Aku menepuk bahunya sekali. “Dan yang tidak dilihat orang, tidak ada. Itu bukan kejahatan mereka. Itu cuma cara mata bekerja.”

“Aku melihatnya.”

“Ya,” kataku. “Kau melihatnya.”

Dia berdiri di sana dengan tangan terkepal.

“Aku akan terus bilang,” katanya. “Ke semua orang. Sampai ada yang percaya.”

Aku memandanginya.

Sepuluh tahun. Lutut berlumpur. Botol tinta gagal di tangan.

“Baik,” kataku.

Dan sesuatu di dadaku bergerak dengan cara yang tidak nyaman, karena aku baru menyadari bahwa selama tiga tahun, satu-satunya orang di dunia yang menyatakan keberadaanku di depan umum secara berulang, tanpa henti, tanpa diminta, adalah seorang anak yang seluruh desanya anggap pembohong.


Malamnya, Tuan Belden mengumumkan ekshibisi.

“Silverline akan mendemonstrasikan formasi anti-anomali mereka di alun-alun, lusa siang. Terbuka untuk umum. Distrik mengirim dua pengamat.”

“Kenapa?” tanya seseorang.

“Untuk kepercayaan publik,” kata Tuan Belden, dengan nada orang yang baru belajar frasa itu dan menyukainya. “Warga harus melihat bahwa mereka dilindungi.”

“Mereka pakai apa? Boneka kayu?”

“Tiga Hollow Wolf hidup,” kata Tuan Belden. “Dikirim dari kandang latihan kecamatan. Sudah dalam perjalanan.”

Ruangan itu berdengung.

Aku berdiri di belakang, di dekat pintu, dan menghitung.

Tiga Hollow Wolf. Kandang latihan. Alun-alun.

Alun-alun Marrow berukuran kira-kira tiga puluh kali dua puluh meter, dibatasi kedai di utara, cabang guild di timur, dan tidak dibatasi apa pun di sisi barat.

Hollow Wolf berburu dengan getaran.

Penonton berdiri berdesakan berarti getaran tanah dari satu arah jauh lebih kuat daripada arah lain.

Aku memandangi punggung Tuan Belden untuk sesaat.

Lalu aku keluar tanpa berkata apa-apa, karena aku sudah belajar tiga tahun lalu bahwa memberi tahu Belden sesuatu hanya membuat Belden merasa perlu membuktikan bahwa dia sudah tahu.

Di luar, langit sudah gelap.

“Anda menghitung sesuatu,” kata Lyra, di sebelahku. Aku tidak tahu sejak kapan dia di sana.

“Ya.”

“Buruk?”

Aku memikirkan alun-alun. Tiga Hollow Wolf. Empat puluh sampai enam puluh penonton berdiri di sisi timur karena bayangan bangunan cabang guild jatuh ke sana pada tengah hari.

“Belum,” kataku. “Tergantung formasi mereka.”


Bersambung — Bab 12: Tiga Kesalahan

Jumlah kata: 2.238