Chapter Fifty
Prosesi
POV: Theo
GUILD PUSAT — MAKLUMAT DARURAT BENUA 04
Tanggal 158, jam 04.00.Konsentrasi Anomali (±527 unit) berada 6 km dari batas kota.
Kekuatan yang dikerahkan di Lapangan Utara:
— Pasukan Kerajaan: 11.400
— Ordo Perak: 3.100
— Party berperingkat A ke atas: 61 party (384 personel)
— Kekuatan Tingkat Dewa hadir: 5Populasi kota yang tersisa: ±300.000
Evakuasi tidak dilaksanakan. Tidak terdapat wilayah aman yang dapat ditentukan.
CATATAN ARSIPARIS:
Saya mencatat di sini bahwa pada pagi tanggal 158, tiga ratus ribu orang naik ke atap rumah mereka.
Bukan untuk melarikan diri. Tidak ada ke mana.
Untuk melihat.
Kami sampai di ibu kota tanggal seratus lima puluh tujuh, jam sebelas malam.
Tujuh hari perjalanan dalam enam hari, dengan kuda ganti di sebelas pos, dan aku turun dari pelana di gerbang timur ibu kota dengan kaki yang tidak berfungsi selama sekitar empat menit dan tidak peduli sama sekali.
Ilvera Draconis sudah ada di sana.
Dia tiba dua hari lebih dulu, dengan enam ratus kavaleri Vaelmoor yang tidak diminta siapa pun dan yang tidak bisa ditolak siapa pun, dan dia berdiri di gerbang timur dengan mahkota kerja dan jubah berkuda yang penuh debu.
Dia tidak memelukku.
Dia berjalan lurus ke arahku, berhenti satu langkah jauhnya, dan berkata:
“Berapa detik?”
Dan aku hampir tidak bisa berdiri.
Sembilan tahun. Setiap kali. Di setiap ruangan dengan peta terbentang.
Dan seorang ratu berumur dua puluh empat tahun yang berkuda sebelas hari tanpa berhenti menanyakannya di gerbang kota, sebelum menanyakan apa pun yang lain, karena itu satu-satunya pertanyaan yang tubuhnya ingat cara menanyakan.
“Belum,” kataku. “Tapi sebentar lagi.”
“Baik,” katanya.
Aku tidak akan menuliskan enam hari perjalanan itu.
Aku akan menuliskan satu hal yang kutemukan di hari kelima, di pos kurir kota Sarne, karena hal itu adalah alasan segalanya di Bab berikutnya bisa terjadi.
Aku menemukan batasnya.
Aku sudah mencarinya sejak malam tanggal seratus lima puluh — cara membayar sesuatu yang tidak kupunya lagi — dan aku mencarinya dengan cara yang salah selama empat hari, yaitu dengan mencari sesuatu yang bisa kuberikan.
Di hari kelima aku berhenti mencari apa yang bisa kuberikan, dan mulai membaca ulang aturan [ Marginalia ].
Dan aku menemukan satu baris yang sudah kubaca sekitar empat ribu kali dalam dua puluh dua tahun dan tidak pernah sekali pun kupikirkan.
[ Marginalia ]
Copies skills of low level.
Acquisition : by observation.
Consent : NOT REQUIRED.
Consent: not required.
Dua puluh dua tahun.
Seribu dua ratus delapan puluh empat entri, dan tidak satu pun dari mereka pernah diberikan kepadaku. Aku mengambil semuanya — dari tukang kayu, pengemis, pelayan kuil, anak-anak, dua juru tulis di ruang penyalinan katedral kota Ferren waktu aku berumur dua belas tahun.
Aku mengambilnya karena tidak ada yang perlu memberikannya.
Dan aku duduk di pos kurir kota Sarne jam tiga pagi dan menyadari bahwa dalam dua puluh dua tahun, tidak ada satu pun baris di sistem ini yang mengatur apa yang terjadi kalau seseorang memberikan.
Karena tidak pernah ada yang melakukannya.
Karena tidak ada orang di dunia ini yang menyerahkan skill unik tingkat dewanya secara sukarela kepada orang lain, karena kekuatan seperti itu bukan alat.
Ia nama. Ia identitas. Ia seluruh hidup seseorang.
Aku menuliskan itu di halaman delapan puluh satu catatan lapanganku.
Lalu aku menuliskan satu baris lagi di bawahnya, dan aku menghapusnya, dan aku menuliskannya lagi, dan aku membiarkannya.
Aku tidak akan meminta.
Lapangan Utara ibu kota adalah tanah datar seluas empat kilometer persegi di luar tembok, dipakai untuk parade kerajaan dan pasar ternak.
Pada pagi tanggal seratus lima puluh delapan, ia berisi empat belas ribu delapan ratus delapan puluh empat orang bersenjata.
Dan di belakang mereka, di atas tembok kota, dan di atap setiap bangunan dalam radius dua kilometer, ada tiga ratus ribu orang.
Aku berdiri di atas tembok utara jam lima pagi dan melihat ke belakang sekali.
Dan aku berhenti menghitung, karena kepala ini mencoba menghitung tiga ratus ribu wajah dan gagal, untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun.
Mereka datang jam enam lewat sebelas.
Lima ratus dua puluh tujuh.
Dan aku ingin mencatat hal ini, karena ini bagian yang tidak akan dipercaya siapa pun yang tidak ada di sana:
Mereka tidak berlari.
Mereka berjalan.
Empat koma satu kilometer per jam, kecepatan yang sama persis dengan yang mereka pertahankan selama delapan ratus delapan puluh enam kilometer dan sembilan hari, dalam satu arus lebar tanpa formasi, tanpa suara, tanpa satu pun dari mereka bergerak lebih cepat atau lebih lambat dari yang lain.
Prosesi.
Empat belas ribu orang bersenjata menonton mereka mendekat selama empat puluh satu menit, dan aku tidak akan pernah lupa bunyi lapangan itu, karena tidak ada bunyi.
Empat belas ribu orang berhenti bernapas dengan cara yang bisa didengar.
Serangan dimulai jam enam lewat lima puluh dua, dan tidak seorang pun memerintahkannya.
Itu bagian yang paling manusiawi dan paling menyedihkan dari seluruh pagi itu.
Seorang prajurit di baris ketujuh sayap kiri melepaskan panah.
Satu orang. Kami tidak pernah tahu siapa. Dia berumur mungkin dua puluh tahun dan dia sudah berdiri di lapangan terbuka selama empat jam menonton sesuatu berjalan ke arahnya dengan kecepatan berjalan kaki, dan pada suatu titik tubuh manusia berhenti bisa menunggu.
Panah itu masuk.
Dan lima ratus dua puluh tujuh Anomali berhenti berjalan.
Serentak.
Aku tidak akan menuliskan empat puluh menit berikutnya secara lengkap.
Aku akan menuliskan urutannya, karena urutannya penting, dan karena setiap satu dari lima kegagalan itu diperlukan untuk apa yang terjadi sesudahnya.
06.54 — [ Immovable Dawn ]
Bhaltair Vorn berdiri di garis depan sayap tengah dengan seribu dua ratus infanteri di belakangnya dan menancapkan perisainya.
Empat puluh dua Anomali sampai di garis itu.
Dan lewat.
Bukan menembus. Lewat — seperti air lewat di antara jari, seperti sesuatu yang tidak pernah berniat menyeberangi garis itu sejak awal dan karenanya tidak pernah terikat olehnya.
[ Immovable Dawn ] adalah garis yang tidak bisa dilewati apa pun yang berniat melewatinya.
Sesuatu yang tidak punya niat tidak bisa dihentikan olehnya.
Bhaltair Vorn berdiri di tempat itu selama dua puluh dua menit penuh, sampai batas absolutnya, dan tidak satu pun dari empat puluh dua itu berhenti.
Aku menonton dari tembok utara.
Dan aku melihat laki-laki itu, di menit kedua puluh dua, menoleh ke arah tembok — mencari, di antara tiga ratus ribu orang, ke arah tempat aku berdiri.
Dan aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadanya.
07.09 — [ Starfall Verdict ]
Ilvera Draconis menjatuhkan bintang untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Aku tidak akan mendeskripsikan bagaimana rasanya melihat itu. Aku sudah mencoba tiga kali dan aku membuang ketiganya.
Yang bisa kutuliskan: langit di atas Lapangan Utara terbuka, dan sesuatu turun, dan tanah pada radius seratus meter berubah menjadi kaca.
Dan ketika debunya turun, ada seratus meter tanah kaca.
Dan tidak ada satu pun Anomali yang hilang.
Bintangnya lewat menembus mereka.
Ilvera Draconis jatuh berlutut di tanah kaca itu dan berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar dari tembok, dan aku menghitung — karena aku tidak bisa berhenti menghitung — bahwa dia tidak akan bisa memakainya lagi selama empat jam.
07.26 — [ Ninth Sunder ]
Roan Ferrant memakainya empat kali dalam sebelas menit, yang dua kali lebih banyak dari batasnya, yang persis sama dengan yang dia lakukan di ruang dasar Menara Vessel tiga tahun lalu.
Sembilan tebasan mendarat sebagai satu.
Empat kali.
Tiga puluh enam tebasan.
Dan tiga puluh enam kali, pedang Sword Saint benua mendarat sempurna di sesuatu yang tidak punya tubuh untuk dilukai.
Dia jatuh di menit kesebelas.
Ferran Deyl dan tiga ksatria menyeretnya keluar dari garis, dan aku menonton dari tembok utara, dan aku menghitung bahwa dia akan sadar dalam empat puluh menit dan tidak akan bisa mengangkat pedang selama dua hari.
07.41 — [ Zero Hour ]
Cael Nyx menghilang delapan detik, dan muncul di dalam arus, dan menghilang lagi.
Enam kali.
Dan pada yang ketujuh, dia tidak muncul selama sembilan belas detik.
Aku berdiri di tembok utara dan menghitung sembilan belas detik itu, dan aku ingin mencatat bahwa sembilan belas detik adalah waktu paling lama yang pernah kualami dalam dua puluh dua tahun.
Dia muncul di menit kedua puluh, di tanah kaca, dua ratus meter dari tempat dia menghilang.
Hidup.
Dan Seris Ovelle sampai kepadanya dalam empat puluh detik, dan aku melihat perempuan itu berlari melintasi tanah kaca dengan jubah pendeta agung yang terbakar di ujungnya.
07.58 — [ Grace Unending ]
Seratus empat belas orang tergeletak di Lapangan Utara pada jam tujuh lewat lima puluh delapan.
Seris Ovelle menyentuh empat puluh satu dari mereka dalam sembilan menit.
Empat puluh satu bangun.
Dan yang membuatku harus memegang tembok adalah bahwa keempat puluh satu itu bangun karena mereka terluka — karena luka adalah sebab, dan sebab bisa digenggam, dan Seris Ovelle adalah orang terbaik di dunia dalam menggenggam sebab.
Yang tidak bangun adalah tujuh belas orang yang tidak punya luka sama sekali.
Yang berhenti di tengah kalimat.
Dan aku menonton Pendeta Agung Katedral Vireln menyentuh tujuh belas orang berturut-turut dan menemukan tidak ada apa pun untuk digenggam, tujuh belas kali, di depan tiga ratus ribu orang.
Jam delapan lewat dua belas, Lapangan Utara berhenti.
Bukan mundur. Berhenti.
Empat belas ribu delapan ratus delapan puluh empat orang bersenjata berdiri di tanah kaca dan tanah lumpur dan tidak bergerak, karena tidak ada satu pun perintah yang tersisa untuk diberikan.
Lima ratus dua puluh tujuh Anomali berhenti juga.
Dan lalu mereka mulai berjalan lagi.
Empat koma satu kilometer per jam.
Ke gerbang utara.
Ke arsip.
Aku turun dari tembok jam delapan lewat sembilan belas.
Lyra Vandell berjalan di sebelahku, dan Arbiter Vesk di sebelahnya, dan tiga ratus ribu orang di atap-atap kota menonton lima orang berjalan melintasi Lapangan Utara ke arah lima ratus dua puluh tujuh benda yang tidak bisa dibunuh.
Aku sampai di garis depan jam delapan lewat tiga puluh satu.
Roan Ferrant berdiri, dengan bantuan Ferran Deyl, dan tidak bisa mengangkat pedangnya.
Bhaltair Vorn bersandar pada perisainya, dan itu adalah pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku melihat laki-laki itu bersandar pada apa pun.
Ilvera Draconis duduk di tanah kaca dengan wajah yang penuh darah dari hidungnya sendiri.
Cael Nyx berdiri dan tidak sepenuhnya ada dan tidak seorang pun menyebutkannya.
Dan Seris Ovelle berlutut di antara tujuh belas orang yang tidak bisa dia sentuh, dengan kedua tangan di pangkuannya, tidak melakukan apa-apa.
Lima orang terkuat di benua ini.
Dan tidak satu pun dari mereka punya satu hal pun yang tersisa untuk dicoba.
Aku berdiri di depan mereka.
Dan aku berkata satu kalimat, dan tiga ratus ribu orang di atap-atap kota tidak bisa mendengarnya, dan lima orang bisa.
“Aku sudah tahu cara menghentikannya,” kataku.
Lima kepala terangkat.
“Dan aku tidak punya apa pun untuk membayarnya,” kataku.
Dan Roan Ferrant — yang tidak bisa mengangkat pedangnya, yang baru saja gagal empat kali di depan seluruh benua — berkata:
“Kalau begitu katakan apa yang kau butuhkan.”
Dan aku berdiri di Lapangan Utara ibu kota jam delapan lewat tiga puluh empat pagi tanggal seratus lima puluh delapan, dengan lima ratus dua puluh tujuh Anomali berjalan ke arah kami dengan kecepatan berjalan kaki, dan menyadari bahwa aku sudah tahu jawabannya sejak pos kurir kota Sarne jam tiga pagi empat hari lalu.
Dan bahwa aku sudah menuliskan satu baris di halaman delapan puluh satu.
Aku tidak akan meminta.
Aku membuka catatan lapangan yang diberikan Lyra Vandell.
Aku merobek halaman delapan puluh satu.
Dan aku menyerahkannya kepada Roan Ferrant.
Bersambung — Bab 51: Lima Izin
Jumlah kata: 2.612
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi reading
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit