← Magnum Opus

Chapter Eight

Empat Puluh Menit

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.08
KESAKSIAN — Merek Dovas, Rank C, ketua party “Tiga Palu”
Diambil sebelas bulan setelah kejadian.

Aku tidak pernah melihat wajahnya. Itu yang selalu orang salah paham. Kami di dalam, dia di luar. Aku tidak melihat apa pun selama empat puluh menit itu kecuali batu dan lentera yang mati.

Yang aku punya cuma suaranya.

Dia bertanya dulu. Itu bagian yang aneh. Bukan “kalian di mana”, bukan “ada yang terluka”. Dia bertanya berapa sisa mana kami. Satu per satu. Enam orang. Lalu dia bertanya cooldown skill kami — bukan skill apa yang kami punya, tapi berapa lama sampai bisa dipakai lagi. Lalu dia bertanya siapa yang paling takut.

Aku bilang tidak ada.

Dia bilang, “Coba lagi.”

Aku bilang Ivo.

Dan dia menyusun semuanya di sekitar itu. Seluruhnya. Empat puluh menit, dan setiap instruksi memperhitungkan bahwa anak bernama Ivo itu tangannya gemetar.

Kami keluar berenam. Tidak ada yang cedera serius.

Tiga bulan kemudian aku mencoba mengulang manuver yang dia suruh kami lakukan. Latihan biasa, kondisi aman. Kami gagal empat kali berturut-turut.

Aku sudah berhenti mencoba. Kau tidak bisa mengulang sesuatu kalau kau tidak pernah tahu kenapa itu berhasil.


Tambang timah di lereng barat sudah tidak layak sejak sebelum aku pindah ke Marrow.

Semua orang tahu itu. Tuan Belden tahu, kecamatan tahu, dan penyangga di terowongan tiga sudah dilaporkan retak dua kali dalam dua tahun. Tapi timah masih ada di sana, dan party rank C yang lewat desa perbatasan selalu butuh uang, dan begitulah cara sebagian besar orang mati — bukan karena satu keputusan buruk, tapi karena dua puluh keputusan wajar berturut-turut.

Runtuh jam satu siang.

Aku sedang menimbang biji galat ketika bunyinya sampai — bukan ledakan, lebih seperti seseorang menjatuhkan sesuatu yang sangat besar di ruangan sebelah, dua kali, lalu diam.

Jam satu lewat dua puluh, setengah desa sudah berdiri di mulut tambang.


“Enam,” kata Hanne. “Party Tiga Palu. Masuk pagi tadi.”

Dia sudah di sana ketika aku sampai, berdiri paling depan, dengan tali dan cangkul dan ekspresi orang yang sudah menghitung dan tidak suka hasilnya.

“Terowongan berapa?”

“Tiga.” Dia menoleh. Melihat aku. Tidak terkejut, dan itu sendiri sudah merupakan perubahan. “Mereka menjawab waktu kami teriak. Semua enam masih hidup.”

“Jarak dari mulut?”

“Delapan puluh meter, mungkin sembilan puluh.”

“Kau sudah kirim orang masuk?”

“Belum.” Rahangnya mengeras. “Aku mau. Tapi langit-langitnya masih bergerak. Kalau aku kirim empat orang dan runtuh lagi, jadi sepuluh.”

“Kau benar.”

“Aku tahu aku benar,” katanya. “Itu tidak membuatnya lebih enak.”

Tuan Belden datang jam dua, berkeringat, dan mengirim kurir ke kecamatan. Bantuan penambang profesional akan tiba dalam tiga hari.

Enam orang di dalam ruang tertutup punya udara untuk kira-kira sepuluh jam.

Aku menghitung itu dua kali dan tidak menyukai jawabannya di kedua kali.


Lyra sampai jam setengah tiga, berlari, dengan buku catatan.

Dia berhenti di sebelahku dan tidak mengatakan apa-apa. Hanya berdiri, dan bernapas, dan membuka bukunya.

Aku menoleh sedikit.

“Kau mau mencatat?”

“Ya.”

“Mencatat apa?”

“Belum tahu,” katanya. “Sesuatu.”

Aku memandangi mulut tambang.

Sudah setengah jam aku berdiri di sini dan kepalaku sudah selesai bekerja sejak menit keempat. Itu masalahnya. Kepala ini tidak menunggu izin, tidak menunggu keputusan, tidak menunggu apakah aku mau terlibat atau tidak. Ia hanya menghitung dan lalu duduk di sana dengan jawabannya seperti anjing yang membawa pulang sesuatu.

Terowongan tiga. Penyangga retak di dua titik — laporan tahun lalu, aku membacanya di papan pengumuman. Runtuhannya dua tahap, artinya massa utamanya belum turun.

Enam orang. Party rank C. Berarti komposisinya kemungkinan dua warrior, satu penjinak, satu healer tingkat rendah, dua serba bisa.

Kalau mereka menggali dari dalam, mereka akan memicu tahap ketiga.

Kalau kita menggali dari luar, kita juga akan memicu tahap ketiga.

Satu-satunya yang tidak memicu apa-apa adalah kalau massa utama itu ditahan sementara, dan hanya orang di dalam yang bisa menahannya, dan mereka tidak tahu bahwa mereka bisa.

Aku menutup mataku.

Tiga tahun. Tiga tahun aku memegang lentera dan menghitung papan lantai dan tidak melakukan apa-apa, dan itu berhasil, dan itu tenang, dan tidak ada yang mati karena aku.

Sepuluh jam.

“Hanne,” kataku.

“Apa.”

“Aku perlu bicara dengan mereka.”

Dia menoleh dengan kening berkerut. “Kami sudah bicara. Mereka bilang mereka baik-baik saja dan terjepit.”

“Bukan bicara begitu.”

“Lalu bicara apa?”

Aku berjalan melewatinya, ke mulut terowongan, di mana ada celah selebar dua telapak tangan di antara batu-batu runtuhan tempat suara bisa lewat.

Aku berlutut di sana dan menempelkan wajahku ke celah itu.

“Party Tiga Palu.”

Jeda. Lalu suara, jauh, teredam. “Ya! Kami di sini!”

“Namamu?”

“Merek Dovas! Ketua party!”

“Merek. Aku akan menanyakan beberapa hal. Jawab persis, jangan dibulatkan, jangan dilebihkan. Kalau kau tidak tahu, bilang tidak tahu.”

Jeda lebih panjang.

“...Siapa ini?”

“Aku yang akan mengeluarkan kalian,” kataku. “Sisa mana. Satu per satu. Mulai dari dirimu.”


Itu jam tiga kurang sepuluh.

Yang terjadi selanjutnya memakan waktu empat puluh menit, dan hampir seluruhnya adalah aku berlutut di batu dengan wajah menempel di celah, berbicara.

Aku tidak akan menuliskan semuanya. Sebagian besar adalah angka.

Tapi aku ingat urutannya, karena aku selalu ingat urutannya.

Menit satu sampai enam. Aku mengumpulkan data. Enam nama, enam kelas, enam angka mana, enam cooldown. Merek menjawab cepat dan akurat, yang membuatnya jauh lebih baik daripada sebagian besar ketua party rank C.

Lalu aku bertanya siapa yang paling takut.

Dia bilang tidak ada.

“Coba lagi,” kataku.

Hening tiga detik.

“...Ivo. Yang paling muda.”

“Terima kasih.”

Di belakangku, aku mendengar Hanne berkata, pelan, ke arah siapa pun, “Kenapa dia tanya itu.”

Dan aku mendengar Lyra menjawab, lebih pelan lagi, “Karena orang yang takut punya cooldown yang berbeda.”

Aku hampir menoleh.

Aku tidak menoleh.

Menit tujuh sampai delapan belas. Aku menyusun.

Ini bagian yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun, dan aku sudah mencoba, dan aku gagal setiap kali. Bukan karena rumit. Karena tidak ada bahasanya.

Enam orang. Ruang tertutup berukuran kira-kira empat kali enam meter. Massa batu di atas mereka yang akan turun kalau disentuh salah. Sisa mana yang berbeda-beda. Satu healer yang cuma bisa menutup luka kecil. Satu anak bernama Ivo yang tangannya gemetar.

Dan di kepalaku, semua itu berhenti menjadi orang dan menjadi angka, lalu berhenti menjadi angka dan menjadi bentuk — sesuatu yang bisa kuputar, kubalik, kulihat dari sisi lain sampai aku menemukan satu-satunya susunan di mana semuanya muat.

Selalu ada satu susunan. Itu keyakinanku yang paling dasar dan mungkin satu-satunya. Kalau kau punya cukup data, selalu ada satu susunan di mana semua orang selamat.

Sepuluh tahun aku mencari susunan itu untuk lima orang.

Hari ini untuk enam orang yang tidak kukenal namanya sampai dua belas menit lalu.

Menit sembilan belas sampai tiga puluh empat. Aku memberi instruksi.

“Merek. Ke sisi utara ruangan. Bawa Ivo.”

“Kenapa Ivo—“

“Karena kau akan berdiri di depannya dan itu akan membuat tangannya berhenti gemetar dalam waktu kira-kira empat menit, dan aku butuh tangannya berhenti gemetar di menit kedua puluh delapan.”

Hening.

“...Baik.”

“Penjinakmu. Namanya Dara?”

“Ya.”

“Dara, kau punya Stone Sense?”

“Punya!”

“Tingkat berapa?”

“Dua!”

“Cukup. Jangan pakai sekarang. Cooldown-nya sembilan menit dan aku butuh itu utuh di menit dua puluh enam.”

Dan begitu seterusnya.

Aku menyusun mereka seperti menyusun kalimat. Satu klausa pada satu waktu, tiap kata ditempatkan karena kata sesudahnya membutuhkannya di sana.

Yang mereka lakukan tidak spektakuler. Tidak ada satu pun skill hebat dipakai. Yang mereka lakukan adalah enam orang biasa mengeksekusi urutan yang benar dengan selisih waktu di bawah tiga detik, dan itu — bukan kekuatan, bukan level, hanya urutan yang benar — adalah hal yang memisahkan hidup dari mati lebih sering daripada yang mau diakui siapa pun.

Di menit dua puluh enam, Dara memakai Stone Sense dan menemukan celah yang tidak bisa dilihat siapa pun dari luar.

Di menit dua puluh delapan, tangan Ivo tidak gemetar.

Di menit tiga puluh empat, mereka mulai bergerak.

Menit tiga puluh lima sampai empat puluh. Aku diam.

Tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Itu bagian terburuk dari seluruh pekerjaan ini, dan tiga tahun tidak membuatnya lebih mudah: ada titik di mana kau selesai, dan yang tersisa hanya menunggu apakah kau benar.

Aku berlutut di batu dengan wajah menempel di celah dan mendengarkan enam orang bergerak di kegelapan delapan puluh meter jauhnya.

Di belakangku, empat puluh orang berdiri diam.

Aku tidak tahu itu waktu itu. Aku baru tahu belakangan.


Mereka keluar jam setengah empat lewat.

Enam. Berdebu, berdarah di beberapa tempat, satu pergelangan tangan terkilir. Tidak ada yang cedera serius.

Desa itu meledak. Aku tidak punya kata lain untuknya — orang berteriak, orang menangis, seseorang memeluk seseorang yang bukan keluarganya.

Aku berdiri dan lututku hampir tidak mau bekerja, dan Hanne memegang lenganku tanpa berkata apa-apa dan menahan sampai aku tegak.

Merek Dovas berjalan langsung ke arahku.

Dia laki-laki empat puluhan dengan bahu penambang dan wajah yang belum selesai memutuskan mau merasakan apa.

“Kau,” katanya.

“Ya.”

“Kau siapa?”

“Theo. Aku menjual tinta.”

Dia memandangiku.

Lalu dia melihat ke bawah, ke kartu guild yang tergantung di leherku karena aku belum sempat melepasnya sejak mengantar pesanan pagi tadi.

Rank : F

Aku melihat wajahnya berubah. Aku sudah melihat wajah itu berkali-kali sekarang — heran, lalu bingung, lalu mencari penjelasan yang nyaman.

Tapi Merek Dovas baru saja menghabiskan empat puluh menit di bawah delapan puluh meter batu dengan hanya sebuah suara sebagai penghubung ke dunia.

Wajahnya tidak sampai ke penjelasan yang nyaman.

Wajahnya berhenti di bingung, dan tinggal di sana.

“Terima kasih,” katanya akhirnya. “Aku tidak—“ Dia berhenti. Menggeleng. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Dia pergi ke arah rekan-rekannya.

Dan anak bernama Ivo — yang tidak lebih dari tujuh belas, dan yang tangannya sekarang benar-benar gemetar sekarang setelah semuanya selesai, karena begitulah cara kerja tubuh — berdiri di tempatnya menatapku dari jarak sepuluh langkah.

Dia tidak berkata apa-apa.

Dia hanya menunduk, sekali, dalam-dalam.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Operation Complete ]

Skills Used : NONE
Mana Consumed : 0

Witnesses : 6
Cumulative : 9
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Aku memandangi kotak itu di ruang tamuku yang gelap, lebih lama dari biasanya.

Skills Used: NONE.

Sistem ini mencatat segalanya. Skill, mana, tier, resep. Tiga tahun aku pikir itu artinya sistem tahu apa yang kulakukan.

Malam ini ia mencatat empat puluh menit terpenting yang pernah kulakukan sejak Ekspedisi Terakhir, dan kolom yang bisa diisinya semuanya kosong.

Tidak ada nama untuk apa yang kulakukan di mulut tambang itu. Tidak ada di kodeks, tidak ada di daftar guild, tidak ada di sistem.

Ia tidak ada.

Dan enam orang pulang ke rumah karenanya.

Aku menutup jendela status.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sebelum tidur, aku menarik laci dan menambahkan enam nama ke kertas itu.

Merek Dovas. Dara. Ivo.

Aku berhenti.

Aku tidak tahu tiga nama sisanya.

Besok pagi aku akan menanyakannya.


Bersambung — Bab 9: Yang Mengenaliku

Jumlah kata: 2.331