Chapter Six
Sembilan Peti
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAPORAN INSIDEN MRW-33
Disusun oleh: Belden Ravik, Kepala Cabang MarrowRingkasan: Tim survei distrik (11 orang) hilang di Sektor Utara. Subjek anomali kemudian dilumpuhkan oleh regu pemburu lokal pimpinan Hanne Dural (Rank B).
Personel terlibat:
- Hanne Dural — Rank B — Pemburu
- Kellow Sant — Rank C — Pemburu
- Ivar Sant — Rank D — Pemburu
- Lyra Vandell — Arsiparis — pengamat, tidak berpartisipasi
Metode pelumpuhan: Serangan jarak jauh berulang pada titik lemah subjek.
Catatan: Keberhasilan regu lokal patut diapresiasi sebagai bukti kualitas pembinaan cabang.
CATATAN ARSIPARIS (dilampirkan tanpa izin kepala cabang):
Daftar personel tidak lengkap. Saya mengajukan koreksi tiga kali secara lisan dan satu kali tertulis. Ketiganya ditolak dengan alasan bahwa personel yang dimaksud berstatus Rank F dan karenanya tidak memenuhi syarat pencatatan operasional.
Saya mencatat keberatan ini di sini karena tidak ada tempat lain untuk mencatatnya.
— L. Vandell
Kabar itu sampai padaku lewat cara yang paling Marrow: Nenek Odel, sambil menaruh sup.
“Belden bilang Hanne yang membunuh benda itu.”
“Hanne memang yang membunuhnya.”
“Kau ada di sana.”
“Aku memegang lentera.”
Dia meletakkan sendok dengan bunyi yang lebih keras dari perlu.
“Nak. Aku sudah tujuh puluh tahun. Jangan ajak aku main tebak-tebakan.”
“Aku tidak main apa-apa.”
“Hanne datang ke sini kemarin dan minum sampai jam dua,” katanya. “Delapan belas tahun aku kenal perempuan itu dan aku belum pernah lihat dia minum sampai jam dua. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma duduk di sana dan sesekali menggeleng.”
Aku memakan supku.
“Kau tidak mau tanya kenapa?”
“Tidak.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku sudah tahu kenapa,” kataku. “Dan menanyakannya cuma memaksanya menjelaskan sesuatu yang tidak punya kata-katanya.”
Nenek Odel memandangiku lama sekali.
“Orang aneh,” katanya akhirnya, dan pergi.
Tuan Belden memanggilku ke cabang guild jam sepuluh pagi.
Ruangan itu lebih ramai dari biasanya. Ada dua utusan dari kecamatan yang datang mengambil jenazah, satu juru tulis, dan Lyra — berdiri di sudut dengan tumpukan map dan ekspresi yang bisa membakar kayu basah.
Dan ada sembilan peti baru di lantai.
“Ah, Theo.” Tuan Belden tidak mengangkat wajah dari mejanya. “Bagus. Peti-peti itu.”
Aku melihat ke arah peti-peti itu.
Lalu ke arah dua utusan kecamatan, yang sedang menunggu tanda tangan dan yang jelas mendengar seluruh percakapan ini.
Lalu ke arah Lyra, yang sudah setengah bergerak maju dan yang kuhentikan dengan satu gelengan sangat kecil.
“Baik,” kataku.
Aku memindahkan peti pertama.
Ruangan itu tetap ramai. Orang-orang terus bicara. Salah satu utusan kecamatan bertanya kepada Tuan Belden tentang kualitas pembinaan cabang, dan Tuan Belden menjawab panjang lebar tentang pentingnya disiplin dan struktur, dan aku memindahkan peti kedua di belakang punggungnya.
Peti ketiga. Keempat.
Empat puluh satu kilogram. Empat puluh tiga. Tiga puluh sembilan — yang ini isinya kain.
Utusan kecamatan yang di kiri sudah melihatku tiga kali. Dia tidak nyaman. Dia akan menyebutkan ini kepada seseorang nanti, dan seseorang itu tidak akan peduli.
Lyra sudah mengepalkan tangan sejak peti kedua. Kuku jari kelingkingnya akan berdarah kalau dia terus begitu.
Peti kelima. Keenam.
“—dan tentu saja,” kata Tuan Belden, “cabang perbatasan itu ujung tombak. Kami di sini yang pertama tahu kalau ada apa-apa.”
Peti ketujuh.
“Sebelas orang,” kata utusan kecamatan yang di kiri, pelan.
Ruangan itu diam sebentar.
Peti kedelapan.
“Ya,” kata Tuan Belden. “Tragedi. Tapi hasil akhirnya bagus.”
Peti kesembilan.
Aku menutup pintu gudang belakang, dan ketika aku kembali, Lyra sudah tidak ada di sudut ruangan.
Aku menemukannya di belakang gedung, di antara tumpukan kayu bakar, sedang berdiri sangat tegak dan bernapas dengan cara yang jelas dilatih.
“Jangan bicara pada saya sekarang.”
“Baik.”
“Saya sedang sangat marah dan kalau saya bicara sekarang saya akan mengatakan sesuatu yang tidak profesional.”
“Baik.”
Tiga detik.
“KENAPA ANDA MENGANGKAT PETI ITU?”
“Kau bilang jangan bicara padamu.”
“SAYA BERUBAH PIKIRAN.”
Aku duduk di tumpukan kayu bakar. Lututku berbunyi lagi.
“Karena aku dibayar dua koin perak setiap dua minggu,” kataku, “dan sebagian dari dua koin perak itu adalah untuk mengangkat peti.”
“Anda menyelamatkan desa ini dua kali dalam sebelas hari.”
“Aku memegang lentera.”
“Berhenti bilang begitu.” Suaranya pecah di tengah kalimat, dan dia benci itu, aku bisa melihat dia membencinya. “Saya di sana. Saya berdiri di dasar cekungan itu dan saya melihat sesuatu yang tidak ada di kodeks mana pun, dan saya melihat Anda melakukannya, dan pagi ini saya menulis empat baris laporan yang tidak menyebut nama Anda karena kepala cabang saya bilang Rank F tidak memenuhi syarat pencatatan operasional.”
“Itu memang aturannya.”
“Aturannya salah!”
“Ya,” kataku. “Tapi aturan yang salah tetap aturan, dan melanggarnya lewat satu laporan cabang perbatasan tidak akan mengubah apa pun kecuali membuatmu dimutasi lagi. Dan tidak ada tempat lagi setelah Marrow.”
Dia membuka mulut. Menutupnya.
Itu argumen yang tidak bisa dia bantah, dan aku tahu itu sebelum mengucapkannya, dan aku menggunakannya karena aku ingin dia berhenti.
Bukan karena aku peduli pada laporan itu.
Karena aku pernah melihat apa yang terjadi pada orang yang berteriak sendirian di ruangan yang tidak mau mendengar, dan aku tidak ingin melihatnya lagi.
Lyra duduk di tumpukan kayu, dua langkah dariku, dan memandangi tanah.
“Di ibu kota,” katanya pelan, “saya menulis penelitian. Tiga tahun. Tentang party legendaris Ashen Crown.”
Aku tidak bergerak.
“Semua orang menulis tentang mereka. Ada empat ratus tujuh puluh buku. Tapi tidak ada yang membaca laporan raid mentahnya, karena laporan raid itu membosankan — cuma angka, waktu, rotasi cooldown.” Dia mengangkat wajah. “Saya membacanya. Sembilan puluh enam raid. Semuanya.”
“Dan?”
“Dan angkanya terlalu bersih.”
Ada bunyi di telingaku yang bukan bunyi.
“Setiap party punya limbah,” kata Lyra. “Selalu. Mana terbuang, cooldown yang tumpang tindih, satu orang menganggur tiga detik karena menunggu yang lain. Itu normal. Itu manusia.” Dia menatapku. “Ashen Crown punya limbah nol koma empat persen. Sembilan puluh enam raid berturut-turut. Nol koma empat.”
“Mungkin mereka berbakat.”
“Nol koma empat persen bukan bakat,” katanya. “Nol koma empat persen adalah perhitungan. Seseorang menghitungnya sebelumnya. Setiap kali. Untuk sembilan puluh enam raid.”
Aku memandangi tanah.
“Saya menulis itu,” lanjutnya. “Saya beri judul Hipotesis Anggota Keenam. Saya bilang: ada satu orang lagi di party itu, seorang perancang, dan namanya tidak ada di mana pun. Dan Arbiter Vesk membaca lima halaman pertama dan mengembalikannya dengan satu kalimat.”
“Kalimat apa?”
“’Penyusun menyimpulkan keberadaan seseorang dari ketiadaan bukti.’” Dia tertawa sekali, pendek dan tidak ada senangnya. “’Ini bukan penelitian. Ini kepercayaan.’”
Angin bergerak di antara tumpukan kayu.
“Lalu saya dipindahkan sembilan hari perjalanan ke timur,” kata Lyra, “dan hari pertama saya di sini, seorang penjual tinta mengoreksi kolom mana efficiency saya dalam tiga kalimat, dan angkanya bertentangan dengan seluruh Dewan Formulasi, dan dia benar.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Aku sangat, sangat ingin berkata sesuatu.
“Saya tidak akan bertanya,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
“Saya ingin bertanya,” lanjut Lyra, “sangat ingin, dan saya sudah menyusun pertanyaannya semalam suntuk. Tapi saya baru melihat Anda mengangkat sembilan peti tanpa berkedip supaya saya tidak kehilangan pekerjaan saya.” Dia berdiri dan merapikan roknya dengan gerakan tajam. “Jadi saya tidak akan bertanya. Sampai Anda mau.”
“Kenapa?”
“Karena Anda sudah menjawab semua yang saya tanyakan,” katanya, “dan itu membuat saya menyadari sesuatu yang sangat menyedihkan.”
“Apa?”
“Bahwa tidak ada yang pernah bertanya.”
Dia berjalan pergi ke arah pintu belakang, lalu berhenti.
“Botol tinta encer itu,” katanya, tanpa menoleh. “Saya sudah hitung ulang harganya. Empat koin tembaga, bukan satu. Saya akan bayar kekurangannya besok.”
“Tidak perlu.”
“Perlu,” katanya. “Saya arsiparis. Catatan yang salah membuat saya tidak bisa tidur.”
Lalu dia masuk.
Malamnya aku duduk di meja kerja lebih lama dari biasanya.
Draf jimat pengusir tikus untuk keluarga Harn masih di sana, delapan koin tembaga, belum kusentuh selama sepuluh hari. Aku menyelesaikannya dalam empat menit karena tidak ada alasan tidak, lalu duduk memandangi kertasnya sampai tintanya kering.
Nol koma empat persen.
Dia menghitungnya.
Sembilan puluh enam raid, seseorang duduk di ruang arsip ibu kota dan menghitung limbah kami, dan menemukan angka yang seharusnya mustahil, dan menyimpulkan satu-satunya hal yang bisa disimpulkan dari angka itu.
Dan mereka menertawakannya.
Aku menarik laci.
Di dalamnya ada selembar kertas yang kutulis sebelas hari lalu.
Pip Harn. Ladang timur. Empat belas.
Aku memandanginya lama.
Lalu aku mengambil pena, membalik kertas itu, dan menulis di sisi yang kosong.
Hanne Dural. Cekungan utara. Lima puluh tiga anak panah.
Kellow Sant. Ivar Sant.
Dan lalu, setelah jeda yang jauh lebih lama daripada yang kubutuhkan untuk menulis tiga baris sebelumnya:
Lyra Vandell.
Aku memasukkan kertas itu kembali ke laci dan menutupnya.
Aku tidak tahu kenapa aku menyimpannya. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kucatat.
Sesuatu di kepalaku hanya menghitung, seperti selalu — anak tangga, gerobak, papan lantai, seratus delapan puluh dua langkah — dan malam itu ia mulai menghitung sesuatu yang baru, tanpa bertanya izin padaku, seperti biasa.
Satu. Tiga. Empat.
Open Status Window.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99
Registered Rank : F
Registered Party : —
Skills Owned : 1.284
Fusion Records : 619
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Sama. Selalu sama.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak langsung menutupnya.
Aku membiarkan cahaya biru pucat itu menyala di ruang tamuku selama beberapa menit, menerangi tumpukan pesanan tinta dan draf jimat tikus dan laci yang sudah tertutup.
Lalu, di seberang halaman belakang, lentera di ruang arsip cabang guild menyala.
Jam dua belas lewat.
Aku menghitung. Malam ketiga berturut-turut.
“Close.“
Aku pergi tidur, dan ini pertama kalinya sejak Ekspedisi Terakhir aku tidur tanpa merasa bahwa besok akan persis sama dengan hari ini.
Bersambung — Bab 7: Tulisan Tangan
Jumlah kata: 2.171
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti reading
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit