← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Nine

Enam Puluh

POV: Aditya


Hujan mulai jam lima sore dan tidak berhenti.

Aku ada di toko sejak jam empat, dengan alasan yang sudah kusiapkan sejak dari rumah: ada rak teras yang miring, kakinya perlu diganjal. Alasannya bahkan benar. Rak itu memang miring. Aku sudah memperhatikannya tiga minggu lalu dan menyimpannya seperti orang menyimpan tiket cadangan.

Jam enam, Tari pulang lebih cepat karena kosnya tutup gerbang.

Sebelum pergi, dia berdiri di ambang pintu dengan jas hujan plastik seharga dua belas ribu yang jelas tidak akan bertahan sampai perempatan.

“Mas Aditya.”

“Hm?”

“Titip Teh Clara ya.”

“Tari,” kata Clara dari dalam.

“Aku serius! Ini banjir.” Tari menarik tudungnya. “Teh Clara tuh kalau soal toko nekat banget. Tahun lalu pas banjir gede dia nginep di sini semalem buat angkatin pot.”

“Itu potnya mahal.”

“Teh Clara nggak lebih mahal dari pot?”

Hening satu detik.

“Ya udah sana pulang,” kata Clara.

Tari pergi sambil tertawa, dan suara motornya hilang di balik hujan, dan tinggal kami berdua di toko yang lampunya menyala terang di jalan yang gelap.

Aku menyelesaikan ganjalan rak itu dalam sepuluh menit. Lalu aku mengencangkan baut rak kedua yang sebenarnya tidak longgar. Lalu aku mengecek kabel lampu teras yang kondisinya sempurna.

Clara menghitung stok. Aku memperpanjang pekerjaanku. Tidak ada dari kami yang menyinggung bahwa keduanya sedang melakukan itu.

Jam tujuh, hujannya berubah dari hujan menjadi sesuatu yang lain.

Aku berdiri di ambang pintu dan melihat air turun dari kanopi dalam satu lembar utuh, bukan tetes-tetes lagi, dan jalanan di depan sudah berubah jadi sungai dangkal berwarna cokelat.

“Ini nggak akan berhenti,” kata Clara dari belakang.

“Nggak.”

“Mas pulang aja sekarang, sebelum makin parah.”

“Terus Mbak?”

“Saya nunggu reda.”

“Sampai jam berapa?”

“Sampai reda.”

Aku menoleh. Dia sedang memasukkan uang ke amplop, menghitung, tidak melihat ke arahku. Rambutnya lepas sebagian dari ikatannya karena seharian bekerja.

“Ra.”

“Hm?”

“Saya anter.”

“Nggak usah.”

“Malem, hujan gede, dan Mbak nggak bawa motor karena tadi pagi dianter Tari.” Aku mengambil kunci mobil dari meja. “Saya nggak nawarin, sebenernya.”

Dia mengangkat wajahnya.

Ada sesuatu di ekspresinya yang tidak bisa kubaca—setengah geli, setengah yang lain—dan lalu dia memasukkan amplop itu ke tas dan berkata, “Ya udah.”


Tujuh menit. Itu jarak dari toko ke kosnya. Aku sudah mengantarnya dua kali sebelumnya dan tahu persis rutenya.

Malam itu butuh dua puluh menit dan kami baru sampai setengah jalan.

Air di jalan Sukaluyu sudah setinggi setengah roda di beberapa titik. Wiper bekerja di kecepatan tertinggi dan tetap tidak cukup. Lampu-lampu dari arah berlawanan pecah jadi bintang di kaca depan.

Aku menyetir di tiga puluh.

Clara tidak berkomentar. Dia duduk dengan tas di pangkuan, memandang ke luar jendela, dan sesekali menyeka embun di kacanya dengan sisi tangan.

“Maaf, lama,” kataku.

“Bagus, kok.”

“Bagus apanya?”

“Pelan.” Dia masih memandang ke luar. “Tadi ada mobil nyalip kita di jembatan. Sekarang dia mogok di depan.”

Aku melihat. Memang. Sedan putih, lampu hazard menyala, air sudah masuk sampai bawah pintu.

“Mau saya bantu dorong?” tanyaku, dan sudah setengah melepas sabuk pengaman.

“Mas.”

“Kenapa?”

“Sudah ada empat orang.”

Memang ada empat orang. Aku memasang kembali sabukku dan merasa sedikit konyol.

“Mas selalu gitu, ya.”

“Gimana?”

“Berhenti.”

Aku melirik ke arahnya. Dia masih memandang ke luar jendela.

“Waktu itu di kebun, ada ibu-ibu yang jatuh keranjangnya. Mas langsung nunduk sebelum orangnya sendiri sadar.” Dia menyeka embun di kaca lagi. “Terus di depan toko, ada anak SMA yang rantai sepedanya lepas. Mas nggak jadi masuk, Mas benerin dulu.”

“Itu dua menit.”

“Saya nggak bilang lama.” Dia mengangkat bahu. “Saya cuma bilang Mas selalu berhenti.”

Aku memindahkan gigi dan tidak menjawab, dan hujan menghantam atap, dan aku berharap dia melanjutkan tapi dia tidak melanjutkan.


Motor itu keluar dari gang sebelah kiri.

Aku melihatnya sepersekian detik sebelum kejadian—bayangan gelap di batas penglihatan, terlalu cepat untuk jalan segenang itu, dua orang tanpa jas hujan.

Dia masuk ke jalan tanpa berhenti.

Rodanya hilang cengkeraman di air, dan bagian belakangnya melempar ke samping, dan selama mungkin satu setengah detik motor itu meluncur miring melintasi jalur di depan mobilku dengan dua orang di atasnya.

Aku mengerem.

Bukan mengerem panik. Itu bagian yang tidak akan pernah kuceritakan pada siapa pun karena tidak ada yang akan mengerti: aku mengerem dengan sangat rapi. Kaki kiri turun, kopling, rem bertahap, setir tetap lurus. Sempurna. Seperti orang yang sudah melatih gerakan ini setiap hari selama lima tahun di dalam kepalanya.

Mobil berhenti mungkin empat meter dari mereka.

Motor itu menyelesaikan luncurannya, menghantam trotoar dengan bunyi tumpul, dan kedua orangnya terlempar ke genangan.

Lalu—dan ini yang paling tidak masuk akal—salah satunya langsung berdiri.

Berdiri, mengangkat motornya, dan yang satunya juga bangkit sambil memegangi sikunya, dan mereka berdua mendorong motor itu ke pinggir sambil berteriak-teriak entah apa satu sama lain, dan salah satunya bahkan tertawa.

Empat detik. Selesai.

Ada orang dari warung menyeberang untuk membantu. Motornya menyala lagi di percobaan ketiga. Mereka pergi.

Jalanan kembali seperti semula.


Aku tidak bergerak.

Tanganku ada di setir. Mesin menyala. Wiper masih bekerja. Aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas—lampu warung, hujan, air yang menabrak kaca dan ditarik ke samping berulang-ulang.

Ada mobil di belakang yang membunyikan klakson.

“Mas.”

Aku memindahkan gigi dan menepi ke bahu jalan di depan warung dan menarik rem tangan.

Dan lalu aku duduk di sana.

Aku tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhku. Aku sudah mempelajarinya bertahun-tahun. Detak jantung naik, tangan dingin, ada semacam bunyi tipis di telinga bagian dalam yang bukan bunyi. Ini akan lewat dalam beberapa menit. Selalu lewat.

Yang tidak bisa kukendalikan adalah tanganku.

Aku menggenggam setir lebih keras supaya tidak kelihatan, yang merupakan solusi yang sudah kupakai ratusan kali dan selalu berhasil.

Malam itu tidak berhasil, karena tanganku bergetar cukup keras sehingga setirnya ikut.

“Mas Aditya.”

“Sebentar.”

Suaraku keluar. Itu bagus. Suaraku selalu keluar.

“Sebentar aja.”

Clara tidak berkata apa-apa.

Dia tidak bertanya Mas nggak apa-apa. Dia tidak bilang untung selamat. Dia tidak menyalakan lampu kabin atau membuka jendela atau melakukan salah satu dari sepuluh hal yang orang lakukan untuk membuat momen seperti ini menjadi lebih pendek.

Dia cuma duduk.

Dan setelah mungkin satu menit penuh, dia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tanganku yang di tuas persneling.

Bukan menggenggam. Cuma diletakkan di atasnya.

Tangannya dingin dari kaca jendela.

Dan aku—untuk alasan yang tidak akan pernah bisa kujelaskan pada diriku sendiri, apalagi pada orang lain—membalik telapak tanganku ke atas dan membiarkan jari-jarinya masuk di antara jari-jariku.

Kami duduk seperti itu di bahu jalan Sukaluyu, di depan warung yang lampunya berkedip, dengan hujan menghantam atap mobil, selama waktu yang jauh lebih lama daripada yang bisa disebut kebetulan.

Tanganku berhenti bergetar sekitar setengah jalan.

Aku tidak melepaskannya waktu itu terjadi.

Ada beberapa hal yang kusadari selama menit-menit itu, dan aku mencatat semuanya dengan bagian kepalaku yang tidak pernah berhenti mencatat.

Yang pertama: dia tidak menggenggam lebih erat waktu tanganku bergetar. Kebanyakan orang akan begitu. Itu refleks—memberi tekanan, seolah tekanan bisa menghentikan sesuatu. Dia tidak. Dia membiarkan tangannya di sana dengan tekanan yang persis sama dari detik pertama sampai terakhir.

Yang kedua: dia tidak melihat ke arahku. Dia melihat ke depan, ke kaca yang basah, ke warung. Seolah kami berdua kebetulan sedang duduk di mobil yang sama menunggu hujan.

Yang ketiga, dan ini yang membuat sesuatu di tenggorokanku menyempit: pergelangan tangannya bertumpu di tuas persneling dengan cara yang tidak nyaman. Posisinya salah. Bahunya pasti pegal.

Dia tidak memindahkannya.

Orang yang benar-benar menghibur akan mencari posisi yang enak, karena menghibur itu ada durasinya dan tubuh tahu itu. Yang dia lakukan adalah posisi orang yang tidak tahu kapan ini akan selesai dan sudah memutuskan bahwa itu bukan pertimbangan.

“Saya nggak pernah nyetir lebih dari enam puluh.”

Aku mendengar diriku sendiri mengatakannya.

Itu bagian yang aneh—bukan seperti orang yang memutuskan untuk bicara. Lebih seperti orang yang menemukan bahwa dia sudah mulai bicara dan sekarang harus memutuskan apakah akan berhenti.

Clara tidak bergerak.

“Lima tahun.” Aku menatap kaca depan. “Di tol juga. Orang klaksonin terus, saya nggak peduli. Bram sampai bosen nyindir.”

Wiper. Wiper. Wiper.

“Saya juga nggak pernah nyalip. Kalau ada yang nyalip saya, saya ngerem. Padahal nggak perlu.” Aku menelan. “Saya tahu itu nggak masuk akal. Saya ngerti sistem, saya ngerti probabilitas, saya bisa itung sendiri kalau ngerem mendadak itu justru lebih bahaya.”

“Terus kenapa tetep?”

Dan di situ aku hampir mengatakannya.

Aku bisa merasakan bentuknya di mulutku. Seluruhnya. Malam itu, telepon itu, kalimat terakhir Naya, hujan, jalan menurun, dua hari di rumah sakit, semuanya, satu paket, sudah tersusun selama lima tahun menunggu satu orang yang cukup lama diam.

Satu detik lagi dan semuanya keluar.

Yang kukatakan adalah:

“Karena saya nggak percaya sama diri saya sendiri kalau lagi bawa orang lain.”

Hening.

Hujan mulai mengecil sedikit. Wiper jadi terdengar terlalu cepat untuk airnya.

Clara berkata, pelan: “Sekarang Mas lagi bawa orang lain.”

“Iya.”

“Dan Mas ngerem tepat waktu.”

“Itu bukan saya. Itu jarak.”

“Itu Mas.” Dia mengucapkannya tanpa nada memaksa sama sekali, seperti orang menyebutkan harga. “Motor itu selip dari jarak segitu, kalau Mas nyetir di enam puluh, ceritanya lain.”

Aku tidak menjawab.

Dan lalu aku menyadari, dengan cara yang seperti terjatuh di tangga terakhir dalam gelap, apa yang baru saja kulakukan.

Aku baru saja memberi tahu seseorang bahwa ada sesuatu.

Bukan apa. Cuma: ada. Lima tahun, enam puluh kilometer per jam, dan aku tidak percaya pada diriku sendiri kalau sedang membawa orang lain.

Itu cukup. Untuk orang yang seperti dia, itu lebih dari cukup.

Aku menarik tanganku dari tangannya.

Aku melakukannya dengan halus—memindahkan gigi, alasan yang sempurna—tapi aku melakukannya, dan aku tahu dia tahu.

“Udah reda,” kataku. “Saya anter.”


Sisa perjalanan tiga menit.

Aku bicara sepanjang tiga menit itu. Tentang genangan di Sukaluyu yang katanya sudah dilaporkan bertahun-tahun. Tentang drainase. Tentang bagaimana kalau dia mau, aku bisa carikan bengkel yang bagus untuk motor bebeknya yang katanya susah distarter pagi-pagi.

Aku bicara dengan sangat baik. Leluconku jatuh di tempat yang benar. Aku bahkan membuatnya tertawa sekali, tentang tukang bakso yang mendorong gerobak menembus banjir seperti kapal pemecah es.

Waktu berhenti di depan kosnya, aku sudah kembali sepenuhnya.

“Makasih, Mas.”

“Aman.”

Dia membuka pintu. Berhenti. Setengah keluar, satu kaki di air.

“Mas Aditya.”

“Hm?”

Dan dia bilang: “Hati-hati pulangnya.”

Cuma itu.

Bukan nanti kita ngobrol lagi ya. Bukan kalau mau cerita, saya ada. Bukan salah satu dari kalimat yang membuat orang harus membalas dengan janji.

Cuma hati-hati pulangnya.

“Iya,” kataku.

Pintu tertutup. Dia lari kecil ke gerbang kos. Aku menunggu sampai lampu di dalam menyala, karena itu juga sesuatu yang selalu kulakukan, lalu aku pergi.


Aku sampai di rumah jam sembilan dan langsung tahu ada yang salah.

Aku melakukan semuanya dengan urutan yang benar. Lampu teras, ruang tamu, dapur. Sepatu basah ditaruh di rak paling bawah. Celana ganti. Air putih segelas.

Aku bahkan menyiram sansevieria, meskipun baru kemarin, meskipun aku tahu itu terlalu sering, karena aku butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangan.

Bukan di rumahnya. Di dalam dadaku.

Aku duduk di ujung kasur dengan celana yang masih basah di bagian bawah dan mencoba menemukan namanya.

Bukan malu. Aku sudah kenal malu.

Bukan takut ketahuan. Aku juga sudah kenal itu.

Ini semacam—

Ringan.

Itu kata yang akhirnya kutemukan, dan begitu kutemukan, seluruh tubuhku menolak.

Aku merasa ringan.

Aku mengatakan satu kalimat kepada seseorang, satu kalimat yang bahkan tidak menjelaskan apa-apa, dan sesuatu di dalam dadaku bergeser sedikit ke kanan dan sekarang ada ruang yang sebelumnya tidak ada, dan aku bisa bernapas ke dalam ruang itu.

Dan itu tidak boleh.

Aku berdiri.

Aku berjalan ke ujung lorong, ke pintu putih itu, dan aku berdiri di depannya dengan tangan di gagang selama entah berapa lama.

Hari itu bukan Minggu.

Aku tidak membukanya.

Aku kembali ke kamar dan mengambil ponsel dan membuka chat Kembang Kata, dan mengetik:

Ra, maaf ya tadi. Saya lagi capek aja.

Aku menatapnya.

Menghapusnya.

Mengetik lagi: Ra, yang tadi itu

Menghapusnya.

Aku meletakkan ponsel telungkup di kasur dan berbaring dan memandang langit-langit.

Yang terus berputar di kepalaku bukan motor itu. Bukan tangannya. Bukan kalimat yang hampir keluar.

Yang terus berputar adalah tiga detik setelah aku bilang aku tidak percaya pada diriku sendiri, dan Clara diam, dan di dalam diamnya itu ada ruang selebar pintu yang terbuka.

Dan aku hampir masuk.

Lima tahun aku membangun rumah yang tidak punya pintu. Aku merancangnya sendiri. Aku memasang setiap dindingnya dengan tangan sendiri, dan setiap kali ada yang mencoba membuat lubang di sana—Bram, Sarah, ibuku, terapis yang cuma kudatangi dua kali di tahun pertama—aku menambalnya sebelum mereka selesai.

Terapis itu perempuan, umurnya mungkin lima puluhan, ruangannya berbau lavender. Di sesi kedua dia bilang sesuatu yang tidak pernah bisa kulupakan.

Dia bilang: Mas Aditya menjawab semua pertanyaan saya dengan sangat baik. Itu yang bikin saya khawatir.

Aku tersenyum dan bilang terima kasih dan tidak pernah kembali.

Aku bahkan tidak membatalkan janji sesi ketiga. Aku cuma tidak datang, dan itu satu-satunya janji yang pernah kubatalkan dalam lima tahun, dan aku tidak pernah menghubungkannya dengan apa pun sampai malam itu.

Dan malam itu, di bahu jalan Sukaluyu, aku hampir membuka pintu yang bahkan tidak ada, untuk seseorang yang bahkan tidak mengetuk.

Aku bangun jam tiga pagi dan mematikan data seluler di ponselku.

Bukan karena ada yang mengirim pesan.

Karena aku tidak percaya pada diriku sendiri kalau ada yang mengirim pesan.