← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Thirty Two

Turunan

POV: Aditya


Aku menghitungnya nanti, di ruang tunggu, dengan cara orang yang tidak bisa berhenti menghitung.

Lima kali.

Tanggal delapan Desember: besok Om setel.

Tanggal tiga puluh satu Desember: iya.

Tanggal sebelas Januari, waktu dia lewat sambil menyetel bel sepedanya dan aku sedang memasang rak di Cikutra lewat telepon dengan tukang: aku mengangkat tangan dan bilang nanti ya, Kayla.

Tanggal enam Februari, di hari pindahan pertama, waktu dia berdiri di pagar dan bertanya apakah Om Adit sibuk: iya, sibuk banget. Minggu depan ya.

Dan tanggal satu Maret, sehari sebelum toko buka, waktu aku mencuci mobil dan dia berhenti dengan sepedanya dan bilang bahwa remnya sekarang bunyi—bukan blong, bunyi—dan aku bilang, sambil menyabun kaca:

Oke, nanti Om cek.

Lima kali.

Tiga bulan dua hari.


Tanggal sepuluh Maret adalah hari Senin dan cuacanya bagus.

Aku ingat cuacanya bagus karena aku sedang di garasi dengan pintu terbuka, mengerjakan sesuatu untuk klien di laptop yang kutaruh di atas tumpukan kardus, karena rumah terasa terlalu sempit dan aku sedang senang.

Aku sedang senang.

Itu bagian yang harus kucatat dengan jujur, karena selama berbulan-bulan sesudahnya aku akan berusaha mengingat apakah ada tanda apa pun, dan tidak ada. Aku sedang senang. Aku mendengarkan musik. Aku baru mengirim pesan ke Clara tentang sesuatu yang lucu yang dikatakan Bu Yuli di grup RT.

Jam empat sore.

Anak-anak pulang sekolah sejak jam satu. Komplek kami punya jalan utama yang lurus dari gerbang, dan di bagian belakang, dekat blok C, ada turunan.

Turunannya tidak curam. Panjangnya mungkin delapan puluh meter, dengan kemiringan yang orang dewasa bahkan tidak menyadarinya kalau berjalan kaki.

Anak-anak menyadarinya.

Anak-anak sudah menyadarinya bertahun-tahun. Itu satu-satunya turunan di komplek ini dan mereka memakainya seperti orang dewasa memakai jalan tol.

Di ujung turunan itu ada tikungan ke kanan, dan di balik tikungan itu ada jalan keluar komplek, dan di jalan keluar komplek itu lewat mobil.


Aku mendengar bunyinya sebelum aku mendengar teriakannya.

Bunyi logam menghantam aspal, jauh, dari arah blok C. Bunyi yang khas dan yang seluruh orang di komplek ini sudah pernah dengar puluhan kali, karena anak jatuh dari sepeda adalah hal yang terjadi setiap dua minggu.

Aku mengangkat kepala.

Lalu teriakan.

Bukan teriakan anak yang jatuh. Aku tahu bunyi itu—ada nada marah di dalamnya, ada malu.

Yang ini teriakan orang dewasa.

Dan aku sudah berlari sebelum aku memutuskan untuk berlari.


Delapan puluh meter turunan. Aku menempuhnya dalam waktu yang aku tidak ingat.

Yang aku ingat adalah bentuk-bentuknya, dalam urutan yang salah, dengan cara ingatan menyimpan hal-hal seperti ini:

Sepeda biru di tengah jalan, roda depan masih berputar.

Bapak-bapak dari blok C berlutut, dengan ponsel di telinga.

Ibu Kayla berlari dari arah rumahnya dengan sandal yang lepas satu di tengah jalan dan tidak dia ambil.

Mobil putih berhenti di mulut tikungan dengan pintu pengemudi terbuka dan seorang laki-laki berdiri di sampingnya dengan kedua tangan di kepala.

Dan Kayla di aspal.


Dia sadar.

Itu hal pertama yang kulihat dan itu hal pertama yang membuatku bisa bernapas: dia sadar, dan dia menangis, dan menangis adalah suara paling baik yang pernah kudengar seumur hidupku.

“Kayla.”

“OM ADIT—“

“Jangan gerak. Jangan gerak dulu, sayang.”

Aku berlutut. Kepala. Selalu kepala dulu—aku tidak tahu dari mana aku tahu itu, mungkin dari kursus P3K kantor sepuluh tahun lalu yang tidak pernah kupakai, mungkin dari dua hari di rumah sakit lima tahun lalu.

Tidak ada darah di kepala.

Ada darah di lutut, banyak, dan di siku kanan, dan lengan kirinya dipeluknya sendiri dengan cara yang salah.

“Kayla, Om pegang tangan kanan kamu, ya. Bisa remes tangan Om?”

Dia meremas.

“Kaki? Bisa gerakin jari kaki?”

Dia menggerakkan.

“Kepala kamu kena aspal nggak?”

“Nggak tahu—“

“Kayla.”

“Aku miring, Om.” Dia menangis. “Aku miring terus jatuh ke sini.”

Bapak dari blok C berkata di atas kepalaku: “Ambulans katanya lima belas menit.”

“Nggak usah,” kataku.

“Mas?”

“Lima belas menit kelamaan.” Aku sudah berdiri. “Mobil saya di garasi. Pak, tolong ambilin selimut dari rumah siapa aja.”


Aku menyetir ke rumah sakit dalam sembilan menit.

Ibu Kayla di kursi belakang memegang anaknya. Bapak dari blok C di kursi penumpang depan menelepon suami ibu Kayla dan menjelaskan hal yang sama tiga kali karena orangnya tidak bisa memproses.

Aku menyetir di enam puluh delapan kilometer per jam di Jalan Terusan Jakarta.

Aku menyadari angkanya sekitar dua kilometer sebelum sampai. Aku melirik spidometer dan melihat enam puluh delapan dan tidak melakukan apa-apa dengan informasi itu.

Enam puluh delapan.

Pertama kali dalam lima tahun.


Di IGD, semuanya berjalan cepat dan lalu berjalan sangat lambat.

Cepat: brankar, perawat, tirai ditutup, ibu Kayla masuk, aku dan bapak blok C tidak.

Lambat: dua jam empat puluh menit di ruang tunggu.

Aku mengurus semuanya.

Itu yang kulakukan. Aku selalu tahu apa yang harus kulakukan di rumah sakit; aku sudah pernah, aku punya seluruh peta bangunan jenis ini di dalam kepalaku tanpa pernah memintanya.

Aku mengurus pendaftaran. Aku menelepon suami ibu Kayla lagi dan memberitahunya lantai dan nomor ruangan. Aku turun ke parkiran memindahkan mobil yang kutinggalkan sembarangan di depan pintu IGD. Aku membeli air mineral dan roti dari minimarket di lobi dan meletakkannya di kursi sebelah ibu Kayla, yang tidak menyentuhnya.

Aku menelepon Bu Yuli supaya kabar di komplek tidak jadi liar.

Aku melakukan semuanya dengan sangat baik.

Dan sekitar jam enam, di antara dua urusan, aku duduk di kursi ruang tunggu selama mungkin empat menit.

Ruang tunggu IGD rumah sakit ini tidak sama dengan ruang tunggu rumah sakit itu. Warnanya beda. Kursinya beda—yang ini kursi tunggal berjejer, yang itu bangku panjang.

Tapi lampunya sama.

Lampu neon panjang di langit-langit yang menyala terlalu terang untuk ruangan tempat orang menunggu kabar, dengan satu yang selalu berkedip di ujung karena tidak ada yang punya waktu menggantinya.

Aku duduk di bawah lampu itu selama empat menit dan tidak memikirkan apa-apa.

Itu bohong.

Aku memikirkan bahwa di rumah sakit itu, lima tahun lalu, aku duduk di bangku panjang selama empat puluh satu jam.

Aku tahu empat puluh satu karena aku menghitungnya. Aku menghitung semuanya waktu itu—jam, menit, berapa kali perawat lewat, berapa lama antara satu kabar dan kabar berikutnya. Aku pikir kalau aku menghitung, aku sedang melakukan sesuatu.

Empat puluh satu jam. Lalu tidak ada lagi yang perlu dihitung.

Aku berdiri dari kursi itu dan pergi mengurus sesuatu yang tidak perlu diurus.

Dan sekitar jam tujuh malam, dokter keluar dan bilang bahwa tulang selangka kirinya retak, bahwa itu akan sembuh dalam enam minggu dengan gendongan, bahwa kepalanya tidak apa-apa tapi mereka akan mengobservasi semalam untuk memastikan.

Ibu Kayla menangis dan bilang alhamdulillah tiga kali.

Bapak dari blok C menepuk bahuku.

Dan aku berdiri di lorong rumah sakit itu dan mengangguk dan bilang alhamdulillah, dan senyumku menyala tepat waktu, dan tidak ada satu orang pun di lorong itu yang melihat apa pun.


Laki-laki pemilik mobil putih itu datang jam delapan.

Namanya Pak Deni. Umurnya mungkin empat puluhan. Dia membawa buah-buahan dan berdiri di ambang pintu ruangan dengan wajah orang yang belum tidur sejak jam empat sore meskipun baru jam delapan malam.

“Saya minta maaf, Bu.”

“Bapak nggak salah apa-apa.”

“Saya belok, terus tiba-tiba—“

“Bapak berhenti,” kata ibu Kayla. “Bapak berhenti. Itu yang penting.”

Dan Pak Deni duduk di kursi di lorong dan menutup wajahnya dengan kedua tangan selama beberapa detik.

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Deket banget, Mas,” katanya, tanpa mengangkat wajahnya.

“Iya.”

“Saya rem, dia lewat depan bemper saya.” Dia mengangkat kepalanya. “Sejengkal. Saya nggak bohong. Sejengkal.”

Dan aku duduk di kursi plastik di lorong rumah sakit dan mengangguk dan bilang bahwa yang penting semuanya baik-baik saja.


Ibu Kayla mengucapkan terima kasih kepadaku empat kali malam itu.

Yang keempat sekitar jam sembilan, di lorong, waktu aku pamit.

“Mas Adit.”

“Iya, Bu.”

“Makasih ya.” Matanya masih merah. “Kalau nunggu ambulans—“

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Nggak, Mas. Ibu serius.” Dia menggenggam lenganku. “Mas Adit yang bawa. Mas Adit yang ngurus semuanya. Ibu tuh nggak bisa mikir apa-apa dari tadi.”

Dan aku berdiri di lorong lantai dua rumah sakit di Bandung jam sembilan malam sambil dipegang lengannya oleh seorang ibu yang berterima kasih karena aku menyelamatkan anaknya.

“Sama-sama, Bu,” kataku.


Aku sampai di mobil jam sembilan lewat lima belas.

Aku masuk. Aku menutup pintu. Aku memasang sabuk pengaman.

Aku menyalakan mesin.

Lalu aku mematikannya.


Aku duduk di parkiran rumah sakit itu selama satu jam dua puluh menit.

Aku tahu berapa lama karena aku melihat jam waktu masuk dan aku melihat jam waktu keluar, dan aku sudah lima tahun melakukan itu, dan malam itu aku akhirnya mengerti kenapa.

Karena kalau ada angkanya, ada bentuknya.

Dan kalau ada bentuknya, itu bukan sesuatu yang terjadi padaku. Itu sesuatu yang bisa kuukur.

Malam itu tidak berhasil.

Karena yang datang jam sembilan lewat empat puluh, di parkiran lantai satu, sendirian di dalam mobil dengan kaca yang mulai berembun—

Yang datang adalah suaraku sendiri.

Bukan ingatan. Bukan adegan.

Suaraku sendiri, mengucapkan lima kalimat, dalam urutan yang salah:

Besok Om setel.

Iya.

Nanti ya, Kayla.

Iya, sibuk banget. Minggu depan ya.

Oke, nanti Om cek.

Dan lalu, di bawahnya, sebagai lapisan kedua, sesuatu yang sudah lima tahun kuletakkan di dalam dinding:

Minggu depan aku bawa ke bengkel.


Aku memegang setir dengan kedua tangan.

Dan aku duduk di parkiran itu dan mengerti, dengan kejelasan yang membuat seluruh tubuhku dingin, bahwa lima tahun terakhir sama sekali bukan pemulihan.

Karena kalau aku sudah pulih, aku akan berubah.

Aku tidak berubah.

Aku cuma jadi lebih rajin.

Aku menyemen halaman dan menyetir di enam puluh dan menolak pekerjaan dan mengecek tekanan ban mobil Bu Yuli setiap kali dia mau ke Garut, dan aku pikir itu artinya aku sudah belajar sesuatu.

Aku tidak belajar apa pun.

Aku cuma memindahkan kewaspadaanku ke tempat-tempat yang tidak penting, ke tempat-tempat yang bisa dilihat orang, ke tempat-tempat yang membuat orang menepuk bahuku dan bilang Mas Adit orangnya perhatian.

Dan di tempat yang sungguhan—di satu tempat yang sungguhan, di tuas rem sepeda anak enam tahun yang berdiri di pagarku lima kali dalam tiga bulan—

Aku bilang besok.

Persis seperti dulu.

Dengan kalimat yang hampir sama persis.


Aku tidak menangis di parkiran itu.

Aku ingin sekali menulis bahwa aku menangis, karena orang yang menangis sudah mengeluarkan sesuatu.

Yang terjadi adalah aku duduk di sana selama satu jam dua puluh menit dan sesuatu di dalam dadaku berhenti bergerak.

Bukan patah.

Berhenti.

Seperti mesin yang dimatikan pelan-pelan, satu sistem demi satu sistem, sampai yang tersisa cuma lampu darurat.

Ponselku bergetar tujuh kali selama satu jam dua puluh menit itu.

Bu Yuli, dua kali. Bram, sekali—jelas sudah dengar dari grup. Bapak dari blok C, mengirim foto Kayla yang sudah tidur dengan gendongan di lengan kirinya.

Dan Clara, empat kali.

Aditya, aku denger dari Tari yang denger dari mana. Kayla kenapa?

Kamu di mana?

Aditya.

Aku telepon ya.

Dia menelepon jam sepuluh kurang.

Aku melihat layarnya menyala di kursi penumpang. Aku melihat namanya. Aku melihat fotonya—foto yang dia ambil sendiri di ponselku bulan Desember, dengan wajah yang dibuat jelek, sambil tertawa.

Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.

Lalu aku menyalakan mesin dan pulang, dan aku menyetir di dua puluh delapan kilometer per jam sepanjang jalan, dan tiga mobil menyalip sambil membunyikan klakson dan aku tidak peduli.

Aku sampai di rumah jam sebelas.

Aku tidak menyalakan lampu.

Tidak satu pun.

Aku masuk ke rumah yang gelap dan berjalan ke ujung lorong dan membuka pintu putih itu dan duduk di lantai kamar yang sudah lima tahun tidak ditiduri siapa pun.

Dan aku duduk di sana sampai pagi.