Chapter Nineteen
Bulan Oktober
POV: Aditya
Bulan Oktober masuk seperti orang yang membuka pintu tanpa mengetuk.
Aku sudah tahu dia datang. Aku selalu tahu. Sejak pertengahan September ada sesuatu yang mulai berbunyi pelan di belakang kepalaku, dan bunyinya naik satu takik setiap beberapa hari, dan aku tidak melakukan apa pun untuk mematikannya karena mematikannya bukan pilihan.
Tanggal sembilan Oktober. Lima tahun.
Yang berbeda tahun ini adalah bahwa aku punya jadwal yang tidak kosong.
Aku memperhatikan perubahan pada diriku sendiri dengan cara orang membaca laporan sistem.
Minggu pertama Oktober: tidurku turun dari enam jam ke empat setengah.
Minggu pertama Oktober: aku mulai bangun jam tiga dan mengerjakan sesuatu sampai subuh. Aku menyelesaikan dua tiket klien yang deadline-nya masih tiga minggu lagi. Aku merapikan repositori kode yang tidak dilihat siapa pun.
Minggu pertama Oktober: aku mengecat ulang pagar rumah. Bukan karena catnya jelek.
Minggu pertama Oktober: aku menawarkan bantuan kepada empat orang berbeda dalam tiga hari, dan dua di antaranya tidak sedang membutuhkan bantuan apa pun.
Aku tahu apa yang sedang kulakukan. Itu bagian yang tidak pernah membantu—aku selalu tahu persis apa yang sedang kulakukan, dan pengetahuan itu tidak pernah sekali pun mengubah apa pun.
Sarah menelepon tanggal empat.
Aku mengangkatnya kali ini. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku sedang di garasi dan sedang tidak melakukan apa-apa dan tidak punya alasan yang bisa kuucapkan pada diriku sendiri.
“Mas.”
“Sar.”
“Apa kabar?”
“Baik. Kamu?”
“Baik.” Ada suara anak kecil di belakang. Anak Sarah, dua tahun. “Mas, soal tanggal sembilan.”
“Iya.”
“Ibu mau di rumah aja. Habis magrib. Nggak rame, cuma keluarga sama tetangga sebelah.”
“Oke.”
“Mas bisa?”
Dan aku berdiri di garasi dengan kuas cat di tangan, dan aku mendengar diriku sendiri berkata:
“Insyaallah.”
Hening di seberang.
Sarah tidak bodoh. Sarah sudah lima tahun mengumpulkan insyaallah dariku, dan dia tahu persis apa artinya, dan dia tidak pernah sekali pun menyebutnya.
“Ya udah,” katanya. “Kalau nggak bisa, nggak apa-apa.”
“Sar.”
“Iya?”
Dan ada sesuatu yang hampir keluar. Aku merasakannya naik—sesuatu tentang bahwa aku menyesal, atau bahwa aku tahu apa yang sudah kulakukan selama lima tahun, atau bahwa dia adalah satu-satunya orang yang berhak marah dan dia tidak pernah marah dan itu jauh lebih berat daripada kalau dia marah.
“Nggak jadi,” kataku. “Salam buat Ibu ya.”
“Iya, Mas.”
Dia menutup telepon.
Aku menyelesaikan pagar itu dalam empat jam.
Clara tahu ada yang salah di hari keenam.
Bukan dari wajahku. Aku sangat berhati-hati dengan wajahku minggu itu; aku bahkan lebih ceria dari biasanya, yang seharusnya jadi tanda tapi tidak pernah jadi tanda bagi siapa pun.
Dia tahu dari tanganku.
“Mas.”
“Hm?”
“Itu tali rafianya.”
Aku melihat ke bawah.
Ada sekitar sembilan potongan tali rafia di pahaku, dipotong-potong jadi ukuran lima sentimeter, disusun sejajar.
Aku tidak ingat mengambil talinya.
“Oh.” Aku mengumpulkannya. “Sori, berantakan.”
“Bukan itu.” Dia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat. “Mas, kamu udah motong itu dari tadi. Sekitar dua puluh menit.”
“Kebiasaan.”
“Aku belum pernah lihat kamu potong tali rafia.”
Aku memasukkan potongan-potongan itu ke saku, yang merupakan hal paling bodoh yang bisa kulakukan, dan yang kulakukan.
Clara berdiri di depanku.
Dia tidak duduk di kursi satunya. Dia berdiri di depan kursiku, jadi aku harus mendongak untuk melihatnya, dan itu mengubah seluruh geometri percakapan dengan cara yang tidak nyaman.
“Aditya.”
Namaku. Bukan Mas.
Delapan minggu, dan itu pertama kalinya.
“Iya.”
“Ada apa?”
Dan aku, dengan seluruh sistem menyala penuh, berkata:
“Nggak ada apa-apa, Ra. Beneran. Cuma banyak kerjaan.”
Aku mengucapkannya dengan sangat baik.
Aku ingin mencatat itu, karena penting: aku mengucapkannya dengan sangat baik. Nadanya tepat. Ada sedikit tawa di ujungnya, jumlah yang persis. Aku bahkan menyentuh tangannya waktu mengatakannya.
Clara menatapku beberapa saat.
Lalu dia mengangguk, dan kembali ke mejanya, dan melanjutkan bekerja.
Dan sepanjang dua jam berikutnya dia tidak menyebutkannya lagi.
Dan aku duduk di kursi plastik hijau itu merasa seperti orang yang baru saja menang dalam sesuatu yang tidak ingin dia menangkan.
Tanggal delapan, aku hampir membatalkan Kamis.
Aku mengetik pesannya tiga kali.
Ra, besok aku nggak bisa. Ada kerjaan.
Hapus.
Ra, besok mungkin telat.
Hapus.
Ra
Hapus.
Aku duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan selama empat puluh menit, dan pada akhirnya aku tidak mengirim apa-apa, dan aku datang hari Kamis jam empat lewat sepuluh seperti biasa.
Karena begini: aku sudah menghitungnya.
Kalau aku membatalkan, dia akan tahu.
Kalau aku datang dan berperilaku normal selama empat jam, dia mungkin tidak tahu.
Itu perhitungan yang kubuat, dengan sadar, di ruang tamu rumahku sendiri malam sebelum peringatan lima tahun kematian istri dan anakku.
Aku tidak tahu kapan aku menjadi orang yang membuat perhitungan seperti itu.
Kamis itu berjalan baik.
Itu bagian yang mengerikan. Kamis itu benar-benar berjalan baik.
Aku bercanda dengan Tari. Aku mengangkat karung tanah. Aku memotong batang dengan sudut empat puluh lima derajat. Aku makan mi ayam di trotoar dan tertawa tentang sesuatu yang sekarang sudah tidak kuingat apa.
Dan sekitar jam setengah delapan, waktu Clara sedang membereskan meja, aku duduk di kursi plastik hijau dan berkata:
“Ra.”
“Hm.”
“Besok aku nggak ke sini ya.”
“Iya, besok Jumat.”
“Iya, tapi—“ Aku memutar kunci mobil. Berhenti. “Besok aku ada acara. Mungkin sampai malam. Kalau aku nggak bales chat, bukan karena apa-apa.”
Clara meletakkan kainnya.
“Oke.”
“Aku bakal bales, cuma mungkin telat.”
“Oke.”
“Bukan tiga hari.”
Aku mengucapkannya dan langsung ingin menariknya kembali.
Clara berdiri diam beberapa saat.
Lalu dia berjalan ke arahku, dan berlutut di depan kursi plastik itu—dia yang berlutut, kali ini—dan meletakkan kedua tangannya di lututku.
“Aditya.”
“Iya.”
“Aku nggak akan nanya besok acara apa.”
“Ra—“
“Dengerin dulu.” Tangannya tidak bergerak. “Aku nggak akan nanya besok, aku nggak akan nanya lusa, dan aku nggak akan nanya minggu depan. Bukan karena aku sabar. Aku nggak sabar. Aku pengen banget nanya.”
Aku menatap tangannya di lututku.
“Tapi aku nggak akan nanya,” katanya. “Yang aku minta cuma satu.”
“Apa?”
“Kalau besok malem kamu nggak bisa, kirim titik.”
“Titik?”
“Titik. Satu karakter.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak akan bales. Aku nggak akan nanya. Aku cuma pengen tahu kamu masih ada.”
Dan aku duduk di kursi plastik hijau di teras toko bunga di Sukaluyu dengan seseorang berlutut di depanku, dan aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Oke,” kataku akhirnya.
“Janji?”
“Janji.”
Tanggal sembilan aku bangun jam empat.
Aku mengerjakan urutannya. Mandi. Kopi. Kemeja yang tidak perlu disetrika tapi kusetrika.
Jam setengah sembilan aku sampai di Kembang Kata.
Tari yang membukakan. Clara sedang di gudang.
“Mas.”
“Pagi, Tari.”
Dan Tari—yang selama ini tidak pernah sekali pun menyinggung apa pun, yang bertanya sekali dan langsung menyesalinya—Tari menyerahkan buket yang sudah dibungkus tanpa aku sempat mengatakan apa-apa.
Sembilan krisan putih.
“Teh Clara yang siapin,” katanya. “Kemarin sore.”
Aku menerimanya.
“Berapa?”
“Nggak usah, Mas.”
“Tari.”
“Bukan aku yang mutusin.” Dia mengangkat kedua tangan. “Aku cuma disuruh bilang gitu. Kalau Mas maksa, aku disuruh bilang bahwa harganya nol dan itu harga resmi.”
Clara keluar dari gudang.
Dia mengelap tangannya ke celemek. Dia tidak berkata apa-apa tentang tanggal, tentang bunganya, tentang apa pun.
Yang dia lakukan adalah berjalan ke arahku, dan berdiri di depanku, dan mengangkat tangannya dan merapikan kerah kemejaku yang sama sekali tidak berantakan.
“Hati-hati di jalan,” katanya.
“Iya.”
Dan itu saja.
Aku keluar dari toko itu membawa sembilan krisan putih yang tidak kubayar, dan aku duduk di mobil selama beberapa menit sebelum menyalakan mesin, dan aku menangis di dalam mobil di depan toko bunga di Jalan Sukaluyu jam sembilan kurang lima pagi.
Untuk pertama kalinya dalam empat tahun sembilan bulan.
Tidak lama. Mungkin empat puluh detik. Dan berhenti sendiri, seperti keran yang dibuka lalu ditutup lagi karena ternyata airnya belum naik.
Tapi terjadi.
Lima di kiri. Empat di kanan.
Aku duduk di rumput sampai jam sebelas.
Matahari naik. Pak Salim lewat dengan mesin potong rumputnya dan mengangguk dan tidak berhenti.
Dan aku tidak mengatakan apa-apa, seperti biasa, selama dua jam.
Lalu, sekitar jam sebelas kurang, aku berkata—pelan sekali, ke arah nisan sebelah kiri:
“Nay.”
Dan aku berhenti.
Aku tidak melanjutkan. Aku tidak bisa. Ada sesuatu di tenggorokanku yang menutup dengan cara yang sangat fisik, dan aku duduk di sana dengan mulut yang sudah terbuka dan tidak ada apa pun yang keluar.
Setelah beberapa saat aku berdiri, dan membersihkan celanaku dari rumput, dan pergi ke rumah ibunya.
Tahlilannya jam tujuh.
Aku sampai jam lima. Aku mengangkat kursi, memasang terpal, mengurus parkir, mengambilkan air untuk orang-orang, dan berdiri di dapur mencuci gelas selama empat puluh menit di tengah acara.
Ini bagian yang sudah kukuasai. Aku sudah lima kali melakukannya—lima tahun, lima kali—dan setiap tahun aku jadi sedikit lebih efisien.
Tahun pertama aku duduk di baris depan dan tidak bisa mengangkat kepalaku.
Tahun kedua aku duduk di baris depan dan bisa.
Tahun ketiga aku menemukan bahwa kalau aku mengurus parkir, aku tidak perlu duduk sama sekali.
Tahun keempat aku menambahkan gelas.
Tahun kelima ini, aku juga mengurus sound system, karena speaker di rumah ibu Naya memang selalu bermasalah, dan karena mengurus speaker berarti aku harus jongkok di belakang selama pembacaan tahlil dan tidak ada yang menganggapnya aneh.
Semua orang bilang aku luar biasa.
Ibu Naya memelukku di depan pintu dan menangis di bahuku selama mungkin satu menit, dan aku menepuk punggungnya dan bilang bahwa semuanya baik-baik saja, dan aku tidak menangis sama sekali.
Sarah memperhatikanku dari seberang ruangan sepanjang malam.
Sekitar jam sembilan, dia mencegatku di lorong dapur.
“Mas.”
“Sar.”
“Duduk, dong.”
“Nanti. Ini gelasnya—“
“Mas Aditya.” Dia mengambil gelas dari tanganku. “Duduk. Lima menit.”
Dan aku, karena tidak ada alasan yang bisa kuucapkan tanpa terdengar aneh, duduk di kursi plastik di lorong dapur rumah ibu mertuaku.
Sarah duduk di kursi seberang.
Dia tidak mengatakan apa-apa selama sekitar sepuluh detik.
Lalu: “Mas keliatan sehat.”
“Alhamdulillah.”
“Lebih sehat dari tahun kemarin.”
“Iya, mungkin.”
“Ada apa?”
Aku menatap gelas yang sudah bukan di tanganku lagi.
Dan aku, yang sudah menyiapkan seluruh sistem pertahanan untuk seluruh malam ini, yang sudah melewati tiga jam tanpa satu pun retakan—aku hampir mengatakannya.
Aku hampir bilang aku ketemu orang.
Yang keluar adalah: “Kerjaan lagi enak.”
Sarah mengangguk.
Dia mengangguk terlalu lama, dengan cara orang yang sedang memutuskan untuk tidak melanjutkan.
“Ya udah,” katanya. “Sana, gelasnya.”
Dan dia menyerahkan gelas itu kembali padaku, dan aku berdiri, dan aku berjalan ke dapur, dan sepanjang empat langkah itu aku merasakan matanya di punggungku.
Jam sepuluh aku pamit dengan alasan besok pagi ada panggilan klien dari Australia.
Tidak ada panggilan klien.
Aku sampai di rumah jam sebelas kurang.
Aku duduk di mobil di garasi.
Aku duduk di sana selama tiga puluh dua menit—aku tahu karena aku melihat jam waktu masuk dan waktu keluar, dan aku sudah berhenti mencoba mengerti kenapa aku selalu melakukan itu.
Lalu aku mengambil ponsel.
Ada delapan belas pesan di grup RT. Ada dua email klien. Ada satu pesan dari Bram yang isinya foto anaknya yang tertidur di lantai dengan posisi yang tidak masuk akal.
Tidak ada pesan dari Clara.
Sembilan jam. Nol pesan.
Dan aku duduk di dalam mobil di garasi rumahku sendiri dan menyadari bahwa dia benar-benar tidak menanyakan apa pun, tidak sekali pun, seperti yang dia janjikan—dan bahwa hal itu terasa jauh lebih berat daripada kalau dia menanyakannya.
Aku membuka chat.
Aku mengetik titik.
Aku menatapnya beberapa saat.
Lalu aku menghapusnya, dan mengetik sesuatu yang lain, dan mengirimnya sebelum sempat berubah pikiran.
Aku pulang. Capek. Besok aku cerita satu hal.
Terkirim jam sebelas lewat dua puluh tiga.
Centang dua. Biru dalam empat detik.
Dia sedang mengetik.
Berhenti.
Lalu, yang masuk:
Iya. Tidur ya.
Dan aku duduk di mobil di garasi selama sembilan menit lagi sebelum masuk ke rumah, dan aku tidak menyalakan lampu satu per satu malam itu.
Aku menyalakan semuanya sekaligus dan membiarkannya menyala sampai pagi.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober reading
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu