← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Ten

Tiga Hari

POV: Clara


Hari pertama, aku tidak menyadarinya.

Itu hari Kamis, dan hari Kamis memang sibuk. Ada dua pesanan ulang tahun, satu papan duka cita yang harus jadi dalam tiga jam, dan pengiriman bibit dari Lembang yang datang terlambat sehingga Tari dan aku harus memindahkan enam puluh polybag dalam cuaca yang masih menyisakan gerimis.

Jam tujuh malam aku menutup toko dan baru menyadari, sambil mengunci rolling door, bahwa tidak ada satu pun pesan di ponselku.

Aku menganggapnya wajar. Orang tidak mengirim pesan setiap hari. Kami bukan apa-apa.


Hari kedua, aku menyadarinya.

Jumat pagi jam sembilan aku membuka toko dan mendapati diriku melihat ke seberang jalan sebelum menaikkan rolling door.

Jam sebelas, aku menyadari bahwa aku sudah dua kali mengecek apakah ponselku masih ada sinyal.

Jam satu, aku mengirim pesan.

Mas, sansevierianya gimana?

Aku menatapnya lima belas detik setelah terkirim dan langsung tahu bahwa itu kalimat paling transparan yang pernah kutulis dalam hidupku. Tidak ada orang dewasa yang mengirim pertanyaan itu karena benar-benar ingin tahu keadaan sebuah lidah mertua.

Centang dua.

Abu-abu.

Jam empat sore, masih abu-abu.

Jam delapan malam, masih abu-abu.

Aku duduk di kamar kosku dan menatap dua centang abu-abu itu dan merasakan sesuatu yang sudah lama sekali tidak kurasakan, dan yang aku kenali langsung, dan yang membuatku ingin melempar ponsel itu ke seberang ruangan.

Karena aku pernah menatap dua centang abu-abu seperti ini sebelumnya.

Berbulan-bulan. Ke satu nomor yang sama.


Ada pelanggan yang datang Jumat sore dan hampir membuatku menangis di depannya, dan dia sama sekali tidak tahu.

Bapak-bapak, umur enam puluhan, jalan agak pincang.

“Neng, ada bunga buat orang yang lagi sakit?”

“Ada, Pak. Untuk siapa?”

“Buat istri saya. Di rumah sakit.”

Aku menyiapkan alstroemeria, yang tahan lama dan tidak menyengat baunya karena rumah sakit tidak suka bunga yang wangi.

“Udah lama, Pak?”

“Tiga minggu.” Dia menggeser-geser uang di tangannya. “Sebenernya dia nggak suka bunga.”

“Oh.”

“Dia bilang mubazir. Mahal, terus mati.” Bapak itu tertawa kecil. “Tapi saya beliin terus.”

“Kenapa, Pak?”

“Ya biar dia marah.” Dia mengangkat bahu, dan senyumnya melebar sedikit dengan cara yang membuat dadaku sakit. “Kalau dia marah, berarti dia masih ada tenaga.”

Aku membungkus bunganya. Aku membungkusnya lebih lama dari yang perlu karena tanganku tidak stabil.

Ada orang yang menemukan cara untuk tetap hadir. Bertahun-tahun, tiga minggu, setiap hari, dengan sesuatu yang bahkan tidak disukai orangnya.

Dan aku, dalam empat puluh delapan jam, sudah hampir mengirim tiga pesan yang semuanya berisi tuntutan yang disamarkan sebagai pertanyaan.


Hari ketiga, aku mulai membuat teori.

Ini yang orang tidak mengerti tentang punya kepala seperti kepalaku: masalahnya bukan kau memikirkan hal buruk. Masalahnya kau memikirkan segalanya, dengan sangat rapi, dalam urutan yang logis, sampai kau punya delapan skenario lengkap dengan bukti pendukungnya masing-masing dan tidak ada satu pun yang bisa dibuktikan salah.

Satu: ponselnya rusak.

Dua: dia sakit.

Tiga: dia sedang di luar kota untuk pekerjaan dan lupa bilang, yang tidak masuk akal karena kami bukan siapa-siapa dan dia tidak punya kewajiban bilang apa-apa.

Empat: dia malu.

Lima—dan ini yang mulai jam sebelas pagi Sabtu tidak mau pergi dari kepalaku—dia menyesal.

Dia mengatakan satu kalimat di dalam mobil, satu kalimat yang aku bahkan tidak memintanya, dan begitu sampai rumah dia menyadari apa yang sudah dia berikan dan sekarang dia sedang menghitung berapa banyak yang harus ditarik kembali.

Aku tahu bentuk itu.

Kak Rendy pernah bercerita padaku satu kali. Satu kali saja, di tahun itu, jam dua pagi di dapur rumah orang tua kami. Dia bilang dia takut. Cuma itu—aku takut, Ra—dan aku ingat aku terlalu kaget untuk merespons dengan benar, dan aku bilang sesuatu yang bodoh seperti takut apa sih, semua orang juga takut.

Dia tidak pernah menyinggungnya lagi.

Dan selama berminggu-minggu sesudahnya dia jadi lebih ceria dari sebelumnya. Lebih banyak bercanda. Lebih banyak hadir. Seperti orang yang membayar kembali sesuatu yang sudah terlanjur bocor.


“Teh Clara.”

“Hm.”

“Teteh dari tadi ngelap kaca yang sama.”

Aku melihat ke tanganku. Lap. Kaca etalase. Sudah bersih, jelas sudah bersih, dan aku sudah melewatinya entah berapa kali.

Aku meletakkan lapnya.

“Teh.” Tari duduk di kursi plastik, yang berarti dia sudah memutuskan bahwa ini akan lama. “Mas Aditya kenapa?”

“Mana aku tahu.”

“Biasanya seminggu tiga kali.”

“Dia punya kerjaan, Tari.”

“Kerjaan yang mana? Yang benerin engsel orang?”

Aku tidak menjawab.

Tari mengambil gunting dan mulai memotong tali rafia jadi potongan-potongan kecil, yang dia lakukan kalau sedang berpikir, dan yang selalu berakhir dengan aku harus memungutinya nanti.

“Teh.”

“Hm.”

“Kalau menurutku ya—“ dia berhenti. “Nggak jadi.”

“Ngomong aja.”

“Nanti Teteh marah.”

“Aku nggak akan marah.”

“Kemarin aku bilang Teteh ngelap kaca yang sama dan Teteh langsung ngelap kaca yang lain dengan wajah serem.”

“Tari.”

“Ya udah.” Dia meletakkan guntingnya. “Menurutku Mas Aditya itu orangnya bukan yang tiba-tiba ilang tanpa alasan.”

“Terus?”

“Terus berarti ada alasannya.” Tari mengangkat bahu. “Dan berarti alasannya bukan Teteh.”

Aku menoleh.

“Kenapa kamu bilang gitu?”

“Karena kalau orang mau kabur dari seseorang, dia nggak akan benerin empat engsel dulu.”

Dan lalu dia berdiri dan pergi menyapu teras tanpa disuruh, yang seharusnya sudah cukup jadi tanda bahwa hari itu bukan hari biasa.


Sabtu malam aku melakukan hal yang sudah kutahan tiga hari.

Aku membuka chat Kak Rendy.

Terakhir: lima bulan lalu. Selamat Idulfitri, Kak. Maaf lahir batin. Dibalas empat jam kemudian: Sama-sama, Ra. Sehat-sehat ya.

Aku menggulir ke atas. Terus ke atas.

Ada bagian di sana, kalau digulir cukup jauh, di mana chat kami penuh. Tiga ratus pesan sebulan. Foto makanan. Meme yang tidak lucu. Dia mengirimiku video tutorial merawat tanaman dengan komentar ini buat kamu, Ra, biar tanamanmu nggak mati mulu. Aku membalas dengan sok tau.

Aku menggulir sampai ke hari itu.

Aku tidak membaca isinya. Aku tidak pernah bisa. Tapi aku bisa melihat bentuknya: gelembung-gelembung panjang dari sisiku, satu demi satu, tiga layar penuh. Dan dari sisinya, dua gelembung kecil.

Iya.

Maaf.

Aku menutup aplikasinya.

Lalu aku membukanya lagi dan mengetik: Kak, apa kabar?

Dan mengirimnya.

Sungguh-sungguh mengirimnya, jam sepuluh malam Sabtu, tanpa alasan, setelah lima bulan.

Balasannya datang empat puluh menit kemudian.

Baik, Ra. Kamu gimana? Toko ramai?

Aku menatap layar.

Dan aku menyadari bahwa aku sedang menangis, yang konyol, karena tidak ada yang buruk di kalimat itu. Kalimat itu baik. Kalimat itu sopan dan hangat dan persis seperti yang akan ditulis seorang kakak.

Yang bikin aku menangis adalah bahwa dia tidak bertanya kenapa aku tiba-tiba mengirim pesan jam sepuluh malam setelah lima bulan.

Dia terlalu sopan untuk bertanya.

Aku telah mengajarinya itu.


Minggu pagi aku bangun dengan keputusan.

Bukan keputusan besar. Aku sudah belajar—dengan biaya yang tidak ingin kubayar dua kali—bahwa keputusan besar adalah bentuk lain dari kehilangan kendali.

Keputusanku kecil, dan spesifik, dan aku menuliskannya di catatan ponsel supaya tidak berubah bentuk di kepalaku:

Jangan tanya kenapa dia hilang. Jangan minta penjelasan. Jangan bikin dia harus bayar.

Dan di bawahnya:

Tapi jangan pura-pura nggak lihat.

Dua kalimat itu bertentangan, dan aku tahu bertentangan, dan aku tidak tahu bagaimana menjalankan keduanya sekaligus.

Enam tahun lalu aku memilih satu—yang kedua, dengan cara paling buruk yang bisa dibayangkan—dan kehilangan seseorang.

Empat hari terakhir aku memilih yang pertama, dan aku menghabiskannya mengelap kaca yang sama berulang-ulang.

Jadi mungkin memang tidak ada pilihan yang benar. Mungkin yang ada cuma pilihan yang bisa kau tanggung.


Dia datang hari Senin, jam sebelas kurang.

Aku sedang di teras memindahkan sirih gading ke pot yang lebih besar, dengan tangan penuh tanah sampai pergelangan, dan aku mendengar mobilnya sebelum melihatnya.

Dia turun. Berjalan menyeberang.

Dan wajahnya—

Wajahnya sempurna.

Itu hal pertama yang kulihat, dan itu yang membuat sesuatu di dadaku turun dengan cepat. Senyumnya sudah menyala sebelum dia sampai trotoar. Langkahnya ringan. Dia bahkan membawa sesuatu di tangan kiri: kantong plastik dari toko bangunan.

“Ra.”

“Mas.”

“Ini.” Dia mengangkat kantongnya. “Saya lihat kemarin selang teras Mbak bocor di sambungannya. Ini konektor yang bener. Yang kemarin itu ukurannya beda satu mili, makanya netes.”

Aku menatapnya.

Tanganku masih di dalam tanah.

Ada begitu banyak yang bisa kukatakan. Semuanya sudah tersusun rapi selama empat hari, dan sebagian besarnya sudah kuhapus, dan yang tersisa masih terlalu banyak.

Mas ke mana aja.

Saya kirim pesan.

Kenapa nggak dibales.

Mas nggak perlu bawa apa-apa tiap kali dateng.

Yang keluar adalah:

“Sekalian yang di belakang, ya. Yang itu juga netes.”

Sesuatu di bahunya turun.

Aku melihatnya. Sangat jelas, sangat kecil, tapi aku melihatnya—seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk didorong dan mendapati tidak ada yang mendorong.

“Oke,” katanya. “Ada obeng plus nggak?”

“Di laci meja.”

Dia masuk. Aku mendengar laci dibuka.

Dan aku berlutut di teras dengan tangan di dalam tanah, memindahkan sirih gading yang akarnya sudah terlalu penuh untuk pot lamanya, dan aku tidak menanyakan satu pun dari empat pertanyaan itu.

Bukan karena aku tidak ingin.

Karena aku sudah pernah menanyakan semuanya sekaligus, kepada orang lain, dengan daftar di tangan.


Dia bekerja sampai jam satu.

Selang teras. Selang belakang. Keran gudang yang ternyata drat-nya sudah aus. Lalu, karena sudah terlanjur, engsel jendela.

Aku membuat kopi dua gelas dan meletakkan satu di dekatnya tanpa berkata apa-apa, dan dia bilang makasih, dan meminumnya.

Tari datang jam dua belas dari pengantaran dan langsung mengerem motornya terlalu keras di depan toko.

“MAS ADITYA.”

“Tari.”

“Mas ke mana aja.”

Aku menoleh dengan kecepatan yang mungkin agak mencurigakan.

“Kerja,” kata Aditya.

“Kerja apa? Kok nggak ke sini?”

“Emang saya harus lapor?”

“Ya nggak harus.” Tari melepas helmnya. “Tapi kan aneh. Biasanya seminggu tiga kali. Ini empat hari nggak ada. Teh Clara sampai—“

“Tari.”

“—sampai apa, Teh? Aku belum ngomong apa-apa.”

“Kamu belum bongkar motor.”

“Ini lagi dibongkar.” Dia mulai menurunkan keranjang dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat sengaja, sambil terus bicara. “Teh Clara sampai ngelap kaca yang sama empat kali, Mas.”

“TARI.”

“Aku bilang kaca! Kaca itu benda mati!”

Aditya tertawa. Sungguhan, keras, dengan cara yang membuat Tari langsung merasa menang dan aku ingin masuk ke dalam tanah bersama sirih gading itu.

Dan lalu, di tengah tawanya, dia menoleh ke arahku.

Cuma sekilas. Dan tawanya masih ada di wajahnya. Tapi ada sesuatu di matanya yang tidak ikut tertawa, dan yang menatapku selama mungkin satu detik penuh, dan yang kelihatan seperti orang yang baru saja diberi tahu sesuatu yang tidak dia minta dan tidak tahu harus diapakan.

Lalu dia kembali ke selang, dan Tari terus bicara, dan siang itu berjalan seperti siang biasa.

Sekitar jam setengah satu, sambil mengencangkan sesuatu di bawah wastafel gudang, dia berkata—dari bawah, dengan suara yang teredam, tanpa melihat ke arahku:

“Ponsel saya matiin tiga hari.”

Aku berhenti menggunting.

“Bukan rusak,” katanya. “Saya matiin.”

Hening.

Aku bisa mendengar kunci inggris berputar dua kali.

Dan aku tahu—dengan sangat, sangat jelas—bahwa ini adalah pintu yang dibuka selebar dua sentimeter, dan bahwa yang kulakukan dalam sepuluh detik berikutnya akan menentukan apakah pintu itu akan pernah dibuka lagi.

Aku bisa bertanya kenapa.

Aku menarik napas.

Dan aku bilang:

“Kopinya keburu dingin, Mas.”

Suara kunci inggris berhenti.

Beberapa detik.

Lalu: “Bentar, tinggal satu.”

Dan waktu dia keluar dari bawah wastafel, dan duduk di kursi plastik, dan mengambil gelas kopi yang memang sudah dingin dan meminumnya sampai habis tanpa mengeluh—

—aku melihat wajahnya untuk pertama kalinya dalam empat hari tanpa apa-apa di atasnya.

Cuma sepersekian detik. Lalu senyumnya menyala lagi.

Tapi aku melihatnya.

Dan aku pergi ke belakang dengan alasan mengambil sapu, dan berdiri di gudang selama dua puluh detik dengan tangan di wajah, dan lalu keluar lagi membawa sapu yang tidak kubutuhkan.