Chapter Twenty Eight
Malam yang Tidak Aku Hitung
POV: Aditya
Aku menyetir tujuh menit dengan kedua tangan di setir dan tidak berkata apa-apa.
Bukan karena aku ragu.
Karena aku sedang menghitung, dan aku tahu aku sedang menghitung, dan aku sedang berusaha berhenti.
Rumahnya belum dibereskan. Ada gelas di meja. Kamar mandi belum—tidak, kamar mandi bersih. Sprei diganti kapan terakhir, Minggu, berarti aman. Handuk. Ada handuk cadangan di lemari, yang masih terbungkus, yang dibeli entah kapan dan tidak pernah dipakai.
Pintu di ujung lorong.
Aku menahan napas di lampu merah Antapani.
Pintu di ujung lorong tidak dikunci. Tidak pernah dikunci. Kalau dia bangun malam dan salah pintu—
“Aditya.”
“Hm.”
“Kamu ngitung.”
Aku menoleh.
Clara sedang menatapku dari kursi penumpang dengan tas ransel di pangkuan.
“Iya,” kataku.
“Ngitung apa?”
Dan aku, karena aku sudah terlalu lelah untuk merancang jawaban, mengatakan yang sebenarnya.
“Handuk,” kataku.
Clara mulai tertawa.
“Aditya.”
“Aku serius. Aku lagi mikirin handuk.” Aku memindahkan gigi. “Terus aku mikirin sprei. Terus aku mikirin gelas yang di meja.”
“Ada gelas di meja?”
“Satu.”
“Ya Allah.”
“Terus—“
Aku berhenti.
Lampu hijau. Aku jalan.
“Terus apa?” tanyanya.
“Nggak,” kataku. “Itu aja.”
Dan itu bohong yang pertama malam itu, dan aku tahu itu bohong bahkan sambil mengucapkannya.
Rumahnya persis seperti yang kutinggalkan jam lima sore.
Aku menyalakan lampu teras. Lalu ruang tamu.
Lalu aku berhenti, dengan tangan di saklar ketiga, dan menyalakan sisanya sekaligus.
Semuanya. Lorong, dapur, ruang kerja.
Clara berdiri di ambang pintu melihatku melakukannya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
Dan itu bohong yang kedua, tapi bohong yang berbeda jenisnya, karena aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Ada empat puluh menit yang canggung.
Aku ingin mencatat itu, karena tidak ada yang pernah menceritakan bagian ini.
Kami duduk di sofa. Aku membuatkan teh yang tidak diminta siapa pun. Clara meletakkan tasnya di lantai lalu memindahkannya ke kursi lalu memindahkannya kembali ke lantai.
Aku menyalakan TV. Kami tidak menonton TV.
“Kamu punya handuk?” tanyanya, di menit ke sepuluh.
“Punya.”
“Yang belum kepake?”
“Punya.”
“Yang masih dibungkus plastik?”
Aku menoleh.
“Kenapa kamu tahu?”
“Karena kamu mikirin handuk di lampu merah.” Dia menahan tawa. “Orang yang mikirin handuk di lampu merah pasti punya handuk yang belum dibuka bungkusnya.”
“Itu kesimpulan yang nggak logis.”
“Tapi bener.”
“...Iya.”
Dan dia tertawa, dan aku ikut, dan sesuatu di bahuku turun sedikit.
Lalu diam lagi.
Menit ke lima belas, dia bertanya berapa lama aku tinggal di rumah ini. Aku bilang sembilan tahun. Dia bertanya apakah aku pernah berpikir pindah. Aku bilang pernah, di tahun kedua, dan sudah sampai melihat dua rumah.
“Kenapa nggak jadi?”
“Karena rumah ini udah lunas.”
“Itu alasan yang bagus.”
“Itu alasan yang aku pakai,” kataku.
Dia tidak mengejar.
Dan di suatu titik, sekitar menit ke dua puluh lima, aku menyadari bahwa aku sedang duduk dengan punggung terlalu tegak di sofa rumahku sendiri.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku nggak tahu harus gimana.”
Dia menoleh.
“Bukan itu maksudnya,” kataku cepat. “Maksudnya—“ Aku menggosok wajahku. “Aku lima tahun nggak ada orang di rumah ini lewat jam sebelas. Aku nggak tahu urutannya.”
Clara meletakkan gelas tehnya di meja.
“Nggak ada urutannya,” katanya.
“Semua hal ada urutannya.”
“Aditya.”
Dan dia menggeser dan duduk lebih dekat dan mengambil tanganku dan meletakkannya di pangkuannya, dan memegangnya dengan dua tangan seperti orang memegang sesuatu yang harus dihangatkan.
“Nggak ada urutannya,” katanya lagi.
Aku menciumnya di sofa.
Dan dua detik pertama bersih, seperti selalu.
Dan di detik ketiga mesinnya menyala, seperti selalu.
Tapi malam itu aku tidak menarik diri satu detik lebih cepat.
Aku tetap di sana, dengan seluruh isi kepalaku berbunyi, dan aku membiarkannya berbunyi.
Kamu sedang di ruang tamu rumahmu.
Ini bulan November.
Kamu tahu apa yang kamu lakukan.
Dan aku mendengar semuanya, dan aku tidak berhenti, dan pada suatu titik—aku tidak tahu kapan, tidak ada momen yang bisa kutunjuk—bunyinya mengecil.
Bukan berhenti.
Mengecil, seperti radio di ruangan sebelah waktu ada yang menutup pintu.
Tangannya di rambutku. Tanganku di punggungnya. Napasnya di leherku.
Dan di suatu tempat di antara semua itu, dia menarik diri sedikit dan berkata, dengan dahi menempel di dahiku:
“Aditya.”
“Hm.”
“Kamu boleh berhenti kapan aja.”
Aku membuka mata.
“Aku serius,” katanya. Suaranya pelan tapi jelas. “Kapan aja. Nggak usah dijelasin. Nggak usah minta maaf.”
Dan aku menatap wajahnya dari jarak sepuluh sentimeter, di ruang tamu rumahku yang seluruh lampunya menyala, dan sesuatu di dalam dadaku pecah dengan sangat pelan.
Bukan karena tawarannya.
Karena tidak ada satu orang pun dalam lima tahun yang pernah memberiku sesuatu tanpa membuatku harus menerimanya.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku nggak mau berhenti.”
Dan dia mengangguk sekali, dan tersenyum, dan menciumku lagi.
Lampu-lampu itu kami matikan satu per satu.
Ruang kerja. Dapur. Lorong.
Dan di lorong, di depan pintu ketiga, aku berhenti.
Clara berhenti juga.
Dia tidak bertanya. Dia tidak melihat ke arah pintu itu. Dia berdiri di lorong rumahku dengan tanganku di tangannya dan menunggu.
Dan aku berdiri di sana selama mungkin lima detik.
Lalu aku mematikan lampu lorong.
Dan kami masuk ke kamar dan aku menutup pintunya.
Aku bangun jam tiga.
Itu bukan hal yang aneh. Aku bangun jam tiga hampir setiap malam selama lima tahun.
Yang aneh adalah ada orang di sebelahku.
Aku berbaring di kegelapan selama beberapa menit dengan mata terbuka, mendengarkan napas seseorang di sisi kanan kasur yang sudah lima tahun kosong, dan aku tidak bisa memikirkan satu pun hal yang jelas.
Bukan sedih. Bukan bersalah.
Cuma: penuh. Terlalu penuh untuk ditampung.
Aku bangun pelan-pelan dan keluar dari kamar dan menutup pintunya tanpa bunyi.
Aku duduk di dapur dengan lampu mati.
Ada cahaya dari lampu jalan yang masuk lewat jendela, cukup untuk melihat bentuk-bentuk. Sansevieria di ambang jendela. Tutup botol berisi air di sebelahnya. Rak piring dengan mangkuk biru gompel di paling atas.
Aku duduk di kursi meja makan selama entah berapa lama.
Ini yang tidak kuduga: ruangan itu tidak terasa seperti biasanya.
Aku sudah ratusan kali duduk di dapur ini jam setengah empat pagi. Aku hafal semuanya—bunyi kompresor kulkas yang menyala setiap dua puluh menit, cara lampu jalan masuk lewat jendela dan membuat garis di lantai, jam berapa ayam pertama berbunyi di komplek sebelah.
Malam itu semuanya sama.
Yang berbeda adalah bahwa ada satu pintu di rumah ini yang di baliknya ada orang yang sedang tidur.
Dan itu mengubah seluruh bangunan.
Bukan dengan cara yang menenangkan. Justru sebaliknya. Selama lima tahun rumah ini adalah tempat yang sudah selesai—tidak ada yang bisa hilang dari rumah yang isinya tidak ada.
Sekarang ada isinya.
Dan pada suatu titik aku menyadari bahwa aku sedang menunggu.
Aku menunggu tagihannya.
Aku sudah kenal bentuknya: satu adegan yang diputar ulang dengan sangat detail. Kadang telepon itu. Kadang ruang tunggu ICU. Kadang, yang paling buruk, hal-hal biasa—Bumi yang bilang sebentar dari kamar mandi, Naya yang diam tiga hari lalu memasak sesuatu yang ribet.
Aku duduk di dapur jam setengah empat pagi menunggu salah satu dari itu datang.
Tidak datang.
Dan yang datang justru sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Yang datang adalah kalimat, dan kalimatnya berbunyi begini:
Kamu sudah lima tahun mengira ini soal kehilangan.
Ini bukan soal kehilangan.
Ini soal sebelas hari.
Aku memegang meja dengan kedua tangan.
Sebelas hari.
Naya menyebutkan ban itu pada hari Selasa. Aku ingat harinya karena hari Selasa itu aku pulang jam sepuluh dan dia masih bangun, dan dia bilang mobilnya bunyi aneh di jalan Pasteur, dan aku bilang bunyi apa, dan dia bilang nggak tahu, kayak getar di belakang.
Dan aku bilang: minggu depan aku bawa ke bengkel.
Dan hari Rabu ada rilis yang gagal. Dan hari Kamis ada post-mortem sampai jam sebelas. Dan hari Jumat, Sabtu, Minggu—
Sebelas hari.
Hari kedua belas dia menyetir pulang dari Sumedang bersama anak kami dalam hujan, di jalan menurun, dengan ban belakang kanan yang retak di dinding samping.
Dan aku ada di kantor.
Aku bahkan tidak ada di rumah untuk mendengar mobil itu pergi.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di dapur.
Waktu aku mengangkat kepalaku, Clara berdiri di ambang pintu.
Dia memakai kaosku. Rambutnya berantakan. Dia tidak menyalakan lampu.
“Aditya.”
“Hm.”
“Jam empat.”
“Iya.”
Dan dia tidak bertanya apa-apa. Dia berjalan ke meja dan duduk di kursi seberang dan meletakkan kedua tangannya di meja, telapak menghadap atas.
Aku meletakkan tanganku di sana.
Kami duduk seperti itu di dapur yang gelap selama beberapa menit.
“Ra.”
“Hm.”
“Ada satu hal yang aku belum cerita.”
Dan aku merasakan tangannya mengencang sedikit.
“Iya,” katanya.
Bukan pertanyaan. Bukan dorongan. Cuma: iya.
Aku menarik napas.
Aku membuka mulutku.
Dan aku bisa merasakan bentuk seluruh kalimatnya di sana, lengkap, tersusun selama lima tahun. Sebelas hari. Hari Selasa. Getar di belakang. Minggu depan aku bawa ke bengkel.
Empat kalimat. Mungkin dua puluh detik.
Aku sudah membayangkannya ratusan kali. Aku tahu persis bagaimana rasanya mengucapkannya. Aku tahu persis apa yang akan terjadi setelahnya, karena aku sudah melihat versinya di kepala setiap malam selama lima tahun: wajah orang yang mendengarnya berubah, dan kalimat yang keluar sesudahnya selalu sama, selalu itu bukan salah kamu, dan lalu semuanya selesai dan pintu tertutup satu lagi.
Dan malam itu, di dapur yang gelap jam empat pagi, dengan tangan seseorang di bawah tanganku—
Aku menutup mulutku.
“Nggak,” kataku. “Belum. Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Ra—“
“Aditya.” Dia menggenggam tanganku lebih erat. “Aku nggak ke sini buat nunggu itu.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak tahu.” Dan suaranya begitu tenang sampai membuatku hampir tidak sanggup mendengarnya. “Tapi nggak apa-apa.”
Kami tidur lagi jam lima kurang.
Dia tertidur duluan, dengan cara orang yang sudah dua malam tidak tidur benar di kota lain.
Aku berbaring menghadap langit-langit dan tidak tidur sama sekali.
Dan yang terus berputar bukan sebelas hari.
Yang terus berputar adalah alasan aku berhenti.
Karena aku selalu percaya bahwa aku menyimpannya untuk melindungi orang lain. Bahwa aku tidak menceritakannya karena tidak adil membebankan hal seperti itu kepada siapa pun.
Itu bohong, dan aku sudah tahu itu bohong sejak Cimahi.
Alasan sebenarnya jauh lebih kecil dan jauh lebih memalukan.
Selama tidak ada yang tahu, hukumannya tetap milikku sendiri.
Kalau aku menceritakannya, dan Clara bilang itu bukan salah kamu—seperti yang semua orang bilang, seperti yang pasti dia bilang, karena orang yang mencintaimu selalu bilang begitu—
Maka hukumannya jadi tidak sah.
Dan aku sudah membangun seluruh hidupku di atas hukuman itu. Halaman yang disemen. Enam puluh kilometer per jam. Pekerjaan yang ditolak. Anak-anak yang tidak digendong. Lima tahun.
Kalau hukumannya tidak sah, maka lima tahun itu bukan penebusan.
Lima tahun itu cuma pemborosan.
Dan aku tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan versi itu.
Jam enam, Clara bangun.
Aku sudah di dapur, sudah mandi, sudah menggoreng telur, dengan seluruh lampu dapur menyala dan radio kecil yang lima tahun tidak kunyalakan sekarang memutar sesuatu di volume rendah.
“Pagi.”
“Pagi.” Dia berdiri di ambang pintu dapur, masih memakai kaosku, dengan mata yang belum sepenuhnya buka. “Kamu tidur nggak?”
“Sebentar.”
“Bohong.”
“Iya.”
Dia berjalan ke meja dan duduk, dan aku meletakkan piring di depannya.
Dan dia melihat piringnya, lalu melihatku.
“Ini buat berapa orang?” tanyanya.
Aku menatap meja.
Dua piring. Dua gelas. Telur empat butir.
“Dua,” kataku.
Dan aku duduk di kursi seberang dan kami sarapan bersama di meja makan yang lima tahun tidak dipakai, di dapur yang seluruh lampunya menyala, jam enam pagi hari Kamis di bulan November.
Dan aku tidak mengatakan apa-apa tentang jam empat pagi.
Dan dia juga tidak.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung reading
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu