← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Thirteen

Rantai Dingin

POV: Aditya


Teleponnya masuk jam sebelas malam hari Jumat.

Aku sudah di kasur. Layarnya menyala di kegelapan dan tulisannya Kembang Kata, dan aku sudah duduk sebelum sempat memutuskan untuk duduk.

“Ra?”

“Mas.” Suaranya rata. Terlalu rata. “Mas lagi di rumah?”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Maaf ya, malem.”

“Ra.”

Hening dua detik.

“Mobil boksnya rusak di jalan,” katanya. “Yang bawa pesanan saya dari Malang. Pendinginnya mati sekitar Nagreg, sopirnya baru sadar pas subuh.”

“Terus?”

“Terus barangnya baru nyampe tadi sore.” Napas. “Enam puluh dua ikat mawar impor. Buat resepsi besok siang.”

“Kondisinya?”

“Habis.”


Aku sampai dua puluh menit kemudian.

Rolling door-nya setengah terbuka. Lampu toko menyala penuh. Dan di lantai, di seluruh lantai, tersebar ember-ember berisi sesuatu yang dari kejauhan masih terlihat seperti bunga.

Dari dekat, tidak.

Kepala bunganya lembek. Warnanya berubah jadi cokelat di pinggir kelopak, dengan cara yang tidak bisa disembunyikan, dan seluruh ruangan berbau manis yang salah—bau buah yang sudah lewat.

Clara sedang berlutut di antaranya dengan gunting di tangan.

“Ada berapa yang masih bisa?” tanyaku.

“Sebelas.”

“Dari enam puluh dua?”

“Dari enam puluh dua.”

Aku berdiri di ambang pintu.

“Berapa?”

Dia tahu maksudku. Dia menjawab tanpa mengangkat kepala.

“Delapan belas juta.”


Aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa angka itu bukan angka yang bisa ditanggung toko sebesar Kembang Kata.

Yang tidak kuduga adalah apa yang dia lakukan selanjutnya.

Clara berdiri, mencuci tangan di wastafel, mengambil ponsel, dan menelepon klien.

Jam setengah dua belas malam.

“Selamat malam, Bu Erna. Maaf banget saya telepon jam segini.” Suaranya profesional. Sepenuhnya. “Saya harus kasih tahu sekarang karena Ibu perlu waktu buat mikir. Kiriman mawar saya rusak total di jalan. Ini bukan salah Ibu dan bukan hal yang bisa Ibu antisipasi, jadi saya kasih tiga opsi.”

Aku duduk di kursi plastik hijau dan mendengarkan.

“Opsi pertama, saya kembalikan seluruh uang Ibu sekarang juga, malam ini, dan Ibu cari vendor lain. Saya bantu carikan, saya punya dua nama yang bisa kerja cepat.”

Jeda.

“Opsi kedua, saya ganti konsepnya. Bukan mawar. Saya pakai apa yang ada di tangan saya dan saya kerjakan semalaman. Hasilnya beda dari yang Ibu setujui, tapi saya jamin nggak akan jelek. Kalau besok pagi Ibu lihat dan nggak suka, uang Ibu kembali penuh dan saya tetap bongkar.”

Jeda lebih lama.

“Opsi ketiga, Ibu marah dulu. Itu juga boleh. Saya tunggu.”

Aku menatap punggungnya.

Percakapan itu berlangsung sebelas menit. Sebagian besarnya Clara mendengarkan. Dua kali dia bilang iya, Bu, saya ngerti. Sekali dia bilang nggak, Bu, itu memang tanggung jawab saya, saya nggak akan lempar ke ekspedisi.

Waktu menutup telepon, dia berdiri diam sekitar tiga detik.

“Opsi dua,” katanya.

“Oke.”

“Mas pulang aja.”

“Nggak.”

“Mas—“

“Ra.” Aku sudah berdiri dan melepas jaket. “Gunting saya yang mana?”


Kami bekerja dari jam dua belas sampai jam setengah lima pagi.

Sebelas mawar yang selamat dipakai sebagai titik fokus. Sisanya dibangun dari apa pun yang ada di toko: krisan, aster, daun-daunan, dua ember eucalyptus yang sebenarnya untuk pesanan lain minggu depan, dan sekitar empat puluh tangkai baby’s breath.

Clara menelepon tiga orang jam satu pagi. Dua tidak diangkat. Yang ketiga, seorang bapak-bapak pemilik kios di pasar bunga, mengangkat dengan suara orang yang jelas baru bangun, mendengarkan tiga puluh detik, lalu bilang bahwa dia akan buka kiosnya jam tiga dan Clara boleh ambil apa pun yang dia butuhkan dan bayar minggu depan.

“Pak Endang,” kata Clara, waktu aku bertanya siapa. “Empat tahun lalu saya nggak bisa bayar tagihan dua bulan berturut-turut. Dia nggak pernah nagih sekali pun.”

Kami ke pasar bunga jam tiga pagi.

Kota itu kosong dengan cara yang tidak pernah kulihat—lampu jalan menyala untuk tidak ada siapa-siapa, warung-warung tutup, cuma ada truk sayur dan orang-orang yang pekerjaannya memang dimulai jam segitu.

“Mas pernah bangun jam segini?” tanyanya di perjalanan.

“Sering.”

“Kerja?”

“Bukan.”

Aku mengucapkannya terlalu cepat, dan aku merasakan dia menoleh, dan aku memindahkan gigi.

“Dulu, waktu masih kantoran,” aku menambahkan, “saya sering pulang jam segini.”

Itu benar. Itu juga bukan yang kumaksud.

Yang kumaksud adalah bahwa ada periode sekitar delapan bulan, di tahun pertama, di mana jam tiga pagi adalah jam yang paling kukenal di seluruh hari. Aku hafal bunyi kompresor kulkas yang menyala. Aku hafal jam berapa ayam pertama berbunyi di komplek sebelah. Aku hafal bahwa kalau kau menunggu sampai jam setengah lima, langit akan mulai abu-abu dan itu artinya kau berhasil melewati satu malam lagi.

“Kalau saya, biasanya waktu ada pesanan besar,” katanya. “Atau kalau lagi mikir hal yang nggak bisa diapa-apain.”

Aku menoleh.

“Mbak juga?”

“Semua orang juga, Mas.” Dia menatap ke luar jendela. “Cuma nggak semua orang ngaku.”

Di pasar, Clara berjalan cepat di antara kios sambil menunjuk. Aku mengangkat.

Pak Endang ternyata laki-laki berumur enam puluhan dengan sarung dan kaus dalam, yang membuka kiosnya dengan senter di mulut dan langsung menyalakan lampu gantung yang menerangi tiga meter di sekitarnya.

“Ini siapa?” tanyanya, melihat ke arahku.

“Teman, Pak.”

“Teman.”

“Iya.”

Pak Endang mengangguk dengan cara yang jelas tidak percaya sedikit pun, lalu menepuk bahuku sambil menunjuk ke tumpukan ember.

“Yang berat itu di belakang, Mas Teman.”

Kami kembali ke toko jam empat kurang dengan bak mobil penuh.


Aku melihat sesuatu terjadi padanya sekitar jam empat lewat.

Dia sedang mengikat rangkaian kelima. Tangannya bekerja seperti biasa—cepat, tidak terburu-buru, gerakan yang sudah dilakukan puluhan ribu kali.

Lalu dia berhenti.

Cuma berhenti. Tangannya masih memegang tangkai, mulutnya masih setengah membentuk kalimat yang belum sempat dia ucapkan.

“Ra?”

“Bentar.”

Dan dia meletakkan tangkainya di meja dengan sangat hati-hati, seperti orang yang sadar bahwa gerakan besar apa pun akan menjatuhkan sesuatu, dan duduk di kursi plastik, dan meletakkan kedua tangannya di paha.

Tangannya bergetar.

Aku kenal getaran itu. Aku sangat kenal getaran itu.

“Saya nggak apa-apa,” katanya.

“Iya.”

“Cuma capek.”

“Iya.”

“Delapan belas juta itu—“ Dia berhenti. Menelan. “Itu tiga bulan. Sewa ruko, gaji Tari, semuanya.”

“Iya.”

“Dan yang paling bodoh adalah saya nggak marah sama ekspedisinya.” Suaranya mulai tidak rata. “Saya marah sama diri saya sendiri karena saya nggak pakai asuransi kiriman. Dua ratus lima puluh ribu, Mas. Dua ratus lima puluh ribu. Saya pilih nggak pakai karena mikir ah, empat tahun nggak pernah kenapa-kenapa.”

Dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tidak bersuara. Bahunya tidak berguncang. Dia cuma duduk di kursi plastik hijau di tokonya sendiri jam empat pagi dengan wajah tertutup kedua telapak tangan.


Aku berdiri.

Aku tidak memutuskan untuk berdiri. Aku berdiri.

Dan aku berjalan ke sisi mejanya dan berlutut di depan kursinya—karena aku selalu berlutut, karena aku selalu menurunkan tinggiku sampai sejajar, karena itu kebiasaan yang tidak pernah bisa kujelaskan asalnya—dan aku memeluknya.

Tanganku di punggungnya. Wajahnya di bahuku.

Dan dia menangis dengan cara orang yang belum pernah membiarkan siapa pun melihatnya menangis: sangat pelan, sangat tertahan, dengan napas yang keluar pendek-pendek seperti orang yang berusaha tidak membuat suara di dalam rumah yang penuh orang tidur.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku tidak bilang nggak apa-apa. Aku tidak bilang pasti ada jalan. Aku tidak bilang bahwa aku punya tabungan yang bisa menutup delapan belas juta tanpa terasa, meskipun aku punya, meskipun kalimat itu ada di mulutku selama seluruh durasi pelukan itu.

Aku tahu apa yang terjadi kalau kau menawarkan uang pada orang yang sedang hancur jam empat pagi. Kau memindahkan bebannya jadi bebanmu, dan orang itu akan berterima kasih, dan sesuatu di antara kalian akan berubah bentuk secara permanen.

Jadi aku diam.


Ini bagian yang harus kuceritakan dengan jujur, meskipun tidak ada yang bertanya, meskipun aku tidak akan pernah menceritakannya kepada siapa pun.

Di tengah pelukan itu, sekitar setengah jalan, aku menyadari sesuatu dan hampir melepasnya karena kaget.

Aku tidak sedang bekerja.

Selama lima tahun, setiap kali aku berada di dekat orang yang sedang tidak baik-baik saja, ada seluruh mesin yang menyala di dalam kepalaku. Apa yang harus dikatakan. Nada apa yang tepat. Berapa lama harus tinggal. Kapan pamit supaya tidak terlihat buru-buru. Apakah wajahku sudah cukup sedih tapi tidak terlalu sedih.

Aku sangat, sangat bagus dalam hal itu. Aku sudah datang ke belasan rumah duka. Aku selalu jadi orang yang membawa air minum, yang mengurus parkir, yang tahu kapan harus keluar ruangan.

Dan selama itu, tidak sekali pun aku benar-benar ada di sana.

Jam empat pagi itu, di lantai toko bunga, dengan lutut yang sakit karena ubin dan bahu yang basah—

—mesinnya tidak menyala.

Aku tidak menyiapkan kalimat. Aku tidak menghitung durasi. Aku tidak memantau apakah wajahku benar.

Aku cuma ada di sana, memeluk seseorang, sebagai orang yang memeluk seseorang.

Dan itu membuatku takut dengan cara yang tidak proporsional sama sekali.

Karena kalau mesin itu bisa mati, itu artinya mesin itu bukan aku.

Dan kalau mesin itu bukan aku, maka lima tahun terakhir bukan pemulihan.

Itu cuma bunyi mesin.


Dia menarik diri sekitar dua menit kemudian.

“Maaf.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan. “Ya ampun. Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Kaos Mas.”

“Kaos saya banyak.”

Dia tertawa sekali, basah dan pendek, dan lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya dan berdiri.

“Oke.” Dia mengambil tangkainya lagi. “Tinggal delapan.”

“Ra.”

“Hm.”

“Boleh saya bilang satu hal? Terus habis itu saya nggak bakal ngungkit lagi.”

Dia berhenti. “Boleh.”

“Yang tadi—asuransi dua ratus lima puluh ribu itu.” Aku mengambil gunting. “Saya kerja tiga belas tahun di sistem. Kerjaan saya secara harfiah mikirin apa yang bisa gagal.”

“Terus?”

“Terus di tiap sistem yang pernah saya bangun, selalu ada satu hal yang saya putuskan nggak perlu diamanin.” Aku memotong tangkai. “Karena kalau semua diamanin, nggak ada yang jalan. Itu bukan kelalaian. Itu namanya keputusan.”

“Keputusan yang salah.”

“Keputusan yang salah itu cuma keliatan salah dari sini.” Aku meletakkan tangkai yang sudah dipotong. “Dari empat tahun yang lalu, itu keputusan yang bener empat ratus delapan puluh kali berturut-turut.”

Clara tidak menjawab.

Dia terus bekerja. Aku terus bekerja.

Dan sekitar sepuluh menit kemudian, tanpa mengangkat kepala, dia berkata: “Mas.”

“Hm.”

“Mas ngomong gitu ke diri Mas sendiri juga nggak?”

Guntingku berhenti.

“Sudah,” kataku. “Selesai delapan?”

“Tujuh.”

Dan kami menyelesaikan tujuh sisanya tanpa bicara.


Resepsi itu jam sebelas siang.

Tari datang jam tujuh pagi, melihat isi toko, dan berdiri di ambang pintu dengan mulut terbuka selama sekitar empat detik.

“Teh.”

“Jangan tanya.”

“Teh, ini—“

“Tari.”

“Aku nggak tanya!” Dia sudah melepas jaketnya. “Aku cuma mau bilang aku nggak jadi minta gaji duluan bulan ini.”

Clara berhenti.

“Kamu butuh.”

“Nggak jadi butuh.”

“Tari.”

“Aku nggak butuh, Teh.” Dia mengambil ember dan mulai memindahkan, tidak menatap siapa pun. “Adikku bisa nunggu dua minggu. Dia juga suka boros.”

Dan dia berjalan ke belakang membawa ember yang sebenarnya tidak perlu dipindahkan.

Clara berdiri di tengah toko dengan gunting di tangan dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia melanjutkan bekerja.

Bu Erna menangis waktu melihatnya. Bukan menangis marah—dia berdiri di depan standing flower yang dibangun dari sisa-sisa dan sebelas mawar yang selamat dan bilang bahwa ini jauh lebih bagus dari yang dia bayangkan, dan bahwa dia akan pakai foto ini untuk anak keduanya nanti.

Clara membungkuk dan bilang terima kasih dan tetap menolak pembayaran penuh.

Di mobil, dalam perjalanan pulang, dia tertidur sebelum kami sampai perempatan.

Aku menyetir di tiga puluh delapan kilometer per jam sepanjang jalan pulang, lebih pelan dari biasanya, dan aku tidak menyalakan radio, dan aku berhenti dua kali lebih lama dari perlu di setiap polisi tidur.

Dia bangun di depan gerbang kosnya.

“Astaga. Saya ketiduran?”

“Empat puluh menit.”

“Maaf.”

“Aman.”

Dia mengumpulkan tasnya, membuka pintu, lalu berhenti dan menoleh dan menatapku dengan mata yang masih setengah bengkak.

“Mas.”

“Hm.”

“Makasih ya udah nggak nawarin uang.”

Dan pintu tertutup, dan aku duduk di depan gerbang kos itu selama lebih dari empat menit sebelum menyalakan mesin lagi.