← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Twenty Nine

Sepeda Baru

POV: Clara


Desember di Bandung berarti hujan setiap sore jam empat, dengan ketepatan yang membuat orang bisa menyetel jam.

Kami mengecat Cikutra selama tiga akhir pekan.

Bukan tukang. Kami sendiri—aku, Aditya, Tari, dan di minggu kedua Bram muncul dengan cat dan kuas dan alasan yang sangat lemah tentang bagaimana dia kebetulan lewat.

“Lewat dari mana?”

“Dari rumah.”

“Rumah lo di Cimahi, Bram.”

“Iya, lewat.”

Bram ternyata pengecat yang mengerikan. Dia mengecat seperti orang yang sedang menghapus papan tulis, dan setelah empat puluh menit Aditya mengambil kuasnya dan memberinya tugas mengaduk cat, dan Bram menerima itu dengan martabat yang mengejutkan.

“Gue emang bagusnya di manajemen.”

“Lo lagi ngaduk.”

“Manajemen cat.”

Tari tertawa sampai harus duduk.

Yang tidak kuduga adalah bahwa Bram akan menjadi orang yang paling banyak bicara di ruangan itu selama tiga akhir pekan penuh.

Dia bercerita tentang anaknya. Dia bercerita tentang kantornya. Dia bercerita tentang bagaimana istrinya sekarang punya teori bahwa Bram sebenarnya tidak pernah dewasa, cuma bertambah berat badan.

Dan di sela-selanya, tanpa pernah kelihatan disengaja, dia bercerita tentang Aditya.

“Dia dulu tuh nggak bisa diem, Ra. Semester tiga dia ikut lima organisasi.”

“Empat,” kata Aditya dari tangga.

“Lima. Lo lupa yang koperasi.”

“Itu gue cuma daftar.”

“Lo jadi bendahara.”

“Selama dua minggu.”

“Dua minggu itu jabatan.” Bram mengaduk catnya. “Terus dia ketawa keras banget, Ra. Nggak enak didengerin. Kayak ada orang jatuh dari tangga.”

Aku menoleh ke Aditya.

Dia sedang mengecat bagian atas dinding dengan punggung menghadap kami.

“Sekarang tawanya beda,” lanjut Bram, dan nadanya tidak berubah sama sekali, dan justru itu yang membuat kalimatnya mendarat. “Lebih sopan.”

Hening sekitar tiga detik.

Lalu Aditya berkata, tanpa menoleh: “Bram.”

“Hm?”

“Aduknya kurang rata.”

“Ini udah rata.”

“Ada gumpalan di pinggir.”

“Itu bukan gumpalan, itu tekstur.”

Dan mereka bertengkar tentang cat selama empat menit, dan Tari ikut memihak Bram, dan aku berdiri di tengah ruko bekas fotokopi itu sambil memegang kuas dan menyadari bahwa aku baru saja diberi sesuatu.

Bram tidak pernah bercerita tanpa alasan.

Warna dindingnya putih tulang. Aku sempat ingin hijau, lalu mengubah pikiran di toko cat karena hijau membuat bunga kelihatan lebih kusam.

“Kamu tahu itu dari mana?” tanya Aditya.

“Dari empat tahun.”

Meja beton di tengah dibongkar hari Minggu kedua. Butuh Aditya dan Bram dan palu godam yang dipinjam dari tetangga Bram, dan lima jam, dan tiga kali istirahat.

Dan waktu bagian terakhirnya jatuh, ruangan itu tiba-tiba jadi jauh lebih besar dari yang kubayangkan.

Aku berdiri di tengahnya dengan debu semen di rambut.

Empat meter kali delapan.

Punyaku selama satu tahun ke depan, minimal.


Kami masih buka di Sukaluyu sampai akhir Februari.

Itu bagian yang aneh: menjalankan toko yang sudah tahu akan berakhir. Aku memesan stok seperti biasa. Aku melayani pelanggan seperti biasa. Aku menyiram rak teras setiap pagi jam sembilan lewat.

Dan setiap kali aku melakukannya, ada suara kecil di kepalaku yang menghitung mundur.

“Teh.”

“Hm.”

“Teteh ngelamun lagi.”

“Enggak.”

“Teteh megang selang tapi airnya ke got.”

Aku melihat ke bawah. Memang ke got.

“Aku lagi mikirin logistik.”

“Teteh selalu bilang gitu.”

“Karena aku selalu mikirin logistik.”

“Teh Clara.” Tari mengambil selang dari tanganku. “Aku juga sedih.”

Aku menoleh.

“Aku juga sedih,” ulangnya, “dan itu bukan berarti kita salah pindah. Aku cuma sedih. Boleh, kan?”

Dan aku berdiri di teras dengan tangan kosong dan mengangguk.

“Boleh,” kataku.


Kayla dapat sepeda baru tanggal delapan Desember.

Aku tahu tanggalnya karena aku ada di sana.

Kami di rumah Aditya sore itu—aku sudah mulai ada di sana dua sampai tiga kali seminggu sekarang, cukup sering sehingga Bu Yuli sudah berhenti berpura-pura tidak tahu—dan ada bunyi bel sepeda di depan pagar.

“Om Adit!”

“Kayla.”

Dan Kayla berdiri di depan pagar dengan sepeda yang jelas baru, biru, ukuran dua puluh inci, dengan pita plastik yang masih menempel di stang.

“Om, lihat!”

“Wih.” Aditya keluar. “Dari siapa?”

“Dari Papah. Buat ulang tahun.”

“Ulang tahun kamu kan September.”

“Iya, tapi Papah baru gajian.” Kayla mengucapkannya dengan nada anak yang mengulang kalimat orang dewasa tanpa mengerti isinya. “Ini gede banget, Om. Rodanya dua.”

“Kamu bisa?”

“BISA.”

“Beneran?”

“Aku udah latihan tiga hari.”

Aditya berjongkok di depan sepeda itu—selalu berjongkok, selalu sejajar—dan memegang stangnya, memutarnya kiri kanan, menekan sadelnya.

“Sadelnya ketinggian.”

“Nggak.”

“Kayla, kaki kamu nggak nyampe.”

“Nyampe kalau miring.”

“Itu bukan nyampe.”

Dan dia mengambil kunci L dari kantong belakang—dia selalu punya sesuatu di kantong belakang—dan menurunkan sadelnya empat sentimeter sambil Kayla protes bahwa dia jadi kelihatan kecil.

Lalu Aditya menekan tuas rem.

Kanan dulu, lalu kiri.

Dan aku, dari teras, melihat wajahnya berubah sedikit.

“Kayla.”

“Iya?”

“Rem belakang kamu blong.”

“Blong itu apa?”

“Artinya nggak pakem.” Dia menekan tuasnya lagi. “Ini kabelnya kendor. Kalau kamu rem, dia baru gigit di setengah.”

“Terus?”

“Terus kalau kamu lagi cepet, kamu nggak berhenti tepat waktu.”

Kayla mempertimbangkan ini selama sekitar dua detik.

“Ya udah aku rem pake kaki.”

“Kayla.”

“Aku bisa rem pake kaki!”

Dan Aditya berdiri dan berkata—dan aku ingat kalimatnya persis, karena aku ada di teras dan mendengar semuanya:

“Sepeda kamu tinggalin sini, nanti Om setel.”

“Aku mau main.”

“Ya udah, besok. Besok Om setel.”

“Janji?”

“Janji.”

Dan Kayla naik ke sepedanya dan pergi dengan rem belakang yang gigitnya di setengah, dan Aditya berdiri di depan pagar melihatnya sampai belok di ujung blok.


“Kamu nggak setel sekarang?” tanyaku waktu dia masuk.

“Alat setelnya di garasi, dan garasinya lagi penuh cat.”

“Oh.”

“Besok.”

Dan dia mencuci tangan dan bertanya apakah aku mau kopi, dan aku bilang mau, dan sore itu berlanjut.

Aku tidak memikirkannya lagi.

Aku ingin mencatat itu, karena nanti aku akan memikirkannya sangat banyak: sore itu, aku tidak memikirkannya lagi sama sekali.


Bulan Desember itu bagus.

Aku sudah dua puluh delapan tahun dan aku sudah punya cukup banyak bulan yang tidak bagus untuk tahu bedanya.

Kami punya bentuk sekarang. Kamis tetap Kamis, tapi ada juga Selasa, dan sebagian besar akhir pekan, dan tiga malam dalam sebulan di mana aku tidak pulang ke kos.

Aku punya sikat gigi di kamar mandinya.

Itu terjadi tanpa upacara apa pun. Suatu pagi aku sadar sudah ada di sana selama dua minggu.

Aku punya laci.

Itu juga tanpa upacara—dia cuma bilang, suatu malam sambil melipat cucian, “Yang di bawah kosong,” dan melanjutkan melipat, dan aku bilang “oke,” dan itu saja.

Dan sekitar minggu ketiga Desember, aku menyadari sesuatu yang membuatku berhenti di tengah menyiram tanaman.

Aku sudah tidak menghitung retakannya.

Empat bulan aku melakukan itu. Setiap hari, tanpa niat—jeda setengah detik, tangan yang memegang sesuatu, jawaban yang terlalu siap. Aku mengumpulkan tanpa mau mengumpulkan.

Dan di suatu titik di bulan Desember, aku berhenti.

Bukan karena retakannya hilang. Masih ada. Masih ada jeda setengah detik kalau ada yang menyebut anak umur empat tahun. Masih ada malam-malam di mana dia bangun jam tiga dan aku pura-pura tidak bangun.

Aku cuma berhenti mencatatnya.

Dan aku berdiri di teras dengan selang di tangan dan tidak tahu apakah itu artinya aku sudah sembuh dari Kak Rendy, atau artinya aku sedang mengulangi bagian pertama kesalahan yang sama.


Aku pergi ke Cirebon tanggal dua puluh tiga.

Tiga hari, ke rumah orang tuaku, seperti setiap tahun.

Aditya mengantarku ke terminal.

“Kamu Natalan?” tanyanya di parkiran.

“Iya. Mama Katolik, Papa bukan.” Aku mengangkat bahu. “Jadi rumah kami rame dua kali setahun.”

“Enak.”

“Nggak juga. Dua kali ditanyain kapan nikah.”

Dan dia tertawa, dan aku menyadari sepersekian detik terlalu lambat bahwa itu bukan kalimat yang ringan-ringan amat untuk diucapkan kepada laki-laki ini.

Aku menoleh.

Wajahnya baik-baik saja.

Sungguhan baik-baik saja—bukan yang dinyalakan. Aku sudah cukup lama untuk bisa membedakan sekarang.

“Kamu Natal ngapain?” tanyaku.

“Kerja.”

“Bohong.”

“Iya.”

“Terus?”

Dia mengangkat bahu.

“Biasanya aku ke rumah Ibu di Solo, tapi tahun ini Ibu ke tempat adik aku di Balikpapan.” Dia memutar kunci mobil. “Jadi ya, di rumah.”

“Sendirian?”

“Ada Bram. Dia selalu ngajak, tiap tahun.”

“Kamu selalu nolak?”

“Iya.”

Dan aku duduk di kursi penumpang di parkiran terminal dan berkata:

“Tahun ini jangan nolak.”

Dia menoleh.

“Ra—“

“Aku nggak maksa.” Aku mengangkat tangan. “Aku cuma bilang. Kamu boleh nolak. Tapi kalau kamu nolak, aku mau kamu nolaknya karena kamu emang nggak mau, bukan karena kamu udah nolak empat tahun berturut-turut.”

Aditya diam beberapa saat.

“Itu dua hal yang beda?”

“Itu dua hal yang beda banget.”


Tiga hari di Cirebon berjalan seperti tiga hari di Cirebon selalu berjalan.

Mama bertanya kapan nikah di hari pertama, jam dua siang, sebelum aku sempat meletakkan tas.

Papa tidak bertanya apa-apa selama dua hari, dan lalu di hari ketiga, sambil memperbaiki kipas angin di garasi, dia berkata:

“Toko kamu pindah?”

Aku berhenti.

“Kak Rendy cerita?”

“Iya.”

“Pa—“

“Nggak apa-apa.” Dia memutar obeng. “Bapak nggak nanya kenapa nggak cerita. Bapak tahu kenapa.”

Aku duduk di kursi plastik di garasi rumah orang tuaku.

“Kenapa, Pa?”

“Karena kamu nggak mau Bapak nawarin uang yang Bapak nggak punya.”

Dan dia mengucapkannya tanpa nada apa pun sama sekali, dan melanjutkan memutar obeng, dan aku duduk di sana dengan mata yang tiba-tiba panas.

“Pa.”

“Hm.”

“Maaf.”

“Nggak usah minta maaf.” Dia mengangkat kipas anginnya dan mencolokkannya. Berputar. “Bapak juga nggak pernah cerita apa-apa ke bapak Bapak. Ini keturunan.”

Dan dia tertawa, dan aku ikut tertawa, dan lalu aku menangis sedikit, dan Papa pura-pura sibuk dengan kipas angin yang sudah jelas beres.


Kak Rendy menelepon malam Natal.

Video call, dari Semarang, dengan anaknya yang berumur dua tahun berlarian di belakang dan istrinya yang berteriak dari dapur.

Kami bicara dua puluh menit.

Dua puluh menit. Bukan tiga baris.

Dia bertanya soal Cikutra. Dia bertanya soal Tari. Dia bertanya apakah kontraknya sudah ditandatangani dan berapa lama masa berlakunya dan apakah aku sudah cek sertifikat bangunannya—yang merupakan pertanyaan yang tidak pernah kupikirkan dan yang langsung kutulis di catatan ponsel.

Dan di menit ke delapan belas, dia berkata:

“Ra.”

“Iya, Kak?”

“Kamu lagi sama orang?”

Aku hampir menjatuhkan ponselku.

“Kok tahu?”

“Karena kamu ngomongnya beda.” Dia mengangkat bahu di layar. “Kamu biasanya kalau cerita soal masalah, nadanya kayak lagi lapor. Ini kayak lagi cerita.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Baik nggak orangnya?”

“Baik banget.”

“Beneran baik, apa baik yang bikin capek?”

Dan aku duduk di kamar masa kecilku di Cirebon pada malam Natal dan menyadari bahwa kakakku baru saja mengajukan pertanyaan paling tepat yang pernah diajukan siapa pun tentang Aditya.

“Dua-duanya,” kataku.

Kak Rendy mengangguk pelan di layar.

“Ya udah,” katanya. “Yang penting kamu tahu.”


Aku pulang ke Bandung tanggal dua puluh enam.

Aditya menjemputku di terminal jam empat sore, dan hal pertama yang kulihat waktu turun dari bus adalah bahwa dia kelihatan berbeda.

Bukan capek. Bukan juga senang.

Sesuatu yang lain.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Aditya.”

Dia mengambil tasku dan memasukkannya ke bagasi dan menutupnya, dan lalu berdiri di sana dengan tangan di pinggiran bagasi.

“Aku ke rumah Bram,” katanya.

“Natalan?”

“Iya.”

“Terus?”

Dan dia menoleh, dan tersenyum—senyum yang lambat, yang tidak dinyalakan, yang butuh empat bulan untuk kupelajari cara mengenalinya.

“Anaknya manggil aku Om Adit,” katanya.

“Iya, emang.”

“Iya, tapi—“ Dia berhenti. “Dia duduk di pangkuan aku selama tiga puluh menit nonton kartun.”

Aku berdiri di parkiran terminal dengan tangan di pintu mobil.

“Kamu nggak berdiri?”

“Aku nggak berdiri,” katanya.

Dan lalu dia masuk ke mobil dan menyalakan mesin dan tidak membicarakannya lagi sepanjang perjalanan pulang, dan aku duduk di kursi penumpang sambil merasakan sesuatu yang begitu besar sampai aku harus memandang ke luar jendela.