Chapter Seven
Yang Datang Tanpa Alasan
POV: Clara
Resepsi hari Kamis berjalan lancar.
Aku tahu karena aku diminta datang jam enam pagi untuk memasang, dan aku sampai di sana dengan mata yang belum sepenuhnya buka dan punggung yang mengeluh setiap kali aku membungkuk. Delapan puluh tangkai mawar, tiga standing flower, dua belas vas meja dari batang-batang pendek yang dirusak seseorang dua malam sebelumnya.
Ibu pengantin memuji vas mejanya secara khusus. Katanya paling natural.
Aku tidak bilang bahwa itu karena batangnya dipotong dengan sudut yang salah oleh seorang laki-laki yang baru pertama kali memegang gunting bunga.
“Teh.”
“Hm.”
“Teh Clara.”
“Apa, Tari.”
“Aku mau ngomong sesuatu, tapi Teh Clara jangan marah.”
Aku meletakkan buku catatan. Itu kalimat pembuka yang tidak pernah diikuti apa pun yang menyenangkan.
“Ngomong.”
“Menurutku Teh Clara jangan jatuh cinta sama Mas Aditya.”
Ada beberapa reaksi yang bisa kupilih. Yang kupilih adalah menatap Tari selama tiga detik penuh dengan wajah paling datar yang bisa kususun.
“Kenapa kamu bilang begitu.”
“Karena kayaknya udah telat.”
“Tari.”
“Aku serius!” Dia mengangkat kedua tangan. “Bukan aku yang mulai. Teh Clara yang Selasa malam pulang jam sebelas terus besoknya senyum-senyum sendiri waktu ngitung stok kertas.”
“Aku nggak senyum-senyum.”
“Teh. Aku duduk di seberang Teteh.”
“Aku lagi mikirin margin.”
“Nggak ada orang senyum mikirin margin. Margin itu bikin orang tua.”
Aku mengambil semprotan air dan menyemprotnya. Dia menjerit dan mundur dua langkah, lalu kembali seperti kucing yang tidak bisa diajari.
“Tapi serius, Teh.” Nada suaranya berubah sedikit. “Aku bukan ngelarang. Aku cuma... nggak tahu.”
“Nggak tahu apa?”
Tari menggigit bibirnya, yang berarti dia sedang mencoba merangkai kalimat, yang jarang terjadi.
“Waktu Mas Aditya di sini Selasa itu, aku sempat lihat dia lagi motong bunga sendirian pas Teh Clara ke belakang.”
“Terus?”
“Terus wajahnya beda.”
Aku berhenti menyemprot.
“Beda gimana?”
“Ya... nggak ada apa-apa aja.” Tari mengangkat bahu, tidak nyaman. “Kayak orang lagi nunggu bis. Terus pas Teh Clara balik, dia langsung nyala lagi.”
Nyala.
Dia memilih kata itu sendiri. Aku belum pernah menceritakan apa pun ke Tari, tidak sekali pun, tidak ada satu kalimat pun tentang jeda setengah detik.
Aku meletakkan semprotan.
“Ya udah, sapu teras.”
“AKU BARU SAPU.”
“Sapu lagi.”
Dia mulai datang tanpa alasan.
Itu bagian yang tidak kusadari sedang terjadi sampai sudah terlanjur terjadi—cara orang tidak menyadari bahwa air di panci mulai panas kalau dia ada di dalamnya sejak dingin.
Jumat sore, dia lewat dan mampir karena katanya mau beli tanaman lagi untuk teras Bu Yuli. Bu Yuli tidak pernah minta.
Senin, dia datang membawa obeng dan mengganti engsel pintu gudang yang memang sudah tiga bulan bunyi, yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, yang berarti dia mendengarnya sendiri Selasa malam itu dan mengingatnya.
Rabu, dia tidak punya alasan sama sekali. Dia cuma masuk, bilang, “Lewat,” dan berdiri di dekat rak sambil membaca label harga seperti orang membaca menu.
“Mas Aditya.”
“Hm?”
“Itu label harga.”
“Iya.”
“Udah lima menit.”
“Ini menarik.” Dia menunjuk. “Kenapa yang ini tujuh puluh, yang sebelahnya seratus dua puluh? Kelihatannya sama.”
“Yang seratus dua puluh itu variegata.”
“Artinya?”
“Artinya ada garis putihnya.”
Dia melihat lebih dekat. “Ini yang bikin selisih lima puluh ribu?”
“Iya.”
“Ra, itu garis.”
Dan lagi-lagi Ra, seperti sudah dipakai bertahun-tahun, dan aku sudah berhenti mencoba mengoreksinya karena aku tidak yakin aku ingin mengoreksinya.
“Mahal itu bukan soal susah bikinnya,” kataku. “Mahal itu soal susah dapetnya.”
“Berarti kalau saya tanam sendiri sepuluh, harganya jatuh?”
“Kalau Mas berhasil, saya beli semua.”
“Saya nggak akan berhasil.”
“Nah.”
Dia tertawa, dan aku ikut, dan Tari yang sedang mengelap kaca melakukan sesuatu dengan alisnya yang bisa kulihat dari sudut mata dan yang akan kubalas nanti.
Aku mulai menunggu.
Itu kalimat yang butuh waktu lama untuk kutulis di kepalaku sendiri, karena begitu ditulis, dia tidak bisa dihapus.
Bentuknya begini: toko buka jam sembilan. Antara jam sembilan dan jam sebelas, ada satu bagian dari kepalaku yang mendengarkan bel pintu dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan mendengarkan pelanggan. Mendengarkan satu orang.
Dan kalau sampai jam dua belas belum ada, ada sesuatu yang turun sedikit—bukan kecewa, terlalu besar kalau disebut kecewa. Cuma turun sedikit, seperti volume yang dikecilkan satu takik.
Aku empat tahun membangun toko ini dan tidak pernah sekali pun memperhatikan bel pintu.
Dan yang lebih buruk: aku mulai menyusun hariku di sekitarnya.
Hal-hal kecil. Aku berhenti mengerjakan pembukuan di pagi hari dan memindahkannya ke sore, karena pembukuan membuatku menunduk dan aku tidak bisa melihat pintu kalau sedang menunduk. Aku memindahkan pekerjaan potong-memotong ke meja depan, padahal meja belakang lebih lapang. Aku berhenti menyalakan radio karena radio menutupi bunyi bel.
Semua itu punya alasan yang masuk akal kalau ditanya satu per satu. Cahaya lebih bagus di depan. Sore lebih tenang untuk hitungan. Radio bikin pusing.
Aku sangat bagus dalam memberi alasan pada diriku sendiri. Itu keahlian keluarga, kelihatannya.
Kamis siang ada ibu-ibu masuk, mencari bunga untuk menantunya yang baru melahirkan.
“Yang cerah aja, Neng. Yang bikin seneng.”
Aku menyiapkan gerbera dan alstroemeria, dan sambil membungkus, ibu itu bercerita bahwa dia sebenarnya tidak dekat dengan menantunya, dan bahwa ini upaya kesekian, dan bahwa dia tidak yakin bunga bisa memperbaiki apa pun.
“Bunga nggak memperbaiki apa-apa, Bu,” kataku. “Dia cuma bilang bahwa Ibu lagi mikirin dia.”
“Itu aja?”
“Itu aja.”
Ibu itu diam sebentar, lalu bilang bahwa mungkin itu memang yang dia butuhkan, dan pergi.
Bel berbunyi waktu dia keluar.
Dan aku mengangkat kepala.
Aku mengangkat kepala untuk bel yang berbunyi karena seseorang keluar, dan aku menyadarinya di tengah gerakan, dan aku menunduk kembali ke meja dengan wajah panas seperti orang yang tertangkap.
Yang membuatku akhirnya mengakuinya adalah hari Kamis.
Dia tidak datang hari Kamis. Tidak ada yang aneh soal itu—dia tidak pernah janji datang, tidak ada jadwal, dia bukan siapa-siapa selain pelanggan yang kebetulan sering lewat.
Jam empat sore, aku mendapati diriku sedang membuka chat Aditya Wisesa di ponsel dan mengetik: Mas, engsel yang kemarin bunyi lagi.
Engselnya tidak bunyi.
Aku menghapusnya. Aku mengunci ponsel. Aku meletakkannya telungkup di meja, di sudut yang paling jauh dari jangkauan tanganku.
Lalu aku mengambilnya lagi empat menit kemudian untuk mengecek apakah ada yang mengirim pesan.
Tidak ada.
Aku berdiri di belakang meja kasirku dan berkata pada diriku sendiri, dengan sangat tenang dan sangat jelas: Clara, kamu dua puluh delapan tahun.
Itu tidak membantu sama sekali.
Sabtu pagi ada telepon dari nomor yang tidak kukenal.
“Halo, ini Kembang Kata?”
“Betul, Bu.”
“Ini Ibu Yuli. Ibu yang pengajian kemarin, yang dipesenin Mas Adit.”
Ada sesuatu yang menegak di punggungku.
“Oh, iya Bu. Gimana bunganya?”
“Bagus banget! Itu sampai sekarang masih Ibu pajang, udah agak kering sih tapi masih cantik.” Suaranya cepat, hangat, tipe orang yang tidak butuh dijawab untuk terus bicara. “Nah ini Ibu mau pesan lagi. Minggu depan ada arisan RW di rumah Ibu, mau yang agak besar. Bisa diantar nggak, Neng?”
“Bisa, Bu. Alamatnya di mana?”
Dia menyebutkan alamatnya. Komplek di daerah Antapani, blok, nomor.
Aku menulisnya sambil merasa ada sesuatu yang mengetuk pelan di belakang kepalaku.
“Bu, boleh tahu ini deket rumah Mas Aditya nggak ya?”
“Lah, Mas Adit mah tetangga Ibu. Depan-depanan.” Bu Yuli tertawa. “Kenapa emang, Neng? Mau titip salam?”
“Nggak, Bu, cuma—“
“Ibu becanda.” Dia tertawa lagi, jenis tawa yang sama sekali tidak meyakinkan bahwa dia bercanda. “Nanti kalau Neng nganter, mampir aja. Ibu bikinin teh.”
Aku menutup telepon dan berdiri di belakang meja selama beberapa saat.
Tari muncul dari mana pun Tari biasanya muncul.
“Siapa, Teh?”
“Pesanan. Arisan RW.”
“Di mana?”
“Antapani.”
Tari mengerjap dua kali. Lalu wajahnya berubah, pelan-pelan, seperti matahari terbit di atas seseorang yang tidak layak menerimanya.
“Antapani.”
“Iya.”
“Antapani-nya Mas Aditya?”
“Antapani itu luas, Tari.”
“Teh.”
“Kamu—“
“AKU BELUM NGAPA-NGAPAIN.”
“Kamu udah senyum.”
“Senyum itu gratis!”
Aku mengusirnya ke gudang, dan dia pergi sambil bersenandung lagu dangdut yang sama seperti minggu lalu, dan aku duduk di kursi kasir dan menatap alamat yang baru kutulis.
Dan aku memikirkan sesuatu yang tidak enak.
Karena begini: aku sudah dua kali punya kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang orang ini, dan dua kali aku memilih tidak. Dan sekarang kesempatan ketiga datang sendiri, dalam bentuk pesanan arisan seharga tiga ratus ribu, ke rumah tetangga depannya.
Aku bisa mengirim Tari. Itu solusi paling bersih. Tari punya SIM C, bunganya muat di motor kalau dipisah dua kali angkut.
Aku menulis di buku pesanan: Sabtu depan, jam 9, diantar.
Lalu, di kolom paling kanan, di kolom yang biasanya kuisi Tari atau ojol:
Aku menulis namaku sendiri.
Dan aku menatap tulisan itu, dan aku sadar persis apa yang sedang kulakukan, dan aku menutup bukunya.
Dia datang hari Senin.
Aku sedang di teras, memangkas daun kering dari monstera yang sudah tiga minggu tidak laku, waktu mobilnya berhenti di seberang. Dia turun membawa sesuatu.
“Ra.”
“Mas.”
“Ini.” Dia menyodorkan kantong plastik. Di dalamnya ada engsel. Empat buah, masih dalam kemasan. “Yang kemarin saya pasang itu kualitas biasa. Ini yang stainless. Nggak karatan.”
Aku menatap kantong itu.
“Mas beli ini?”
“Kebetulan lewat toko bangunan.”
“Empat?”
“Ya sekalian. Pintu depan Mbak juga bunyi.” Dia sudah mengeluarkan obeng dari saku belakang, gerakan yang begitu otomatis sehingga jelas dia sudah menyiapkannya sejak dari rumah. “Sepuluh menit.”
Aku ingin bilang tidak usah. Kalimatnya sudah ada di mulutku.
Yang keluar adalah: “Habis itu saya bikinin kopi.”
Dia berhenti.
Cuma sepersekian detik, tapi aku sudah cukup terlatih sekarang untuk menangkap sepersekian detiknya.
“Nggak usah repot.”
“Nggak repot. Saya emang mau bikin buat diri sendiri.”
“Oh.” Dia mengangguk. “Ya udah.”
Dan dia berjongkok di depan pintu gudang dan mulai membuka engsel lama, dan aku masuk untuk merebus air, dan sepanjang tiga menit menunggu air mendidih aku memikirkan bahwa dia baru saja hampir menolak segelas kopi.
Bukan menolak dengan sopan. Menolak dengan refleks.
Seperti orang yang tangannya otomatis naik waktu ada sesuatu dilempar ke arahnya.
Kami minum kopi di kursi plastik di teras, di antara rak tanaman, dengan mobil-mobil lewat di depan dan bau knalpot yang bercampur bau tanah basah.
“Enak,” katanya.
“Kopi sachet.”
“Saya tahu. Saya minum kopi sachet tiap hari.” Dia mengangkat gelasnya. “Ini beda.”
“Beda gimana?”
“Nggak tahu. Airnya kali.”
“Airnya sama kayak air ledeng.”
“Ya berarti gelasnya.”
Aku tertawa. Dia tersenyum ke arah jalan.
Ada jeda beberapa menit di mana tidak ada yang bicara. Bukan jeda yang harus diisi. Anak SMA lewat berboncengan bertiga. Tukang bakso mendorong gerobaknya ke arah perempatan.
“Mbak Clara aslinya mana?”
“Cirebon. Pindah ke sini kuliah, terus keterusan.”
“Kuliah apa?”
“Agribisnis.”
Dia menoleh. “Serius?”
“Kenapa?”
“Nggak. Saya kira—“ Dia berhenti. “Saya kira ini kayak, hobi yang jadi usaha.”
“Ini emang hobi yang jadi usaha. Kuliahnya cuma bikin saya tahu istilahnya.” Aku memutar gelas di tangan. “Papa saya dulu punya usaha bibit. Bukan bunga, sayuran. Saya besar di gudang benih.”
“Sekarang masih?”
“Nggak.”
Satu kata. Dan aku menutupnya seperti orang menutup laci.
Dia mendengarnya. Aku tahu dia mendengarnya, karena dia mengangguk sekali dan meminum kopinya dan bertanya tentang hal lain—tentang kenapa monstera yang di pojok belum laku tiga minggu—dan sama sekali tidak menyentuh laci yang baru kututup.
Dan aku duduk di sana merasakan sesuatu yang aneh: lega, dan sekaligus sedikit kecewa.
Karena ternyata begitu rasanya di sisi sini. Kau menutup laci, dan orang di depanmu membiarkannya, dan sebagian dari dirimu berterima kasih dan sebagian lagi diam-diam berharap dia menariknya.
Aku menyimpan itu. Aku akan membutuhkannya nanti.
Dan aku duduk di sana, di kursi plastikku sendiri, di teras tokoku sendiri, dan melihat seorang laki-laki minum kopi sachet seperti orang yang sedang diberi sesuatu yang terlalu mahal.
Aku tidak bilang apa-apa.
Tapi malam itu, waktu aku menutup toko, aku membuka buku pesanan lagi. Aku melihat kolom paling kanan, dan namaku sendiri di sana, ditulis dengan tanganku sendiri seminggu sebelum aku punya alasan.
Aku tidak menghapusnya.
Aku cuma menutup bukunya dan mematikan lampu dan mengunci pintu yang sekarang engselnya stainless dan tidak berbunyi sama sekali.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan reading
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu