← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Eleven

Gudang

POV: Aditya


Namanya jadi hari Kamis.

Tidak ada yang pernah mengusulkannya. Tidak ada percakapan di mana salah satu dari kami bilang gimana kalau tiap Kamis. Yang terjadi adalah: aku datang hari Kamis untuk membetulkan sesuatu, dan minggu berikutnya aku datang lagi hari Kamis karena ada sesuatu lain, dan minggu ketiga aku datang hari Kamis tanpa ada yang perlu dibetulkan.

Minggu keempat, waktu aku sampai jam empat sore, Tari sudah menaruh kursi plastik kedua di teras.

“Itu punya siapa?” tanyaku.

“Punya Mas.”

“Sejak kapan saya punya kursi di sini?”

“Sejak Teh Clara nyuruh aku nggak usah masukin lagi tiap malem.”

Dari dalam: “Tari.”

“Aku ditanya!”

Aku duduk di kursi itu. Kursinya jelek—plastik hijau, satu kakinya sedikit lebih pendek, ada tulisan nama warung yang sudah pudar di sandarannya.

Aku duduk di sana setiap Kamis selama enam minggu berikutnya.


Bentuknya begini.

Aku datang antara jam empat dan lima. Kalau ada yang rusak, aku betulkan. Kalau tidak ada, aku duduk dan Clara bekerja dan Tari bicara.

Jam enam Tari pulang.

Antara jam enam dan jam delapan, kami berdua di toko. Clara menyelesaikan pesanan besok. Aku kadang membantu memotong batang—aku sudah jauh lebih baik sekarang, empat puluh lima derajat, tidak meremas—kadang cuma duduk.

Jam delapan kami tutup. Aku mengangkat rak teras ke dalam, dia menurunkan rolling door.

Lalu kami makan.

Bukan makan yang direncanakan. Warung nasi di ujung jalan, atau mi ayam di depan gang, atau kalau sedang malas, gorengan yang dibeli di jalan dan dimakan berdiri di trotoar.

Jam sembilan lewat aku mengantarnya pulang. Tujuh menit. Aku menunggu sampai lampu kosnya menyala.

Lalu aku pulang ke rumah yang sunyi dan duduk di ruang tamu selama beberapa saat sebelum menyalakan lampu dapur.

Enam minggu.


Ada beberapa hal yang aku pelajari tentangnya selama enam minggu itu, tanpa satu pun didapat lewat bertanya.

Dia tidak bisa berhenti bekerja. Kalau tangannya kosong lebih dari dua menit, dia akan menemukan sesuatu—memutar pot supaya sisi yang lain kena cahaya, memangkas daun yang belum benar-benar kering, memindahkan ember dua puluh sentimeter ke kiri.

Dia makan pedas dengan cara yang mengkhawatirkan.

Dia tidak pernah menyebut orang tuanya lebih dari satu kalimat, dan tidak pernah menyebut kakaknya lebih dari kata kakak saya di Semarang.

Dia menyimpan buku catatan pesanan dengan tulisan tangan yang rapi luar biasa, dan di halaman-halaman kosong di belakang, kadang ada tulisan lain yang tidak sempat kubaca dan tidak akan pernah kubaca.

Dan dia punya kebiasaan yang butuh empat minggu untuk kusadari: kalau ada sesuatu yang tidak enak—pelanggan yang kasar, pengiriman yang salah, apa pun—dia tidak mengeluh. Dia diam, menyelesaikannya, dan baru sekitar dua puluh menit kemudian menyebutkannya sekali, dengan sangat ringan, seperti orang menyebutkan cuaca.

Aku mengenali itu. Aku sangat, sangat mengenali itu.

Yang tidak kulakukan adalah menanyakannya.


Sarah menelepon di minggu ketiga.

Aku sedang di jalan ke toko, jam empat kurang, dan nomornya muncul di layar dashboard dan aku membiarkannya berdering sampai berhenti.

Lalu dia mengirim pesan.

Mas, aku telepon tadi. Nggak apa-apa kok kalau lagi sibuk.

Cuma mau bilang, yang bulan Oktober itu di rumah Ibu ya. Nggak rame. Cuma keluarga.

Kalau Mas nggak bisa juga nggak apa-apa.

Aku membaca ketiganya di lampu merah.

Sarah selalu begitu. Setiap kalimatnya diakhiri dengan pintu keluar untukku. Nggak apa-apa kalau nggak bisa. Nggak usah dipikirin. Kalau Mas mau aja.

Lima tahun dia melakukan itu, dan lima tahun aku memakai setiap pintu keluar yang dia sediakan, dan tidak sekali pun dia berhenti menyediakannya.

Aku mengetik: Iya, insyaallah. Makasih ya Sar.

Terkirim.

Lampu hijau.

Dan aku menyetir ke toko bunga di tiga puluh delapan kilometer per jam sambil merasakan sesuatu yang sudah lama kukenal: bahwa aku baru saja berbohong pada satu-satunya orang di dunia yang punya hak untuk marah padaku, dan bahwa dia tidak akan marah, dan bahwa itu jauh lebih buruk.

Empat menit kemudian aku sampai, dan Tari berteriak dari teras bahwa lampu gudang mati lagi, dan aku turun dari mobil dan menjadi orang yang membetulkan lampu gudang.


“Mas Aditya nggak punya kerjaan lain, ya?”

Tari bertanya itu di minggu kelima, sambil menggulung selang.

“Punya.”

“Kok tiap Kamis di sini?”

“Kamis saya kosong.”

“Selasa juga kosong. Rabu juga.”

Aku menoleh ke arahnya. “Kamu ngitung?”

“Aku nggak ngitung. Aku cuma inget.” Tari mengibaskan tangannya. “Aku inget semua. Itu kutukan.”

“Kutukan yang berguna.”

“Nggak buat aku.” Dia menaruh selang di tempatnya. “Mas, aku boleh nanya?”

“Boleh.”

“Mas dulu nikah?”

Dan begitu saja, ruangan itu berubah suhunya.

Tari sendiri langsung menyadarinya—aku bisa melihat wajahnya berubah, cara orang yang mendengar suara gelas pecah di ruangan sebelah dan tahu itu ulahnya sendiri.

Dari dalam toko, suara gunting Clara berhenti.

“Kenapa nanya gitu?” kataku, dan senyumnya sudah menyala, tepat waktu, sempurna.

“Nggak apa-apa.” Tari menggaruk lengannya. “Aku suka nebak-nebak orang. Kebiasaan jelek.”

“Tebakan kamu apa?”

Dia melihatku. Lalu, dengan jujur yang cuma dimiliki orang yang tidak pernah belajar berbohong:

“Aku nebaknya iya.”

Hening tiga detik.

“Tari,” kata Clara dari dalam, “kamu udah telat.”

“Astaga, iya.” Dia melihat jam ponselnya, dan kelegaannya begitu kentara sehingga hampir lucu. “Gerbang. Aku duluan ya, Mas. Maaf.”

“Aman.”

Suara motornya menjauh.

Dan aku berdiri di teras dengan tangan di kantong dan sesuatu yang berdenyut pelan di pelipis, dan aku tahu Clara masih di dalam, dan aku tahu dia mendengar semuanya, dan aku tahu bahwa selama sepuluh detik berikutnya sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi.

Yang terjadi adalah dia keluar membawa dua ember dan berkata: “Bantuin, ini yang di teras kena matahari kesorean.”

Kami memindahkan ember.


Hujan turun jam tujuh, tanpa peringatan, dari langit yang sebelumnya cuma mendung biasa.

Dan tiga menit setelahnya, listriknya mati.

“Ya ampun.” Suara Clara dari arah kasir. “Ini se-blok apa cuma kita?”

Aku melihat ke luar. Ruko laundry gelap. Servis jam gelap. Lampu jalan mati.

“Se-blok.”

“Mas ada senter?”

“Ada. Di mobil.”

“Jangan sekarang, hujannya gede.”

Kami menyalakan senter ponsel. Dua lingkaran putih di dalam toko yang penuh bayangan aneh—rak-rak jadi kelihatan lebih tinggi, tanaman jadi kelihatan seperti orang.

“Pesanan besok pagi belum selesai,” katanya. “Ada tiga standing.”

“Bisa dikerjain pakai senter?”

“Bisa, tapi jelek.”

“Ada lilin?”

“Ada, di gudang.” Dia mengarahkan senternya ke belakang. “Di rak atas, di kardus yang tulisannya ’natal’.”

“Kenapa natal?”

“Karena itu kardus dekorasi Natal dan lilinnya numpang.”


Gudang Kembang Kata luasnya mungkin dua kali dua meter.

Aku tahu itu karena aku sudah dua kali membetulkan sesuatu di dalamnya, dan kedua kali aku harus keluar dulu untuk berbalik badan.

Di dalamnya ada rak besi setinggi langit-langit di dua sisi, tumpukan pot di lantai, satu karung tanah yang sudah setengah terbuka, dan gulungan kawat florist yang selalu jatuh kalau ada yang menyenggol rak ketiga.

Kami masuk berdua.

Itu keputusan yang diambil tanpa dipikir—dia jalan duluan sambil mengarahkan senter, aku mengikuti karena rak atas terlalu tinggi untuknya, dan tiba-tiba kami berdua ada di dalam ruangan dua kali dua meter dengan satu pintu dan tidak ada listrik.

“Yang mana?”

“Yang atas.” Dia mengangkat senternya. “Yang itu.”

Aku meraih. Kardusnya di rak paling atas, di belakang dua kardus lain. Aku harus mendorong yang depan dulu, lalu menariknya keluar dengan satu tangan sementara tangan satunya menahan kardus sebelahnya supaya tidak jatuh.

Clara berdiri di belakangku, mengarahkan cahaya.

Aku menurunkan kardusnya. Berbalik.

Dan berbalik ternyata berarti kami berhadapan dengan jarak yang bahkan tidak sampai satu langkah.

Senternya menghadap ke atas, ke langit-langit, jadi cahayanya memantul turun dan membuat semuanya kelihatan lebih lembut daripada seharusnya. Aku bisa mendengar hujan di atap seng. Aku bisa mencium tanah dari karung yang terbuka, dan sesuatu yang manis dari kardus, dan sesuatu lagi yang bukan dari gudang ini.

Dia tidak mundur.

Aku juga tidak.

Ada jeda yang panjangnya tidak bisa kuukur—mungkin dua detik, mungkin delapan—di mana tidak ada yang bergerak sama sekali. Aku bisa melihat dia menarik napas. Aku bisa melihat kilau air di ujung rambutnya yang tadi kena bocoran kanopi.

Kardus itu ada di antara kami, di kedua tanganku, dan itu satu-satunya alasan tanganku punya tempat untuk berada.

Aku memiringkan kepalaku sedikit.

Sedikit sekali. Beberapa derajat. Gerakan yang bahkan tidak akan terlihat kalau direkam.

Dan Clara—

Clara memiringkan kepalanya juga.

Dan lalu ada bunyi.

Gulungan kawat florist di rak ketiga, yang selalu jatuh kalau ada yang menyenggol rak, jatuh.

Bunyinya keras sekali di ruangan sekecil itu. Menghantam pot, memantul, menggelinding ke sudut.

Kami berdua bergerak mundur pada saat yang sama.

“Kawatnya,” katanya.

“Iya.”

“Itu emang selalu—“

“Iya.”

Aku menunduk untuk mengambilnya dan menghantam bahuku ke rak, yang membuat sesuatu yang lain jatuh, yang membuat Clara tertawa dengan cara yang terdengar sedikit terlalu keras.

Kami keluar dari gudang membawa kardus lilin dan gulungan kawat dan tidak menyebut apa pun tentang delapan detik itu.


Kami mengerjakan tiga standing flower dengan lima lilin dan dua senter ponsel yang disandarkan ke botol.

Hasilnya jelek. Clara sendiri yang bilang.

“Ini besok pagi harus dibongkar.”

“Kelihatannya bagus.”

“Ini kelihatan bagus karena gelap.” Dia mengangkat satu tangkai ke arah lilin. “Warnanya nggak nyambung sama sekali. Yang ini pink, yang ini pink yang beda.”

“Emang ada berapa pink?”

“Banyak.”

“Berapa?”

“Mas nggak akan mau tahu.”

Aku memotong tangkai berikutnya. “Kasih tahu.”

Dan dia memberitahuku, selama mungkin sepuluh menit, tentang perbedaan antara pink yang panas dan pink yang dingin dan kenapa yang satu tidak boleh disandingkan dengan yang lain kecuali ada sesuatu yang menengahi, dan aku mendengarkan seluruhnya sambil memotong batang di kegelapan.

“Mas ngerti?”

“Nggak.”

“Tapi Mas dengerin.”

“Iya.”

Dia mengangkat wajahnya dari rangkaian. Lilin di antara kami membuat separuh wajahnya gelap.

“Kenapa?”

Dan ini pertanyaan yang seharusnya gampang. Ada sepuluh jawaban ringan yang tersedia. Karena saya nggak punya kerjaan lain. Karena hujannya belum berhenti. Karena Mbak lucu kalau lagi serius.

Yang keluar adalah:

“Karena kalau Mbak lagi ngomongin ini, Mbak nggak ngecek-ngecek saya.”

Sunyi.

Bunyi hujan di atap seng. Lilin bergoyang karena ada angin masuk dari bawah rolling door.

Clara meletakkan tangkainya.

“Saya ngecek Mas?”

“Nggak.” Aku menggeleng, terlalu cepat. “Bukan gitu maksudnya.”

“Mas.”

“Semua orang ngecek saya.” Aku memotong batang berikutnya, meskipun tumpukannya sudah lebih dari cukup. “Udah lima tahun. Nggak ada yang salah sama itu. Orang baik semua.”

“Tapi capek.”

Aku berhenti menggunting.

Bukan karena kalimatnya. Karena nadanya. Dia mengucapkannya bukan sebagai pertanyaan dan bukan sebagai simpulan—dia mengucapkannya seperti orang yang menyebutkan sesuatu yang sudah dia tahu dari tempat lain.

“Iya,” kataku.

Dan dia mengangguk sekali, dan mengambil tangkainya lagi, dan berkata: “Pink yang panas itu yang ada kuningnya. Pink yang dingin ada birunya. Mas coba lihat yang ini.”

Aku melihat.

Aku benar-benar tidak bisa melihat bedanya.

“Kelihatan?”

“Nggak sama sekali.”

“Ya udah.”

Dan kami melanjutkan.

Listriknya menyala jam sembilan lewat.

Semua lampu menyala sekaligus, terlalu terang, dan kami berdua mengangkat tangan ke mata pada saat yang sama, dan lalu saling melihat, dan tertawa.

Standing flower-nya memang jelek.


Aku mengantarnya jam sepuluh.

Tujuh menit. Kami tidak bicara banyak. Radio menyala di volume rendah.

Di depan gerbang kosnya, dia melepas sabuk pengaman dan tidak langsung turun.

“Mas.”

“Hm.”

“Makasih ya. Buat Kamis-Kamis.”

“Aman.”

Dia mengangguk. Membuka pintu. Lalu, dengan satu kaki di luar:

“Mas nggak harus bawa apa-apa, sebenernya.”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

“Engsel. Konektor selang. Lampu.” Dia tidak menatapku; dia menatap gerbang kos. “Mas selalu bawa sesuatu.”

“Ya kebetulan lewat toko bangunan.”

“Enam minggu berturut-turut.”

Aku tidak menjawab.

“Nggak apa-apa,” katanya, lebih cepat, seperti orang yang sadar sudah menekan terlalu keras. “Saya cuma bilang. Mas nggak harus.”

Dan dia keluar dan menutup pintu dan lari kecil ke gerbang, dan aku menunggu sampai lampu di dalam menyala, dan aku pergi.


Di rumah, aku duduk di mobil di garasi selama sembilan belas menit.

Aku tahu sembilan belas karena aku melihat jam waktu masuk dan melihat jam waktu keluar, dan aku melakukan itu karena aku sedang mencoba membuktikan sesuatu pada diriku sendiri yang aku sendiri tidak tahu apa.

Yang terus kembali bukan gudang.

Yang terus kembali adalah kalimat terakhirnya.

Mas nggak harus bawa apa-apa.

Dan yang membuat perutku dingin bukan karena dia salah.

Karena dia benar, dan karena aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku datang hari Kamis depan dengan tangan kosong.

Aku akan duduk di kursi plastik hijau itu selama empat jam sebagai orang yang tidak sedang membayar apa-apa.

Dan aku tidak tahu apakah aku bisa.