← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Eighteen

Empat Porsi

POV: Aditya


Ide itu datang di hari Selasa, dan aku menghabiskan dua hari mencari alasan untuk membatalkannya.

“Ra.”

“Hm?”

“Kamu Sabtu ada acara?”

“Nggak.”

“Mau makan di rumah aku?”

Aku mengucapkannya sambil memegang ember, sambil berjalan, sambil tidak menatapnya—tiga lapis perlindungan yang kususun tanpa sadar.

Clara meletakkan guntingnya.

“Mas masak?”

“Bisa.”

“Bisa apa masak?”

“Bisa masak.”

“Itu dua hal yang beda.”

“Ra.”

Dia tertawa. “Ya udah. Mau.”

Dan aku mengangkat ember itu ke rak dan merasakan sesuatu di perutku yang tidak jelas apakah senang atau takut, dan aku menghabiskan sisa hari itu memikirkan bahwa tidak ada orang yang makan di rumahku sejak lima tahun.

Bukan tidak ada yang datang. Bram datang. Bu Yuli mengantar makanan. Tukang pasang AC pernah masuk.

Tapi tidak ada yang duduk di meja makan itu dan makan sesuatu dari piringnya sendiri.


Sabtu pagi aku ke pasar jam enam.

Aku belanja seperti orang yang belum pernah belanja: berdiri terlalu lama di depan lapak ikan, membandingkan dua ikat kangkung yang jelas identik, bertanya harga tiga kali di tempat yang sama.

Ibu penjual ayam akhirnya kasihan.

“Buat berapa orang, A?”

“Dua.”

“Dua doang?” Dia sudah memasukkan sesuatu ke kantong. “Ambil segini aja.”

“Kurang, nggak?”

“Dua orang, A. Ini udah lebih.”

Aku membelinya dua kali lipat.

Waktu pulang, Bu Yuli sedang menyiram tanaman di depan rumahnya dan melihat kantong belanjaanku.

“Wih. Masak, Mas Adit?”

“Iya, Bu.”

“Buat siapa?”

“Buat saya.”

Bu Yuli menatap kantong itu. Lalu menatapku. Lalu kembali ke kantong.

“Itu ayam berapa potong?”

“Bu Yuli.”

“Ibu nggak nanya-nanya, ya.” Dia melanjutkan menyiram dengan sangat tekun. “Ibu bukan tipe yang nanya-nanya.”

“Iya, Bu.”

“Cuma kalau kurang bumbu, Ibu punya lengkuas.”

“Makasih, Bu.”

“Sama-sama.” Dia mematikan selangnya. “Mas Adit.”

“Iya?”

Dan dia berdiri di sana dengan selang di tangan, dan wajahnya berubah jadi sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam lima tahun—bukan gosip, bukan ceria.

“Ibu seneng,” katanya.

Cuma itu. Lalu dia masuk ke rumahnya.

Aku berdiri di depan pagar sendiri dengan kantong ayam di tangan selama beberapa detik.

Aku tidak tahu apa yang dia tahu. Aku tidak pernah tahu apa yang Bu Yuli tahu.


Aku mulai memasak jam empat sore.

Ini yang tidak diketahui siapa pun, karena tidak ada yang punya alasan untuk mengetahuinya: aku bisa masak.

Bukan bisa dalam arti bertahan hidup. Bisa dalam arti pernah menghabiskan dua tahun mempelajarinya dengan serius, karena ada periode di mana aku pulang jam sembilan malam setiap hari dan satu-satunya cara agar aku tidak merasa seperti tamu di rumahku sendiri adalah dengan menjadi orang yang memasak akhir pekan.

Aku bisa membuat opor yang benar. Aku tahu kapan harus memasukkan santan. Aku tahu bahwa bawang merah harus digoreng sampai warnanya berubah dua kali, bukan sekali.

Lima tahun terakhir aku makan mi instan sambil berdiri.

Bukan karena aku tidak bisa. Karena dapur yang dipakai dengan benar membutuhkan lebih dari satu orang untuk masuk akal.


Aku menumis bumbu jam setengah lima dan seluruh rumah mulai berbau.

Itu bagian yang tidak kuperhitungkan.

Rumah ini tidak pernah berbau apa-apa. Sabun cuci, kadang. Kopi di pagi hari. Tapi tidak pernah berbau bawang yang ditumis dengan serai dan daun jeruk, yang merupakan bau yang punya cara tertentu untuk masuk ke dinding dan tinggal di sana.

Aku berdiri di depan wajan dengan sodet di tangan dan harus berhenti selama beberapa detik.

Lalu aku melanjutkan.

Aku memasak ayam, tumis kangkung, tahu bacem yang sudah kurendam sejak pagi, dan sambal yang kubuat dengan ulekan yang belum kupakai lima tahun dan yang harus kucuci tiga kali sebelum bisa dipakai.

Jam enam kurang, semuanya matang.

Aku menatap meja dapur.

Dan aku menyadari bahwa aku sudah memasak untuk empat orang.


Bukan kira-kira empat. Empat.

Nasi tiga cup di rice cooker. Ayam delapan potong. Kangkung satu ikat besar penuh, yang kalau untuk dua orang seharusnya setengah.

Aku berdiri di dapur dengan sarung tangan oven di satu tangan dan menghitung ulang, dan hitungannya tidak berubah.

Tanganku yang tahu. Itu bagian yang selalu paling buruk—kepalaku bisa kuatur, kepalaku sudah lima tahun kuatur dengan sangat baik. Tapi tanganku menyimpan hal-hal yang tidak pernah kuminta mereka simpan.

Delapan potong ayam. Karena Naya makan dua, aku makan tiga, Bumi makan satu—selalu satu, selalu paha, selalu dilepas kulitnya lebih dulu—dan dua sisanya untuk besok pagi.

Aku berdiri di dapur itu selama mungkin dua menit.

Lalu aku mengambil wadah plastik dan memindahkan setengahnya ke kulkas, dan mencuci tanganku, dan menyalakan lampu ruang tamu, dan menunggu.


Clara sampai jam tujuh.

“Ya ampun.”

“Kenapa?”

“Baunya.” Dia berdiri di ambang pintu, masih dengan sandal di tangan. “Dari luar udah kecium.”

“Bagus apa jelek?”

“Bagus banget.”

Dan dia masuk, dan aku menutup pintu, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun ada dua orang di ruang tamu itu pada jam makan malam.


Dia makan banyak.

Itu hal yang tidak kuduga akan membuatku merasa seperti itu.

Clara makan dengan cara orang yang seharian bekerja dengan tangan—cepat, tidak sopan-sopan amat, mengambil tambah tanpa ditawari. Dia menghabiskan tiga potong ayam. Dia bilang sambalnya kurang pedas dan menambahkan cabai rawit utuh dari kulkas dan memakannya mentah.

“Ini kamu belajar di mana?”

“YouTube.”

“Bohong.”

“Kenapa bohong?”

“Karena orang yang belajar dari YouTube nggak tahu bawang harus digoreng sampe berubah warna dua kali.” Dia menunjuk piringnya dengan sendok. “Ini bukan resep. Ini kebiasaan.”

Aku minum air.

“Dulu aku sering masak,” kataku.

“Dulu kapan?”

Dan ada jeda—jeda yang kurasakan seperti orang merasakan lantai kayu yang bunyinya berbeda di satu titik.

“Lama,” kataku.

Clara mengangguk sekali dan menambah nasi.

Dan aku memperhatikan bahwa dia menambah nasi persis di detik itu, dan bahwa dia tidak butuh nasi tambahan, dan bahwa dia melakukannya untuk memberiku sesuatu untuk dilihat selain wajahnya.

Aku tidak tahu harus bagaimana dengan perasaan yang muncul dari situ.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu nggak nanya-nanya soal toko.”

“Kenapa harus?”

“Semua orang nanya.” Dia mengambil sepotong tahu. “Papa aku tiap telepon nanya omzet. Temen-temen aku nanya kapan buka cabang. Ada tante aku yang tiap Lebaran nanya kenapa nggak jualan online aja biar nggak capek.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku jawab iya, nanti.”

“Kamu mau buka cabang?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Clara meletakkan sendoknya.

“Karena yang aku suka itu bagian yang nggak bisa dicabangin,” katanya. “Kalau ada dua toko, aku harus jadi orang yang ngatur dua toko. Aku nggak akan megang gunting lagi.”

“Terus kenapa nggak bilang gitu ke tante kamu?”

“Karena kedengerannya kayak alasan orang males.”

Aku menggeleng.

“Itu bukan alasan orang males. Itu keputusan.”

“Sama aja.”

“Nggak sama.” Aku mengambil nasi. “Orang males nggak tahu dia mau apa. Kamu tahu persis kamu mau apa, dan kamu tahu harganya, dan kamu bayar.”

Clara menatapku beberapa saat.

“Kamu ngomong gini ke diri kamu sendiri juga nggak?”

“Kamu udah nanya itu.”

“Iya. Dan kamu belum jawab.”

Aku mengunyah lebih lama dari yang dibutuhkan.

“Belum,” kataku akhirnya.

“Oke.” Dia mengangguk sekali dan menambah kangkung. “Suatu saat, ya.”

Dan dia pindah ke topik lain sebelum aku sempat merasa terpojok, dan aku menyadari beberapa detik kemudian bahwa itu memang disengaja.


Kami cuci piring bersama.

Aku mencuci, dia mengelap. Sistem yang terbentuk sendiri dalam dua menit karena hanya ada satu rak pengering dan rak itu terlalu kecil.

“Mas.”

“Hm.”

“Mangkuk ini kenapa beda sendiri?”

Aku menoleh.

Mangkuk biru pucat. Pinggirannya gompel di satu sisi. Dia sedang mengelapnya, memutarnya di tangan.

“Itu dari dulu.”

“Aku tahu. Aku nanya kenapa nggak diganti.”

Aku menutup keran.

Dan aku berdiri di depan wastafel dapurku sendiri dengan tangan basah dan memikirkan sekitar enam jawaban, dan kelima jawaban pertama adalah versi berbeda dari hal yang sama, dan yang keenam adalah yang benar.

“Karena itu satu-satunya yang selamat,” kataku.

Clara berhenti mengelap.

“Selamat dari apa?”

“Dari beres-beres.”

Dan aku mengambil mangkuk itu dari tangannya dan meletakkannya di rak, di paling atas, di tempatnya biasa, dan menyalakan keran lagi.

Dia tidak bertanya lebih jauh.

Tapi sepanjang lima menit berikutnya dia berdiri lebih dekat dari yang perlu untuk mengelap piring, bahunya menempel di lenganku, dan tidak bergeser sekali pun.


Jam setengah sembilan dia bilang mau ke kamar mandi.

“Di lorong, pintu pertama sebelah kanan.”

“Oke.”

Dan aku duduk di ruang tamu dan mendengar langkahnya di lorong, dan aku menghitung.

Kamar mandi pintu pertama. Ruang kerja pintu kedua. Pintu ketiga di ujung.

Aku mendengar pintu kamar mandi tertutup. Aku mendengar air.

Lalu aku mendengar langkahnya keluar—dan berhenti.

Berhenti di lorong.

Tiga detik. Empat.

Jantungku naik ke tenggorokan dengan kecepatan yang membuatku hampir berdiri.

Lalu langkahnya melanjutkan, dan dia muncul di ruang tamu, dan duduk di sofa di sebelahku, dan bilang bahwa dia baru sadar aku tidak punya TV yang menyala sama sekali sepanjang malam.

“Aku nggak nonton.”

“Nggak nonton apa-apa?”

“Kadang bola.”

“Sekarang ada bola nggak?”

“Ada.”

“Nyalain dong.”

Dan kami menonton pertandingan liga yang kami berdua tidak peduli hasilnya, dengan dia bersandar di bahuku, di sofa yang bantalnya tidak pernah penyok karena tidak pernah ada yang duduk cukup lama untuk memenyokkannya.

Dia tertidur di menit ke tujuh puluh.


Aku tidak membangunkannya selama empat puluh menit.

Aku duduk di sana dengan lengan yang mulai kesemutan dan bola yang masih berjalan di layar dan berat kepala seseorang di bahuku.

Dan aku memikirkan sesuatu yang membuat dadaku sakit dengan cara yang tidak bisa kutunjuk sumbernya.

Ruangan itu terisi.

Bukan penuh. Cuma terisi—cara ruangan berubah kalau ada dua napas di dalamnya bukan satu. Ada suara TV. Ada bau bawang yang masih menempel di dinding. Ada dua gelas di meja, bukan satu.

Selama lima tahun aku sudah sangat, sangat ahli dalam mengelola rumah ini. Aku tahu urutan menyalakan lampunya. Aku tahu berapa lama harus duduk di mobil sebelum masuk. Aku tahu kapan harus keluar mencari sesuatu untuk dibetulkan.

Aku tidak tahu apa-apa tentang rumah yang ada isinya.

Dan bagian dari diriku—bagian yang tidak pernah tidur, bagian yang menghitung, bagian yang menyalakan senyum setengah detik lebih lambat—bagian itu berkata, dengan sangat tenang:

Kamu sedang membangun sesuatu yang harus kamu bongkar sendiri nanti.

Aku menggeser sedikit. Clara menggumam dan menyesuaikan posisinya dan tidak bangun.

Dan kamu tahu itu.

Dan kamu tetap melakukannya.

Itu bukan pemulihan. Itu kejam.

Aku menutup mataku.

Dan aku duduk di sofa itu sampai pertandingannya selesai, tidak bergerak, dengan seseorang tidur di bahuku dan seluruh isi kepalaku bekerja penuh.


Aku mengantarnya jam sebelas.

“Maaf ya, ketiduran.”

“Aman.”

“Kamu nggak bangunin.”

“Kamu keliatan capek.”

Dia menguap dan menyandarkan kepala ke jendela mobil.

“Mas.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

“Buat masakannya. Buat—“ dia menguap lagi, “—buat semuanya.”

Dan lalu, dengan mata sudah setengah tertutup dan suara yang sudah tidak sepenuhnya sadar:

“Kamu masaknya kebanyakan, ya.”

Aku memegang setir lebih erat.

“Iya.”

“Sisanya jangan dibuang.”

“Nggak.”

“Besok dimakan.”

“Iya.”

“Janji.”

Dan aku bilang janji, dan dia tertidur lagi, dan aku menyetir tujuh menit ke kosnya di tiga puluh delapan kilometer per jam dengan mata yang terasa panas dan tidak sekali pun menyalakan radio.


Besok paginya aku membuka kulkas.

Wadah plastik itu ada di sana. Setengah porsi. Ayam empat potong, kangkung, tahu.

Aku mengeluarkannya dan memanaskannya dan duduk di meja makan dan memakannya dari piring, bukan dari wadahnya, dengan mangkuk biru gompel itu berisi sambal di sebelah kanan.

Aku makan sendirian.

Aku makan sendirian di meja makan yang sudah lima tahun tidak dipakai untuk makan, di rumah yang masih berbau bawang tumis, dengan pintu putih di ujung lorong yang tidak kubuka hari itu meskipun hari itu Minggu.

Aku menyelesaikan semuanya. Aku mencuci piringnya.

Lalu aku duduk di ruang tamu selama sekitar sepuluh menit dan berkata, keras-keras, ke ruangan kosong:

“Aku masak kebanyakan.”

Dan ruangan itu tidak menjawab, karena ruangan tidak pernah menjawab, dan aku tetap duduk di sana sampai jam sepuluh sebelum akhirnya membuka pintu putih itu dan mengerjakan hari Mingguku yang terlambat empat jam.