Chapter Thirty Nine
Kasihan Dia
POV: Aditya
Sarah sampai jam sepuluh lewat lima.
Dia membawa anaknya, yang sekarang berumur tiga tahun dan yang langsung berlari ke ruang tamu dan berdiri di tengahnya sambil melihat sekeliling dengan wajah orang yang tidak menemukan satu pun benda menarik.
Dia benar. Tidak ada satu pun benda menarik di ruang tamuku.
“Duduk, Ra—“ Aku berhenti. “Duduk, Sar.”
Sarah menoleh.
Aku berjalan ke dapur untuk mengambil air.
Ponselnya di atas meja dalam kantong kain.
Samsung lama, warna biru muda, dengan casing yang sudutnya sudah pecah dan stiker bunga kecil di belakang yang ditempel Bumi dan yang tidak pernah dilepas Naya meskipun dia mengeluh tentang itu selama dua bulan.
Aku menatapnya cukup lama.
“Mas.”
“Iya.”
“Mas nggak harus buka sekarang.”
“Iya.”
“Mas juga nggak harus buka sama sekali.” Sarah menggeser cangkirnya. “Aku salah kemarin. Aku maksa. Aku nggak punya hak.”
“Kamu punya hak.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Kamu adiknya,” kataku. “Kamu satu-satunya yang punya hak selain aku, dan lima setengah tahun kamu nggak pernah pakai sekali pun.”
Sarah menunduk ke arah cangkirnya.
Dan lalu dia berkata: “Mas, aku bacain aja ya.”
“Sar—“
“Aku udah baca. Aku udah nangis. Aku udah lewat bagian itu.” Suaranya bergetar sedikit tapi tidak pecah. “Kalau Mas yang baca sendiri, Mas bakal baca sambil nyusun. Aku tahu Mas. Mas bakal baca kalimat pertama terus langsung mikirin gimana cara masukin itu ke tempat yang udah ada.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Jadi aku bacain,” katanya. “Dan Mas cuma dengerin.”
Dia mengambil ponsel itu dari kantong kain.
Dia menyalakannya. Butuh waktu lama—layarnya menyala dengan logo yang sudah lama tidak kulihat, dan lalu proses booting yang lambat karena ponsel berumur enam tahun yang baterainya sudah lama mati.
Dan lalu wallpapernya muncul.
Foto Bumi. Di halaman. Sedang memegang selang.
Aku memegang lengan sofa dengan kedua tangan.
“Mas?”
“Lanjut.”
“Mas—“
“Sar, lanjut.”
Dia membuka aplikasi pesan.
“Ini chat aku sama dia,” katanya. “Yang terakhir tanggal enam. Kejadiannya tanggal sembilan.”
Tiga hari sebelum.
“Aku mulai dari yang tanggal dua ya,” katanya. “Biar nyambung.”
Dan dia mulai membaca.
Sarah membaca dengan suara datar.
Aku tahu kenapa dia melakukannya. Dia sudah menangis empat puluh menit dua hari lalu, dan dia sedang memakai seluruh tenaganya untuk tidak melakukannya lagi di ruang tamuku, dan cara dia melakukannya adalah dengan membaca seperti orang membaca daftar belanja.
Tanggal dua.
Naya bertanya apakah Sarah sudah dapat jadwal sidang skripsi.
Sarah bilang belum.
Naya bilang nanti dia yang antar kalau Sarah butuh, karena “Mas Adit lagi gila-gilanya di kantor.”
Sarah bertanya kenapa.
Dan Naya membalas—Sarah membaca ini dengan sangat pelan, dengan jeda di tengah:
”Ada apa deh di kantornya. Dia pulang jam 10, jam 11. Kemarin jam 12. Aku nggak nanya-nanya lagi karena tiap ditanya dia bilang aman.”
Aku menutup mataku.
Aman.
Enam tahun lalu.
Aku pikir itu dimulai setelahnya. Aku benar-benar pikir kata itu adalah sesuatu yang kubangun sesudahnya, salah satu dari alat-alat yang kupasang di rumah baru yang kubangun di atas reruntuhan.
Ternyata sudah ada di sana sebelumnya.
Naya mendengarnya. Berkali-kali. Cukup sering sampai dia menuliskannya ke adiknya sebagai keluhan.
Dan aku tidak ingat sekali pun mengucapkannya padanya.
“Mas.”
“Lanjut.”
Tanggal empat.
Sarah bertanya apakah Naya jadi ke Sumedang akhir pekan.
Naya bilang jadi.
Sarah bertanya apakah Aditya ikut.
Dan Naya membalas: ”Katanya ikut. Tapi ya, kita lihat aja.”
Sarah berhenti membaca.
“Ada emoji setelahnya,” katanya. “Yang ketawa.”
“Oke.”
“Aku bales: yah Mbak.” Sarah menggulir. “Terus dia bales: nggak apa-apa, dia lagi banyak banget. Aku juga nggak enak.”
Aku juga nggak enak.
Aku memegang lengan sofa lebih erat.
Tanggal enam.
“Ini yang aku baca dua hari lalu,” kata Sarah. “Empat baris ini.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Mas siap?”
“Nggak.”
“Aku bacain.”
“Iya. Bacain.”
Dan Sarah Ramadhani, dua puluh sembilan tahun, duduk di sofa ruang tamu rumah kakak iparnya dengan ponsel kakaknya yang sudah meninggal lima setengah tahun di tangannya, dan membaca:
”Sar, mobilku bunyi getar di belakang.”
”Udah dibawa ke bengkel?”
”Belum. Aku bilang ke Mas Adit, dia bilang minggu depan.”
”Kok minggu depan?”
Dan lalu, Naya:
”Ya biarin. Kasian dia.”
Aku tidak bergerak.
Sarah meletakkan ponselnya di meja.
“Ada satu lagi,” katanya. “Setelah itu.”
“Bacain.”
“Mas—“
“Sarah. Bacain.”
Dia mengambil ponselnya lagi.
”Aku bisa bawa sendiri sebenernya. Tapi kalau aku bawa sendiri dia bakal ngerasa gagal.”
”Mbak, itu cuma bengkel.”
Dan Naya membalas:
”Kamu belum ngerti. Dia tuh kalau ada satu aja yang dia nggak sempet urus, dia mikirnya dia bukan suami yang bener.”
Sarah menurunkan ponselnya.
“Terus?” kataku.
Suaraku tidak keluar dengan benar.
“Terus itu aja,” katanya. “Setelah itu ganti topik. Ngomongin kondangan.”
Aku tidak menangis.
Aku ingin menuliskan itu dengan jujur, karena selama berminggu-minggu sesudahnya aku akan mencoba mengerti apa yang terjadi di ruang tamu itu, dan bagian pertamanya adalah: aku tidak menangis.
Yang terjadi adalah aku duduk di sofa dan sesuatu di dalam kepalaku berhenti bekerja.
Bukan berhenti seperti mati. Berhenti seperti mesin yang programnya mencapai baris yang tidak bisa dieksekusi.
Karena selama lima setengah tahun, aku punya satu cerita.
Ceritanya begini: istriku memberitahuku bahwa mobilnya rusak, dan aku terlalu sibuk, dan aku menundanya, dan sebelas hari kemudian dia mati bersama anakku.
Aku adalah orang yang tidak mendengarkan.
Dan aku membangun seluruh hidupku di atas cerita itu. Setiap keputusan sejak saat itu—setiap pekerjaan yang kutolak, setiap tekanan ban yang kuperiksa, setiap kali aku berhenti untuk anak SMA yang rantai sepedanya lepas—semuanya adalah anak kalimat dari cerita itu.
Dan ponsel biru di atas meja itu mengatakan sesuatu yang lain.
Bukan sesuatu yang membebaskanku.
Sesuatu yang lebih buruk.
Ponsel itu mengatakan bahwa Naya melihatku. Bahwa dia tahu persis apa yang terjadi padaku. Bahwa dia sudah lama tahu, dan bahwa dia mengurus itu sendirian, dan bahwa cara dia mengurusnya adalah dengan tidak memberitahuku apa-apa.
Kasian dia.
Dia tidak lupa. Dia tidak menganggapnya tidak penting.
Dia memutuskan untuk tidak mendesakku karena dia kasihan padaku.
Ada satu detail yang tidak bisa kulepas.
Aku bisa bawa sendiri sebenernya.
Naya bisa menyetir. Naya menyetir setiap hari. Bengkel langganan kami sepuluh menit dari rumah dan buka sampai jam lima dan Naya tahu di mana tempatnya karena dia yang mengantar mobil itu ke sana dua kali sebelumnya.
Sepuluh menit.
Selama sebelas hari, jarak antara Naya dan bengkel itu adalah sepuluh menit.
Dan dia tidak pergi.
Bukan karena dia tidak sempat. Bukan karena dia tidak bisa. Bukan karena dia tidak tahu bahaya.
Karena kalau dia pergi sendiri, aku akan merasa gagal.
Dan dia sudah cukup lama hidup denganku untuk tahu persis apa yang terjadi kalau aku merasa gagal—bahwa aku akan menutupnya dengan sesuatu, bahwa aku akan membetulkan tiga hal lain sebagai ganti, bahwa aku akan bilang aman dan tersenyum dan tidur empat jam.
Dia melindungiku dari itu.
Selama sebelas hari, istriku memilih untuk membawa anak kami di mobil dengan ban yang retak daripada membuat suaminya merasa gagal.
Dan sekarang aku harus tinggal di dalam kalimat itu.
“Mas.”
Aku tidak menjawab.
“Mas Aditya.”
Anaknya Sarah datang dan bersandar ke lutut ibunya, dan Sarah mengangkatnya ke pangkuan tanpa mengalihkan pandangan dariku.
“Aku duduk sama HP itu dua hari,” katanya. “Dan aku mikirin apa yang harus aku bilang ke Mas, dan aku nyusun tiga versi, dan semuanya jelek.”
Aku memandang meja.
“Jadi aku nggak akan bilang apa-apa,” katanya. “Aku cuma bacain.”
“Sar.”
“Iya?”
Dan aku mengangkat kepalaku dan berkata, dengan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti suaraku:
“Aku nggak tahu harus taruh di mana.”
Sarah mulai menangis.
Bukan yang dua puluh detik. Yang lain.
“Aku juga nggak, Mas,” katanya. “Aku juga nggak.”
Kami duduk di ruang tamu itu untuk waktu yang cukup lama.
Anaknya turun dari pangkuan dan mulai memainkan kunci mobil di meja dan tidak ada yang menghentikannya.
“Mas, boleh aku ngomong satu hal?” kata Sarah akhirnya.
“Boleh.”
“Ini bukan buat bikin Mas ngerasa lebih enak.”
“Oke.”
Dia mengusap wajahnya dengan lengan.
“Kalimat itu,” katanya. “Kasian dia.”
“Iya.”
“Aku juga pernah bilang itu.”
Aku menoleh.
“Bertahun-tahun,” katanya. “Tiap kali aku mau nanya Mas beneran gimana. Tiap kali aku hampir maksa. Aku bilang ke diri aku sendiri: ya udah, kasian dia, jangan diganggu.”
Dia menatap lantai.
“Aku ngomong persis kayak Mbak Naya,” katanya. “Persis. Dan aku nggak pernah baca chat itu sampai dua hari lalu.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Berarti bukan cuma kami berdua,” katanya. “Berarti Mas emang bikin orang jadi begitu.”
Ada bunyi kunci mobil yang dijatuhkan anaknya ke lantai.
“Dan aku nggak bilang itu salah Mas,” lanjutnya cepat. “Aku nggak tahu itu salah siapa. Aku cuma mau bilang bahwa ada pola, dan polanya bukan Mas nggak dengerin orang.”
“Terus apa?”
Dan Sarah berkata:
“Polanya orang berhenti ngomong ke Mas.”
Dia pulang jam dua siang.
Dia meninggalkan ponsel itu di meja. Aku bilang bawa. Dia bilang tidak.
“Kalau Mas nggak mau, kasih ke Ibu,” katanya di pagar. “Tapi jangan buang.”
“Sar.”
“Iya?”
Dan aku berdiri di pagar rumahku sendiri dan berkata sesuatu yang tidak kurencanakan sama sekali:
“Aku putus sama Clara bulan April.”
Sarah berhenti di tengah membuka pintu mobil.
“Aku tahu,” katanya.
“Kamu tahu?”
“Bram cerita bulan Mei.”
Dan dia berdiri di sana dengan tangan di pintu mobil, dan lalu dia berkata:
“Mas, boleh aku nanya satu hal? Terus aku pergi.”
“Boleh.”
“Mas mutusin dia karena Mas takut ngulangin, kan?”
Aku tidak menjawab.
“Aku nggak nuduh,” katanya. “Aku cuma mau Mas denger satu hal dan terserah Mas mau diapain.”
Dia masuk ke mobil dan menutup pintunya dan menurunkan kaca.
“Yang bunuh Mbak Naya bukan Mas nunda bengkel,” katanya. “Yang bunuh Mbak Naya itu ban pecah di jalan turun waktu hujan.”
Aku membuka mulutku.
“Aku belum selesai.” Dia mengangkat tangan. “Tapi yang bikin dia nggak maksa Mas ke bengkel—itu ada hubungannya sama Mas. Dan itu dua hal yang beda banget, Mas, dan lima setengah tahun ini Mas nggak pernah misahin.”
Dia menyalakan mesin.
“Yang satu itu kecelakaan,” katanya. “Yang satu lagi itu kebiasaan. Dan kebiasaan bisa diubah.”
Dan dia pergi.
Aku masuk ke rumah dan duduk di sofa dan menatap ponsel biru di atas meja sampai jam lima sore.
Lalu aku berdiri, dan berjalan ke ruang kerja, dan membuka laci di bawah dokumen rumah.
Map cokelat itu masih di sana.
Aku mengeluarkannya dan membawanya ke ruang tamu dan meletakkannya di meja di sebelah ponsel biru itu.
Dua benda.
Aku duduk di sofa dengan dua benda di atas meja di depanku selama satu jam empat puluh menit.
Dan waktu matahari mulai turun dan ruangan mulai gelap, aku tidak menyalakan lampu.
Aku membuka map cokelatnya.
Dan aku membaca laporan itu untuk pertama kalinya sejak aku menandatanganinya lima setengah tahun lalu di kantor polisi dengan Bram berdiri di belakang bahuku.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia reading
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu