← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Forty Five

Kursi Plastik Hijau

POV: Clara


Hari Minggu tanggal dua puluh dua Desember, aku menutup toko jam dua.

Aku selalu menutup jam dua di hari Minggu. Sudah lima tahun. Itu satu-satunya jadwal yang tidak pernah kuubah bahkan di bulan-bulan waktu aku tidak libur sama sekali.

Tari sudah pulang jam satu.

Dan jam satu lewat lima, waktu aku sedang menghitung uang di belakang meja kasir dengan rolling door masih terbuka penuh, aku mendengar mobil berhenti di depan.

Aku tidak mengangkat kepala.

Ada mobil berhenti di depan toko ini lima puluh kali sehari. Warung kopi di seberang selalu penuh dan orang selalu parkir sembarangan.

Aku menghitung sampai lembar kesekian dan menuliskan angkanya, dan lalu aku mendengar pintu mobil ditutup, dan lalu aku mendengar langkah di teras.

Dan aku tahu.

Aku tahu dari langkahnya, dan aku benci bahwa aku tahu dari langkahnya, dan aku menaruh uang itu di laci dengan tangan yang tiba-tiba tidak berfungsi dengan benar.


Aku tidak mengangkat kepala selama mungkin lima detik.

Dan lalu aku mengangkat kepala.

Aditya berdiri di ambang pintu.

Dia lebih kurus. Itu hal pertama yang kulihat—bukan banyak, mungkin empat kilo, tapi aku sudah delapan bulan tidak melihat wajah ini dan empat kilo terlihat di rahang.

Rambutnya lebih panjang.

Dan ada tanah di celananya, di bagian lutut, dua bekas berbentuk setengah lingkaran seperti orang yang habis berjongkok di rumput.

“Hai,” katanya.


Ini yang tidak kuduga akan terjadi.

Aku tidak menangis. Aku tidak berlari. Aku tidak melakukan satu pun hal yang sudah kubayangkan selama delapan bulan di berbagai versi yang semuanya melibatkan reaksi besar.

Yang kulakukan adalah berdiri di belakang meja kasirku dan berkata:

“Toko tutup jam dua.”

Aditya mengangguk.

“Iya. Aku tahu.”

“Ini jam satu lewat lima.”

“Iya.”

Dan kami berdiri di sana, dengan meja kasir di antara kami, di ruangan empat meter kali delapan yang berbau tanah basah dan bunga potong.

“Kamu mau beli sesuatu?” tanyaku.

Dan aku mendengar diriku sendiri mengucapkannya dan hampir tertawa dan hampir menangis dalam waktu yang sama.

“Nggak,” katanya.

“Terus?”

Dan Aditya Wisesa berdiri di ambang pintu tokoku dan berkata:

“Aku mau duduk.”


Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku berjalan keluar dari balik meja kasir dan melewatinya—cukup dekat untuk mencium bau tanah dan keringat dan sesuatu yang tidak berubah sama sekali dalam delapan bulan—dan keluar ke teras.

Dan aku duduk di kursi plastik hijau.

Yang kanan. Yang selalu punyaku.

Dan aku tidak melihat ke belakang.

Beberapa detik kemudian aku mendengar langkahnya, dan aku merasakan kursi di sebelahku bergerak, dan dia duduk.

Kami tidak bicara.


Jam satu lewat delapan.

Warung kopi di seberang penuh, seperti selalu di hari Minggu siang. Ada bapak-bapak yang main catur di meja paling pojok dan yang selalu ada di sana setiap Minggu sejak bulan Maret dan yang tidak pernah kutahu namanya.

Motor lewat. Ojol berhenti di depan warung. Anak-anak dari gang sebelah lewat dengan sepeda.

Jam satu lewat lima belas.

Aku tidak bicara. Bukan karena aku sedang menghukumnya. Karena aku benar-benar tidak punya satu pun kalimat yang tidak akan merusak apa pun yang sedang terjadi.

Jam satu lewat dua puluh tiga.

Dan sekitar jam itu aku menyadari sesuatu, dan aku menyadarinya dengan seluruh tubuhku, dan sesuatu di dadaku mulai bergerak.

Dia tidak melakukan apa-apa.

Dia tidak memutar kunci mobil di jari. Dia tidak melipat struk. Dia tidak memegang apa pun.

Kedua tangannya di paha.

Dan dia tidak berdiri untuk mengecek apa pun.


Jam dua kurang sepuluh, dia berkata:

“Rak terasnya udah dicat ulang.”

“Bulan Oktober.”

“Warnanya beda.”

“Iya. Yang lama udah nggak ada di toko cat.”

“Bagus.”

“Makasih.”

Dan kami diam lagi.

Jam dua lewat tiga, aku berdiri dan menurunkan rolling door sampai setengah dan kembali duduk.

Dia tidak bertanya kenapa aku tidak menutup penuh.

Aku juga tidak menjelaskan.


Jam tiga, dia bicara lagi.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku nggak dateng buat minta apa-apa hari ini.”

Aku menatap jalan.

“Oke.”

“Dan aku nggak dateng buat benerin apa-apa.” Suaranya rata. “Aku ngecek pas masuk tadi. Refleks. Aku lihat engsel pintu gudang sama kabel di belakang meja kasir.”

“Terus?”

“Terus aku duduk.”

Dan aku memegang kursiku dengan kedua tangan dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Kabel yang mana?” tanyaku akhirnya.

“Yang stopkontak bawah. Ada yang kelupas dikit di ujung.”

“Iya, aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku tahu dari bulan September.” Aku mengangkat bahu. “Aku pakai isolasi.”

Aditya diam.

Dan lalu dia berkata, dan suaranya berubah sedikit: “Isolasi nggak cukup buat itu.”

“Aku tahu.”

“Itu bisa—“

Dia berhenti.

Aku menoleh.

Dan aku melihat seorang laki-laki berumur tiga puluh tiga tahun duduk di kursi plastik hijau dengan kedua tangan di paha, sedang menahan seluruh tubuhnya untuk tidak berdiri.

“Aditya.”

“Iya.”

“Besok aku panggil tukang.”

Dia menutup matanya.

“Oke,” katanya.

Dan dia tidak berdiri.


Jam empat.

“Ra, boleh aku cerita sesuatu?”

“Boleh.”

“Aku ke psikolog sejak bulan Agustus.”

Aku menoleh sepenuhnya.

“Yang dulu,” katanya, menatap ke depan. “Yang aku datengin dua kali di tahun pertama terus aku kabur.”

“Berapa kali sekarang?”

“Sembilan belas.”

Sembilan belas.

Aku menghitung mundur di kepalaku. Empat bulan. Berarti hampir setiap minggu, tanpa putus.

“Aditya.”

“Hm.”

“Itu bagus banget.”

“Iya.” Dia mengangguk. “Mahal juga.”

Dan aku tertawa—refleks, tidak sengaja, keluar sendiri—dan aku menutup mulutku dengan tangan karena aku tidak siap mendengar bunyi tawaku sendiri di teras ini.

Aditya menoleh ke arahku.

Dan dia tersenyum.

Dan senyumnya datang tepat waktu.

Bukan setengah detik terlambat. Tepat waktu, biasa, seperti orang yang tersenyum karena ada yang lucu.

Aku mengalihkan pandangan ke jalan supaya wajahku punya tempat untuk pergi.


Jam lima, dia cerita tentang halaman.

Tentang palu godam jam sebelas malam dan Bu Yuli dengan senter. Tentang tiga hari dan delapan sentimeter semen dan tangan yang melepuh di dua tempat.

Tentang enam polybag.

“Cabai rawit sama tomat,” katanya. “Bu Yuli bilang tomatnya kayaknya nggak hidup.”

“Kapan ditanam?”

“Delapan hari lalu.”

“Udah kelihatan?”

“Yang tiga udah ada daun baru.” Dia mengangkat bahu. “Yang tomat belum.”

“Tomat emang lama.”

“Oh.”

“Sepuluh sampai empat belas hari kalau dari bibit sehat.”

Dan aku menyadari, sepersekian detik terlambat, bahwa aku baru saja memberikan informasi teknis dengan nada yang sama sekali tidak netral.

Aditya tidak mengomentari.

Tapi aku melihat sudut bibirnya.


Jam setengah enam, aku bertanya sesuatu yang sudah kutahan sejak jam satu.

“Kamu baca pesan-pesan aku?”

“Semuanya.”

“Kenapa nggak dibales?”

Dan Aditya duduk di kursi plastik hijau dan berpikir lama sekali sebelum menjawab.

“Karena tiap kali aku nulis balesan, yang keluar bagus,” katanya.

“Bagus itu jelek?”

“Bagus itu artinya aku nyusun.” Dia menatap jalan. “Ra, aku bisa nulis balesan yang bikin kamu ngerasa didengerin, terus nutup HP, terus nggak ngapa-ngapain selama tiga minggu. Aku udah lima tahun jago banget di situ.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan yang bulan Agustus itu—yang kamu bilang nggak jadi ke Jakarta—“ Dia menggeser posisi duduknya. “Aku nulis empat versi. Semuanya bagus. Semuanya nggak ada isinya.”

“Terus yang bulan November?”

“Yang mana?”

“Yang aku bilang capek banget.”

Aditya menoleh.

“Yang itu aku hampir bales,” katanya.

“Kenapa nggak?”

“Karena aku mau nulis aku bisa dateng sekarang.” Suaranya rendah. “Dan aku tahu persis apa yang bakal terjadi kalau aku dateng malem itu.”

“Apa?”

“Aku bakal dateng, kamu bakal seneng, dan besoknya aku bakal ilang lagi.” Dia mengangkat bahu. “Karena bulan November aku belum bisa duduk di kursi ini lima menit tanpa berdiri.”

Dan aku duduk di sebelahnya dan menyadari bahwa aku baru saja diberi jawaban untuk pertanyaan yang kuputar-putar di kepalaku selama empat bulan, dan bahwa jawabannya sama sekali bukan yang kutakutkan.


Jam enam matahari mulai turun.

Warung kopi di seberang menyalakan lampunya. Bapak-bapak catur pulang. Anak-anak bubar.

Dan aku menyadari bahwa aku sudah duduk di kursi ini selama hampir lima jam.

Aku tidak pernah duduk di kursi ini selama lima jam.

“Aditya.”

“Hm.”

“Kamu udah berapa lama duduk?”

Dia melihat jamnya.

“Empat jam lima puluh menit.”

Dan lalu dia berkata—sangat pelan, ke arah jalan, dengan nada orang yang menyelesaikan sesuatu:

“Empat jam.”

“Apa?”

“Nggak apa-apa.” Dia menggeleng. “Aku bilang ke Bram bulan September bahwa aku mau bisa duduk di kursi plastik empat jam tanpa masang apa-apa dulu.”

Aku memegang lengan kursiku.

“Dan?”

“Dan barusan,” katanya.


Aku menangis di kursi plastik hijau di teras tokoku sendiri jam enam lewat sore hari Minggu tanggal dua puluh dua Desember.

Tidak keras. Tidak lama.

Dan Aditya tidak bergerak.

Dia tidak memelukku. Dia tidak menyentuhku. Dia duduk di kursi sebelah dengan kedua tangan di paha dan membiarkan aku menangis di sebelahnya selama mungkin dua menit.

Dan waktu aku selesai, dia berkata:

“Aku nggak peluk kamu bukan karena aku nggak mau.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak mau kamu ngerasa aku dateng terus langsung—“

“Aditya, aku tahu.”

Dan dia mengangguk.


Jam tujuh, aku berdiri.

“Aku pulang,” kataku.

“Iya.”

“Kamu?”

“Aku juga.”

Dan kami berjalan ke motorku dan mobilnya yang diparkir empat meter dari satu sama lain, dan berdiri di trotoar.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku boleh dateng lagi?”

Dan aku berdiri di trotoar Jalan Cikutra dengan kunci motor di tangan dan berkata:

“Kapan?”

“Kapan aja.”

“Aditya.”

“Iya?”

Dan aku menatapnya, dan aku memutuskan untuk tidak melunakkan apa pun, karena delapan bulan terakhir mengajariku bahwa melunakkan sesuatu tidak pernah membantu siapa pun.

“Aku nggak akan langsung,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku nggak lagi ngehukum kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma—“ Aku menarik napas. “Aku delapan bulan ngerapiin diri aku sendiri, Aditya. Dan aku nggak mau ngerusak itu dalam satu sore cuma karena aku kangen.”

Dan Aditya mengangguk, dan berkata:

“Itu bener.”

“Kamu nggak marah?”

Dan dia menatapku di bawah lampu jalan yang baru menyala dan berkata:

“Ra, delapan bulan lalu aku ninggalin kamu di teras itu dan aku nggak balik selama delapan bulan.”

Dia memasukkan tangan ke saku.

“Kalau kamu bilang mau, aku bakal takut,” katanya. “Karena artinya kamu nggak ngitung.”


Aku sampai di kos jam setengah delapan.

Aku duduk di kasur dengan jaket masih menempel dan kunci masih di tangan.

Dan aku mengambil ponsel dan membuka chat kami—yang terakhir diisi tanggal dua puluh delapan November, pesan panjangku yang dibaca jam sepuluh lewat empat belas dan tidak pernah dibalas.

Dan ada pesan baru.

Masuk jam tujuh lewat dua puluh, sekitar sepuluh menit setelah kami berpisah di trotoar.

Ra, tomatnya kalau sampai hari kelima belas belum kelihatan, itu artinya apa?

Aku menatapnya.

Dan aku tertawa keras sekali di kamar kos sendirian, dan lalu aku menangis lagi sedikit, dan lalu aku mengetik:

Artinya bibitnya jelek. Bukan salah kamu.

Aku menatap kalimat terakhir itu selama beberapa detik.

Lalu aku menghapus tiga kata terakhirnya.

Artinya bibitnya jelek.

Terkirim.

Dan balasannya masuk dalam waktu dua puluh detik, dan isinya cuma satu kata, dan aku membaca satu kata itu berkali-kali sebelum meletakkan ponsel di kasur:

Oke.

Dan kali ini aku tahu—dengan cara yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun, dengan bagian dari diriku yang sudah setahun setengah mempelajari orang ini—bahwa dia mengucapkannya sebagai orang yang menerima sesuatu.

Bukan sebagai orang yang sedang menghitung.