← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Forty Seven

Titik

POV: Clara


Tidak ada momennya.

Aku sudah lama menyerah mencari momennya, dan waktu Tari bertanya bulan Juni—“Teh, kalian balikan kapan sih tepatnya?”—aku benar-benar tidak bisa menjawab.

Yang bisa kuceritakan cuma bentuknya.

Bulan April dia mulai datang hari Kamis juga.

Bulan Mei dia mengantarku pulang lagi, dan aku tidak protes, dan aku juga tidak mengomentari bahwa motorku diparkir di depan toko semalaman untuk pertama kalinya sejak bulan April tahun lalu.

Bulan Juni ada sikat gigi lagi di kamar mandinya.

Dan di suatu titik antara semua itu, kami berhenti menjadi dua orang yang sedang mencoba dan mulai menjadi dua orang yang sedang menjalani.

Yang paling dekat dengan momennya, kalau harus kupilih, adalah hari Rabu di bulan Mei waktu Bu Rahma masuk ke toko dan melihat Aditya sedang mengangkat ember dan berkata—dengan volume yang seluruh Jalan Cikutra bisa dengar:

“Wah, udah balik ya, Mas!”

Dan Aditya menoleh dan bilang “iya, Bu,” tanpa jeda setengah detik, tanpa memasang apa pun.

Dan aku berdiri di belakang meja kasir dan menyadari bahwa itulah dia. Itu momennya. Diucapkan oleh perempuan berumur enam puluhan yang datang setiap Jumat dan yang tidak tahu apa-apa tentang apa pun.


Aturan-aturan itu ditempel di dalam pintu lemari dapur rumahnya.

Bukan di kulkas—dia bilang kulkas terlalu terlihat, dan aku bilang itu memang gunanya, dan dia bilang dia belum sampai ke sana.

Jadi di dalam pintu lemari dapur.

Aku memfotonya di ponselku juga, karena aku sudah cukup mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa aku akan membutuhkannya di suatu malam jam dua.

Dan selama tiga bulan pertama, aturan-aturan itu cuma kertas.

Kami tidak melanggarnya karena tidak ada yang perlu dilanggar. Bulan Mei dan Juni berjalan tanpa satu pun hal yang berat. Toko ramai. Kelas hari Sabtu penuh sampai daftar tunggu. Cabai di halamannya berbuah dan yang pertama merah tanggal dua puluh empat April dan dia memfotonya dan mengirimkannya kepadaku dari empat sudut berbeda.

Dan pada suatu hari Selasa di bulan Juli, semuanya diuji.


Aku tahu ada yang salah dari cara dia meletakkan gunting.

Kami di teras. Jam lima sore. Dia sedang membantuku memotong batang untuk pesanan besok—yang menurut aturan ketiga sebenarnya melanggar, tapi aku yang minta, jadi tidak dihitung.

Dan dia meletakkan guntingnya di tengah tangkai.

“Aditya?”

“Hm.”

“Kamu berhenti.”

Dia melihat ke tangannya.

“Oh.” Dia mengambil guntingnya lagi. “Iya.”

Dan dia melanjutkan, dan aku memperhatikan bahwa tiga tangkai berikutnya dipotong dengan sudut yang salah.

Jam enam dia pulang.

Lebih cepat empat puluh menit dari biasa, dengan alasan bahwa ada tiket klien yang deadline-nya besok pagi.

Alasannya benar. Aku tahu alasannya benar karena dia menyebutkan tiket yang sama tiga hari lalu.

Dan aku berdiri di teras dan melihat mobilnya pergi dan merasakan sesuatu yang sudah lima belas bulan tidak kurasakan, dan bentuknya persis sama seperti dulu, dan aku benci bahwa tubuhku mengenalinya secepat itu.


Hari Rabu dia tidak datang.

Itu tidak melanggar apa pun. Rabu bukan hari kami.

Dia mengirim pesan jam sembilan pagi: Ra, hari ini aku di rumah. Ada kerjaan.

Aku membalas: Oke.

Dan aku menghabiskan sisa hari Rabu tidak menulis apa pun di halaman belakang buku pesanan, yang merupakan pencapaian yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun.

Hari Kamis dia tidak datang.

Itu melanggar.

Bukan aturan—Kamis bukan aturan. Tapi Kamis adalah Kamis, dan sudah dua tahun Kamis adalah Kamis, dan dia tidak datang dan tidak mengirim apa pun sampai jam empat sore.

Jam empat lewat, masuk pesan:

Maaf ya. Hari ini nggak bisa.

Aku menatapnya lama sekali.

Dan lalu aku melakukan sesuatu yang, satu setengah tahun lalu, tidak mungkin kulakukan.

Aku membalas: Oke. Ini hari kedua.

Empat kata.

Bukan tuduhan. Bukan pertanyaan. Cuma penanda, karena itu yang tertulis di aturan keempat, karena kami berdua sudah menyetujui bahwa penanda itu bukan tekanan.

Terkirim jam empat lewat dua belas.

Dibaca jam empat lewat tiga belas.

Tidak dibalas.


Hari Jumat aku bekerja seperti biasa.

Aku ingin mencatat itu karena butuh usaha yang sangat besar dan tidak ada satu orang pun yang tahu.

Toko buka jam sembilan. Dua pesanan besar. Satu pengantaran ke daerah Buahbatu. Kelas Sabtu besok penuh delapan orang dan aku harus menyiapkan bahannya.

Aku bekerja sepanjang hari.

Dan setiap kali kepalaku mulai bergerak ke arah yang salah—dan itu terjadi mungkin dua puluh kali—aku melakukan hal yang diajarkan Kak Rendy padaku lewat telepon di bulan Februari, yang dia dapat dari terapisnya sendiri, dan yang terdengar sangat bodoh sampai kau mencobanya.

Aku menyebutkannya keras-keras.

“Aku lagi mikirin dia.”

Cuma itu. Ke ember. Ke rak. Ke gunting.

Tari mendengarku dua kali dan tidak berkomentar sekali pun, dan itu adalah salah satu tindakan paling baik yang pernah dilakukan seseorang untukku.

Jam delapan malam aku menutup toko.

Jam delapan lewat dua puluh aku di kos.

Jam delapan lewat empat puluh, ponselku bergetar.

Satu pesan.

Satu karakter.

.


Aku duduk di kasur dan menatap titik itu.

Dan aku menangis—bukan karena sedih, dan bukan karena lega, tapi karena sesuatu yang lebih aneh dari keduanya.

Karena sistemnya bekerja.

Sebelas bulan lalu, laki-laki ini menghilang selama delapan bulan dan aku menghabiskan tiga bulan pertama dengan buku pesanan di pangkuan.

Dan malam itu, hari ketiga, jam delapan lewat empat puluh, dia mengirimkan satu titik.

Persis seperti yang kuminta di teras di bulan Oktober tahun lalu, waktu aku berlutut di depan kursi plastik hijau dan bilang bahwa aku cuma ingin tahu dia masih ada.

Aku tidak membalas.

Itu juga bagian dari aturannya. Aku nggak akan bales. Aku nggak akan nanya. Aku cuma pengen tahu kamu masih ada.

Aku meletakkan ponsel di kasur, dan tidur, dan bangun jam enam, dan membuka toko jam sembilan.


Dia datang hari Sabtu jam tiga sore.

Kelas baru selesai. Delapan orang baru pulang dengan buket masing-masing dan teras masih berantakan dengan potongan batang dan Tari sedang menyapu.

Aditya berdiri di ambang pintu.

Dan Tari melihatnya, dan meletakkan sapunya, dan berkata “aku ke pasar dulu” ke arah yang bukan siapa-siapa, dan pergi dengan motornya dalam waktu empat puluh detik.

Kami duduk di teras.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku mau cerita, dan aku udah nyiapin ini di mobil, jadi maaf kalau kedengerannya rapi.”

“Oke.”

Dan dia menarik napas.

“Hari Selasa aku dapet email dari Nusantara Dev,” katanya.

Aku menoleh.

“Yang dulu Bram tawarin?”

“Iya. Dua tahun lalu.” Dia menatap jalan. “Sekarang mereka nawarin lagi. Posisi principal engineer. Tim platform.”

“Terus?”

“Terus aku baca emailnya jam sebelas pagi hari Selasa,” katanya, “dan jam sebelas lewat dua aku udah ngetik penolakan.”

“Dua menit?”

“Dua menit.”


“Dan aku nggak ngirim,” lanjutnya. “Aku nggak tahu kenapa aku nggak ngirim. Aku simpen di draf.”

Dia menggosok wajahnya.

“Terus aku ke toko hari Selasa sore dan aku motong batang sama kamu dan aku nggak bisa fokus sama sekali.”

“Aku tahu. Kamu berhenti di tengah tangkai.”

“Kamu lihat?”

“Aditya.”

“Iya, kamu lihat.” Dia mengangguk. “Terus Rabu aku duduk di ruang tamu dari pagi sampe malem sama draf itu.”

“Ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain.” Dia mengangkat bahu. “Aku duduk. Aku baca ulang. Aku nggak ngirim.”

Dia menoleh ke arahku.

“Ra, aku tahu kenapa aku nolak semua tawaran selama lima tahun,” katanya. “Bu Ratih dan aku udah ngebedah itu sampe abis. Itu hukuman. Aku udah ngerti.”

“Terus?”

“Terus hari Rabu aku sadar aku nggak tahu apakah aku nolak yang ini karena hukuman, atau karena aku emang nggak mau.”


Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan aku nggak bisa mikirin itu di deket kamu,” katanya. “Bukan karena kamu ngeganggu. Karena kalau kamu ada, aku bakal nanya ke kamu, dan kamu bakal jawab, dan jawabannya bakal masuk akal—dan aku nggak akan pernah tahu mana yang punya aku.”

“Jadi kamu ngilang.”

“Aku ngilang.” Dia mengangguk. “Dua hari. Terus hari ketiga aku kirim titik.”

“Hari ketiga jam setengah sembilan malam.”

“Iya.”

“Kenapa jam segitu?”

Dan Aditya berkata:

“Karena aku baru selesai jam segitu.”


“Selesai apa?”

“Mikirin.”

Dan dia mengeluarkan ponselnya dan membuka sesuatu dan menyerahkannya padaku.

Draf email. Dua paragraf.

Isinya penolakan. Sopan, jelas, tanpa membuka pintu untuk negosiasi.

Dan di bawahnya, di kolom yang kosong, ada catatan yang jelas dia tulis untuk dirinya sendiri:

Alasan nolak: jam kerjanya 50+/minggu, harus ke Jakarta 2x sebulan, dan gue nggak mau lagi jadi orang yang punya kalender kayak gitu.

BUKAN alasan nolak: gue nggak pantes.

Cek ulang bulan Desember. Kalau bulan Desember gue masih mikir yang kedua, gue balik ke Bu Ratih dan bilang.

Aku membacanya tiga kali.

Dan lalu aku menyerahkan ponselnya kembali dan berkata:

“Kamu ngirim emailnya?”

“Jam setengah sembilan malam hari Jumat.” Dia memasukkan ponselnya ke saku. “Terus aku kirim titik ke kamu.”


Aku duduk di kursi plastik hijau dan menatap jalan.

Warung kopi di seberang. Bapak-bapak catur. Motor lewat.

“Aditya.”

“Hm.”

“Aku nggak nulis apa-apa.”

Dia menoleh.

“Tiga hari,” kataku. “Aku nggak nulis satu baris pun.”

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya bergerak.

“Aku sempet mau,” lanjutku. “Hari Kamis jam empat, waktu kamu bilang nggak bisa. Aku buka buku pesanan dan aku pegang penanya.”

“Terus?”

“Terus aku inget aturan kedua.” Aku mengangkat bahu. “Kalau aku kepingin nulis daftar, artinya udah lewat tiga hari, dan aku harus bilang.”

“Kamu bilang.”

“Aku bilang. Empat kata.” Aku menoleh ke arahnya. “Oke. Ini hari kedua.

Aditya menatapku.

Dan lalu dia tertawa—satu embusan, basah, dengan cara orang yang tidak sanggup melakukan apa pun yang lain.

“Ra.”

“Hm.”

“Kertas itu jalan.”

“Iya.”

“Kertas itu beneran jalan.”

Dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan selama beberapa detik, dan aku duduk di sebelahnya di kursi plastik hijau di teras tokoku dan tidak menyentuhnya sama sekali sampai dia selesai.


Malamnya kami makan mi ayam di trotoar depan gang, berdiri, dari mangkuk styrofoam, sambil menonton motor lewat.

Persis seperti dua tahun lalu.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya sesuatu yang mungkin bodoh?”

“Boleh.”

“Kalau tiga hari kemarin aku nggak kirim titiknya,” katanya, “kamu bakal gimana?”

Aku mengunyah beberapa saat.

“Aku bakal dateng ke rumah kamu hari Sabtu,” kataku.

“Bawa daftar?”

“Nggak.”

“Kamu yakin?”

Dan aku menoleh ke arahnya dan berkata:

“Nggak.”

Dan Aditya mengangguk, dan menyuap mi-nya, dan berkata:

“Bagus. Kalau kamu yakin, aku bakal khawatir.”

Dan kami menghabiskan mi ayam di trotoar Jalan Cikutra jam sembilan malam hari Sabtu di bulan Juli, dua orang yang sama-sama tidak sembuh dan sama-sama sedang mengerjakannya, dan tidak ada satu pun dari kami yang berpura-pura sebaliknya.