Chapter Twelve
Tangan Kosong
POV: Clara
Dia datang hari Kamis jam empat lewat sepuluh dengan tangan kosong.
Aku menyadarinya dari jauh. Itu bagian yang memalukan untuk kuakui: aku sudah cukup terlatih untuk mengenali bentuk seseorang yang membawa kantong plastik dari jarak dua puluh meter.
Tidak ada kantong. Tidak ada obeng di saku belakang. Tidak ada kardus kecil berisi sesuatu yang ukurannya beda satu milimeter.
Dia menyeberang. Naik ke teras. Berdiri.
“Sore.”
“Sore.”
Dan lalu ada jeda yang tidak pernah ada sebelumnya.
Dia melihat ke rak. Ke pintu gudang. Ke kanopi. Aku bisa melihatnya secara harfiah mencari sesuatu yang rusak, dan aku bisa melihat momen dia sadar bahwa tidak ada, karena dia sudah membetulkan semuanya.
Enam minggu. Dia sudah membetulkan seluruh tokoku.
“Duduk aja, Mas.”
“Iya.”
Dia duduk di kursi plastik hijau itu. Menyandarkan punggung. Meletakkan tangan di paha.
Lalu memindahkannya ke sandaran kursi. Lalu ke saku. Lalu mengambil kunci mobil dan memutarnya sekali dan berhenti dan memasukkannya kembali.
Aku pura-pura sibuk dengan pot.
Aku sudah tahu apa yang sedang terjadi, dan aku tahu bahwa satu-satunya cara ini bisa berhasil adalah kalau aku tidak menyebutkannya.
Ada satu hal yang perlu kujelaskan tentang minggu itu.
Aku mengucapkan kalimat itu—Mas nggak harus bawa apa-apa—di dalam mobil, jam sepuluh malam, dan aku menyesalinya sebelum pintu mobil tertutup.
Aku menyesalinya selama tujuh hari.
Karena itu persis bentuknya. Itu persis bentuk yang kupakai enam tahun lalu: melihat sesuatu, menamainya, lalu menyodorkannya ke wajah orangnya. Kamu selalu begini. Kamu selalu begitu. Seolah menyebutkan sesuatu dengan keras adalah bentuk kepedulian, padahal sebagian besarnya cuma kepuasan karena akhirnya bisa membuktikan bahwa aku memperhatikan.
Selasa malam aku bangun jam dua dan menyusun tiga permintaan maaf yang berbeda di kepala.
Rabu aku memutuskan bahwa meminta maaf justru akan membuatnya lebih besar dari seharusnya.
Kamis jam empat lewat sepuluh, dia datang dengan tangan kosong.
Dan aku berdiri di teras dengan pot di tangan dan menyadari bahwa aku tidak tahu apakah aku baru saja menolongnya atau baru saja memaksanya.
Itu bedanya yang tidak pernah bisa kulihat dari dalam. Itu selalu jadi masalahnya.
Butuh empat puluh menit sebelum dia berhenti bergerak.
Aku menghitungnya. Aku tidak bermaksud menghitung, tapi aku terus melirik jam dinding, dan jadi aku tahu: jam lima kurang sepuluh dia masih memindahkan tangan setiap dua menit. Jam setengah enam dia sudah diam.
Yang membuatnya diam adalah Tari.
Tari pulang jam enam, tapi sebelum itu Tari menghabiskan setengah jam bercerita tentang teman kosnya yang katanya diselingkuhi tapi tidak mau putus karena sudah terlanjur beli tiket konser berdua.
“Terus dia ngapain?”
“Ya nonton! Bareng! Sama cowoknya!”
“Setelah tahu?”
“Setelah tahu, Mas.” Tari mengangkat kedua tangan. “Aku bilang ke dia, Sil, itu tiket dua ratus ribu, harga dirimu berapa? Terus dia bilang, ya dua ratus ribu juga sih.”
Aditya tertawa sampai harus menunduk.
Dan aku melihat—dari balik meja, sambil pura-pura menghitung—bahwa waktu dia tertawa seperti itu, tangannya diam.
Tangannya cuma diam kalau dia benar-benar sedang tidak memikirkan tangannya.
Sebelum pulang, Tari memanggilku ke gudang dengan alasan mencari kawat.
“Teh.”
“Hm.”
“Mas Aditya nggak bawa apa-apa hari ini.”
Aku menatapnya.
“Kamu juga merhatiin?”
“Ya jelas.” Tari melepas ikat rambutnya dan mengikatnya lagi, yang berarti dia sedang serius. “Aku kan yang biasanya disuruh nyimpen kardusnya.”
“Terus?”
“Terus dia kelihatan kayak orang lupa bawa dompet.”
Aku tertawa. Bukan karena lucu.
“Teh, aku boleh ngomong satu hal?”
“Kalau soal Mas Aditya—“
“Ini soal Teteh.”
Aku berhenti.
“Teteh tuh kalau ada orang yang nggak jelas, Teteh nggak pernah nyerah.” Tari mengangkat bahu, tidak menatapku. “Kayak monstera yang di pojok itu. Tiga minggu nggak laku, daunnya jelek, tapi Teteh siramin terus. Aku bilang buang aja, Teh. Teteh bilang bentar lagi.”
“Itu monstera.”
“Iya.” Tari menyandarkan bahunya ke rak. “Tapi kalau ternyata dia emang nggak bisa diselametin, Teteh yang capek.”
Dan lalu dia mengambil kawat yang bahkan tidak dia butuhkan dan keluar, dan aku berdiri di gudang dua kali dua meter itu sendirian selama sekitar dua puluh detik.
Jam tujuh, kami berdua di toko.
Hujan tidak turun malam itu. Jalanan kering, lampu jalan menyala normal, dan ada anak-anak main bola di lapangan seberang sampai jam delapan.
Aku sedang membuat dua puluh buket kecil untuk pesanan seminar besok pagi. Pekerjaan repetitif, yang sebenarnya bisa kukerjakan sambil tidur.
Aditya duduk di kursi plastik di sebelah meja, tidak melakukan apa-apa.
Sungguh-sungguh tidak melakukan apa-apa. Dia tidak memotong batang. Dia tidak menawarkan bantuan. Dia duduk, dengan kedua kaki lurus ke depan, dan sesekali melihat ke luar ke arah anak-anak yang main bola.
Aku membiarkannya.
Dan sekitar setengah jam kemudian, aku menyadari bahwa toko itu terasa berbeda.
Bukan karena ada orang. Tari selalu ada, ratusan pelanggan datang setiap minggu. Toko ini penuh orang.
Karena ada orang yang tidak sedang menungguku menyelesaikan sesuatu.
“Ra.”
“Hm.”
“Kakak Mbak di Semarang itu—“ dia berhenti. “Sori. Nggak jadi.”
Aku meletakkan gunting.
“Kenapa nggak jadi?”
“Nggak apa-apa. Nggak sopan.”
“Mas Aditya.”
Dia menggosok belakang lehernya, gerakan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Waktu itu Mbak bilang kakak Mbak di Semarang,” katanya akhirnya. “Terus berhenti. Terus saya nggak nanya.”
“Iya.”
“Dan saya nyesel.” Dia melihat ke luar, ke lapangan. “Bukan karena saya pengen tahu. Karena saya sadar saya nggak nanya bukan karena saya sopan. Saya nggak nanya karena saya takut Mbak balik nanya.”
Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku.
Bukan sakit. Semacam pintu yang tiba-tiba tidak sekencang biasanya.
“Namanya Rendy,” kataku.
Aku mendengar diriku sendiri mengatakannya, dan aku sudah lima tahun tidak menyebutkan namanya kepada siapa pun yang belum mengenalnya.
“Enam tahun lalu usaha bapak saya bangkrut. Bukan bangkrut yang heboh—pelan-pelan, delapan bulan, sampai habis.” Aku mulai memotong lagi karena tanganku butuh sesuatu. “Kak Rendy yang megang semuanya. Umurnya dua puluh tujuh waktu itu.”
Aditya tidak berkata apa-apa.
“Terus selama setahun sesudahnya, dia baik-baik aja.”
Guntingku berhenti di tengah tangkai.
“Ceria. Banget. Paling banyak ngomong di meja makan. Kirim stiker lucu di grup keluarga jam dua pagi.” Aku menarik napas. “Dan saya lihat jam kirimnya, dan saya mikir kok belum tidur, dan saya nggak ngapa-ngapain sama pikiran itu.”
Hening.
“Terus?”
“Terus dia kolaps.” Aku memotong tangkai berikutnya. “Bukan karena penyakit. Badannya cuma berhenti mau kerja sama. Dirawat lama. Pulih, sih. Sekarang udah kerja lagi, udah nikah, punya anak.”
“Terus kenapa Semarang?”
Dan itu pertanyaan yang tepat, dan dia menanyakannya dengan sangat pelan, dan aku menyadari bahwa ini pertama kalinya dalam enam tahun ada orang yang menanyakan bagian yang benar.
“Karena sebelum dia kolaps, saya datang ke kosnya,” kataku. “Dan saya bawa daftar.”
“Daftar?”
“Di catatan HP. Tanggal, jam, berapa kali dia bohong, berat badannya turun berapa.” Suaraku keluar sangat rata, karena aku sudah lama berlatih menceritakan ini dengan sangat rata. “Saya bacain semuanya. Saya bilang saya capek dibohongin. Saya bilang kalau dia nggak percaya sama saya ya sudah.”
Aku meletakkan gunting.
“Dia cuma bilang dua kata. Iya. Maaf.”
Aku berhenti.
“Dan sejak itu dia sopan sama saya.”
Aku tidak menangis.
Itu penting untuk kucatat, karena aku memang tidak menangis. Aku sudah enam tahun menceritakan versi pendek dari cerita ini kepada diriku sendiri di dalam kepala dan aku tidak pernah menangis.
Yang terjadi cuma napasku jadi tidak rata sekali. Satu kali. Di tengah kalimat terakhir.
Dan Aditya berdiri.
Aku pikir dia mau pulang. Aku pikir aku sudah memberikan terlalu banyak dan sekarang ruangannya terlalu penuh untuk dua orang.
Dia berjalan ke sisi mejaku.
Dan dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku.
Ini yang sebenarnya terjadi, dan aku ingin mencatatnya dengan benar karena aku akan mengingatnya untuk waktu yang lama.
Ada sesuatu di rambutku. Serpihan daun kering, mungkin kelopak, sesuatu yang menempel di sisi wajah sejak entah kapan.
Dia menyingkirkannya.
Itu saja. Secara teknis, itu saja. Ibu jari dan telunjuknya mengambil sesuatu dari rambutku di dekat pelipis, dan itu adalah gerakan yang dilakukan orang setiap hari, dan tidak ada apa-apanya.
Tapi setelah dia mengambilnya, tangannya tidak langsung turun.
Punggung jarinya menyentuh pipiku. Di bawah tulang pipi, di tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan serpihan daun.
Dan tinggal di sana.
Dua detik. Mungkin tiga.
Aku tidak bergerak sama sekali. Aku tidak yakin aku bernapas. Kulit tangannya hangat dan kering dan agak kasar, dan aku bisa merasakan detak nadinya di ujung jari, atau mungkin itu detakku sendiri, dan aku tidak akan pernah tahu yang mana.
“Ra,” katanya.
Suaranya keluar salah. Bukan retak—cuma satu ukuran lebih kecil dari biasanya.
“Hm.”
Dia menarik tangannya.
“Ada daun,” katanya.
“Oh.”
“Iya.”
Dia kembali ke kursinya dan duduk dan meletakkan kedua tangannya di paha dan menatap lurus ke depan seperti orang di ruang tunggu dokter gigi.
Aku memotong tiga tangkai berturut-turut dengan sudut yang benar-benar salah dan tidak menyadarinya sampai besok pagi.
Dan sepanjang sepuluh menit berikutnya aku memikirkan satu hal yang tidak bisa kuhentikan.
Bukan sentuhannya.
Cara dia menarik tangannya.
Aku sudah melihat banyak orang menarik tangan. Ada yang menariknya buru-buru, karena kaget. Ada yang menariknya sambil tertawa, untuk mengubahnya jadi lelucon.
Aditya menariknya seperti orang yang ketahuan mengambil sesuatu.
Bukan malu. Bukan canggung.
Bersalah.
Dan aku memotong tangkai keempat dengan sudut yang juga salah sambil mencoba mengerti kenapa laki-laki berumur tiga puluh dua tahun bisa merasa bersalah karena menyentuh pipi seseorang yang jelas-jelas tidak keberatan.
Kami tidak membicarakannya.
Kami menutup toko jam delapan lewat. Dia mengangkat rak teras ke dalam seperti biasa. Aku menurunkan rolling door.
Kami makan mi ayam di depan gang, berdiri, dari mangkuk styrofoam, sambil menonton motor lewat.
“Ra,” katanya, di tengah suapan.
“Hm.”
“Yang tadi soal kakak Mbak.”
Aku berhenti mengunyah.
“Saya nggak akan bilang apa-apa,” katanya. “Saya cuma mau bilang saya nggak akan bilang apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Orang biasanya bilang sesuatu.” Dia mengaduk mi-nya. “Kamu nggak salah kok. Atau kakak kamu pasti udah maafin. Atau kalau kamu nggak ngapa-ngapain juga sama aja.”
Aku menatapnya.
“Semua itu mungkin bener,” lanjutnya. “Tapi nggak ada satu pun yang bikin enak, kan?”
“Nggak.”
“Nah.” Dia menyuap. “Makanya saya nggak bilang.”
Dan aku berdiri di trotoar depan gang, jam setengah sembilan malam, memegang mangkuk styrofoam berisi mi ayam yang sudah dingin, dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kutampung.
Enam tahun.
Enam tahun aku menceritakan versi pendek cerita itu kepada mungkin lima orang, dan kelimanya, tanpa kecuali, mencoba memperbaikiku.
Mama bilang Kak Rendy sudah lupa.
Sahabatku waktu kuliah bilang aku terlalu keras sama diri sendiri.
Satu orang bahkan bilang, dengan niat baik, bahwa mungkin itu justru yang bikin Kak Rendy akhirnya mencari bantuan.
Semuanya baik. Semuanya salah.
Dan seorang laki-laki yang tidak bisa menggendong anak kecil dan tidak bisa menyetir di atas enam puluh kilometer per jam dan tidak bisa datang ke tokoku dengan tangan kosong selama enam minggu—
—orang itu memilih untuk tidak memperbaiki apa pun.
“Mas.”
“Hm?”
“Mi-nya keburu dingin.”
“Iya.”
Dan kami menghabiskannya berdiri di trotoar tanpa bicara lagi.
Di mobil, di depan gerbang kos, aku tidak langsung turun.
“Mas.”
“Hm.”
“Tadi Mas dateng tanpa bawa apa-apa.”
Tangannya di setir mengencang sedikit.
“Iya.”
“Susah?”
Hening tiga detik.
“Iya,” katanya.
Dan itu satu kata, dan itu jujur, dan aku sudah cukup belajar sekarang untuk tidak menariknya lebih jauh dari satu kata.
“Kamis depan juga gitu ya,” kataku.
“Nggak bawa apa-apa?”
“Nggak bawa apa-apa.”
Dia menoleh. Lampu jalan masuk lewat kaca depan dan membuat separuh wajahnya terang.
“Kenapa?” tanyanya.
Dan ada begitu banyak jawaban yang bisa kuberikan, dan sebagian besarnya terlalu besar untuk mobil sekecil ini.
“Biar saya bisa cek,” kataku.
“Cek apa?”
“Apakah Mas bisa.”
Dia menatapku beberapa saat.
Lalu dia tertawa—pendek, satu embusan, bukan tawa yang dinyalakan—dan menggeleng, dan berkata: “Mbak jahat, ya.”
“Saya jualan bunga, Mas. Kerjaan saya ngeliatin barang hidup terus mikir dia butuh apa.”
“Dan saya barang hidup.”
“Mas barang hidup yang paling susah saya baca.”
Dan aku keluar dari mobil sebelum sempat mendengar jawabannya, dan lari kecil ke gerbang, dan tidak menoleh ke belakang sampai aku sudah di dalam.
Dari jendela kamar, aku melihat mobilnya masih di sana.
Empat menit.
Lalu lampunya menyala dan dia pergi.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong reading
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu