Chapter Thirty Five
Daftar
POV: Clara
Bulan April, Aditya datang delapan kali.
Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya, dan aku tahu aku menghitungnya, dan aku tahu persis apa artinya bahwa aku menghitungnya.
Bulan Maret dia datang dua puluh dua kali. Bulan Februari, hampir setiap hari, tapi itu bulan pindahan jadi tidak dihitung.
April: delapan.
Dan yang membuat delapan kali itu jauh lebih buruk dari nol adalah bahwa delapan kali itu bagus.
Dia masih hangat.
Itu bagian yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun, termasuk Tari, yang bertanya tiga kali dan tiga kali kuberi jawaban yang tidak jujur.
Kalau dia dingin, aku akan tahu harus bagaimana. Kalau dia berhenti mencium keningku di depan pintu gudang, kalau dia mulai menjawab pendek-pendek, kalau dia berhenti tertawa pada leluconku—aku punya nama untuk itu. Aku punya prosedur.
Yang dia lakukan lebih halus.
Dia datang jam empat. Dia bercanda dengan Tari. Dia mengangkat karung tanah. Dia memperbaiki gembok gudang yang macet. Dia duduk di kursi plastik hijau dan bertanya tentang hariku dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan bertanya lanjutan yang tepat.
Dan lalu jam tujuh dia bilang ada yang harus diselesaikan, dan dia mencium keningku, dan dia pergi.
Setiap kali sempurna.
Setiap kali berakhir tiga jam lebih cepat dari sebelumnya.
Dia berhenti menginap sekitar minggu ketiga Maret.
Alasannya masuk akal, satu per satu:
Ada klien yang butuh panggilan jam enam pagi.
Bu Yuli minta tolong pasang antena hari Minggu, jadi dia harus bangun pagi.
Motorku sudah keluar dari bengkel jadi aku tidak butuh diantar.
Dia sedang tidak enak badan dan tidak mau menularkan.
Empat alasan, empat minggu, semuanya benar.
Aku memeriksanya. Itu yang membuatku malu sampai sekarang: aku memeriksanya. Aku bertanya ke Tari apakah dia lihat Aditya di komplek hari Minggu, yang bodoh karena Tari tidak tinggal di komplek Aditya.
Aku mulai membuat catatan tanggal delapan April.
Bukan di aplikasi. Aku sudah menyematkan satu kalimat di sana, di paling atas, sejak bulan November: Kalau kamu mulai ngumpulin lagi, bilang.
Jadi aku tidak memakai aplikasi.
Aku memakai halaman kosong di belakang buku pesanan.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu bukan daftar. Itu cuma catatan. Aku menulis hal-hal supaya aku tidak lupa, karena kalau aku tidak menulisnya, aku akan memutar-mutarnya di kepala sepanjang malam.
Aku menulis:
3 April — dateng jam 4, pulang jam 7. Bilang ada tiket.
6 April — nggak dateng. Bilang Bu Yuli minta tolong.
9 April — dateng jam 5, pulang jam 7:20.
12 April — nggak bales chat sampe sore. Bilang HP-nya di mode fokus.
Dan seterusnya, sampai halaman itu punya empat belas baris.
Empat belas baris.
Aku tahu persis apa yang sedang kupegang. Aku tahu persis bentuk apa itu.
Aku tetap menulisnya.
“Teh.”
“Hm.”
“Teteh lagi nulis apa?”
Aku menutup bukunya terlalu cepat.
“Pesanan.”
Tari berdiri di sisi meja kasir.
“Teh Clara, itu halaman belakang.”
“Iya, buat catatan.”
“Catatan apa?”
Dan aku menatap karyawanku yang berumur dua puluh tiga tahun sekarang, yang sudah dua tahun tujuh bulan bekerja denganku, yang menghitung empat puluh satu pelanggan tetap dalam satu malam tanpa bisa tidur.
“Tari.”
“Iya?”
“Kamu pernah nggak, tahu kamu lagi ngelakuin hal yang salah, terus kamu tetep ngelakuin?”
Tari mempertimbangkan ini dengan serius.
“Sering,” katanya.
“Terus gimana berhentinya?”
“Nggak tahu.” Dia mengangkat bahu. “Biasanya aku berhenti karena udah kejadian.”
Aku ke rumahnya tanggal dua puluh April.
Malam Minggu. Aku tidak memberi kabar. Aku naik motor dan sampai jam delapan dan mobilnya ada di garasi dan lampu ruang tamunya menyala.
Cuma ruang tamu.
Aku memencet bel dan dia membuka pintu dalam waktu sepuluh detik, dan wajahnya—
Wajahnya senang.
Sungguhan senang. Aku sudah delapan bulan mempelajari wajah ini dan aku bisa bersumpah bahwa dua detik pertama itu senang.
“Ra.”
“Hai.”
“Kok nggak bilang?”
“Kangen.”
Dan sesuatu di wajahnya berubah di detik ketiga, dan berubahnya sangat kecil, dan aku melihatnya.
“Masuk,” katanya.
Kami duduk di ruang tamu.
Rumahnya bersih. Terlalu bersih, dengan cara yang sudah lama tidak kulihat sejak bulan Oktober. Tidak ada gelas di meja. Tidak ada apa pun di tempat yang salah.
Dan sansevieria di ambang jendela dapur, yang bisa kulihat dari sofa, punya dua daun yang menguning di pangkal.
Kebanyakan air.
Aku melihatnya dan tidak berkata apa-apa selama empat puluh menit.
Kami mengobrol. Dia menanyakan toko. Dia menanyakan Tari. Dia menceritakan sesuatu yang lucu tentang klien Australianya yang salah zona waktu.
Dan jam sembilan lewat, dia berkata: “Kamu udah makan?”
Dan aku berkata: “Aditya, kamu mau putus sama aku.”
Aku tidak berencana mengatakannya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena itu satu-satunya bagian dari malam itu yang tidak kurencanakan.
Sisanya kurencanakan.
Dia menatapku.
“Ra—“
“Bulan April kamu dateng delapan kali.” Aku mengeluarkan buku pesanan dari tasku.
Aku membawanya.
Aku membawa buku pesanan tokoku ke rumah pacarku pada malam Minggu, dan aku membukanya di halaman belakang, dan aku meletakkannya di meja.
“Tanggal tiga kamu dateng jam empat pulang jam tujuh. Tanggal enam nggak dateng. Tanggal sembilan dateng jam lima pulang jam tujuh lewat dua puluh.” Suaraku sangat rata. “Tanggal dua belas kamu nggak bales chat sampe sore.”
“Ra.”
“Tanggal lima belas kamu bilang mau nginep terus jam sepuluh kamu bilang nggak jadi karena ada panggilan pagi. Tanggal delapan belas—“
“Clara.”
Aku berhenti.
Bukan karena namaku. Karena nadanya.
Dan aku mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya dan sesuatu di dalam perutku jatuh sampai ke lantai.
Karena wajahnya tidak marah.
Wajahnya lega.
Aku sudah pernah melihat wajah itu.
Enam tahun lalu, di kos di daerah Dipatiukur, di kasur single dengan seprai biru, di wajah kakakku yang berat badannya sudah turun sembilan kilo.
Wajah orang yang sudah menunggu lama sekali dan akhirnya diberi.
“Aku nggak—“ Suaraku pecah. “Aditya, aku nggak—“
“Nggak apa-apa.”
“Aku nggak lagi nuduh kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma—“ Aku memandang buku itu di meja dan aku benar-benar tidak bisa mengerti bagaimana benda itu bisa ada di sana. “Aku nulis itu supaya aku bisa tidur.”
Dan Aditya mengangguk, dan berkata: “Iya.”
Cuma itu.
Iya.
Dan lalu dia mengambil buku pesanan itu dari meja, dan menutupnya, dan menyerahkannya kembali padaku dengan dua tangan seperti orang menyerahkan dokumen.
“Kamu bener,” katanya.
“Apa?”
“Delapan kali. Kamu bener.” Dia menyandarkan punggungnya. “Aku ngitung juga. Aku ngitung sembilan, tapi yang tanggal enam belas cuma lima belas menit jadi mungkin nggak dihitung.”
Aku menatapnya.
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung, Ra.”
Aku menangis di sofa itu selama beberapa menit dan dia duduk di sebelahku dan tidak menyentuhku sama sekali.
Itu yang paling buruk.
Delapan bulan, dan setiap kali aku menangis dia selalu—selalu—bergerak dalam waktu kurang dari dua detik. Di lantai toko jam empat pagi. Di lantai kamar Bumi.
Malam itu dia duduk dengan jarak setengah meter dengan kedua tangan di paha.
“Aditya.”
“Hm.”
“Peluk aku.”
Dan dia menoleh, dan aku melihat sesuatu bergerak di rahangnya, dan dia berkata—dengan suara yang sangat pelan:
“Kalau aku peluk kamu sekarang, aku nggak akan bisa ngomong.”
Dan aku berhenti menangis seketika.
Bukan karena tenang. Karena tubuhku berhenti melakukan apa pun.
“Ngomong apa?”
Dan Aditya Wisesa duduk di sofa rumahnya sendiri dan berkata:
“Nggak malam ini.”
“Aditya—“
“Nggak malam ini, Ra.” Dia berdiri. “Aku anter kamu pulang.”
“Aku bawa motor.”
“Aku anter.”
Dan dia mengantarku pulang dengan motorku dituntun di sebelah mobilnya, yang tidak mungkin, yang berarti dia mengikutiku dari belakang dengan mobil sampai gerbang kos dan menunggu sampai lampu kamarku menyala.
Seperti biasa.
Dia melakukan semuanya seperti biasa.
Aku tidak tidur malam itu.
Aku duduk di kasur dengan buku pesanan di pangkuan, terbuka di halaman belakang, di empat belas baris yang kutulis dengan tanganku sendiri.
Dan aku merobeknya.
Aku merobek halamannya keluar dari buku dan merobeknya lagi jadi dua, lalu empat, lalu delapan, dan aku membuangnya ke tempat sampah di sudut kamar.
Lalu aku mengambilnya kembali.
Aku mengambil delapan potongan kertas itu dari tempat sampah dan menyusunnya di lantai kamar kos jam dua pagi, dan aku membacanya lagi.
Dan aku menangis dengan cara yang belum pernah kulakukan di depan siapa pun, di lantai, dengan tangan menutup mulut supaya tetangga kamar sebelah tidak dengar.
Bukan karena Aditya akan pergi.
Karena aku melakukannya lagi.
Enam tahun. Enam tahun aku menyusun seluruh cara aku memperlakukan orang di sekitar satu janji: aku tidak akan pernah lagi datang ke ruangan seseorang dengan daftar di tangan.
Delapan bulan aku menahannya. Delapan bulan.
Dan pada malam pertama aku benar-benar takut, aku membuka tas dan mengeluarkan buku.
Aku menelepon Kak Rendy jam setengah tiga pagi.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak berpikir. Aku mengambil ponsel dan menekan namanya dan baru menyadari jamnya waktu nada sambungnya berbunyi kedua.
Dia mengangkat di deringan keempat.
“Ra?” Suaranya serak. “Kamu kenapa?”
“Kak.”
“Ra.”
“Kak, aku ngelakuin lagi.”
Hening di seberang.
Dan lalu, dengan suara orang yang baru bangun jam setengah tiga pagi dan langsung mengerti seluruh kalimatnya:
“Kamu bawa daftar?”
Dan aku menangis di telepon dengan kakakku untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
Dia tidak bilang tidak apa-apa.
Aku ingat itu dengan sangat jelas, karena itu yang membuatku bisa bernapas: Kak Rendy tidak sekali pun bilang tidak apa-apa.
“Kamu bacain?” tanyanya.
“Iya.”
“Semuanya?”
“Empat baris. Terus dia berhenti-in aku.”
“Dia marah?”
“Nggak.” Aku mengusap wajahku. “Dia lega, Kak.”
Hening lagi.
“Ra.”
“Iya?”
“Aku juga lega waktu itu.”
Aku menutup mataku.
“Waktu kamu dateng ke kos aku,” katanya. “Waktu kamu bacain semuanya. Aku inget aku duduk di kasur dan aku ngerasa lega.”
“Kenapa?”
“Karena akhirnya selesai.” Suaranya sangat tenang. “Aku udah delapan bulan nunggu seseorang bikin ini selesai, Ra. Dengan cara apa pun. Dan kamu ngasih aku cara yang paling gampang.”
Aku duduk di lantai kamar kos dengan potongan kertas di sekelilingku.
“Kak, itu artinya aku—“
“Itu artinya kamu bukan sebabnya,” katanya. “Itu artinya kamu senjatanya.”
Dan dia diam sebentar.
“Dan itu bukan hal yang sama,” katanya. “Butuh aku tiga tahun terapi buat bisa bilang itu ke kamu.”
Kami bicara sampai jam empat.
Dia bertanya soal Aditya. Aku menceritakan sebagian—bukan sebelas hari, itu bukan milikku untuk diceritakan, tapi bagian bahwa dia kehilangan istri dan anaknya dan bahwa dia menyalahkan dirinya sendiri.
Kak Rendy mendengarkan.
Dan di akhir, dia bilang:
“Ra.”
“Iya?”
“Kamu nggak bisa nyelametin dia.”
“Kak—“
“Aku serius.” Suaranya tidak keras. “Kamu nggak nyelametin aku. Aku yang nyelametin aku, dan itu butuh tiga tahun dan dua orang profesional dan istri aku yang nggak pernah nyerah.”
Ada bunyi anak menangis di belakang, dan suara istrinya, dan dia menutup ponselnya sebentar.
“Yang bisa kamu lakuin,” katanya waktu kembali, “cuma jangan jadi orang yang bikin dia lebih gampang nyerah.”
“Gimana caranya?”
“Nggak tahu, Ra.” Dia menghela napas. “Aku juga nggak tahu.”
Dan lalu dia berkata satu hal lagi sebelum menutup telepon, dan aku menuliskannya di catatan ponsel setelah panggilan itu selesai, dan aku membacanya berkali-kali selama berminggu-minggu sesudahnya.
Dia bilang:
“Tapi kamu masih di sana jam setengah tiga pagi telepon aku buat nanya caranya. Itu udah beda dari enam tahun lalu.”
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar reading
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu