Chapter Eight
Kursi Plastik
POV: Aditya
Bram tahu duluan. Tentu saja Bram tahu duluan.
“Lo ke toko bunga itu berapa kali sih seminggu?”
Kami di kafe. Sabtu pagi, dua hari sebelum arisan Bu Yuli.
“Nggak ngitung.”
“Gue ngitung.” Dia mengangkat ponselnya. “Senin lo cerita ganti engsel. Rabu lo cerita soal harga tanaman yang ada garis putihnya. Kemarin lo ngirim foto—“ dia menggeser layar, “—daun.”
“Itu buat nanya.”
“Nanya apa?”
“Nanya apakah daunnya normal.”
Bram meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan seseorang yang menutup persidangan.
“Dit. Lo ngirim foto daun ke gue jam sebelas malem.”
“Ya gue lagi liat aja—“
“Lo nggak pernah ngirim apa-apa ke gue jam sebelas malem sejak—“ Dia berhenti.
Kalimatnya berhenti sendiri. Itu terjadi kadang-kadang, dengan Bram; dia berlari sampai ke tepi dan lalu remnya menyala otomatis, dan kami berdua pura-pura tidak mendengar bunyi rem itu.
“Sejak lo punya kuota malem,” lanjutnya. “Dulu kan lo pelit.”
“Gue emang pelit.”
“Iya. Makanya aneh.”
Aku mengaduk kopiku yang tidak perlu diaduk.
“Dia gimana orangnya?” tanya Bram, lebih pelan.
“Ya... jualan bunga.”
“Itu profesi, bukan orang.”
“Tinggi. Kalem.” Aku mengangkat bahu. “Nggak banyak nanya.”
Bram menatapku agak lama.
“Nggak banyak nanya,” ulangnya.
“Iya.”
“Itu yang lo suka?”
Dan aku, seperti orang yang menginjak rem terlalu keras di jalan kering, langsung berkata: “Gue nggak bilang gue suka.”
Bram tidak menjawab.
Dia cuma mengangkat kedua alisnya sedikit, sangat sedikit, dan meminum kopinya, dan membiarkan kalimat itu tergeletak di meja di antara kami sampai aku tidak tahan lagi dan bertanya soal anaknya.
Dia berangkat, seperti biasa. Dua puluh menit. Aku mendengarkan sungguh-sungguh.
Di parkiran, sebelum masuk mobil, dia bilang: “Dit.”
“Hm.”
“Kalau lo mau nggak cerita, ya udah, gue nggak nanya.” Dia membuka pintu mobilnya. “Tapi gue seneng lo ngirim foto daun.”
Dan dia masuk dan pergi, dan aku berdiri di parkiran selama beberapa saat merasa seperti orang yang baru ketahuan mencuri sesuatu yang bahkan tidak berharga.
Sabtu pagi berikutnya, jam sembilan kurang sepuluh, mobil pikap kecil berhenti di depan rumah Bu Yuli.
Aku sedang di teras. Aku selalu di teras jam segitu—menyiram teras yang disemen, yang tidak butuh disiram, tapi yang menghasilkan bunyi dan gerakan dan alasan untuk berada di luar.
Yang turun dari kursi penumpang adalah Clara.
Aku menutup keran.
Dia melihatku, dan berhenti setengah langkah, dan lalu melambaikan tangan dengan cara yang jelas-jelas dipikirkan dulu sepersekian detik sebelum dilakukan.
“Mas.”
“Ra.”
“Saya nganter.”
“Saya lihat.”
“Bu Yuli pesan.”
“Saya juga tahu.” Aku menyeberang. “Kenapa nggak bilang?”
“Kenapa harus bilang?”
Dan itu pertanyaan yang benar, sebenarnya, dan aku tidak punya jawabannya, jadi aku mengangkat standing flower yang lebih besar dari yang seharusnya diangkat satu orang dan membawanya masuk.
Bu Yuli menemukan Clara dalam waktu empat detik dan tidak melepaskannya selama empat puluh menit.
“Ya ampun, jadi ini yang bikin bunganya!”
“Iya, Bu.”
“Duduk, duduk. Ibu bikinin teh.”
“Nggak usah repot, Bu—“
“Repot apa. Mas Adit, ambilin kursi dong.”
Aku mengambil kursi. Aku selalu mengambil kursi. Itu tugasku di rumah ini dan di sekitar tujuh rumah lain dalam radius tiga ratus meter.
Dan lalu aku duduk di kursi plastik di teras rumah Bu Yuli, di antara empat ibu-ibu yang datang lebih awal untuk arisan dan satu perempuan pemilik toko bunga yang sekarang sedang ditanyai secara sistematis tentang usia, asal, status pernikahan, dan rencana lima tahun ke depan.
Clara menjawab semuanya dengan sabar. Aku menghitung setidaknya tiga pertanyaan yang seharusnya tidak boleh ditanyakan pada siapa pun.
“Neng masih sendiri?”
“Masih, Bu.”
“Ih, kok bisa. Cantik gitu.”
“Kurang beruntung mungkin, Bu.”
“Bukan kurang beruntung. Kurang dikenalin.” Bu Yuli melirik ke arahku dengan gerakan yang seluruh Pulau Jawa bisa lihat. “Ya nggak, Mas Adit?”
“Bu, tehnya kepanjangan diseduh.”
“Ih, ganti topik.”
Ibu-ibu itu tertawa. Clara melihat ke arah gelasnya. Aku memandangi pagar.
“Neng ini usahanya udah lama?” Bu Sri, yang tinggal di blok C, ikut masuk.
“Empat tahun, Bu.”
“Sendirian?”
“Sama satu karyawan.”
“Berani, ya.” Bu Sri mengangguk-angguk. “Anak Ibu tuh disuruh usaha nggak mau. Maunya kerja kantor. Padahal gajinya—“ dia menyebutkan angka yang jelas tidak diizinkan untuk disebutkan.
“Bu Sri,” kata Bu Yuli.
“Kenapa? Itu kan gaji dia, bukan gaji Ibu.”
“Ya tapi nggak usah diumumin.”
“Lah, ini bukan pengumuman. Ini obrolan.”
“Obrolan sama pengumuman itu bedanya cuma di jumlah orang, Bu.”
Aku tertawa sebelum sempat kutahan. Bu Yuli menoleh ke arahku dengan wajah bangga seseorang yang baru saja menang debat parlemen.
“Mas Adit setuju.”
“Saya nggak setuju apa-apa, Bu. Saya cuma duduk.”
“Mas Adit mah emang gitu,” kata Bu Sri, ke arah Clara sekarang, dengan nada memperkenalkan. “Nggak pernah ikut ribut, tapi kalau ada apa-apa yang pertama dateng. Kemarin pompa air saya rusak jam sebelas malam—“
“Setengah sebelas, Bu.”
“Ya sebelas kurang lah. Ibu telepon, nggak sampai lima menit udah di depan.”
“Kebetulan belum tidur.”
“Selalu kebetulan belum tidur,” kata Bu Yuli.
Dan kalimat itu diucapkan tanpa maksud apa pun. Bu Yuli mengucapkannya sambil menuang teh, sambil setengah tertawa, sebagai pujian.
Aku merasakannya masuk seperti kerikil ke dalam sepatu.
Aku menoleh ke arah jalan supaya tidak perlu menyusun wajah untuk sesaat.
Dan waktu aku menoleh kembali, Clara sedang menatapku.
Bukan menatap dengan curiga. Bukan menatap dengan kasihan. Dia cuma sedang melihat, dengan cara orang melihat sesuatu yang sedang dia coba baca, dan begitu mataku bertemu matanya dia mengalihkan pandangan ke gelas tehnya dengan sangat wajar dan bertanya pada Bu Sri tentang cucu.
Kayla datang jam sepuluh.
Dia selalu datang jam sepuluh di hari Sabtu, dengan sepeda roda tiganya yang sudah kekecilan, dan hari itu dia berhenti mendadak di tengah jalan komplek karena melihat ada orang asing.
“Om Adit.”
“Kayla.”
“Itu siapa?”
“Itu Tante Clara. Yang bikin bunganya.”
Kayla menatap Clara dengan intensitas yang cuma dimiliki anak enam tahun dan petugas imigrasi.
“Tante bisa bikin bunga?”
“Bisa.”
“Bunga kan tumbuh sendiri.”
“Nah.” Clara mengangguk serius. “Betul. Tante cuma nyusun.”
Kayla mempertimbangkan ini dan tampaknya menerimanya. Dia menyandarkan sepedanya ke pagar dan naik ke teras dan langsung duduk di lantai di sebelah kursiku, seperti yang selalu dia lakukan.
“Om Adit, gelangnya putus lagi.”
“Lagi?”
“Ini yang kanan.”
Aku mengambilnya. Simpul yang kubuat dua minggu lalu masih utuh; yang putus bagian lain.
“Ini karetnya udah tua, Kayla.”
“Ya udah, benerin aja yang tua.”
“Om nggak bisa bikin yang tua jadi muda.”
“Bisa!”
“Nggak bisa.”
“Om Adit bisa apa aja.”
Ibu-ibu tertawa. Bu Yuli bilang sesuatu tentang bagaimana Kayla ini sudah menganggap aku bapaknya sendiri.
Aku menyimpul karet itu dan tidak mengangkat wajahku.
Yang terjadi selanjutnya berlangsung mungkin dua belas detik.
Ada balon di teras—sisa ulang tahun anak Bu Yuli minggu lalu, diikat di tiang kanopi, sudah setengah kempis. Kayla melihatnya.
“Om, ambilin.”
“Yang mana?”
“Balonnya.”
Balon itu diikat di tiang, kira-kira dua meter dari lantai. Aku bisa meraihnya kalau berjinjit.
Aku berdiri.
Dan Kayla, karena dia anak enam tahun dan karena itu urutan yang wajar di kepalanya, mengangkat kedua tangannya ke arahku.
“Angkatin aja.”
Dan tanganku bergerak.
Ini bagian yang tidak bisa kuceritakan dengan benar pada siapa pun, karena kedengarannya seperti tidak ada apa-apa. Tanganku bergerak—turun, ke arah ketiaknya, gerakan yang tubuhku hafal dengan cara yang tidak melibatkan kepala sama sekali—dan berhenti sekitar sepuluh sentimeter dari sana.
Dan menggantung di udara.
Aku bisa merasakan berat yang tidak ada di sana. Itu bagian yang paling buruk. Empat tahun, tiga belas kilo, cara badan anak kecil menjadi kaku sedikit waktu diangkat, cara kaki mereka otomatis mencari pinggangmu.
Semuanya ada di tanganku. Semuanya ada di tanganku dan tidak ada apa-apa di tanganku.
“Om?”
“Sebentar.”
Suaraku keluar normal. Aku sendiri kaget suaraku keluar normal.
Aku menarik tanganku kembali. Aku menoleh, dan mengambil kursi plastik kosong di sebelahku, dan meletakkannya di bawah tiang kanopi.
“Naik sini. Om pegangin.”
Kayla naik ke kursi. Aku memegangi sandarannya dengan dua tangan. Dia meraih balon itu, dan berhasil, dan turun sendiri, dan langsung lari ke halaman sambil memukul-mukul balon setengah kempis itu ke udara.
Dua belas detik. Mungkin kurang.
Ibu-ibu tidak melihat apa-apa. Bu Yuli sedang bercerita tentang harga cabai. Salah satu ibu sedang mengecek ponselnya.
Aku duduk kembali di kursiku dan mengambil gelas tehku dan meminumnya, dan tehnya sudah dingin, dan aku tetap meminumnya sampai habis.
Ada satu hal yang perlu kujelaskan, meskipun tidak ada yang bertanya.
Aku bisa. Secara fisik, aku bisa. Punggungku baik-baik saja, tanganku baik-baik saja, Kayla beratnya mungkin delapan belas kilo dan aku mengangkat galon setiap dua hari.
Bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah aku sudah mencobanya sekali. Tahun ketiga. Anak sepupuku, di acara keluarga, umurnya sekitar tiga tahun, dan dia mengangkat tangannya ke arahku dan aku mengangkatnya karena semua orang sedang melihat dan tidak mengangkat akan jadi peristiwa.
Aku menggendongnya selama mungkin empat detik.
Lalu aku menurunkannya, dan berjalan ke kamar mandi, dan mengunci pintu, dan duduk di lantai kamar mandi rumah bude ku selama dua puluh menit dengan keran menyala supaya tidak ada yang dengar.
Sesudah itu aku keluar dan makan dan bercanda dan pulang dan orang-orang bilang senang sekali melihat Adit sudah ceria lagi.
Aku tidak pernah mencobanya lagi setelah itu.
Bukan karena aku takut menangis. Aku tidak pernah menangis lagi sejak tahun kedua; kelenjar itu sepertinya sudah tutup permanen.
Aku takut pada tiga detik pertamanya. Momen sebelum kepalaku sempat menyusul, waktu tubuhku masih percaya bahwa yang ada di tanganku adalah anakku.
Itu tiga detik paling bahagia yang bisa kudapatkan sekarang.
Dan aku tidak akan pernah lagi membiarkan diriku merasakan bahagia yang harus dibayar dengan cara seperti itu.
Clara melihat.
Aku tahu tanpa perlu menoleh. Ada cara tertentu udara berubah kalau seseorang sedang menatapmu, dan aku sudah lima tahun sangat sensitif terhadap perubahan itu.
Percakapan berlanjut. Arisan mulai. Ibu-ibu pindah ke dalam. Clara pamit karena masih ada dua pengantaran lagi, dan aku bilang aku antar sampai mobil, dan Bu Yuli bilang sesuatu yang membuat empat orang tertawa yang aku tidak dengar isinya.
Kami berjalan ke pikap yang diparkir di depan rumahku.
Tidak ada yang bicara sepanjang dua belas meter itu.
Di samping pintu pengemudi, dia berhenti.
“Mas.”
“Hm.”
Aku sudah menyiapkannya. Semuanya. Aku sudah menyusun seluruh urutannya di kepalaku sejak dua belas detik itu selesai—dia akan bertanya, nadanya akan turun setengah, dan aku akan bilang bahwa punggungku lagi sakit, atau bahwa Kayla sudah kebesaran, atau bahwa aku tidak enak sama ibunya. Tiga versi. Semuanya siap. Semuanya bagus.
Clara tidak bertanya.
Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di lenganku, di atas siku, dan membiarkannya di sana.
Itu saja.
Tidak ada tepukan. Tidak ada remasan. Tidak ada gerakan menenangkan yang biasa dilakukan orang, yang selalu terasa seperti sedang dikasihani. Cuma telapak tangan, diam, di lenganku, selama mungkin empat detik.
Dan aku berdiri di sana di bawah matahari jam sebelas di depan rumahku sendiri dan merasakan sesuatu naik dari perutku dengan kecepatan yang membuatku panik.
Bukan sedih. Aku kenal sedih. Sedih itu tumpul dan pelan dan bisa dikelola.
Ini tajam. Ini seperti air panas yang disiram ke tangan yang sudah lama mati rasa dan tiba-tiba tahu bahwa dia masih bisa merasakan apa-apa.
Aku menarik napas. Sekali. Dalam.
Clara menurunkan tangannya.
“Saya jalan dulu ya.”
“Iya.”
“Makasih kursinya.”
“Aman.”
Dia masuk ke mobil, dan menyalakan mesin, dan menurunkan kaca, dan berkata—dengan nada paling biasa di dunia, seolah membicarakan jadwal pengiriman:
“Sansevierianya jangan lupa. Dua minggu sekali.”
“Iya.”
“Kalau lupa juga nggak apa-apa. Dia kuat.”
Dan dia pergi.
Aku masuk ke rumah dan menutup pintu dan berdiri di ruang tamu dengan punggung menempel di daun pintu.
Rumahku sunyi seperti biasa.
Lalu aku berjalan ke dapur, dan berdiri di depan ambang jendela, dan menatap tanaman yang paling susah dibunuh di planet ini.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Yang aku tahu adalah bahwa jam satu siang aku sudah di garasi, membongkar rak yang tidak perlu dibongkar, mengelap perkakas yang tidak kotor, menyusun ulang baut berdasarkan ukuran ke dalam toples-toples bekas selai.
Aku bekerja sampai jam lima.
Di tengah-tengah, sekitar jam tiga, aku menemukan kardus di rak paling atas yang sudah tiga tahun tidak kusentuh.
Isinya bibit cabai dari Bu Yuli. Delapan polybag kecil, tanahnya sudah kering total dan retak seperti dasar danau, dengan batang cokelat sepanjang lima sentimeter yang mati entah kapan.
Aku memegangnya cukup lama.
Lalu aku membawanya ke tempat sampah di depan rumah, dan berdiri di sana dengan kardus di tangan, dan tidak membuangnya.
Aku membawanya kembali ke garasi dan meletakkannya di rak paling atas, di tempat yang persis sama.
Waktu selesai, garasinya lebih rapi daripada sebelumnya dan aku sudah cukup lelah untuk tidak memikirkan apa-apa, dan itu memang tujuannya, dan aku tahu itu tujuannya, dan aku tetap melakukannya.
Malamnya aku mengirim pesan.
Ra, makasih ya udah nganter. Bu Yuli seneng banget.
Terkirim jam delapan lewat dua.
Aku menatap layar. Centang dua. Biru.
Dia sedang mengetik.
Berhenti.
Mengetik lagi.
Berhenti.
Selama hampir satu menit penuh, tulisan mengetik... itu muncul dan hilang dan muncul lagi, dan aku duduk di ujung kasurku memandanginya seperti orang bodoh berumur tiga puluh dua tahun.
Yang akhirnya masuk cuma:
Sama-sama, Mas.
Dan aku meletakkan ponsel, dan mematikan lampu, dan berbaring di kasur yang sisi kanannya sudah lima tahun tidak ada yang menidurinya.
Aku tidak bisa tidur sampai jam dua.
Dan bukan karena kesedihan.
Itu, sekali lagi, yang paling membingungkan.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik reading
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu