← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Thirty One

Yang Aku Pilih

POV: Clara


Aku menulis email itu tujuh kali.

Bukan tujuh draf. Tujuh kali dari nol, di aplikasi catatan, di kamar kos dan di belakang meja kasir dan sekali di warung bubur sambil menunggu pesanan.

Versi pertama terlalu panjang. Empat paragraf yang isinya sebagian besar permintaan maaf.

Versi ketiga terlalu pendek dan terdengar seperti orang yang tidak menghargai tawarannya.

Versi kelima aku hapus di tengah karena aku menyadari aku sedang menulis untuk membuat Bu Ratna merasa baik, bukan untuk mengatakan yang sebenarnya.

Versi ketujuh selesai tanggal delapan Januari, jam sebelas malam, dan aku membacanya tiga kali dan lalu tidak mengirimnya.

Aku menyimpannya di draf.

Dan setiap hari selama dua minggu berikutnya, aku membukanya sekali, membacanya, dan menutupnya lagi.


“Kenapa belum dikirim?”

Tari bertanya itu hari Kamis, sambil menyortir krisan yang baru datang.

Dia tahu. Aku memberitahunya bulan lalu, karena tidak adil kalau dia tidak tahu—kalau aku pergi, tokonya berhenti, dan pekerjaannya berhenti.

“Belum sempurna.”

“Teh.”

“Ada satu paragraf yang masih janggal.”

“Teh Clara.”

Aku meletakkan guntingku.

“Aku nggak tahu,” kataku.

“Nggak tahu mau kirim atau nggak?”

“Nggak. Aku tahu jawabannya.” Aku menatap tumpukan krisan. “Aku nggak tahu kenapa aku belum kirim.”

Tari mengangkat bahu.

“Mungkin karena begitu dikirim, dia selesai.”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

“Ya... sekarang kan Teteh punya dua.” Dia melanjutkan menyortir. “Punya toko, punya Jakarta. Kalau dikirim, tinggal satu.”

Dan dia mengatakannya dengan nada orang yang sedang membicarakan krisan, dan lalu langsung pindah ke topik lain tentang temannya yang katanya sekarang pacaran dengan tukang parkir, dan aku berdiri di belakang meja kasir dengan sesuatu yang tidak enak duduk di perutku.


Aku mengirimnya tanggal dua puluh dua Januari.

Bukan karena aku akhirnya siap. Karena Bu Ratna mengirim pesan singkat—Clara, gimana? Saya perlu tahu minggu ini ya—dan tenggat yang sungguhan selalu lebih efektif daripada tenggat yang kau buat sendiri.

Aku mengirimnya jam sembilan pagi, dari belakang meja kasir, dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

Balasannya masuk jam sebelas.

Dua paragraf. Yang pertama isinya bahwa dia mengerti dan menghormati keputusanku dan bahwa dia sudah menduga.

Yang kedua isinya:

Kalau kamu berubah pikiran dalam dua tahun ke depan, kabarin saya. Saya nggak janji ada tempat, tapi saya janji akan angkat teleponnya.

Aku membacanya, dan lalu aku menutup ponsel dan pergi ke gudang dan menutup pintunya dan berdiri di sana selama sekitar satu menit.

Bukan menangis.

Cuma berdiri.

Karena ada sesuatu yang baru saja ditutup, dan aku sudah menutupnya dengan sengaja, dan aku tetap perlu satu menit untuk itu.


Aku memberi tahu Aditya sore itu.

“Udah aku kirim.”

Dia sedang memasang rak di Cikutra. Dia berhenti dengan bor di tangan.

“Kapan?”

“Tadi pagi.”

“Terus?”

“Terus dibales.” Aku duduk di atas ember terbalik. “Dia bilang ngerti. Dan dia bilang kalau aku berubah pikiran dalam dua tahun, aku boleh kabarin.”

Aditya meletakkan bornya.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Ra.”

“Aku beneran nggak apa-apa.” Aku mengangkat bahu. “Aku cuma butuh berdiri di gudang satu menit tadi pagi.”

Dan dia berjalan ke arahku dan berjongkok di depan ember terbalik itu—selalu berjongkok—dan meletakkan kedua tangannya di lututku.

“Makasih ya udah cerita,” katanya.

“Kenapa makasih?”

“Karena kamu bisa aja nggak cerita bagian yang satu menit di gudang.”

Dan aku menatap wajahnya dari jarak tiga puluh sentimeter, di ruko setengah jadi yang berbau cat dan debu semen, dan aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya.

Dia tidak sedang lega.

Aku sudah cukup lama mempelajari wajah ini. Aku tahu bentuk lega di wajah ini, dan aku tahu bentuk lega yang disamarkan jadi senang.

Yang ada di wajahnya sore itu bukan salah satu dari keduanya.

Yang ada di wajahnya adalah orang yang sedang menerima sesuatu.


Bulan Januari itu adalah bulan terbaik yang pernah kupunya.

Aku ingin menuliskannya seperti itu, dengan kalimat yang lugas dan tanpa syarat, karena nanti aku akan sangat butuh mengingat bahwa aku pernah menuliskannya seperti itu.

Cikutra selesai tanggal sembilan belas.

Bukan buka—cuma selesai. Dinding, rak, listrik, air, sekat gudang, dan cat papan nama yang kutulis tangan sendiri untuk ketiga kalinya dalam hidupku, dan yang kali ini hurufnya benar di percobaan pertama.

Kami mengangkut isi Sukaluyu selama dua akhir pekan penuh di bulan Februari. Enam kali bolak-balik dengan mobil bak. Tari mengorganisir seluruh operasi dengan buku catatan dan sistem penomoran ember yang benar-benar dia buat sendiri dan yang benar-benar berfungsi.

Bram datang dua kali.

Bu Rahma datang satu kali—ke Cikutra, dengan motor, membawa dua bungkus lontong—dan bilang bahwa dia sudah mengecek rutenya dan ternyata cuma tambah empat menit.

Pak Endang mengirimkan dua ember besar sebagai hadiah pindahan, dengan pesan lewat WhatsApp yang seluruhnya huruf kapital dan tanpa tanda baca sama sekali.

Dan Aditya ada di semuanya.

Dia mengangkat. Dia memasang. Dia menyetir. Dia membetulkan pompa, lalu membetulkan lagi tiga minggu kemudian waktu kabelnya lepas, sambil menggerutu tentang kualitas kabel di toko listrik dekat pasar.

Dan dia melakukan semuanya tanpa satu kali pun—satu kali pun—bertanya apakah aku baik-baik saja dengan cara yang membuatku harus menjawab.


Hari terakhir di Sukaluyu adalah tanggal dua puluh delapan Februari.

Kami mengangkut ember terakhir jam empat sore. Toko itu kosong—benar-benar kosong, tanpa rak, tanpa meja kasir, dengan bekas persegi panjang di lantai tempat ember-ember berdiri selama empat tahun.

Tari keluar duluan.

Aditya menunggu di mobil.

Dan aku berdiri sendirian di dalam ruangan empat meter kali delapan itu selama mungkin lima menit.

Aku tidak mengucapkan apa-apa. Aku bukan orang yang mengucapkan sesuatu ke ruangan.

Tapi aku berjalan ke tempat meja kasirku dulu berdiri, dan aku berdiri di sana, dan aku melihat ke arah pintu.

Ke sudut di mana seorang laki-laki masuk sambil menahan napas, tujuh bulan lalu, dan meminta sembilan tangkai krisan putih dengan nada yang berubah satu kata.

Aku melihat ke rak yang sudah tidak ada, tempat aglonema yang sekarat dari akar berdiri di pagi yang sama.

Lalu aku mengambil kunci dari saku, dan keluar, dan menurunkan rolling door untuk terakhir kalinya, dan menguncinya.

Aditya tidak bertanya kenapa lama.

Dia cuma menyalakan mesin waktu aku masuk, dan menyetir ke Cikutra, dan menyalakan radio di volume rendah.


Toko buka tanggal dua Maret.

Tidak ada acara. Aku tidak percaya acara pembukaan; empat tahun lalu aku juga tidak pakai.

Yang ada cuma: rolling door naik jam sembilan pagi, rak teras keluar, selang dinyalakan, dan Tari yang memasang papan kecil bertuliskan BUKA dengan tulisan tangan yang jelek sekali.

Pelanggan pertama datang jam sembilan lewat dua puluh.

Bapak-bapak, tidak dikenal, jelas cuma lewat.

“Bunga apa yang bagus buat orang yang lagi sakit?”

Dan aku berdiri di belakang meja kasir baruku di ruko yang tiga bulan lalu masih berbau tinta fotokopi, dan aku menjawab pertanyaan yang sudah kujawab ratusan kali dalam empat tahun, dan sesuatu di dadaku terbuka.


Aditya datang jam empat sore membawa dua kursi plastik.

Kursi lama. Yang hijau, yang satu kakinya lebih pendek, dengan tulisan nama warung yang sudah pudar di sandarannya.

“Kamu bawa itu?”

“Ketinggalan di Sukaluyu.”

“Nggak ketinggalan. Aku sengaja tinggalin.”

Dia berhenti di ambang pintu.

“Kenapa?”

“Karena udah jelek banget, Aditya. Satu kakinya lebih pendek.”

“Iya.”

“Aku udah beli yang baru. Empat. Warnanya putih.”

“Iya, aku lihat.”

Dan dia tetap berdiri di sana dengan dua kursi plastik hijau di tangan.

Aku menghela napas.

“Taruh di teras,” kataku.

Dan dia menaruhnya di teras, di sebelah kursi putih yang baru, dan duduk di salah satunya, dan tidak berkata apa-apa lagi tentang itu.

Kursi putih yang baru tidak pernah dipakai siapa pun selama enam bulan berikutnya.


Malam itu, setelah tutup, kami duduk di teras Cikutra.

Jalanan di depan lebih ramai dari Sukaluyu. Lebih banyak motor, lebih banyak bunyi. Tidak ada lapangan di seberang—yang ada warung kopi, yang lampunya kuning dan yang jam sembilan malam masih penuh.

“Kamu kangen lapangannya?” tanyanya.

“Belum tahu.”

“Anak nomor sembilan gimana kabarnya?”

Aku tertawa.

“Dia udah dapet bola bulan Desember.”

“Serius?”

“Serius. Aku lihat. Dia nyetak gol terus lari keliling lapangan sambil buka baju.”

“Empat tahun.”

“Empat tahun.”

Dan kami duduk di teras beton yang masih berbau cat, di kursi plastik hijau yang seharusnya sudah dibuang, dengan bunyi motor di depan dan bunyi orang di warung kopi seberang.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong sesuatu dan aku udah nyusun ini seminggu.”

Aku menoleh.

“Oke.”

Dia memutar kunci mobil di jari. Berhenti. Memasukkannya ke saku.

“Aku sayang kamu,” katanya.


Aku tidak bergerak.

Empat bulan setengah. Dan dia belum pernah mengucapkannya.

Dia bilang aku suka sama kamu di pagar besi di Lembang. Dia bilang aku pengen kamu tinggal di trotoar depan stasiun. Dia bilang banyak hal, sebagian besarnya lebih berat daripada tiga kata itu.

Tapi tidak yang ini.

Dan aku tidak pernah bertanya, karena aku sudah cukup lama untuk tahu bahwa kata itu bukan kata yang gratis untuk semua orang.

“Aditya.”

“Bentar.” Dia mengangkat tangan. “Aku belum selesai.”

Aku menutup mulutku.

“Aku nggak pernah bilang itu ke siapa pun selama lima tahun,” katanya. “Bukan cuma ke pacar. Ke siapa pun. Ke Ibu aku juga nggak.”

Dia menatap ke jalan.

“Dan aku baru sadar bulan lalu kenapa,” lanjutnya. “Karena kalau aku bilang sayang ke seseorang, itu artinya aku ngasih dia sesuatu yang bisa hilang.”

Ada motor lewat.

“Dan aku udah lima tahun ngatur hidup aku supaya nggak ada lagi yang bisa hilang,” katanya. “Halaman aku disemen. Aku nggak punya tanaman. Aku nggak punya ikan. Aku nggak nyimpen apa pun yang harus diinget.”

Dia menoleh ke arahku.

“Terus kamu dateng dan aku ngasih kamu semuanya,” katanya. “Dan sekarang ada orang di rumah aku yang bisa hilang.”

Aku merasakan mataku panas.

“Aditya—“

“Aku belum selesai.” Dia menarik napas. “Aku mau bilang itu bukan karena aku udah nggak takut. Aku takut banget, Ra. Aku takut tiap hari, dan aku nggak yakin itu bakal berhenti.”

“Terus kenapa kamu bilang?”

Dan Aditya Wisesa, tiga puluh dua tahun, duduk di kursi plastik hijau di teras toko bunga di Cikutra pada malam tanggal dua Maret, dan berkata:

“Karena kamu berhak denger, dan aku udah kelamaan nyimpen.”


Aku memeluknya di kursi plastik itu dengan cara yang tidak nyaman sama sekali secara fisik.

“Aku juga sayang kamu,” kataku, ke bahunya.

“Iya.”

“Aku sayang kamu, Aditya.”

“Iya.”

Dan aku menarik diri dan memegang wajahnya dengan dua tangan.

“Kamu denger nggak?”

“Denger.”

“Kamu beneran denger?”

Dan dia tertawa—tawa yang benar, yang keluar sendiri, yang butuh empat bulan setengah untuk kupelajari bunyinya—dan bilang:

“Iya, Ra. Aku denger.”


Aku pikir itu adalah malam terbaik.

Dan aku benar. Itu memang malam terbaik.

Aku cuma tidak tahu, malam itu, bahwa aku akan menghabiskan berbulan-bulan sesudahnya mencoba mengingat setiap detailnya—bunyi warung kopi di seberang, bau cat yang belum sepenuhnya kering, kursi plastik hijau dengan satu kaki yang lebih pendek—dengan cara orang yang memegang sesuatu terlalu erat karena tahu bentuknya akan berubah.

Delapan hari.

Itu jaraknya dari malam itu.

Delapan hari, dan aku tidak tahu apa-apa, dan aku tidur malam itu dengan perasaan orang yang sudah sampai di suatu tempat.