Chapter Thirty Six
Alasan yang Masuk Akal
POV: Aditya
Aku menulisnya di kertas.
Itu yang tidak akan pernah kuceritakan pada siapa pun, karena kalau ada satu hal yang membuktikan bahwa aku bukan orang yang sedang hancur melainkan orang yang sedang mengeksekusi sesuatu, itu adalah bahwa aku menulisnya di kertas.
Hari Senin, tanggal dua puluh dua April, jam sepuluh pagi.
Kertas A4 dari printer. Pulpen biru.
Yang harus disampaikan:
1. Ini bukan karena dia.
2. Ini bukan karena aku nggak sayang.
3. Ini karena aku nggak berubah dan aku nggak akan berubah.
4. Dia berhak dapet orang yang nggak harus dia cek.
Dan di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil, hal-hal yang harus kuhindari:
Jangan bilang “demi kebaikan kamu”.
Jangan nangis duluan.
Jangan janji apa-apa.
Jangan bilang mungkin nanti.
Aku membacanya empat kali, dan lalu aku membakarnya di wastafel dapur dengan korek gas, karena aku tidak tahu ke mana lagi harus meletakkannya.
Dan aku berdiri di depan wastafel itu menatap abu di saringan dan berpikir: ini persis yang akan dilakukan orang gila.
Aku tetap berangkat jam empat.
Aku sampai di Cikutra jam empat lewat delapan.
Tari yang pertama melihatku, dan sesuatu di wajahnya berubah dengan cara yang membuatku sadar bahwa dia sudah tahu—bukan tahu apa, tapi tahu ada.
“Mas.”
“Tari.”
“Teh Clara di belakang.”
“Oke.”
“Mas.”
Aku berhenti.
Tari berdiri di sana dengan selang di tangan, air masih mengalir ke lantai teras, dan dia tidak mematikannya.
“Mas nggak apa-apa?”
Dan aku menoleh dan tersenyum, dan senyumnya menyala tepat waktu, sempurna, dan aku berkata:
“Aman, kok.”
Dan aku melihat Tari mengerti.
Aku tidak tahu bagaimana. Anak berumur dua puluh tiga tahun yang kerjaannya menyortir krisan dan bicara terlalu banyak, dan dia mendengar dua kata itu dan wajahnya berubah seperti orang yang mendengar bunyi rem dari jauh.
Dia mematikan selangnya.
Dan dia berjalan ke dalam dan mengambil tasnya dan bilang bahwa dia harus pulang cepat karena ada urusan, jam setengah lima sore, tiga jam sebelum tutup.
Clara bertanya urusan apa.
Tari bilang urusan keluarga.
Dan waktu dia lewat di sebelahku menuju motornya, dia berhenti setengah langkah dan berkata—sangat pelan, tanpa melihat ke arahku:
“Mas Aditya, tolong jangan.”
Lalu dia pergi.
Kami sendirian dari jam setengah lima.
Aku mengangkat karung. Aku memindahkan ember. Aku menyelesaikan gantungan di gudang yang sudah kupasang setengah minggu lalu.
Aku melakukan semua itu selama dua jam empat puluh menit.
Dan Clara tahu.
Aku bisa melihatnya di seluruh tubuhnya—cara dia memotong batang, cara dia tidak menyalakan radio, cara dia tidak sekali pun bertanya kenapa Tari pulang cepat.
Jam tujuh lewat, dia menutup buku pesanannya.
“Aditya.”
“Hm.”
“Duduk.”
Aku duduk di kursi plastik hijau.
Dia duduk di seberangnya.
Dan lalu dia berkata sesuatu yang membuat seluruh urutan yang kususun sejak jam sepuluh pagi runtuh dalam waktu satu detik.
Dia bilang:
“Aku tahu kamu udah nyiapin kalimatnya. Boleh aku ngomong duluan?”
“Boleh,” kataku.
Dan Clara Evangelista duduk di kursi plastik di teras tokonya sendiri dan berkata:
“Aku salah hari Sabtu.”
“Ra—“
“Dengerin dulu, terus habis itu giliran kamu dan aku nggak akan motong.” Dia menggenggam lututnya sendiri. “Aku bawa daftar ke rumah kamu. Itu hal yang aku janji nggak akan pernah aku lakuin lagi seumur hidup, dan aku lakuin.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku telepon Kak Rendy jam setengah tiga pagi,” katanya. “Pertama kali dalam enam tahun aku telepon dia bukan buat basa-basi.”
Sesuatu di dadaku bergerak.
“Dan dia bilang satu hal yang aku nggak siap denger.” Suaranya mulai tidak rata. “Dia bilang waktu aku dateng ke kosnya enam tahun lalu, dia juga lega.”
Ada bunyi motor lewat.
“Dia bilang dia udah delapan bulan nunggu ada orang yang bikin semuanya selesai,” katanya. “Dengan cara apa pun. Dan aku ngasih dia cara yang paling gampang.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Aditya, aku ngasih kamu cara yang paling gampang hari Sabtu.”
Aku duduk di kursi plastik hijau itu dan tidak bisa bicara.
Karena dia benar.
Karena aku sudah tiga minggu menunggu sesuatu, apa pun, yang bisa kupakai. Dan pada malam Sabtu dia berjalan masuk ke rumahku dan mengeluarkan buku dari tasnya dan membaca empat baris, dan sesuatu di dalam dadaku berkata nah dengan suara yang begitu jelas sampai aku hampir mendengarnya.
Dan aku menghabiskan seluruh hari Minggu menyusun kalimat.
Bukan karena dia melakukan sesuatu yang salah.
Karena dia akhirnya memberiku sesuatu yang bisa kutulis di poin ketiga.
“Ra.”
“Aku belum selesai.”
“Oke.”
Dia menarik napas.
“Aku nggak akan minta kamu tinggal,” katanya.
Aku mengangkat kepalaku.
“Aku pernah bilang aku mau kamu minta aku tinggal, bulan November, di depan gerbang kos.” Dia menggeleng pelan. “Dan kamu ngasih itu ke aku di trotoar depan stasiun, dan itu hal paling berani yang pernah aku lihat kamu lakuin.”
“Ra—“
“Tapi aku nggak akan minta hal yang sama ke kamu,” katanya. “Karena kalau kamu tinggal gara-gara aku minta, kamu bakal tinggal sebagai orang yang lagi nyicil.”
Aku menutup mataku.
“Dan aku nggak mau jadi tagihan kamu,” katanya.
Kami duduk di teras itu untuk waktu yang cukup lama.
Anak-anak dari gang sebelah lewat dengan sepeda. Warung kopi di seberang mulai penuh.
“Sekarang giliran kamu,” katanya.
Dan aku membuka mulutku.
Dan seluruh urutan yang kutulis dan kubakar itu ada di sana, lengkap, siap—poin satu, poin dua, poin tiga, poin empat—dan aku bisa merasakan bentuknya di lidahku.
“Aku nggak berubah,” kataku.
“Aku tahu.”
“Lima tahun, Ra. Aku pikir aku belajar sesuatu.” Aku menatap lantai teras. “Terus tanggal sepuluh Maret ada anak enam tahun yang lewat depan bemper mobil sejengkal karena aku bilang besok lima kali.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tahu apa yang aku sadarin?” Aku mengangkat kepalaku. “Aku sadar aku nggak akan pernah bisa bilang ke diri aku sendiri bahwa aku aman. Nggak akan pernah. Karena tiap kali aku ngerasa aman, tiap kali aku lagi seneng—“
Suaraku pecah dan aku membiarkannya.
“Aku lagi seneng, Ra. Tanggal sepuluh Maret aku lagi seneng banget.”
Clara tidak bergerak.
“Dan aku nggak bisa hidup sama orang yang harus ngecek aku terus,” kataku. “Aku nggak bisa jadi orang yang bikin kamu nulis empat belas baris di belakang buku pesanan supaya kamu bisa tidur.”
“Terus?” katanya.
“Terus aku pikir lebih baik sekarang.”
“Kenapa sekarang?”
“Karena sekarang masih delapan bulan.” Aku menelan. “Kalau lima tahun lagi, kamu tiga puluh tiga, dan kamu udah bangun hidup kamu di sekitar orang yang—“
“Aditya.”
“Iya.”
“Berhenti.”
Aku berhenti.
Dan Clara menatapku dari kursi plastik di seberang, dan matanya basah tapi suaranya sangat, sangat stabil.
“Kamu barusan ngomong tiga menit,” katanya, “dan nggak sekali pun kamu bilang kamu nggak mau.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu bilang kamu nggak berubah. Kamu bilang aku bakal capek. Kamu bilang lebih baik sekarang.” Dia menghitung dengan jari. “Itu semua analisis, Aditya. Itu laporan.”
Dia mencondongkan badan.
“Aku cuma mau denger satu kalimat,” katanya. “Bilang kamu nggak mau sama aku.”
Hening.
Motor lewat. Warung kopi. Seseorang tertawa di seberang jalan.
“Bilang,” katanya.
Dan aku duduk di kursi plastik hijau di teras toko bunga di Cikutra pada malam tanggal dua puluh dua April, dan aku membuka mulutku, dan aku tidak bisa.
Aku benar-benar tidak bisa.
Aku duduk di sana dengan mulut terbuka selama mungkin sepuluh detik dan tidak ada satu pun suara yang keluar.
Clara mulai menangis.
“Nah,” katanya.
“Ra—“
“Nggak apa-apa.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan. “Aku nggak lagi menang. Ini bukan menang.”
Dan dia berdiri.
Dan aku pikir dia akan masuk ke dalam, atau menyuruhku pergi, atau salah satu dari hal-hal yang masuk akal.
Yang dia lakukan adalah berjalan ke arahku dan berlutut di depan kursi plastik itu—dia yang berlutut, lagi—dan meletakkan kedua tangannya di lututku.
“Aditya, lihat aku.”
Aku melihatnya.
“Kamu boleh nggak sanggup,” katanya.
Aku menutup mataku.
“Aku serius. Kamu boleh nggak sanggup, kamu boleh butuh waktu, kamu boleh ngilang tiga hari, kamu boleh nggak jadi orang yang bener terus.” Suaranya pecah di tengah. “Boleh, kok.”
Dua kata itu.
Dan sesuatu di dalam dadaku—sesuatu yang lima tahun terpasang di sana, yang lepas sekali di bulan Oktober di teras toko di Sukaluyu waktu perempuan ini bilang bahwa aku boleh datang tanpa melakukan apa-apa—
Sesuatu itu lepas lagi.
Dan yang keluar dari mulutku bukan kalimat.
Aku menunduk dan menempelkan dahiku ke bahunya dan menangis di teras toko bunga jam delapan malam dengan warung kopi di seberang jalan yang penuh orang, dan Clara berlutut di lantai beton itu dan memegang belakang kepalaku dengan satu tangan dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Kami tinggal seperti itu untuk waktu yang cukup lama.
Dan lalu aku berdiri.
Aku ingin sekali menulis bahwa aku tidak. Aku ingin sekali menulis bahwa dua kata itu cukup, bahwa ada versi dari malam itu di mana aku tinggal.
Aku berdiri.
Aku mengusap wajahku dengan lengan dan aku berdiri dan aku berkata:
“Aku nggak bisa, Ra.”
“Aditya—“
“Bukan karena kamu.” Aku mundur setengah langkah. “Kamu nggak salah apa-apa. Kamu nggak salah satu hal pun dalam delapan bulan.”
“Terus kenapa?”
Dan aku berdiri di teras itu dan mengucapkan kalimat paling jujur yang bisa kuucapkan, yang tidak ada di kertas yang kubakar, yang tidak kususun sama sekali:
“Karena kalau aku tinggal, aku bakal bahagia.”
Clara menatapku dari lantai.
“Dan aku nggak tahu gimana caranya bahagia sambil inget,” kataku. “Aku udah nyoba delapan bulan. Tiap kali aku bahagia, aku lupa sedetik. Dan sedetik itu—“
Suaraku hilang.
“Sedetik itu rasanya kayak ninggalin mereka lagi.”
Aku pergi jam setengah sembilan.
Aku tidak mengangkat rak teras. Itu yang paling kuingat: aku tidak mengangkat rak teras, karena mengangkat rak teras adalah bagian dari menutup toko, dan aku sudah bukan bagian dari itu sejak dua menit sebelumnya.
Sebelum berjalan ke mobil, aku berhenti.
“Ra.”
Dia masih di lantai teras.
“Aku bakal—“ Aku berhenti, karena kalimat berikutnya adalah aku bakal tetep ada kalau kamu butuh apa-apa, dan aku bisa mendengar bentuknya, dan aku tahu persis apa itu.
Itu tawaran cicilan.
Itu aku menyiapkan diri untuk kembali sebagai orang yang membetulkan sesuatu, supaya aku bisa mendapatkan potongan-potongan dari ruangan ini tanpa harus tinggal di dalamnya.
Clara mengangkat wajahnya.
“Jangan,” katanya.
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Aku tahu kamu mau ngomong apa.” Dia mengusap wajahnya. “Dan jawabannya jangan.”
Dan aku berdiri di teras itu dan mengangguk.
“Aditya.”
“Iya.”
“Kalau kamu balik,” katanya, “balik sebagai orang yang mau tinggal. Jangan balik buat benerin apa-apa.”
Aku berjalan ke mobil.
Aku masuk. Aku menyalakan mesin.
Dan waktu aku menoleh ke belakang untuk mundur, aku melihat Clara berdiri di teras dengan tangan di sisi tubuhnya, tidak mengejar, tidak berteriak, tidak melakukan satu pun hal yang orang lakukan di film.
Cuma berdiri.
Dan di sebelahnya, di teras beton itu, ada dua kursi plastik hijau dengan satu kaki yang lebih pendek dan tulisan nama warung yang sudah pudar di sandarannya.
Aku mundur.
Aku masuk ke jalan.
Dan aku menyetir pulang di dua puluh sembilan kilometer per jam, dan aku tidak menyalakan radio, dan aku tidak menangis lagi sama sekali, karena bagian itu sudah selesai di teras dan yang tersisa cuma orang yang menyetir mobil.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal reading
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu