← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Fifty

Tanggal Sembilan, Lagi

POV: Aditya


Aku menanyakannya hari Minggu, tanggal tujuh Desember, di teras.

“Ra.”

“Hm.”

“Selasa tanggal sembilan.”

Clara meletakkan guntingnya.

Dia tahu tanggal sembilan. Dia sudah tahu tanggal sembilan sejak hari pertama kami bertemu, sebelum dia tahu namaku, sebelum dia tahu apa pun—karena dia menghitungnya sendiri di belakang meja kasir di sebuah toko di Sukaluyu dan menuliskan satu angka di halaman kosong buku pesanan.

“Iya,” katanya.

“Aku mau kamu ikut.”

Dan dia tidak menjawab selama beberapa detik.

“Ke pemakaman?”

“Iya.”

“Aditya—“

“Aku udah mikirin ini dua bulan,” kataku. “Aku udah ngomongin sama Bu Ratih. Aku udah ngomongin sama Sarah.”

“Sarah bilang apa?”

Dan aku berkata: “Sarah bilang ya iyalah, Mas.

Clara tertawa satu embusan.

Lalu dia diam lagi.

“Aku nggak maksa,” kataku. “Ini bukan tes apa-apa. Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan—“

“Aku mau.”

Dan dia mengambil guntingnya lagi.

“Aku cuma mikirin apakah aku ikut buat kamu atau buat aku,” katanya, sambil memotong. “Dan aku baru selesai mikirinnya barusan.”

“Hasilnya?”

“Buat kamu,” katanya. “Sembilan puluh persen.”

“Yang sepuluh persen?”

Dan Clara berkata, tanpa mengangkat wajahnya:

“Aku pengen lihat mereka.”


Kami berangkat jam delapan pagi.

Toko tutup hari itu. Tari yang mengusulkan—dia bilang, dua hari sebelumnya, dengan nada yang sangat biasa: “Teh, Selasa aku bisa jaga sendiri kok.”

Dan Clara bilang tidak, tutup saja.

Dan Tari bilang oke, dan tidak bertanya kenapa, dan aku menyadari bahwa perempuan berumur dua puluh empat tahun ini sudah mengerti seluruh kalendernya tanpa pernah sekali pun diberi tahu.

Kami berhenti di toko bunga di dekat pasar.

Bukan Kembang Kata. Itu keputusan Clara, dan dia mengucapkannya di mobil dengan nada yang tidak bisa dibantah: “Aku nggak mau kamu beli dari aku hari ini.”

“Kenapa?”

“Karena ini bukan transaksi.”

Dan aku membeli sembilan krisan putih dari perempuan yang tidak kukenal, dan Clara berdiri di sebelahku dan tidak mengomentari kualitasnya satu kali pun, meskipun aku bisa melihat rahangnya bergerak dua kali.


Kami sampai jam sembilan lewat.

Aku memarkir di tempat yang sama, di bawah pohon yang bayangannya jatuh di jalur ketiga.

Dan aku mematikan mesin dan kami duduk di sana selama beberapa detik.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu tunggu di mobil dulu, ya.”

Clara menoleh.

“Bukan karena—“ Aku berhenti. “Aku mau ngomong dulu. Sendirian. Terus aku balik ke sini dan kita masuk berdua.”

Dan Clara Evangelista, dua puluh sembilan tahun, yang lima belas bulan lalu berdiri di trotoar Stasiun Bandung sementara seorang laki-laki menunggu di mobil karena itu bukan urusannya—

Dia berkata: “Iya. Aku tunggu.”

Dan dia melepas sabuk pengamannya dan mengambil ponselnya dan menyandarkan punggungnya, dengan cara orang yang benar-benar akan menunggu dan tidak sedang melakukan pengorbanan apa pun.


Aku berjalan sendirian.

Pak Salim di jalur kelima. Dia mengangkat tangan. Aku mengangkat tangan.

Dan aku berjongkok di depan dua nisan itu dan membagi sembilan tangkai.

Empat di kiri. Lima di kanan.

Sudah begitu sejak bulan Desember tahun lalu. Sudah dua belas kali. Dan perasaan salah itu masih datang setiap kali, dan setiap kali aku membiarkannya, dan setiap kali dia pergi sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

Aku duduk di rumput.

“Nay.”

Matahari jam sembilan lewat. Bayangan pohon belum bergeser jauh.

“Enam tahun.”

Aku memegang rumput dengan satu tangan.

“Aku mau cerita beberapa hal, dan yang terakhir agak berat, jadi aku mulai dari yang gampang.”


“Cabai aku hidup sebelas dari empat belas.”

Aku menarik napas.

“Aku tahu kamu bakal ketawa. Kamu boleh ketawa. Kamu nggak pernah bisa nanam apa pun—Ibu cerita soal kangkung SMA itu, Nay, dan aku nggak pernah tahu selama enam tahun kita nikah.”

Aku menggeleng.

“Aku nggak pernah nanya. Itu yang bikin aku kesel sama diri sendiri sekarang. Aku hidup sama kamu enam tahun dan ada seluruh bagian dari kamu yang aku nggak pernah nanya.”

Aku menatap nisan sebelah kiri.

“Kedua: aku masang foto kita di ruang tamu.”

Aku menelan.

“Yang nikahan. Yang gede. Di lubang paku yang lama, Nay, yang sama persis, karena aku ngukur jaraknya.”

Aku menutup mataku sebentar.

“Dan sepuluh lagi di lorong. Termasuk yang di halaman kontrakan. Yang Bumi megang selang.”

Aku membuka mataku.

“Aku ngeliatnya tiap hari sekarang. Tiap kali aku ke kamar mandi. Delapan sampai dua belas kali sehari.”

Bunyi mesin potong rumput dari jalur kelima.

“Dan itu susah, Nay. Aku nggak akan bohong. Ada hari-hari di mana aku jalan lewat lorong itu dan aku harus berhenti.”

Aku mengangkat bahu.

“Tapi aku berhenti sambil berdiri. Bukan sambil duduk di lantai.”


“Yang ketiga.”

Dan aku berhenti selama mungkin dua menit.

“Clara ada di mobil.”

Aku memandang ke arah parkiran, ke arah pohon, ke arah tempat mobilku diparkir dan tidak terlihat dari sini.

“Dia nunggu. Aku yang minta. Nanti aku balik ambil dia.”

Aku mengusap wajahku.

“Nay, aku nggak minta izin. Aku udah bilang tahun lalu dan aku masih berdiri di kalimat itu. Aku nggak nanya boleh apa nggak.”

Aku menelan.

“Tapi aku mau kamu tahu bahwa dia ada, dan aku mau kamu tahu namanya, dan aku mau ini bukan sesuatu yang aku sembunyiin dari kamu kayak aku nyembunyiin semuanya dulu.”

Aku memegang lututku dengan kedua tangan.

“Karena itu yang aku lakuin ke kamu selama enam tahun,” kataku. “Aku nggak bohong sama kamu sekali pun, Nay. Tapi aku nggak pernah cerita apa-apa.”

Ada burung di pohon. Ada bunyi motor dari jalan.

“Jadi aku cerita sekarang,” kataku. “Telat enam tahun. Tapi aku cerita.”


Dan lalu aku mengucapkan yang terakhir.

Aku sudah menyiapkannya selama dua bulan. Aku sudah menuliskannya di catatan ponsel dan menghapusnya. Aku sudah membicarakannya dengan Bu Ratih tiga sesi berturut-turut.

“Nay, aku mau nikah lagi.”

Bunyi mesin potong rumput berhenti.

Aku duduk di rumput di depan dua nisan itu dan mendengar diriku sendiri mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya.

“Belum. Aku belum nanya ke dia. Aku belum siap dan mungkin dia juga belum.”

Aku menarik napas dan tidak bisa mengeluarkannya dengan benar.

“Tapi aku mau. Dan aku udah mau dari bulan Agustus. Dan aku nyimpen itu empat bulan karena tiap kali aku mikirin, ada bagian dari aku yang—“

Suaraku berhenti.

Dan di situ, di rumput, jam setengah sepuluh pagi tanggal sembilan Desember, aku merasakan seluruh mesin itu menyala sekaligus.

Enam tahun. Setiap sistemnya. Semuanya, dalam waktu kurang dari dua detik, dengan bunyi yang sangat halus dan sangat familiar.

Kamu nggak boleh.

Kamu nggak berhak.

Kamu duduk di sini dan kamu bilang kamu mau nikah lagi.

Enam tahun lalu kamu bilang minggu depan.

Aku memegang rumput dengan kedua tangan.


Dan lalu aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan, yang tidak ada di catatan ponsel, yang tidak pernah kubicarakan dengan Bu Ratih.

Aku mengucapkannya keras-keras.

Bukan kepada Naya. Bukan kepada Bumi. Bukan kepada langit atau tanah atau apa pun.

Kepada diriku sendiri, di rumput, dengan suara yang cukup keras untuk kudengar sendiri:

“Boleh, kok.”


Dua kata itu.

Aku pernah mendengarnya dua kali sebelumnya.

Pertama di teras toko bunga di Sukaluyu, di bulan Oktober, waktu aku bertanya apakah aku boleh datang tanpa melakukan apa-apa, dan seorang perempuan yang baru kukenal tiga bulan menjawab dengan nada orang yang menjelaskan jam buka toko.

Kedua di teras toko bunga di Cikutra, di bulan April, waktu perempuan yang sama berlutut di depan kursi plastik hijau dan bilang bahwa aku boleh tidak sanggup.

Dan keduanya lepas dari klip itu selama beberapa detik, dan keduanya kupasang kembali sendiri sebelum aku sampai di rumah.

Kali ini tidak ada yang mengucapkannya untukku.

Aku duduk di rumput di depan dua nisan dan mengucapkannya sendiri, dengan mulutku sendiri, ke telingaku sendiri, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memberikannya padaku.

Dan aku mengucapkannya lagi.

“Boleh, kok.”

Dan yang terjadi bukan kelegaan.

Yang terjadi adalah aku menangis di rumput pemakaman jam setengah sepuluh pagi hari Selasa dengan cara yang cukup keras sehingga Pak Salim mematikan mesinnya di jalur kelima dan tidak menyalakannya lagi selama dua puluh menit.


Aku selesai jam sepuluh.

Aku mengusap wajahku dengan lengan dan berdiri dan membersihkan celanaku dari rumput.

Dan sebelum pergi, aku menoleh ke nisan sebelah kanan.

Bumi Arsanta Wisesa.

“Kamu bakal suka dia,” kataku. “Dia jualan bunga. Dia punya gunting banyak.”

Dan aku berjalan kembali ke parkiran.


Clara masih di mobil.

Dia melihatku datang dan wajahnya berubah, dan dia membuka pintu, dan aku menahan pintunya sebelum dia turun.

“Aku nggak apa-apa.”

“Aditya, muka kamu—“

“Aku tahu.” Aku berjongkok di sebelah pintu mobil. “Ra, aku nggak apa-apa. Yang ini yang bagus.”

Dan aku melihat dia memutuskan untuk percaya, dan itu adalah salah satu hal tersulit yang bisa dilakukan seseorang, dan dia melakukannya dalam waktu dua detik.

“Oke.”

“Kamu mau ikut?”

“Iya.”

Dan aku berdiri, dan dia turun, dan kami berjalan ke sana bersama-sama.


Aku tidak akan menceritakan bagian itu dengan detail.

Bukan karena berat. Karena bagian itu bukan punyaku sendirian lagi, dan ada hal-hal yang harus disimpan oleh orang yang ada di dalamnya.

Yang bisa kuceritakan:

Clara berjongkok. Tentu saja dia berjongkok—dia bekerja dengan tanah, berjongkok adalah posisi kerjanya, dan dia melakukannya tanpa berpikir sama sekali.

Dia melihat sembilan krisan itu.

Dan dia berkata: “Empat sama lima.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku berdiri di sebelahnya dan berkata: “Dulu lima sama empat. Aku ganti tahun lalu.”

“Kenapa?”

“Aku nggak tahu,” kataku. “Aku beneran nggak tahu, Ra. Selama lima tahun tangan aku selalu ngasih lima ke kiri dan aku nggak pernah ngerti kenapa.”

Clara memegang salah satu tangkai dan memutarnya sedikit—refleks, murni refleks, gerakan orang yang tidak bisa melihat bunga miring tanpa membetulkannya.

“Aku ngerti,” katanya.

Aku menoleh.

“Kamu ngerti?”

Dan Clara Evangelista berjongkok di depan dua nisan yang baru pertama kali dia lihat dan berkata:

“Kamu ngasih lebih banyak ke orang yang kamu ajak berantem.”


Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Naya yang kamu ajak ngomong terakhir,” katanya. “Naya yang kamu berantemin. Naya yang kamu bilang minggu depan.”

Dia berdiri, membersihkan tangannya di celana.

“Bumi nggak pernah kamu apa-apain,” katanya. “Bumi empat tahun. Bumi nggak punya bagian dalam cerita itu sama sekali.”

Dia menoleh ke arahku.

“Jadi tangan kamu ngasih lebih banyak ke sisi yang punya utang,” katanya. “Dan tahun lalu kamu balik, dan itu bukan karena kamu nyerah. Itu karena kamu berhenti mikirin ini sebagai utang.”

Aku menatap dua nisan itu.

Empat di kiri.

Lima di kanan.

Dan sesuatu yang sudah enam tahun tidak masuk akal tiba-tiba masuk akal, dijelaskan dalam waktu empat puluh detik oleh seorang penjual bunga yang tidak pernah bertemu satu pun dari mereka.


Kami pulang jam sebelas.

Di mobil, sebelum menyalakan mesin, aku duduk dengan kedua tangan di setir.

“Ra.”

“Hm.”

“Makasih.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

Dan Clara berkata: “Karena tiap kali kamu bilang makasih, kamu nutup sesuatu.”

Dan aku tertawa—sungguhan, keras, dengan cara yang membuat dadaku sakit sedikit—dan aku menyalakan mesin dan keluar dari gerbang pemakaman.

Dan di sepanjang jalan pulang, di lima puluh dua kilometer per jam, dengan radio menyala di volume rendah dan tangan Clara di tuas persneling di bawah tanganku, aku memikirkan satu hal.

Aku memikirkan bahwa di laci ruang kerja, di bawah dokumen rumah, di sebelah map cokelat yang sekarang isinya sembilan lembar yang sudah kubaca semuanya—

Ada kotak kecil yang kubeli hari Kamis lalu.

Dan bahwa aku belum tahu kapan.

Dan bahwa untuk pertama kalinya dalam enam tahun, belum tahu kapan terasa seperti sesuatu yang hidup, bukan seperti sesuatu yang ditunda.