← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Forty Eight

Empat Lubang Paku

POV: Aditya


Ibu Naya datang ke Bandung bulan Agustus.

Itu pertama kalinya dalam lima setengah tahun. Selama ini selalu aku yang ke Cimahi—empat sampai enam kali setahun, dengan mobil, dengan buah-buahan di kursi belakang.

Sarah yang mengantarnya.

Mereka sampai jam sepuluh pagi hari Sabtu, dan Ibu Naya berdiri di depan pagar rumahku selama beberapa detik sebelum masuk.

“Ini halamannya kenapa?” tanyanya.

“Saya bongkar, Bu.”

“Kok dibongkar?”

“Buat nanam.”

Dan Ibu Naya, tujuh puluh empat tahun, berjalan ke petak tanah dua meter kali satu setengah di sisi kanan pagar dan berjongkok di depannya dengan cara yang membuat Sarah langsung maju untuk memegang lengannya.

“Bu, hati-hati.”

“Ibu bisa jongkok.”

Dan dia memegang salah satu daun cabai dengan dua jari.

“Ini cabai apa?”

“Rawit, Bu. Ada empat belas pohon.”

“Empat belas?”

“Yang hidup sebelas.”

Dan Ibu Naya berjongkok di halaman rumahku selama mungkin satu menit, dan lalu dia berkata—tanpa menoleh, dengan suara yang sama sekali biasa:

“Naya nggak bisa nanam apa-apa.”

Aku berdiri di belakangnya.

“Iya, Bu.”

“Semua yang dia tanam mati.” Dia berdiri, dengan bantuan Sarah. “Waktu SMA dia coba nanam kangkung buat tugas. Mati. Ibu yang ganti pakai punya tetangga biar dia nggak nangis.”

Dan dia berjalan ke teras dan melepas sandalnya dan masuk ke rumahku.


Kami minum teh di ruang tamu.

Dan sekitar jam sebelas, Ibu Naya melihat ke dinding.

Aku tahu dia akan melihatnya. Aku sudah tahu sejak dua minggu lalu waktu Sarah bilang Ibu mau ikut ke Bandung.

Empat lubang paku.

Ditutup dempul, tidak dicat ulang, di ketinggian yang jelas dulu ada sesuatu.

“Dit.”

“Iya, Bu.”

“Itu yang di dinding.”

“Iya.”

“Yang dulu digantung di situ apa?”

Dan aku duduk di sofa rumahku sendiri dan berkata:

“Foto nikahan, Bu.”


Ibu Naya mengangguk pelan.

“Yang di rumah Ibu masih ada,” katanya. “Yang gede, yang di ruang tamu.”

“Iya, Bu. Saya lihat tiap ke sana.”

“Kamu lihat?”

Dan aku berhenti.

Karena kalimat itu diucapkan dengan nada yang tidak menuduh sama sekali, dan karena jawaban yang benar adalah tidak.

“Nggak, Bu,” kataku. “Lima tahun saya nggak pernah lihat. Saya baru lihat bulan Desember kemarin.”

Sarah menoleh ke arahku.

Ibu Naya memegang cangkirnya dengan dua tangan.

“Ibu tahu,” katanya.

“Bu—“

“Ibu tahu, Dit.” Dia meletakkan cangkirnya. “Kamu tiap dateng duduk di kursi yang membelakangi rak. Lima tahun. Ibu ngitung.”

Ada bunyi anak Sarah dari halaman belakang.

“Dan Ibu nggak pernah bilang apa-apa,” katanya, “karena Ibu pikir kalau Ibu bilang, kamu nggak akan dateng lagi.”


Aku tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.

Dan lalu aku berkata: “Bu, saya mau minta sesuatu.”

“Apa?”

“Saya mau minta izin nyetak foto.”

Ibu Naya mengerutkan kening.

“Izin apa? Itu foto kamu.”

“Iya, Bu, tapi—“

“Dit.” Dia menepuk lututnya sendiri. “Kamu ini minta izin ke Ibu buat nyetak foto istri kamu sendiri?”

Dan Sarah, dari kursi seberang, mengeluarkan bunyi yang setengah tawa dan setengah lainnya.

“Ya Allah, Mas.”

“Aku cuma—“

“Mas Aditya minta izin ke semua orang buat semua hal,” kata Sarah. “Ini bukan hal baru, Bu.”

Dan Ibu Naya menggeleng, dan mengambil cangkirnya lagi, dan berkata:

“Cetak, Dit. Yang gede. Yang bagus.”


Aku membuka laptopnya hari Minggu.

Sendirian. Jam sembilan pagi, di ruang kerja, dengan pintu terbuka dan seluruh lampu rumah menyala.

Bu Ratih bertanya, di sesi sebelumnya, apakah aku ingin ada yang menemani.

Aku bilang tidak.

Dia bertanya apakah itu keputusan atau kebiasaan.

Dan aku duduk di ruangannya selama mungkin dua menit sebelum bilang bahwa aku tidak tahu, dan dia bilang bahwa itu jawaban yang lebih baik daripada tidak, dan lalu dia bilang sesuatu yang membuatku memutuskan:

“Pak, ada bedanya antara sendirian dan sendiri. Yang satu artinya nggak ada orang. Yang satu lagi artinya Bapak yang milih.”

Jadi aku memberi tahu Clara.

Sabtu malam, di teras, sebelum pulang: Besok pagi aku buka laptopnya.

Dan dia bilang: “Oke.”

Dan lalu, setelah beberapa detik: “Aku buka toko jam sembilan. Kalau kamu telepon, aku angkat.”

Itu saja.

Tidak ada tawaran untuk datang. Tidak ada tanya apakah aku yakin.

Cuma: kalau kamu telepon, aku angkat.


Foldernya berisi empat ribu tiga ratus dua puluh satu file.

Aku duduk di depan layar itu selama mungkin lima menit sebelum menyentuh apa pun.

Empat ribu.

Aku tidak pernah membayangkan angkanya. Kalau ada yang bertanya, aku akan menebak beberapa ratus.

Empat ribu tiga ratus dua puluh satu.

Enam tahun pernikahan dan empat tahun kehidupan seorang anak, dalam bentuk file yang disusun berdasarkan tanggal oleh perangkat lunak yang tidak tahu apa-apa tentang apa pun.

Aku membuka yang pertama.


Aku tidak bisa menceritakan bagian tengahnya dengan benar.

Aku duduk di ruang kerja itu dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Aku tidak makan. Aku minum air dua kali. Aku menangis mungkin lima kali, dan tertawa mungkin tiga kali, dan ada satu periode sekitar empat puluh menit di mana aku tidak melakukan keduanya dan cuma duduk memandang layar sambil menggulir dengan sangat pelan.

Ada foto-foto yang tidak kuingat sama sekali.

Ada foto-foto yang kuingat setiap detiknya.

Ada dua ratus tiga puluh foto yang diambil dalam satu hari di bulan Juli tahun kedua, semuanya di pantai, sebagian besarnya buram dan miring karena diambil oleh anak umur dua tahun yang diberi ponsel ibunya dan tidak ada yang menghentikannya.

Ada tiga video.

Aku tidak membuka videonya. Belum. Aku menuliskannya di catatan untuk Bu Ratih dan aku akan membukanya nanti, mungkin tahun depan, mungkin tidak.

Dan ada foto tanggal dua puluh sembilan.

Halaman rumah kontrakan kami. Bumi dengan selang. Naya di belakangnya, tertawa, dengan celana yang basah di bagian bawah.

Sebelas hari sebelum.

Aku membukanya dan menatapnya selama sembilan menit.

Dan yang terjadi bukan yang kutakutkan.

Yang terjadi adalah aku melihat wajah istriku, dan wajah istriku sedang tertawa, dan aku menyadari bahwa aku sudah lupa bentuk wajahnya waktu tertawa.

Aku ingat wajahnya. Aku ingat semuanya.

Tapi aku sudah lima setengah tahun mengingatnya dari dua foto yang sama yang ada di ponselku, dan di kedua foto itu dia tidak tertawa.


Aku memilih sebelas foto.

Butuh dua jam.

Dan waktu selesai, jam tiga sore, aku menyalin sebelas file itu ke flashdisk dan menutup laptopnya dan meletakkannya di rak.

Bukan rak bawah lemari.

Rak buku di ruang kerja, di tempat yang terlihat, di sebelah dua buku manual perangkat keras yang tidak relevan sejak sepuluh tahun lalu.

Lalu aku mengambil ponsel dan menelepon Clara.

Dia mengangkat di deringan pertama.

“Aditya.”

“Hai.”

“Kamu gimana?”

Dan aku duduk di ruang kerja rumahku dengan flashdisk di tangan dan berkata:

“Aku capek banget, Ra.”

“Iya.”

“Tapi aku nggak apa-apa.”

“Oke.”

“Beneran nggak apa-apa. Bukan yang itu.”

“Aku tahu,” katanya. “Aku denger bedanya.”

Dan aku menutup mataku dan duduk di kursi itu dengan ponsel di telinga, dan kami tidak bicara selama mungkin satu menit, dan tidak ada satu pun dari kami yang menutup teleponnya.


Aku mencetaknya hari Senin.

Studio foto di daerah Antapani, yang bapaknya sudah tua dan yang mencetak dengan mesin yang lebih tua lagi, dan yang bertanya apakah aku mau dibingkai sekalian.

Aku bilang iya.

Dia bertanya mau bingkai apa.

Dan aku berdiri di studio foto itu selama empat menit tidak bisa memutuskan, sampai bapaknya bilang: “Kalau buat rumah, yang kayu aja, Mas. Yang plastik itu buat kantor.”

Yang paling besar adalah foto pernikahan. Empat puluh kali enam puluh.

Sisanya lebih kecil.


Aku memasangnya hari Selasa sore.

Dan aku memasangnya di dinding ruang tamu, di empat lubang paku yang sudah lima setengah tahun ditutup dempul dan tidak pernah dicat ulang.

Bornya tidak kupakai.

Aku memakai paku yang sama. Empat lubang yang sama, di tempat yang sama, dengan jarak yang sama—karena bingkai yang kubeli ukurannya sama dengan yang dulu, karena aku sengaja mengukurnya dari jarak lubangnya.

Butuh dua puluh menit.

Dan waktu selesai, aku mundur tiga langkah dan berdiri di tengah ruang tamu rumahku sendiri dan melihat foto pernikahanku tergantung di dinding untuk pertama kalinya sejak bulan Januari tahun pertama.

Aku dan Naya. Sembilan tahun lalu.

Dua orang berumur dua puluh empat tahun yang belum tahu apa-apa.

Aku berdiri di sana selama mungkin sepuluh menit.

Dan lalu aku memasang yang lain.


Sepuluh foto lagi, di dinding lorong.

Lorong yang selama lima setengah tahun cuma punya tiga pintu dan tidak punya apa-apa lagi.

Bumi umur satu tahun, di kursi makan, dengan seluruh wajah tertutup bubur.

Naya di dapur kontrakan pertama, membelakangi kamera, sedang mengaduk sesuatu.

Bumi dan aku di kolam renang perumahan, keduanya memakai pelampung, keduanya jelas panik.

Naya di rumah sakit, hari Bumi lahir, dengan wajah yang belum sempat dicuci dan mata yang setengah tertutup dan senyum yang tidak pernah bisa kutiru dengan cara apa pun.

Dan yang terakhir, yang kupasang paling dekat dengan pintu ketiga:

Halaman rumah kontrakan. Selang. Celana yang basah di bagian bawah. Tawa.


Clara datang hari Rabu.

Dia berdiri di ambang pintu depan dan tidak masuk selama beberapa detik.

Aku tahu dia sedang melihat dinding.

“Aditya.”

“Hm.”

“Itu—“

“Iya.”

Dan dia masuk, dan berjalan ke tengah ruang tamu, dan berdiri di depan foto empat puluh kali enam puluh itu untuk waktu yang cukup lama.

Aku berdiri di belakangnya dan tidak berkata apa-apa.

“Dia cantik,” kata Clara.

“Iya.”

“Kamu kurus banget.”

“Aku dua puluh empat.”

“Rambut kamu—“

“Jangan.”

Dan dia tertawa, dan aku tertawa, dan lalu dia diam lagi selama beberapa detik.

“Aditya.”

“Hm.”

“Makasih.”

Aku mengerutkan kening.

“Buat apa?”

Dan Clara berbalik dan menatapku di tengah ruang tamu rumahku, dengan foto pernikahanku dan istriku yang sudah meninggal tergantung di dinding di belakangnya, dan berkata:

“Karena kamu nggak nyimpen mereka di kamar tertutup terus ngajak aku ke rumah yang kosong.”

Dia menggeleng.

“Itu bukan buat aku,” katanya. “Aku tahu itu bukan buat aku. Tapi aku tetep pengen bilang makasih.”


Malam itu, sebelum dia pulang, kami berdiri di lorong.

Sepuluh foto di dinding kiri. Tiga pintu di dinding kanan.

Dan Clara berhenti di depan yang terakhir—halaman, selang, tawa—dan menatapnya lebih lama daripada yang lain.

“Ini kapan?” tanyanya.

Dan aku berdiri di lorong rumahku dan berkata, tanpa jeda sama sekali:

“Sebelas hari sebelum.”

Clara mengangguk.

Dia tidak berkata satu kata pun tentang itu. Dia tidak bilang maaf. Dia tidak bilang bahwa aku hebat karena memasangnya.

Yang dia lakukan adalah menggeser sedikit dan berdiri di sebelahku, dan kami berdua menatap foto itu bersama-sama selama mungkin satu menit.

Lalu dia berkata:

“Celananya basah karena selangnya kena kaki, ya?”

“Iya.”

“Kamu yang megang selangnya?”

“Bumi.”

Dan Clara tertawa.

Dan aku ikut tertawa, di lorong rumahku, di depan foto istri dan anakku, sebelas hari sebelum semuanya.

Dan tidak ada satu pun bagian dari diriku yang menghitung berapa detik tawa itu berlangsung.