Chapter Thirty
Laptop
POV: Aditya
Tanggal tiga puluh satu Desember, Bandung macet total dari jam lima sore.
Kami tidak ke mana-mana.
Itu keputusan yang diambil dalam waktu empat detik, sekitar jam dua siang, waktu Clara mengangkat wajahnya dari ponsel dan berkata “kayaknya semua tempat penuh” dan aku bilang “ya udah di rumah aja” dan dia bilang “oke.”
Empat detik.
Aku menghabiskan sisa sore itu menyadari betapa mudahnya itu.
Kami masak.
Bukan masak besar. Nasi goreng, telur, kerupuk, dan sambal yang Clara buat dengan cabai rawit dalam jumlah yang menurutku tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis.
“Kamu nggak bisa makan segitu.”
“Bisa.”
“Ra, itu dua puluh biji.”
“Delapan belas.”
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung.”
Dan dia memakannya, seluruhnya, dengan mata yang berair di suapan kelima dan wajah yang menolak mengaku, dan aku memberinya segelas air yang dia tolak dan lalu dia ambil.
Kami makan di meja makan.
Aku sudah berhenti mencatat hal itu sebagai peristiwa sekitar bulan lalu.
Sekitar jam delapan, Kayla datang ke pagar.
“Om Adit!”
“Kayla.”
“Aku mau lihat kembang api dari sini boleh nggak?”
“Boleh. Mamah tahu?”
“Tahu. Mamah lagi masak.”
Dan dia duduk di teras dengan kaki menggantung dari ubin, dan Clara membawakannya kerupuk, dan Kayla menghabiskan dua puluh menit menjelaskan sistem klasifikasi kembang api yang dia dan temannya susun sendiri dan yang sama sekali tidak masuk akal.
“Yang paling bagus itu yang bunyinya duar terus ada asepnya lama.”
“Kenapa asepnya penting?”
“Karena kalau asepnya lama, artinya dia mahal.”
“Kayla belajar itu dari mana?”
“Dari Kakak aku.”
“Kakak kamu umur berapa?”
“Sembilan.”
Dan aku duduk di kursi teras dengan gelas teh di tangan, dan aku merasakan angka itu lewat, dan aku membiarkannya lewat, dan tidak ada yang jatuh.
Kayla pulang jam setengah sembilan waktu ibunya berteriak dari ujung blok.
“Om!”
“Hm?”
“Besok Om setel remnya, ya?”
Dan aku bilang: “Iya.”
Aku bilang iya sambil berdiri, sambil mengangkat gelas kosong, sambil setengah menoleh ke arah Clara yang sedang tertawa karena sesuatu di ponselnya.
Aku bahkan tidak melihat ke arah Kayla waktu mengucapkannya.
Aku ingat itu. Nanti, aku akan mengingat itu dengan sangat detail: bahwa aku tidak melihat ke arahnya.
Jam sepuluh malam, Bram mengirim video anaknya menyalakan kembang api sambil berteriak.
Bu Yuli mengirim pesan di grup RT berisi lima paragraf tentang syukur dan harapan yang jelas diteruskan dari grup lain, dengan tujuh emoji di akhir.
Sarah mengirim: Mas, selamat tahun baru. Semoga tahun ini lebih ringan.
Aku menatap pesan Sarah lebih lama daripada dua yang lain.
Lebih ringan.
Bukan lebih baik. Bukan penuh berkah. Lima tahun dia mengirim pesan tahun baru dan aku baru sadar malam itu bahwa dia tidak pernah sekali pun mengirim kalimat yang mengandaikan sesuatu selesai.
Aku mengetik: Sama-sama Sar. Kamu juga.
Lalu aku menghapusnya dan mengetik:
Sar, makasih ya. Bulan depan aku ke Cimahi lagi.
Terkirim.
Balasannya masuk dalam sepuluh detik, dan isinya cuma satu kata dengan tanda seru yang tidak pernah dia pakai dalam lima tahun.
Jam sebelas kurang, Clara tertidur di sofa.
Dengan cara yang sudah kukenali sekarang: kepala ke sandaran, kaki dilipat, satu tangan masih memegang gelas yang harus kuambil sebelum tumpah.
Aku duduk di sebelahnya dengan TV yang menyala di volume kecil.
Dan sekitar jam sebelas lewat, aku berdiri.
Aku tidak merencanakannya.
Aku ingin mencatat itu, karena semua hal yang kulakukan dalam lima tahun terakhir sudah direncanakan, sebagian besarnya berminggu-minggu sebelumnya, sebagian lagi bertahun-tahun.
Yang ini tidak.
Aku berjalan ke ruang kerja. Aku membuka lemari. Aku berlutut di depan rak bawah.
Laptopnya di sana. Hitam, engselnya longgar, stiker konferensi 2017 yang sudah menguning di sudut.
Aku mengeluarkannya.
Aku membawanya ke meja. Aku mencolok chargernya—kebiasaan dua minggu sekali selama lima tahun, dua ratus enam puluhan kali, sehingga tanganku tahu lubangnya tanpa melihat.
Lampu indikatornya menyala oranye.
Dan aku duduk di depannya, dan aku membuka layarnya, dan aku menekan tombol power.
Butuh empat puluh detik untuk menyala.
Empat puluh detik itu panjang sekali.
Layarnya masuk ke halaman kunci. Wallpapernya masih yang lama—foto yang diambil di Pangandaran, pantai kosong, tidak ada orang di dalamnya. Aku ingat memilihnya karena Naya tidak suka wallpaper yang ada orangnya, katanya kayak orang yang butuh diingatkan.
Kolom sandi.
Dan aku duduk di depan laptop itu dan menyadari bahwa aku tidak ingat sandinya.
Aku hampir tertawa.
Lima tahun. Ratusan malam. Semua ketakutan itu, seluruh arsitektur menghindar itu, semua tenaga yang kupakai untuk tidak membuka benda ini—
Dan aku tidak ingat sandinya.
Aku mencoba tiga kali. Tanggal lahir Naya. Tanggal lahir Bumi. Tanggal pernikahan.
Salah semua.
Dan lalu, di percobaan keempat, tanganku mengetik sesuatu sebelum kepalaku sempat menyusul, dan aku menonton jari-jariku mengetik delapan karakter yang tidak berarti apa pun bagiku secara sadar.
Layarnya terbuka.
Aku tidak membuka folder fotonya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena akan lebih rapi kalau aku membukanya.
Aku duduk di depan desktop yang sudah lima tahun tidak berubah—ikon-ikon yang tersusun persis seperti terakhir kali, dokumen kerja yang tidak lagi relevan, folder bernama Foto di pojok kanan bawah—dan aku menatap folder itu selama mungkin tiga menit.
Lalu aku menutup layarnya.
Bukan mematikan. Menutup.
Dan aku duduk di ruang kerja dengan tangan di atas laptop yang tertutup dan bernapas dengan cara yang sangat buruk selama beberapa menit.
Aku ingin menjelaskan kenapa aku tidak membukanya, tapi setiap penjelasan yang kususun terdengar seperti pembelaan.
Yang paling dekat dengan benar adalah ini: aku tahu apa yang ada di dalam folder itu.
Bukan isinya—aku tidak ingat isinya. Aku tidak tahu ada berapa. Aku tidak tahu foto terakhirnya apa.
Yang aku tahu adalah bahwa ada satu foto di sana yang diambil sebelas hari sebelum kejadian.
Aku tahu karena aku yang mengambilnya. Sabtu sore, di halaman rumah kontrakan kami yang waktu itu masih ada tanahnya, dengan Bumi yang sedang mencoba menyiram tanaman dan Naya di belakangnya yang sedang tertawa karena selangnya kena kaki.
Aku ingat mengambilnya. Aku ingat kami bertiga di halaman itu sore itu.
Dan aku ingat bahwa di sore yang sama, sekitar dua jam kemudian, Naya menyebutkan bunyi getar di belakang mobil.
Foto itu ada di sana. Di dalam folder itu. Dengan metadata dan tanggal dan jam.
Dan aku tidak bisa membukanya, karena kalau aku melihat foto itu aku tidak akan bisa lagi berpura-pura bahwa aku tidak ingat harinya.
Lalu aku menyadari ada seseorang di ambang pintu.
Clara berdiri di sana dengan selimut di bahu.
“Aku bangun,” katanya.
“Iya.”
“Kamu nggak ada.”
“Iya.”
Dia tidak masuk. Dia berdiri di ambang pintu ruang kerja rumahku dan melihat laptop di meja dan tidak bertanya apa-apa.
“Aku nyalain,” kataku.
“Oke.”
“Aku nggak buka apa-apa.”
“Oke.”
“Aku lupa sandinya.” Aku tertawa, dan tawanya keluar salah. “Lima tahun, Ra. Aku lupa sandinya.”
Clara berjalan masuk.
Dia berjalan ke belakang kursiku dan meletakkan kedua tangannya di bahuku dan berdiri di sana, dan tidak berkata satu kata pun selama mungkin satu menit penuh.
“Kamu inget akhirnya?” tanyanya.
“Iya.”
“Apa?”
Dan aku duduk di ruang kerja rumahku sendiri pada malam tahun baru dengan seseorang berdiri di belakangku, dan aku berkata:
“Nama jalan rumah kontrakan pertama kami. Sama nomornya.”
Clara mengencangkan tangannya di bahuku.
“Aku nggak inget itu secara sadar,” kataku. “Tangan aku yang inget.”
“Iya.”
“Tangan aku selalu inget hal-hal yang aku nggak minta.”
Dan dia menunduk dan mencium bagian atas kepalaku, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dan kami tinggal di ruangan itu sampai lewat tengah malam.
Kembang apinya mulai jam dua belas.
Kami mendengarnya dari dalam—kompleks perumahan di Bandung pada malam tahun baru berbunyi seperti kota yang sedang diserang, selama sekitar dua puluh menit, dan lalu berhenti hampir sekaligus.
Kami tidak keluar.
Aku duduk di kursi ruang kerja dengan Clara di pangkuanku dan laptop yang tertutup di meja, dan kami mendengarkan kembang api orang lain sampai selesai.
“Selamat tahun baru,” katanya.
“Selamat tahun baru.”
“Aditya.”
“Hm.”
“Aku mau bilang sesuatu, dan aku udah mikirin ini dari Cirebon.”
Aku menegakkan punggung sedikit.
“Aku nggak akan ambil Jakarta,” katanya.
Ada beberapa detik di mana aku tidak berkata apa-apa.
Dan aku ingin sekali menulis bahwa yang kurasakan adalah senang.
Sebagian memang senang. Sebagian besar, mungkin.
Tapi ada bagian lain yang menyala dalam waktu kurang dari satu detik, dan bagian itu berkata: sekarang kamu berutang.
Aku menutup mataku.
“Ra.”
“Hm.”
“Kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa nggak ambil.” Aku menggeser supaya bisa melihat wajahnya. “Dan aku mau kamu jawab yang bener, bukan yang enak.”
Clara menatapku.
“Karena aku nggak mau kerja di tempat yang aku nggak megang guntingnya,” katanya.
“Itu aja?”
“Bukan itu aja.”
“Terus?”
Dan dia mengambil napas.
“Kamu juga alasannya,” katanya. “Sebagian. Aku nggak akan bohong dan bilang kamu nggak ada di hitungan, karena kamu ada di semua hitungan aku.”
Aku merasakan sesuatu mengencang di dadaku.
“Tapi bukan alasan utamanya,” lanjutnya. “Dan aku tahu bedanya karena aku udah nguji sendiri.”
“Nguji gimana?”
“Aku bayangin kamu nggak ada.” Dia mengucapkannya tanpa berkedip. “Aku bayangin kita putus bulan depan, terus aku tetep harus mutusin Jakarta. Aku bayangin itu selama tiga malem di Cirebon.”
“Terus?”
“Terus jawabannya tetep nggak.”
Dan aku duduk di kursi ruang kerja dengan seseorang di pangkuanku dan bunyi kembang api yang mulai mereda di luar, dan aku merasakan sesuatu yang aneh sekali.
Aku merasakan lega.
Bukan lega karena dia tinggal.
Lega karena dia sudah menghitung tanpa aku.
Karena kalau dia sudah menghitung tanpa aku, maka aku tidak sedang berutang.
Dan kalau aku tidak sedang berutang, maka aku boleh senang.
Aku menarik napas dan mengeluarkannya, dan aku merasakan seluruh bahuku turun dengan cara yang bahkan Clara rasakan.
“Kamu ngapain barusan?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
“Aditya.”
“Aku baru dikasih izin,” kataku.
“Sama siapa?”
Dan aku tertawa, dan tawanya keluar benar untuk pertama kalinya malam itu.
“Sama diri aku sendiri,” kataku. “Dan itu paling susah.”
Aku belum mengirim emailnya, katanya sebelum tidur.
“Kenapa?”
“Karena Bu Ratna kasih waktu sampai akhir Januari, dan aku mau nulisnya bener.” Dia menarik selimut. “Dia bukan orang yang pantes dapet email dua paragraf.”
“Ra.”
“Hm?”
“Kamu boleh berubah pikiran.”
Dia membuka matanya.
“Apa?”
“Sampai akhir Januari.” Aku menatap langit-langit. “Kamu boleh berubah pikiran, dan aku nggak akan nganggep kamu bohong hari ini.”
Clara diam beberapa saat.
“Kenapa kamu bilang gitu?”
“Karena aku nggak mau jadi alasan kamu nggak bisa berubah pikiran,” kataku.
Dan dia tidak menjawab, dan sekitar dua menit kemudian aku pikir dia sudah tidur.
Lalu dia berkata, ke arah gelap:
“Kamu tahu itu kalimat orang yang lagi nyiapin diri buat ditinggal, kan?”
Aku tidak menjawab.
“Aditya.”
“Iya.”
“Aku nggak akan pergi.”
“Oke.”
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
Dan aku berbaring di kegelapan dengan mata terbuka sampai jam dua, dan yang terus berputar di kepalaku bukan Jakarta.
Yang terus berputar adalah bahwa aku sudah menyiapkan kalimat itu—kamu boleh berubah pikiran—entah sejak kapan. Sudah jadi. Sudah rapi.
Aku bahkan tidak ingat merancangnya.
Yang berarti bagian dari diriku sudah bekerja pada kalimat itu selama berminggu-minggu tanpa memberitahuku.
Dan aku berbaring di sana dan bertanya pada diriku sendiri, dengan sejujur yang bisa kulakukan jam dua pagi:
Kalimat itu untuk melindungi dia, atau untuk memastikan bahwa kalau dia pergi, aku sudah lebih dulu berdiri di dekat pintu.
Aku tidak menemukan jawabannya.
Aku tertidur sekitar jam tiga.
Dan aku bangun jam tujuh, hari pertama tahun itu, dengan matahari yang masuk lewat celah tirai dan seseorang yang masih tidur di sebelahku, dan untuk sekitar lima detik pertama sebelum kepalaku menyala, aku bahagia tanpa syarat apa pun.
Lima detik.
Itu paling lama yang pernah kudapat dalam lima tahun.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop reading
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu