Chapter Thirty Seven
Toko Tetap Buka
POV: Clara
Toko buka jam sembilan keesokan harinya.
Aku ingin mencatat itu karena selama berminggu-minggu sesudahnya, itu satu-satunya hal yang bisa kupegang: toko buka jam sembilan.
Aku bangun jam enam. Aku mandi. Aku naik motor ke Cikutra. Aku menaikkan rolling door, mengeluarkan rak teras, menyalakan selang.
Dan Tari sudah ada di sana.
Jam delapan lewat empat puluh, satu jam lebih awal dari jadwalnya, duduk di kursi plastik hijau dengan helm masih di pangkuan.
Dia melihat wajahku dan langsung tahu.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia berdiri, dan mengambil selang dari tanganku, dan bilang: “Teteh yang buku pesanan aja.”
Dan dia menyiram seluruh rak teras dan mengangkat semua ember dan menyapu dan mengelap kaca, dan pada jam sebelas dia sudah mengerjakan pekerjaan tiga hari, dan aku duduk di belakang meja kasir dan melayani pelanggan dan tidak menangis sekali pun sampai jam tutup.
Aku menangis di gudang jam delapan lewat.
Tari sudah pulang. Rolling door sudah setengah turun. Dan aku masuk ke gudang untuk mengambil sesuatu yang tidak kubutuhkan dan lalu aku tidak keluar selama dua puluh menit.
Gudang di Cikutra lebih besar dari yang di Sukaluyu. Dua setengah kali tiga.
Aku duduk di karung tanah dan menangis dengan cara yang tidak nyaman sama sekali, dengan punggung ke rak, di ruangan yang berbau tanah dan pupuk dan sisa cat.
Dan waktu selesai, aku mencuci muka di keran gudang, dan menurunkan rolling door, dan pulang.
Besoknya toko buka jam sembilan.
Aku memberi tahu Kak Rendy hari ketiga.
Bukan telepon jam setengah tiga pagi. Pesan biasa, jam delapan malam.
Kak, kami udah nggak sama-sama.
Balasannya masuk dua menit kemudian.
Kamu di mana sekarang?
Di toko.
Sendirian?
Iya.
Dan tiga puluh detik kemudian dia meneleponku, dan aku mengangkatnya, dan hal pertama yang dia katakan bukan pertanyaan.
“Ra, dengerin. Kakak nggak akan bilang nggak apa-apa.”
Aku menutup mataku.
“Kakak juga nggak akan bilang nanti juga baikan.”
“Iya.”
“Kakak cuma mau bilang,” katanya, “kalau kamu butuh telepon jam setengah tiga pagi lagi, telepon.”
“Kak—“
“Aku serius.” Suaranya berubah sedikit. “Dan Ra, ini penting. Kamu jangan mikir kamu ngerusak.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Kamu nggak ngerusak apa-apa,” katanya. “Orang itu udah punya alasannya sendiri sebelum kamu ada.”
“Aku bawa daftar, Kak.”
“Iya. Dan itu salah.” Dia tidak melunakkannya sedikit pun, dan entah kenapa itu yang membuatku bisa bernapas. “Tapi daftar itu nggak bikin orang pergi, Ra. Daftar itu cuma bikin orang yang udah mau pergi jadi punya tanggal.”
Aku tidak menghubunginya.
Itu keputusan yang kubuat pada malam pertama, di lantai kamar kos, dan yang kutuliskan di catatan ponsel supaya tidak berubah bentuk dalam dua hari.
Jangan chat. Jangan telepon. Jangan lewat komplek. Jangan tanya ke Bram.
Dan di bawahnya, sesuatu yang lebih sulit:
Jangan bikin dia jadi orang yang harus balik.
Karena aku sudah cukup lama mengenalnya sekarang. Aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku mengirim satu pesan.
Dia akan membalas. Dia akan membalas dengan sangat baik. Dia akan datang, kalau aku memintanya datang, dan dia akan membetulkan sesuatu, dan dia akan pulang merasa sedikit lebih lunas.
Dan aku akan mendapatkan potongan-potongan kecil dari seseorang yang sedang menghukum dirinya sendiri, dan aku akan memakannya, dan aku akan terus lapar.
Aku sudah pernah melakukan versi itu.
Enam tahun aku mendapat tiga baris dari kakakku setiap Idulfitri dan aku menyebutnya hubungan.
Bram menelepon hari kelima.
“Mbak Clara.”
“Mas Bram.”
“Saya nggak akan lama.” Suaranya hati-hati. “Saya cuma mau bilang saya tahu.”
“Iya.”
“Dan saya mau bilang satu hal, terus saya nggak akan ganggu lagi.”
“Iya, Mas.”
Dan Bram berkata: “Dia nggak baik-baik aja.”
Aku menutup mataku.
“Saya tahu itu kedengerannya kayak saya lagi mancing Mbak buat balik,” katanya cepat. “Bukan. Sumpah bukan. Saya nggak akan minta Mbak ngapa-ngapain.”
“Terus kenapa Mas bilang?”
Hening di seberang.
“Karena delapan bulan kemarin dia baik-baik aja,” katanya. “Dan itu bukan pura-pura. Saya kenal dia sembilan belas tahun, Mbak. Saya tahu bedanya.”
Aku memegang meja kasir dengan tangan bebasku.
“Dan saya cuma mau ada satu orang di dunia ini yang tahu itu beneran kejadian,” katanya. “Karena kalau nggak ada yang tahu, dia bakal ngerapiin ceritanya sendiri dalam tiga bulan sampai jadi kayak nggak pernah ada.”
Mei berjalan.
Toko jalan. Itu bagian yang paling tidak masuk akal: toko jalan dengan sangat baik.
Cikutra ternyata lebih ramai dari Sukaluyu. Empat puluh persen dari orang lewat ternyata jadi empat puluh delapan persen, karena jalan di depan lebih besar dan warung kopi di seberang menarik orang yang duduk-duduk.
Bu Rahma pindah. Katering pindah. Tiga puluh satu dari empat puluh satu nama di daftar Tari pindah dalam dua bulan pertama.
Omzet Mei naik sembilan persen dari Mei tahun lalu.
Aku menghitungnya di akhir bulan dan menatap angkanya cukup lama.
Sembilan persen.
Aku menghabiskan enam bulan takut angka ini turun. Aku menghitung berkali-kali sampai jam satu pagi. Aku hampir pindah ke Jakarta karena angka ini.
Dan angkanya naik.
Dan aku duduk di belakang meja kasir sendirian jam sembilan malam di akhir Mei dan mengerti, dengan sangat jelas, bahwa tidak ada satu pun angka yang bisa mengurus apa pun yang sebenarnya penting.
Aku hampir menghubungi Bu Ratna dua kali.
Yang pertama akhir Mei, jam sebelas malam, dan aku sudah membuka email dan mengetik dua kalimat sebelum menutupnya.
Yang kedua pertengahan Juni, dan yang ini lebih jauh: aku sudah menulis tiga paragraf.
Isinya jujur. Itu yang membuatku takut. Bukan email pura-pura—aku benar-benar menulis bahwa keadaanku berubah, bahwa kalau posisinya masih ada aku ingin membicarakannya lagi.
Dan setiap kalimatnya benar.
Aku menutup laptopnya jam setengah dua belas dan duduk di kasur kos dan bertanya pada diriku sendiri, dengan sejujur yang bisa kulakukan:
Apakah aku ingin ke Jakarta?
Atau apakah aku ingin berada di kota di mana aku tidak mungkin berpapasan dengan mobilnya di perempatan?
Aku tidak menemukan jawabannya malam itu.
Tapi aku tidak mengirim emailnya, dan aku tahu kenapa aku tidak mengirimnya, dan alasannya bukan alasan yang baik.
Aku tidak mengirimnya karena selama aku masih di Bandung, ceritanya belum selesai.
Aku melihatnya sekali di bulan Juni.
Perempatan Cikutra, hari Kamis sore, jam lima lewat. Aku di motor, berhenti di lampu merah, jalur kedua dari kanan.
Mobilnya di jalur berlawanan, empat mobil dari depan.
Aku mengenalinya sebelum aku sempat memutuskan untuk mengenalinya—bentuk atapnya, stiker servis di sudut kaca depan, cara dia berhenti dengan jarak dua meter dari mobil di depannya yang selalu lebih jauh dari orang lain.
Aku tidak menoleh.
Aku menatap lurus ke depan selama empat puluh detik sampai lampunya hijau, dengan jantung yang berdetak sampai ke telinga, dan aku jalan.
Dan sekitar dua ratus meter kemudian aku menepi di depan minimarket dan duduk di atas motorku selama sepuluh menit.
Bukan karena aku ingin menangis.
Karena aku menyadari sesuatu yang membuatku merasa sangat, sangat lelah.
Dia juga tidak menoleh.
Dan mobilnya berhenti dengan jarak dua meter dari mobil di depannya, seperti selalu, dan itu artinya dia baik-baik saja secara mekanis, dan itu artinya sistemnya menyala penuh.
Tari mengundangku ke pernikahan sepupunya bulan Juli.
Aku tidak mau datang. Aku bilang toko tidak bisa ditinggal.
“Teh, itu hari Minggu.”
“Minggu juga buka.”
“Minggu Teteh biasanya tutup jam dua.”
“Tahun ini nggak.”
Dan Tari berdiri di depan meja kasir dengan wajah yang sudah tidak bisa lagi dia sembunyikan sejak dua bulan.
“Teh Clara.”
“Hm.”
“Teteh udah nggak libur dari bulan April.”
Aku tidak menjawab.
“Aku ngitung,” katanya. “Delapan puluh satu hari.”
Aku meletakkan penaku.
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu inget, Teh. Itu kutukan.” Dan lalu suaranya berubah. “Dan aku tahu kenapa Teteh nggak libur.”
“Tari—“
“Karena kalau libur, nggak ada yang harus dikerjain.”
Dan dia mengambil sapu dan pergi ke teras, dan aku duduk di belakang meja kasir dengan pena di tangan dan mata yang panas.
Delapan puluh satu hari.
Aku menghitung ulang dan dia benar.
Dan aku duduk di sana dan menyadari bahwa aku sudah tiga bulan melakukan hal yang persis sama seperti orang yang meninggalkanku.
Aku menutup toko hari Minggu berikutnya.
Bukan untuk pernikahan sepupu Tari—itu sudah lewat. Untuk tidak ada apa-apa.
Aku bangun jam sembilan, yang belum pernah kulakukan sejak entah kapan. Aku sarapan di warung. Aku pergi ke pasar bunga bukan untuk membeli apa pun, cuma untuk berkeliling, dan Pak Endang melihatku dan langsung berteriak dari kiosnya.
“Neng Clara! Tumben nggak bawa apa-apa!”
“Lagi jalan-jalan aja, Pak.”
“Wah, bagus.” Dia menyodorkan kursi plastik. “Duduk.”
Dan aku duduk di kios Pak Endang jam sepuluh pagi hari Minggu dan minum kopi dan mendengarkan dia bercerita tentang cucunya selama empat puluh menit.
Dan di menit ke empat puluh satu, dia berkata—sambil mengikat tali rafia, tanpa menoleh:
“Mas Teman lagi apa?”
Aku memegang gelasku.
“Kami udah nggak sama-sama, Pak.”
Pak Endang berhenti mengikat.
“Oh.”
“Iya.”
Dia melanjutkan mengikat.
Dan setelah beberapa detik, dia berkata: “Neng inget nggak, empat tahun lalu Neng nggak bisa bayar dua bulan?”
“Inget, Pak.”
“Bapak nggak pernah nagih.”
“Iya, Pak. Saya tahu.”
“Neng tahu kenapa?”
“Karena Bapak baik.”
“Bukan.” Dia menyelesaikan simpulnya. “Karena Neng dateng tiap minggu buat bilang belum bisa.”
Aku menatapnya.
“Orang yang nggak bisa bayar itu banyak, Neng,” katanya. “Yang dateng buat bilang belum bisa itu dikit.”
Dia meletakkan ikatannya.
“Yang lain ngilang,” katanya. “Terus setahun kemudian dateng lagi bawa uang, terus minta maaf panjang lebar, terus Bapak maafin. Tapi setahun itu Bapak nggak tahu mereka masih hidup apa nggak.”
Dan dia mengambil ikatan berikutnya.
“Bapak nggak nanya-nanya, Neng,” katanya. “Bapak cuma cerita.”
Aku pulang dari pasar bunga jam dua belas dan tidak membuka toko.
Aku pulang ke kos dan tidur siang selama tiga jam, yang belum pernah kulakukan sejak bulan Maret.
Dan waktu aku bangun jam tiga sore dengan mulut kering dan kepala berat, aku mengambil ponsel dan membuka catatan yang kutulis pada malam pertama.
Jangan chat. Jangan telepon. Jangan lewat komplek. Jangan tanya ke Bram.
Jangan bikin dia jadi orang yang harus balik.
Aku membacanya beberapa kali.
Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya:
Tapi jangan ngilang.
Dan aku duduk di kasur kos jam tiga sore hari Minggu di bulan Juli dan memikirkan seseorang bernama Pak Endang yang tidak pernah menagih siapa pun selama lima belas tahun, dan seseorang bernama Sarah yang lima tahun menyediakan pintu keluar di ujung setiap kalimatnya, dan aku mulai mengerti sesuatu yang sebelumnya tidak kumengerti.
Ada perbedaan antara mengejar orang dan membiarkan orang tahu di mana kau berada.
Aku sudah menghabiskan tiga bulan menghindari yang pertama dengan cara melakukan yang ketiga—yaitu menghilang.
Dan menghilang bukan kesabaran.
Menghilang cuma bentuk lain dari pergi, dilakukan oleh orang yang merasa dirinya sopan.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka reading
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu