Chapter Fifteen
Hari Minggu
POV: Clara
Aku memikirkannya selama empat hari sebelum akhirnya mengirim pesan.
Mas, Minggu saya ke Lembang ambil stok. Mau ikut?
Aku menghapusnya dan menulis ulang tiga kali. Versi pertama terlalu jelas. Versi kedua terlalu berputar, ada penjelasan tentang mobil bak dan tentang bagaimana sebenarnya Tari juga bisa ikut tapi Tari ada acara keluarga. Versi ketiga aku hapus karena aku sadar aku sedang menyusun alibi untuk sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Yang akhirnya kukirim adalah versi pertama.
Balasannya masuk empat menit kemudian.
Jam berapa?
Bukan boleh. Bukan oke. Langsung ke logistik.
Aku menatap dua kata itu lebih lama daripada yang pantas untuk dua kata.
Jam 7. Kepagian?
Aman.
Aku tahu hari Minggu penting untuknya.
Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma tahu bahwa dalam enam minggu—sekarang delapan—dia tidak pernah sekali pun ada di mana pun pada hari Minggu pagi. Tari pernah mengirimnya pesan Minggu jam sembilan soal keran, dan balasannya baru masuk jam sebelas.
Sekali, di Kamis yang entah keberapa, aku bertanya iseng apa acaranya hari Minggu.
Dia bilang “beres-beres rumah,” dan senyumnya menyala setengah detik terlambat.
Aku tidak menanyakannya lagi.
Jadi waktu dia bilang aman untuk jam tujuh pagi hari Minggu, aku duduk di kamar kosku dengan ponsel di tangan dan merasakan sesuatu yang campur aduk: senang, dan sedikit tidak enak, seperti orang yang baru saja mengambil sesuatu tanpa bertanya.
Dia sampai jam tujuh kurang lima.
Dan dia terlihat capek.
Bukan capek yang jelas. Aku sudah cukup lama membacanya sekarang untuk tahu bedanya—matanya sedikit merah di bagian bawah, dan dia sudah menghabiskan setengah botol air sebelum kami keluar kota.
“Mas bangun jam berapa?”
“Setengah lima.”
“Ngapain?”
“Beres-beres.”
“Jam setengah lima?”
Dia tersenyum. Setengah detik. “Biar kelar.”
Aku memutuskan untuk tidak menariknya lebih jauh, dan aku memutuskan itu dengan sadar, dan sepanjang Setiabudi aku duduk memikirkan bahwa suatu hari nanti keputusan seperti ini akan jadi salah satu dari dua kesalahan yang sudah pernah kubuat.
Aku belum tahu yang mana.
Kebun di Lembang punya jadwal yang mereka sebut “buka jam tujuh” dan yang sebenarnya berarti “buka kalau Pak Wawan sudah selesai sarapan.”
Kami sampai jam delapan lewat. Pak Wawan masih sarapan.
“Duduk dulu, Neng. Bentar.”
Kami duduk di bangku kayu di depan gudang, di antara ratusan polybag, dengan kabut yang belum sepenuhnya naik dan bau tanah basah yang begitu pekat sampai terasa di belakang tenggorokan.
Aditya menarik napas dalam-dalam.
Aku memperhatikan itu.
Dia menarik napas dalam-dalam, di tempat yang seluruhnya tanah dan tanaman, dan tidak menahannya sama sekali.
“Enak, ya,” katanya.
“Apanya?”
“Baunya.”
Aku tidak berkata apa-apa. Tapi ada sesuatu di dadaku yang bergerak, karena delapan minggu lalu ada orang yang masuk ke tokoku sambil menahan napas selama tiga langkah, dan orang itu sedang duduk di sebelahku menghirup Lembang jam delapan pagi seperti orang yang baru diizinkan.
Pak Wawan selesai sarapan jam setengah sembilan dan langsung menyerahkan seluruh kebunnya kepada kami dengan cara yang mengkhawatirkan.
“Ambil aja, Neng. Nanti dihitung.”
“Nggak dicatat, Pak?”
“Neng Clara mah udah empat tahun. Kalau Neng mau nipu, dari dulu.”
Dan dia pergi memberi makan ayam.
Kami menghabiskan dua jam di sana. Aku memilih; Aditya mengangkat. Sistem yang sudah kami bangun tanpa pernah membicarakannya.
Yang berubah pagi itu adalah dia mulai bertanya.
“Ini kenapa nggak dipilih?”
“Akarnya udah keluar dari lubang bawah. Berarti kelamaan di polybag.”
“Itu jelek?”
“Nggak jelek. Tapi dia stres. Nanti sampai toko, dua minggu nggak tumbuh apa-apa, terus pelanggan kira saya jual barang mati.”
“Terus dia beneran mati?”
“Nggak. Dia cuma butuh waktu lebih lama buat percaya bahwa dia udah nggak di polybag.”
Aku mengucapkannya sambil memindahkan pot, dan aku baru mendengar apa yang kuucapkan sekitar dua detik kemudian.
Aditya sedang berdiri dengan dua polybag di tangan.
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi dia berdiri agak terlalu lama sebelum meletakkannya di bak.
Jam sepuluh, Pak Wawan kembali dari ayamnya dan menemukan kami di rak paling belakang.
“Neng, ini yang bawa siapa?”
“Teman, Pak.”
“Teman.” Pak Wawan mengangguk ke arahku dengan wajah yang tidak percaya sedikit pun, persis seperti Pak Endang di pasar bunga, seolah ada pelatihan khusus untuk laki-laki di atas enam puluh tahun. “Bapak dulu juga punya teman kayak gitu. Sekarang udah tiga puluh dua tahun.”
“Pak Wawan.”
“Bapak cuma cerita.” Dia menunjuk polybag di tangan Aditya. “Itu jangan yang itu, Mas. Yang sebelahnya lebih bagus.”
“Ini yang dipilih Mbak Clara.”
“Neng Clara emang suka yang susah.” Pak Wawan mengambil polybag yang lain dan menyerahkannya. “Dari dulu. Yang bagus-bagus dilewat, yang butuh diurus dibawa pulang.”
Aku merasakan wajahku panas dan berpura-pura ada sesuatu yang menarik di rak sebelah.
Dan Aditya, dari belakangku, berkata—dengan suara yang sangat pelan, mungkin tidak dimaksudkan untuk kudengar:
“Iya, Pak. Saya juga baru sadar.”
Kami makan siang di warung nasi di pinggir jalan sepulangnya.
Warungnya kecil, terbuka, dengan bangku panjang yang menghadap ke jurang berkabut dan lalat yang jumlahnya sedikit di atas ambang nyaman.
“Ra.”
“Hm.”
“Boleh nanya sesuatu yang mungkin bodoh?”
“Boleh.”
“Kenapa toko bunga?”
Aku menyendok nasi. “Karena saya nggak bisa jadi dokter.”
Dia tertawa. “Serius.”
“Serius.” Aku mengangkat bahu. “Waktu SMA saya pengen jadi dokter. Nilai biologi saya bagus. Terus kelas dua belas saya ikut kunjungan ke rumah sakit dan saya pingsan di ruang praktik anatomi.”
“Beneran?”
“Beneran. Di depan tiga puluh orang.” Aku menghela napas. “Terus saya mikir ulang. Dan saya sadar yang saya suka itu bukan medisnya. Yang saya suka itu—“
Aku berhenti, mencari katanya.
“Bahwa ada barang hidup, dan kamu bisa lihat dia lagi nggak bener, dan kamu bisa ngapa-ngapain.”
Aditya meletakkan sendoknya.
“Dan tanaman nggak pingsan?”
“Tanaman nggak ngomong.” Aku menusuk tempe di piringku. “Itu lebih penting, sebenernya. Manusia bisa bilang dia baik-baik aja. Tanaman nggak bisa bohong. Dia cuma nunjukin.”
Hening.
Ada bunyi truk lewat di bawah. Ada ibu warung yang menggoreng sesuatu di belakang.
“Ra,” katanya.
“Hm?”
“Saya bohong terus, ya.”
Aku mengangkat wajahku.
Dia tidak menatapku. Dia sedang menatap gelas es tehnya, dan wajahnya sama sekali tidak sedih—itu bagian yang paling membuatku sakit. Wajahnya biasa. Nadanya biasa. Seperti orang yang menyebutkan bahwa besok mungkin hujan.
“Mas—“
“Nggak apa-apa.” Dia mengangkat tangannya sedikit. “Saya cuma sadar aja. Sori.”
Dan dia mengambil sendoknya lagi dan bertanya apakah aku pernah coba tahu isi di warung ini, dan aku bilang belum, dan dia memesan dua.
Kami berhenti di rest area sekitar jam dua.
Bukan rest area besar. Cuma pelataran di pinggir jalan turun dengan warung kopi, tiga mobil parkir, dan pagar besi yang menghadap ke lembah.
Aditya berdiri di pagar itu dengan gelas kopi di tangan.
Aku berdiri di sebelahnya.
Kabut sudah turun sebagian. Dari sana kelihatan sawah bertingkat, atap-atap seng, dan jalan yang berkelok ke bawah seperti tali yang dijatuhkan.
“Ra.”
“Hm.”
“Makasih ya udah ngajak.”
“Saya butuh sopir.”
“Saya tahu.” Dia meminum kopinya. “Tapi tetep.”
Dan aku berdiri di sana, di pagar besi yang catnya sudah mengelupas, dengan angin yang terlalu dingin untuk jaket yang kupakai, dan aku memutuskan.
Aku memutuskannya di sana. Bukan sebelumnya. Aku sudah memikirkannya selama berminggu-minggu, dan berminggu-minggu itu tidak menghasilkan keputusan apa-apa, dan lalu ada satu momen di pagar besi di mana semuanya jadi sangat sederhana.
Karena begini: aku sudah pernah menunggu.
Aku menunggu enam tahun lalu. Aku menunggu delapan bulan, mengumpulkan, memperhatikan, menyimpan—dan waktu akhirnya aku bertindak, aku bertindak dari tumpukan yang sudah terlalu tinggi, dan tumpukan itu jatuh menimpa orang yang tidak seharusnya tertimpa.
Aku tidak akan mengulangi itu.
Kalau aku merasakan sesuatu, aku akan mengatakannya waktu ukurannya masih bisa dibawa.
“Mas.”
“Hm.”
“Saya suka sama Mas.”
Ada beberapa detik yang tidak bisa kuukur.
Dia tidak bergerak. Gelas kopinya masih di tangan, setengah terangkat, berhenti di tengah gerakan menuju mulutnya.
Angin lewat. Ada bunyi klakson dari bawah.
Dan lalu aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Bukan senyum. Bukan juga wajah kosong yang datang di detik-detik retakan.
Wajahnya berkerut.
Cuma sebentar—alis yang turun, rahang yang mengeras, seluruh wajah yang bergerak ke dalam seperti orang yang menerima berita buruk. Itu ekspresi yang sama sekali salah untuk kalimat yang baru saja kuucapkan, dan aku merasakan lantai bergeser di bawah kakiku.
“Mas—maaf, saya—“
“Ra.”
Suaranya keluar rendah.
“Bentar.” Dia meletakkan gelas kopinya di atas pagar. Tangannya tidak stabil dan kopinya tumpah sedikit. “Bentar aja.”
Dia menunduk. Kedua tangannya bertumpu di pagar besi.
Dan aku berdiri di sebelahnya selama mungkin dua puluh detik menonton seorang laki-laki bertarung dengan sesuatu yang tidak bisa kulihat.
Lalu dia berdiri tegak lagi dan menoleh.
“Saya juga.”
“Mas nggak harus—“
“Ra.” Dia menghadap ke arahku sepenuhnya sekarang. “Saya juga. Saya suka sama kamu.”
Kamu.
Delapan minggu Mbak. Delapan minggu jarak sopan yang tidak pernah kugeser dan tidak pernah dia geser.
Dan dia mengucapkannya begitu saja, di tengah kalimat, tanpa menandai.
“Dari kapan?” tanyaku, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Nggak tahu.” Dia menggeleng. “Mungkin dari malem hujan itu. Mungkin sebelumnya. Saya nggak—“
Dia berhenti.
“Saya nggak bagus dalam hal ini,” katanya. “Sudah lama.”
“Nggak apa-apa.”
“Ra, ada banyak hal yang belum saya—“
“Nggak apa-apa.”
Dan aku mengucapkannya dua kali, dan yang kedua lebih pelan, dan aku melihat sesuatu di bahunya turun.
Dia yang bergerak duluan.
Aku ingin mencatat itu, karena penting: aku yang bicara, tapi dia yang bergerak.
Tangannya naik ke sisi wajahku—yang kanan, dengan jari-jari masuk sedikit ke rambut di belakang telinga—dan kali ini dia tidak menariknya kembali seperti orang yang ketahuan mengambil sesuatu.
Dia menunduk.
Aku menutup mata.
Ciuman pertama itu pelan sampai hampir tidak masuk akal. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang menuntut. Dia menciumku seperti orang yang sedang memastikan sesuatu, dan aku merasakan tangannya bergetar di sisi wajahku, dan aku mengangkat tanganku sendiri dan meletakkannya di atas tangannya supaya dia tahu bahwa aku merasakannya dan bahwa itu tidak apa-apa.
Kami berhenti. Dahi menempel di dahi.
Napasnya tidak rata.
“Ra.”
“Hm.”
“Kalau nanti kamu tahu semuanya,” katanya, sangat pelan, “kamu boleh berubah pikiran.”
Aku membuka mata.
Wajahnya sedekat itu, dan matanya tertutup, dan ada garis-garis di sudutnya yang belum pernah kulihat dari jarak sedekat ini.
“Mas.”
“Saya serius. Saya nggak akan—“
“Mas Aditya.”
Dia diam.
“Saya nggak nanya sekarang,” kataku. “Dan saya nggak akan nanya. Tapi bukan karena saya nggak mau tahu.”
“Terus kenapa?”
“Karena kalau saya nanya, itu jadi punya saya.” Aku menggeser sedikit supaya bisa melihat wajahnya. “Kalau Mas yang cerita, itu tetap punya Mas.”
Dia menatapku.
Dan lalu dia menarikku ke dalam pelukan dengan cara yang sama sekali tidak halus—satu tarikan, kuat, dagunya di atas kepalaku—dan dia tidak berkata apa-apa selama mungkin satu menit penuh, dan aku merasakan dadanya bergerak dengan cara yang aneh sekali sekali, dan aku pura-pura tidak merasakannya.
Kami pulang jam empat.
Di dalam mobil, sekitar Ledeng, dia mengulurkan tangan kanannya dari setir tanpa berkata apa-apa.
Aku menyambutnya.
Dan dia menyetir dengan satu tangan sepanjang sisa jalan pulang, di tiga puluh delapan kilometer per jam, sambil sesekali mengencangkan genggamannya di tikungan seolah aku bisa jatuh dari kursi.
“Mas.”
“Hm.”
“Ini nggak bahaya?”
“Nggak.”
“Nyetir satu tangan.”
“Ini jalan lurus.”
“Barusan tikungan.”
“Ra.”
“Iya?”
Dia melirik ke arahku selama setengah detik, lalu kembali ke jalan.
“Saya lagi nggak mau lepas,” katanya.
Dan aku menutup mulutku dan menghadap ke depan dan menghabiskan sisa perjalanan berusaha tidak tersenyum seperti orang gila di dalam mobil orang yang baru saja resmi jadi pacarku.
Malamnya, sekitar jam sepuluh, ponselku bergetar.
Ra.
Hm?
Saya di rumah, dan saya nggak tahu harus ngapain.
Aku duduk di kasur.
Maksudnya?
Biasanya kalau saya pulang, saya langsung tahu harus ngapain. Ada urutannya. Malem ini urutannya nggak nyambung sama apa-apa.
Aku menatap layar cukup lama.
Ada begitu banyak yang bisa kutulis. Ya udah, tidur aja. Besok cerita ya. Aku juga nggak bisa tidur.
Yang kukirim adalah:
Nggak harus ngapa-ngapain, Mas.
Centang dua. Biru.
Mengetik...
Berhenti.
Mengetik...
Berhenti.
Lalu, setelah hampir dua menit:
Iya.
Dan aku meletakkan ponselku telungkup di kasur dan berbaring memandang langit-langit yang catnya retak di sudut, dan aku tersenyum di kegelapan seperti orang berumur dua puluh delapan tahun yang seharusnya sudah lewat dari fase ini.
Lalu aku ingat wajahnya di pagar besi itu.
Wajah yang berkerut. Ekspresi orang yang menerima berita buruk.
Dan senyumku hilang pelan-pelan, dan aku berbaring di sana lebih lama dari yang kuinginkan sebelum akhirnya tidur.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu reading
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu