← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Thirty Three

Sebelas Hari

POV: Clara


Aku tahu dari Tari, yang tahu dari temannya yang tinggal di blok C, yang mengirim pesan ke grup alumni SMA yang entah bagaimana punya anggota di seluruh Bandung.

Teh, itu bukannya komplek Mas Aditya? Ada anak ketabrak katanya.

Jam setengah lima sore.

Aku menelepon Aditya. Tidak diangkat.

Aku mengirim pesan. Centang dua, abu-abu, lalu biru sekitar jam tujuh, tanpa balasan.

Jam sepuluh kurang aku menelepon lagi.

Berdering sampai habis.

Dan aku duduk di belakang meja kasir toko baruku yang baru delapan hari buka, di ruangan yang masih berbau cat, dan aku merasakan sesuatu yang sudah lama sekali tidak kurasakan.

Bukan takut ditinggalkan.

Takut yang lain. Takut yang bentuknya seperti berdiri di depan rumah yang lampunya menyala tapi tidak ada yang membuka pintu.


Aku ke rumahnya jam setengah sebelas malam.

Aku naik ojek karena motorku sedang di bengkel, dan aku berdiri di depan pagar rumah Aditya Wisesa jam sebelas kurang sepuluh dengan ojeknya sudah pergi dan tidak ada satu pun lampu yang menyala.

Mobilnya ada di garasi.

Aku memencet bel.

Tidak ada.

Aku memencetnya lagi. Aku mengetuk pagar. Aku menelepon lagi dari luar dan mendengar—samar, dari dalam rumah gelap itu—bunyi ponsel bergetar di suatu tempat.

Dan lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku.

Aku memanjat pagar.


Pagar rumahnya rendah, dan aku tinggi, dan itu jauh lebih tidak dramatis daripada kedengarannya. Tapi aku merobek celanaku di bagian betis dan mendarat dengan bunyi yang cukup keras sehingga anjing tetangga menyalak.

Pintu depan tidak dikunci.

Itu yang membuatku benar-benar takut.

Lima tahun laki-laki ini mengunci segalanya, mengecek segalanya, menegur orang soal rem yang bunyi—dan pintu depannya tidak dikunci jam sebelas malam.

“Aditya?”

Rumahnya gelap total.

Aku menyalakan senter ponsel dan berjalan lewat ruang tamu. Kosong. Dapur kosong. Ruang kerja kosong.

Dan lalu aku berdiri di lorong dan melihat bahwa pintu ketiga terbuka.


Dia duduk di lantai.

Punggung ke dinding, kaki lurus ke depan, di kamar yang seluruhnya kosong kecuali satu ranjang single dengan seprai yang bersih dan satu lemari kecil dan tidak ada apa-apa lagi.

Tidak ada mainan. Tidak ada foto. Tidak ada apa pun.

Kamar itu bersih dengan cara yang membuat dadaku sakit.

“Aditya.”

Dia mengangkat kepalanya.

Dan aku melihat wajahnya di bawah cahaya senter ponsel yang kuarahkan ke lantai supaya tidak menyilaukan, dan aku hampir tidak mengenalinya.

Bukan karena dia menangis. Dia tidak menangis.

Karena tidak ada apa-apa di sana.

Tidak ada senyum yang menyala. Tidak ada jeda setengah detik. Tidak ada versi yang dinyalakan untuk siapa pun.

Cuma wajah.

“Ra,” katanya.

Suaranya serak.

“Kamu manjat pagar?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak buka pintu.”

Dan dia menatapku dari lantai kamar itu dan berkata, dengan nada orang yang menyampaikan informasi:

“Aku yang salah.”


Aku duduk di lantai.

Aku tidak menyalakan lampu. Aku merasakan—dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, dengan bagian dari diriku yang sudah tujuh bulan mempelajari orang ini—bahwa menyalakan lampu akan menutup sesuatu.

Aku duduk di lantai, di sisi lain pintu, dengan jarak sekitar dua meter.

Cukup dekat untuk mendengar. Cukup jauh untuk tidak menuntut.

“Kayla gimana?”

“Selangkanya retak. Enam minggu.” Dia menatap lantai. “Kepalanya nggak apa-apa. Diobservasi semalam.”

“Alhamdulillah.”

“Iya.”

Hening.

“Dia hampir ketabrak,” katanya. “Mobil putih. Bapaknya namanya Pak Deni. Dia bilang Kayla lewat depan bempernya sejengkal.”

Aku menahan napas.

“Aditya—“

“Aku janji lima kali,” katanya.


Dan lalu dia mulai bicara, dan tidak berhenti selama mungkin empat puluh menit.

Aku ingin menuliskannya dengan urutan yang benar, tapi tidak ada urutan yang benar. Dia bicara dengan urutan yang salah, melompat, kembali, mengulang. Kadang berhenti di tengah kalimat selama sepuluh detik lalu melanjutkan dari tempat yang sama sekali berbeda.

Yang bisa kulakukan adalah menuliskan bagian-bagiannya.

Dia bilang: tanggal delapan Desember, tiga puluh satu Desember, sebelas Januari, enam Februari, satu Maret. Lima tanggal. Dia hafal semuanya.

Dia bilang alat setelnya ada di garasi dan garasinya penuh cat, dan bahwa catnya untuk tokoku.

Dia bilang bahwa dia sedang senang.

Dia mengucapkan itu dua kali, dengan nada yang sama, dan kedua kalinya membuat sesuatu di dadaku menyempit: aku lagi seneng, Ra.

Dan lalu dia berhenti selama mungkin dua puluh detik.

Dan lalu dia bilang:

“Naya bilang mobilnya bunyi getar di belakang.”


Aku tidak bergerak.

“Hari Selasa,” katanya. “Aku pulang jam sepuluh dan dia masih bangun. Dia bilang di jalan Pasteur ada bunyi kayak getar di belakang.”

Dia menatap lantai.

“Dan aku bilang: minggu depan aku bawa ke bengkel.”

Aku menggenggam lututku sendiri.

“Hari Rabu ada rilis yang gagal,” katanya. “Hari Kamis post-mortem sampai jam sebelas. Hari Jumat aku pulang jam sepuluh. Sabtu aku masuk setengah hari. Minggu aku tidur.”

“Aditya.”

“Sebelas hari, Ra.”

Suaranya sama sekali tidak naik.

“Hari kedua belas dia bawa Bumi ke Sumedang, ke acara keluarga, yang aku janjiin bakal aku anter dan aku batalin siang itu karena ada incident produksi.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Dan kami berantem di telepon,” katanya. “Bukan berantem yang teriak. Naya nggak pernah teriak. Dia cuma bilang—“

Dia berhenti.

Sepuluh detik. Lima belas.

“Dia bilang: kamu selalu punya alasan yang bener, Dit. Itu yang bikin aku nggak bisa marah, dan itu yang paling capek.

Ada bunyi motor lewat di luar.

“Terus aku tutup teleponnya,” katanya. “Dan itu percakapan terakhir kami.”


“Malemnya hujan,” katanya. “Jalan turun di Cadas Pangeran. Ban belakang kanan pecah.”

Dia mengangkat kepalanya untuk pertama kalinya.

“Di laporan polisi ditulis retak di dinding samping,” katanya. “Retak yang udah lama. Yang kalau dicek, keliatan.”

“Aditya—“

“Semua orang tahu bagian itu, Ra.” Dia menggeleng pelan. “Sarah tahu. Bram tahu, dia berdiri di belakang aku waktu aku ambil laporannya. Ibunya Naya mungkin tahu.”

“Terus?”

Dan dia menatapku dari lantai kamar itu dan berkata:

“Yang nggak ada di laporan itu sebelas hari.”


Aku tidak berkata apa-apa.

Aku ingin mencatat itu, karena itu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan dalam hidupku.

Kalimatnya ada di mulutku. Lengkap. Sudah jadi. Sudah ada di sana sejak menit kesepuluh.

Itu bukan salah kamu.

Enam kata. Dan setiap serat di tubuhku ingin mengucapkannya, karena laki-laki yang duduk di lantai kamar kosong itu sedang mengatakan hal paling buruk yang pernah dia katakan pada siapa pun, dan aku mencintainya, dan itu yang orang lakukan.

Dan di kepalaku ada suara Sarah di ambang pintu toko lamaku empat bulan lalu.

Tolong jangan bilang bahwa itu bukan salah dia.

Karena tiap kali ada yang bilang gitu, dia bilang makasih, terus dia nutup satu pintu lagi.

Aku menelan enam kata itu.

Aku menelannya dan rasanya seperti menelan sesuatu yang tidak muat.


“Kenapa kamu diem?” katanya.

“Aku lagi mikir.”

“Mikir apa?”

“Mikir apa yang harus aku bilang.”

Dan Aditya tertawa.

Satu embusan. Kering. Paling jelek yang pernah kudengar dari mulutnya.

“Bilang aja,” katanya.

“Bilang apa?”

“Yang semua orang bilang.” Dia menyandarkan kepalanya ke dinding. “Itu bukan salah kamu, Dit. Kamu nggak tahu bakal kayak gitu. Semua orang nunda-nunda. Ban bisa pecah kapan aja.

Dia menutup matanya.

“Ayo, Ra. Bilang. Aku udah siap.”

Dan di situ aku mengerti sesuatu yang membuat perutku dingin.

Dia bukan sedang minta dihibur.

Dia sedang menunggu aku mengucapkannya supaya dia bisa selesai.

Supaya dia bisa bilang makasih, dan pintu itu tertutup, dan dia bisa kembali ke lima tahun yang sudah dia bangun dengan sangat rapi.

Aku sudah pernah melihat orang melakukan ini.

Aku sudah pernah menjadi orang yang memberikannya.


“Nggak,” kataku.

Dia membuka matanya.

“Apa?”

“Aku nggak akan bilang itu.”

Dan dia menatapku dari seberang kamar, dan untuk pertama kalinya sepanjang malam itu ada sesuatu di wajahnya yang bukan kosong.

“Kenapa?”

Aku menggeser sedikit lebih dekat. Bukan sampai menyentuh. Setengah meter.

“Karena aku nggak tahu,” kataku.

“Kamu nggak tahu?”

“Aku nggak tahu, Aditya.” Suaraku pecah dan aku membiarkannya pecah. “Aku nggak ada di sana. Aku nggak tahu gimana bunyinya waktu Naya bilang soal getar itu. Aku nggak tahu seberapa capek kamu hari Rabu. Aku nggak tahu apa-apa.”

Dia tidak berkata apa-apa.

“Dan aku nggak akan berdiri di sini terus ngasih kamu putusan tentang hidup kamu sendiri,” kataku. “Aku bukan hakim kamu. Aku nggak punya wewenang buat ngebebasin kamu dan aku juga nggak punya wewenang buat nyalahin kamu.”

“Terus kamu ngapain di sini?”

Dan aku menatapnya di kamar gelap itu dan berkata:

“Aku di sini karena kamu nggak buka pintu dan aku manjat pagar.”


Sesuatu terjadi di wajahnya.

Sangat pelan. Selama mungkin lima detik, seperti sesuatu yang retak dari dalam sebelum terlihat dari luar.

“Ra.”

“Iya.”

“Aku capek banget.”

Dan Aditya Wisesa, tiga puluh dua tahun, yang tidak menangis di parkiran rumah sakit dan tidak menangis di tahlilan dan tidak menangis dalam empat tahun sembilan bulan sebelum Oktober lalu—

Dia menangis di lantai kamar anaknya.

Bukan menangis yang tenang. Menangis yang jelek, yang bunyinya salah, yang keluar dengan cara orang yang tubuhnya sudah lupa caranya.

Aku bergerak.

Aku sampai di sisinya dalam dua detik dan aku menariknya ke arahku, dan dia menempelkan wajahnya ke bahuku dan menggenggam belakang bajuku dengan kedua tangan seperti orang yang jatuh.

Dan aku memeluknya di lantai kamar itu dan tidak mengatakan satu kata pun.

Tidak nggak apa-apa.

Tidak aku di sini.

Tidak ini bukan salah kamu.

Aku cuma memeluknya, dan sesekali menggerakkan tanganku di punggungnya, dan membiarkan sesuatu yang sudah lima tahun terkunci di dalam dinding rumah ini keluar ke ruangan tempat seharusnya dia keluar sejak dulu.


Aku tidak tahu berapa lama.

Cukup lama sehingga kakiku kesemutan. Cukup lama sehingga hujan mulai turun di luar dan berhenti lagi.

Waktu dia akhirnya berhenti, dia tidak melepaskan.

Kami duduk di lantai itu dengan punggungnya di dinding dan kepalaku di bahunya sekarang, dan tidak ada yang bicara selama mungkin sepuluh menit.

“Ra.”

“Hm.”

“Makasih.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena kamu bilang makasih ke semua orang,” kataku ke bahunya. “Dan tiap kali kamu bilang makasih, kamu nutup sesuatu.”

Aku merasakan dia menarik napas.

“Iya,” katanya.

Dan dia tidak mengatakannya lagi.


Kami tidur di sofa malam itu. Bukan di kamarnya. Sofa, dua orang, tidak nyaman sama sekali, dengan selimut yang kuambil dari lemari lorong.

Dia tertidur sekitar jam tiga.

Aku tidak.

Aku berbaring di sana dengan lengannya di pinggangku dan langit-langit yang perlahan berubah dari hitam ke abu-abu, dan aku memikirkan satu hal yang tidak mau pergi.

Bukan sebelas hari.

Bukan ban itu.

Yang tidak mau pergi adalah pertanyaan yang dia ajukan sekitar jam dua belas, di lantai kamar, waktu tangisannya sudah selesai dan suaranya sudah kembali rata.

Dia bertanya: Ra, kamu masih di sini kenapa?

Dan aku bilang: karena aku mau.

Dan dia bilang: oke.

Cuma itu. Oke.

Diucapkan dengan nada orang yang menerima jawaban.

Dan aku berbaring di sofa jam setengah lima pagi dan menyadari bahwa aku sudah tujuh bulan mengenal laki-laki ini dan aku sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa dia tidak mengucapkan oke seperti itu waktu dia menerima sesuatu.

Dia mengucapkannya seperti itu waktu dia sedang menghitung.