← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Forty Six

Syarat

POV: Aditya


Kami tidak langsung apa-apa.

Itu bagian yang paling penting dan paling tidak dramatis dari seluruh cerita ini, dan aku ingin menuliskannya dengan jujur karena selama delapan bulan aku membayangkan ada satu percakapan yang menyelesaikan semuanya.

Tidak ada percakapan seperti itu.

Yang ada adalah bulan Januari.


Aku datang hari Minggu.

Cuma hari Minggu, cuma setelah jam dua, cuma waktu toko sudah tutup.

Itu bukan aturan yang kami buat bersama. Itu aturan yang kubuat sendiri di mobil dalam perjalanan pulang tanggal dua puluh dua Desember, dan yang kusampaikan lewat pesan malam itu, dan yang dibalas Clara dengan satu kata.

Boleh.

Minggu pertama Januari: aku datang jam dua lewat, kami duduk tiga jam, aku pulang.

Minggu kedua: sama.

Minggu ketiga: Tari belum pulang waktu aku datang, dan dia melihatku dan berdiri di ambang pintu dengan sapu di tangan selama sekitar empat detik.

Lalu dia berkata: “Mas Aditya.”

“Tari.”

Dan lalu dia meletakkan sapunya dan berjalan ke arahku dan memukul lenganku dengan kepalan tangannya.

Cukup keras.

“TARI.”

“Aku nggak apa-apa!” Dia mundur dua langkah. “Aku cuma pengen dari dulu.”

Dan dia mengambil tasnya dan pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, dan aku berdiri di teras memegang lenganku, dan Clara berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

“Kamu nggak nolongin aku?”

“Nggak.”

“Oke.”


Bulan Januari itu isinya duduk.

Kami tidak membicarakan hal-hal besar. Itu yang mengejutkanku—aku datang setiap Minggu dengan seluruh percakapan penting tersusun di kepalaku, dan tidak satu pun terpakai.

Kami membicarakan tomat.

Tomatnya mati, keempat-empatnya, di hari kedua belas. Cabainya hidup.

“Bibitnya jelek,” kata Clara.

“Bu Yuli udah bilang.”

“Bu Yuli bener.”

“Aku beli lagi?”

“Jangan tomat.” Dia menggeleng. “Tomat itu buat orang yang udah pernah berhasil sekali. Kamu belum.”

“Terus apa?”

“Cabai lagi.”

“Aku udah punya cabai.”

“Ya tambah.”

Dan hari Minggu berikutnya aku datang dan bilang bahwa aku menambah empat polybag cabai, dan dia bertanya jenisnya apa, dan aku tidak tahu, dan dia bilang itu masalahnya orang yang beli tanaman di pinggir jalan.

Percakapan itu berlangsung dua puluh menit.

Aku memikirkannya sepanjang minggu.


Minggu keempat Januari, Sarah menelepon.

“Mas.”

“Sar.”

“Mas ke Cikutra tiap Minggu?”

Aku memindahkan ponsel ke telinga satunya.

“Kamu tahu dari mana?”

“Bram.”

“Bram tahu dari mana?”

“Bram tahu semuanya, Mas. Itu kerjaan dia.” Ada bunyi anaknya di belakang. “Terus gimana?”

“Belum gimana-gimana.”

“Belum gimana-gimana itu artinya apa?”

Dan aku berdiri di dapur rumahku dengan ponsel di telinga dan berkata:

“Artinya aku duduk empat jam terus pulang.”

Hening di seberang.

“Empat jam?”

“Kadang lima.”

“Ngapain?”

“Ngobrolin tanaman.”

Dan Sarah tertawa—tawa yang benar, yang belum pernah kudengar darinya sejak entah kapan.

“Mas.”

“Hm?”

“Itu bagus banget.”

“Kok bagus? Nggak ada kemajuan apa-apa.”

“Mas Aditya,” katanya, dan nadanya berubah, “lima setengah tahun Mas nggak pernah duduk lima jam sama siapa pun tanpa ngerjain sesuatu.”

Aku memegang pinggiran wastafel.

“Itu kemajuannya,” katanya. “Itu seluruh kemajuannya.”


Bu Ratih bertanya tentang itu di sesi ke dua puluh empat.

“Bapak ketemu dia tiap Minggu?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Tiga sampai lima jam.”

“Ngomongin apa?”

“Tanaman.”

Bu Ratih menulis sesuatu.

“Bapak nggak ngomongin yang penting-penting?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan aku duduk di kursi itu dan berkata: “Karena tiap kali aku ngomongin yang penting-penting, aku jadi orang yang lagi ngelapor.”

Dia berhenti menulis.

“Terusin.”

“Aku bagus banget kalau lapor, Bu.” Aku menggosok tanganku. “Aku bisa duduk di sana dan cerita soal terapi, soal laporan polisi, soal semuanya. Dan kedengerannya bakal kayak kemajuan.”

“Bukan kemajuan?”

“Bukan buat dia.” Aku mengangkat bahu. “Buat dia, kemajuan itu artinya aku bisa ada di ruangan yang sama sama dia selama empat jam tanpa ngerasa harus ngasih sesuatu.”

Bu Ratih meletakkan pulpennya.

“Pak Aditya.”

“Iya?”

“Itu kalimat paling sehat yang Bapak ucapkan sejak Agustus.”


Bulan Februari, aku bertanya.

Hari Minggu, jam empat sore, di teras, dengan warung kopi seberang yang penuh seperti selalu.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kamu mau balikan sama aku?”

Clara meletakkan gelasnya.

Dan dia tidak menjawab selama mungkin satu menit penuh, dan aku duduk di sana dan membiarkan satu menit itu berlalu tanpa mengisi satu detik pun.

“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya.

“Oke.”

“Aditya—“

“Nggak, itu jawaban.” Aku mengangkat tangan. “Aku nggak lagi sopan. Aku beneran nganggep itu jawaban.”

Dan dia menatapku.

“Aku mau jelasin,” katanya.

“Boleh.”

Dan Clara Evangelista, dua puluh sembilan tahun, duduk di kursi plastik hijau di teras tokonya sendiri dan berkata:

“Aku takut sama diri aku sendiri.”


“Delapan bulan kemarin aku belajar sesuatu,” katanya. “Dan aku nggak akan bisa lupa lagi.”

“Apa?”

“Aku belajar bahwa aku orang yang ngumpulin.”

Dia memutar gelasnya.

“Bukan sesekali. Bukan cuma sama Kak Rendy, bukan cuma sama kamu. Itu cara aku sayang sama orang, Aditya. Aku merhatiin, aku nyimpen, aku nggak ngomong, terus suatu hari aku ngeluarin semuanya sekaligus.”

“Ra—“

“Aku dua kali seumur hidup, dan dua-duanya bikin orang yang aku sayang jadi jauh lebih jelek.” Suaranya rata. “Jadi kalau kita balikan, dan tiga tahun lagi kamu ngelakuin sesuatu, aku bakal—“

Dia berhenti.

“Aku nggak tahu apakah aku bisa nggak,” katanya.


Aku duduk di sana untuk waktu yang cukup lama.

Dan aku memikirkan sesuatu yang Bu Ratih katakan di sesi kesembilan belas, waktu aku menceritakan tentang Clara untuk pertama kalinya dengan sungguh-sungguh.

Dia bertanya: Pak, menurut Bapak apa yang paling Bapak takutkan dari hubungan itu?

Dan aku bilang: aku takut mengulangi.

Dan dia bilang: Bapak dan dia takut hal yang persis sama. Bapak sadar itu?

Aku tidak sadar. Aku baru sadar di teras itu, hari Minggu bulan Februari, jam empat lewat.

“Ra.”

“Hm.”

“Aku juga takut sama diri aku sendiri.”

Dia menoleh.

“Aku takut aku bakal bilang besok lagi,” kataku. “Buat sesuatu yang penting. Dan aku nggak bisa janji nggak, karena aku udah dua kali dan dua-duanya waktu aku lagi seneng.”

Aku mengangkat bahu.

“Jadi kita berdua takut sama hal yang sama,” kataku. “Cuma dari sisi yang beda.”

Clara menatapku.

“Terus?” katanya.

“Terus aku mikir mungkin itu bukan alasan buat nggak,” kataku. “Mungkin itu cuma daftar hal yang harus kita omongin.”


Kami membuatnya bulan Maret.

Itu ide Clara, dan dia mengucapkannya dengan cara yang sangat tidak romantis, di teras, hari Minggu, sambil memangkas daun kering dari monstera yang sudah tidak laku empat minggu.

“Aditya, kita bikin aturan.”

“Aturan apa?”

“Aturan buat kita.” Dia tidak berhenti memangkas. “Kayak kontrak, tapi bukan kontrak.”

“Itu kontrak.”

“Itu bukan kontrak karena nggak ada sanksinya.”

Dan kami membuatnya di halaman belakang buku pesanan—halaman yang sama, di buku yang sama, tempat empat belas baris pernah ditulis sebelas bulan sebelumnya.

Clara yang menulis.

Butuh tiga hari Minggu.


Isinya bukan hal-hal besar.

Satu. Kalau salah satu nyimpen sesuatu lebih dari tiga hari, wajib bilang. Nggak harus isinya. Cukup bilang “aku lagi nyimpen sesuatu.”

Dua. Clara nggak boleh nulis daftar. Kalau kepingin nulis daftar, itu artinya udah lewat tiga hari (lihat poin 1).

Tiga. Aditya nggak boleh bawa barang. Boleh benerin kalau diminta. Nggak boleh benerin kalau nggak diminta lebih dari sekali seminggu.

Aku protes tentang yang ketiga.

“Sekali seminggu itu dikit banget.”

“Itu udah banyak.”

“Ra, ada tiga hal di toko ini yang—“

“Aditya.”

“...Iya.”

Empat. Kalau Aditya ngilang, maksimal dua hari. Hari ketiga wajib kirim satu karakter apa pun. Titik juga boleh.

Clara menuliskan yang keempat tanpa melihatku.

Aku tidak berkata apa-apa waktu dia menulisnya.

Lima. Kalau Clara capek, dia bilang capek. Bukan besoknya. Hari itu juga.

Enam. Nggak ada yang boleh bilang “nggak apa-apa” kalau ada apa-apa.

Dan yang terakhir, yang ditulis Clara paling lama, dan yang dia hapus dua kali sebelum menuliskannya untuk ketiga kalinya:

Tujuh. Aditya boleh bahagia. Ini bukan aturan buat Clara. Ini aturan buat Aditya, dan cuma Aditya yang bisa jalanin, dan kalau dia nggak bisa, itu bukan berarti dia gagal. Itu berarti belum.


Aku membacanya tiga kali.

“Yang tujuh itu bukan aturan,” kataku.

“Bukan.”

“Terus kenapa ditulis?”

Dan Clara menutup buku pesanannya dan berkata:

“Karena aku pengen ada bendanya.”


Kami tidak berciuman sampai bulan April.

Aku ingin mencatat itu, karena aku menghitungnya dan karena aku sudah cukup sehat sekarang untuk bisa mengaku bahwa aku menghitungnya.

Hari Minggu, tanggal enam April, jam enam sore, di teras, setelah tiga jam membicarakan sistem irigasi tetes yang dia lihat di video dan yang menurutnya tidak masuk akal untuk toko sekecil ini.

Dia berhenti bicara di tengah kalimat.

Dan aku menoleh.

Dan dia sudah menoleh duluan.

Dan tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa pun—tidak ada kalimat besar, tidak ada penegasan, tidak ada satu pun hal yang sudah kususun selama empat bulan.

Aku memiringkan kepalaku beberapa derajat.

Dia memiringkan kepalanya juga.

Dan kali ini tidak ada gulungan kawat florist yang jatuh, karena kami di teras dan bukan di gudang, dan karena ada hal-hal tertentu yang cuma terjadi sekali.


Dua detik pertama bersih.

Dan di detik ketiga, aku menunggu.

Aku benar-benar menunggu. Bagian dari kepalaku berdiri di sana dengan tangan di saklar, siap, seperti orang yang menunggu bunyi rem di tikungan yang sudah lima ratus kali dia lewati.

Detik ketiga.

Detik keempat.

Detik kesepuluh.

Dan waktu kami berhenti, dengan dahinya di dahiku dan napas yang tidak rata dan tangan yang masih di sisi wajahnya, aku berkata—tanpa merencanakannya, ke ruang sepuluh sentimeter di antara kami:

“Nggak nyala.”

Clara membuka matanya.

“Apa?”

“Nggak ada apa-apa,” kataku. “Sepuluh detik. Nggak ada apa-apa di kepala aku.”

Dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku melihat dia mengerti, dan dia menutup matanya lagi dan menempelkan dahinya lebih keras ke dahiku.

“Bagus,” katanya.

Suaranya pecah di satu kata.

“Bagus banget, Aditya.”


Aku pulang jam delapan malam itu.

Dan di rumah, aku menyalakan lampu—semuanya, sekaligus, empat puluh detik—dan aku berjalan ke halaman depan dan berjongkok di petak tanah dua meter kali satu setengah yang kubongkar dengan palu godam di bulan Desember.

Sepuluh polybag cabai. Tujuh hidup. Tiga mati dan sudah kucabut dan sudah kuganti.

Dan yang paling besar, yang di sudut kanan, yang ditanam Bu Yuli sendiri dengan tangannya sambil mengomel—

Ada buah kecil di sana. Hijau, sepanjang mungkin dua sentimeter, menggantung di bawah daun.

Aku berjongkok di halaman rumahku sendiri jam delapan malam dan melihatnya cukup lama.

Lalu aku memfotonya, dengan sangat dekat, dari jarak lima sentimeter, seperti orang bodoh.

Dan aku mengirimnya.

Balasannya masuk dalam waktu empat belas detik.

ITU BUAH.

Iya.

ADITYA ITU BUAH.

Iya, Ra.

Kamu nggak boleh petik sekarang. Tunggu merah.

Berapa lama?

Dua sampai tiga minggu.

Dan aku berjongkok di halaman itu dengan ponsel di tangan dan mengetik satu kalimat dan menghapusnya, dan mengetik lagi, dan mengirimnya:

Aku tunggu.