Chapter Twenty Three
Surat dari Pak Haji
POV: Clara
Suratnya datang hari Selasa, diantar anak Pak Haji sendiri, dengan amplop cokelat yang sudut-sudutnya sudah agak lecek karena dibawa naik motor.
“Dari Bapak, Teh.”
“Oh. Makasih ya.”
“Katanya nggak buru-buru dibaca.”
Yang merupakan kalimat yang, dalam seluruh sejarah manusia, tidak pernah sekali pun berarti apa yang dikatakannya.
Aku membukanya jam sebelas siang, di belakang meja kasir, sambil berdiri.
Isinya satu halaman. Ditulis tangan, dengan pulpen biru, dengan tulisan orang berumur tujuh puluhan yang belajar menulis di zaman ketika tulisan tangan masih dinilai.
Intinya ada di paragraf ketiga.
Sehubungan dengan kondisi kesehatan saya dan atas permintaan anak-anak, bangunan ruko di Jalan Sukaluyu tersebut akan kami jual.
Aku membacanya tiga kali.
Lalu aku melipat suratnya dan memasukkannya kembali ke amplop dan meletakkannya di laci, dan melayani dua pelanggan, dan mengangkat telepon dari katering yang mau pesan untuk hari Sabtu.
Baru jam dua siang aku duduk.
“Teh.”
“Hm.”
“Teteh belum makan.”
“Nanti.”
“Ini udah jam dua.”
“Tari.”
Dan Tari, yang selama tiga bulan terakhir sudah mengembangkan radar untuk hal-hal semacam ini, berhenti mendesak dan pergi ke belakang. Lalu kembali empat menit kemudian dengan sepiring nasi dan telur dadar yang dia buat sendiri di kompor gudang.
Dia meletakkannya di meja kasir dan tidak berkata apa-apa dan pergi lagi.
Aku memakannya.
Lalu aku membuka laci dan membaca surat itu untuk keempat kalinya.
Empat tahun tiga bulan.
Itu berapa lama aku ada di ruko ini.
Aku menandatangani kontrak pertama dengan Pak Haji di rumahnya di Cigadung, dengan uang sewa setahun di amplop yang setengahnya pinjaman dari Mama dan setengahnya dari menjual motor. Pak Haji menghitungnya di depanku, mengembalikan dua ratus ribu, dan bilang bahwa itu potongan karena aku perempuan dan usahanya baru.
Aku bilang saya tidak butuh potongan karena perempuan.
Dia bilang ya sudah, potongan karena Bapak lagi seneng.
Tahun pertama aku telat bayar dua bulan. Dia tidak menagih.
Tahun kedua ada bocor di plafon gudang dan dia yang membetulkan, padahal di kontrak itu tanggung jawab penyewa.
Tahun ketiga anak-anaknya mulai menyuruhnya menaikkan sewa, dan dia menaikkannya lima persen, dan meminta maaf saat menyerahkan suratnya.
Aku tidak marah pada surat hari Selasa itu.
Itu bagian yang membuatnya jauh lebih sulit ditanggung. Kalau aku bisa marah, setidaknya ada tempat untuk meletakkan sesuatu.
Yang paling aneh dari hari-hari sesudahnya adalah bahwa aku mulai melihat tokoku dari luar.
Aku tidak pernah melakukan itu. Empat tahun aku berada di dalam, menghadap keluar, dan yang kulihat setiap hari adalah jalan, motor, laundry di sebelah, lapangan.
Rabu pagi aku berdiri di seberang jalan selama mungkin lima menit.
Kanopi hijau tua yang catnya sudah pudar di sisi kanan karena kena matahari sore. Rak bertingkat yang kubeli bekas dari orang di Cimahi dan kucat ulang sendiri di tahun kedua. Papan nama kayu yang kutulis tangan sendiri, dua kali, karena yang pertama hurufnya terlalu rapat.
Bel di atas pintu yang kubeli seharga dua belas ribu di pasar loak dan yang bunyinya sudah kudengar mungkin dua puluh ribu kali.
Empat meter kali delapan.
Aku menghitung berapa banyak hal di dalamnya yang tidak bisa dibawa pindah, dan jawabannya membuatku menyeberang kembali dan langsung mengerjakan sesuatu.
Bukan bangunannya. Bangunan bisa diganti.
Yang tidak bisa dibawa adalah bahwa orang tahu di mana aku berada.
Bu Rahma tahu. Katering di ujung jalan tahu. Bapak-bapak yang membeli bunga untuk istrinya di rumah sakit tahu. Ibu-ibu yang membeli bunga untuk menantunya yang baru melahirkan tahu. Anak SMA yang rantai sepedanya lepas di depan toko tahu.
Empat tahun aku membangun satu hal saja, sebenarnya: menjadi tempat yang orang tahu ada di mana.
Dan itu satu-satunya aset yang tidak muat di mobil bak.
Aku menelepon Pak Haji jam empat sore.
“Assalamualaikum, Pak. Ini Clara, yang di Sukaluyu.”
“Waalaikumsalam, Neng Clara.” Suaranya lebih tua dari yang kuingat. “Sudah baca suratnya?”
“Sudah, Pak.”
“Bapak minta maaf.”
“Nggak usah minta maaf, Pak.”
“Bapak minta maaf.” Dia mengulanginya dengan cara orang yang sudah menyiapkan kalimat itu. “Sebenarnya Bapak nggak mau jual. Tapi Bapak Februari kemarin masuk rumah sakit, dan anak-anak bilang kalau nanti Bapak kenapa-kenapa, mereka nggak mau ngurus.”
“Iya, Pak. Saya ngerti.”
“Neng punya waktu sampai akhir kontrak. Bulan Maret.”
Empat setengah bulan.
“Iya, Pak.”
“Dan kalau ada yang beli, Bapak minta mereka nerusin sewanya. Tapi Bapak nggak bisa janji.” Ada jeda. “Bapak nggak bisa janji apa-apa, Neng. Bapak cuma bisa bilang Bapak minta.”
“Iya, Pak.”
“Neng Clara.”
“Iya?”
“Kalau Bapak masih sehat, Bapak nggak akan jual.”
Dan aku duduk di kursi kasirku dengan ponsel di telinga dan bilang iya Pak, saya tahu, dan Bapak jaga kesehatan ya Pak, dan menutup telepon.
Lalu aku ke gudang dan menutup pintunya dan berdiri di sana selama sekitar dua menit di ruangan dua kali dua meter itu.
Berikut yang harus kuhitung, dan yang mulai kuhitung malam itu di kamar kos dengan buku dan kalkulator ponsel.
Ruko sejenis di Sukaluyu: enam puluh sampai tujuh puluh juta setahun. Naik dari yang kubayar sekarang, yang empat puluh dua, karena Pak Haji tidak pernah menaikkan ke harga pasar.
Ruko di gang yang lebih dalam: empat puluhan. Tapi tidak ada yang lewat.
Toko bunga hidup dari orang lewat. Empat puluh persen omzetku dari orang yang tidak berencana membeli bunga sampai mereka melihat rak terasku dari jalan.
Pindah ke gang berarti kehilangan empat puluh persen itu dan berharap pelanggan lama mengikuti.
Sebagian akan mengikuti. Bu Rahma akan mengikuti. Katering di ujung jalan akan mengikuti.
Sebagian besar tidak.
Aku menghitung sampai jam satu pagi dan sampai pada angka yang membuatku menutup buku dan mematikan lampu.
Kalau aku pindah ke gang, aku bisa bertahan sekitar delapan bulan sebelum harus melepas Tari.
Aku tidak cerita ke Aditya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, dan aku ingin mencatat alasannya dengan jujur juga, karena alasannya bukan satu.
Alasan pertama, yang kuucapkan pada diriku sendiri: dia baru pulang dari Cimahi hari Minggu. Dia datang hari Senin tanpa alasan dan duduk di kursi plastik hijau selama tiga jam dan tidak banyak bicara, dan waktu aku bertanya bagaimana Cimahi, dia bilang “baik,” lalu diam sekitar sepuluh detik, lalu bilang “aku peluk Sarah.”
Cuma itu. Aku peluk Sarah.
Dan dia mengucapkannya seperti orang yang melaporkan sesuatu yang tidak masuk akal.
Jadi alasan pertamaku adalah: dia sedang membawa sesuatu, dan aku tidak mau menambahkan.
Alasan kedua, yang tidak kuucapkan sampai berhari-hari kemudian: aku tahu persis apa yang akan dia lakukan.
Dia akan membetulkan.
Dia akan menawarkan uang, atau menawarkan mencarikan ruko, atau menawarkan berbicara dengan anak-anak Pak Haji, dan dia akan melakukannya dengan sangat baik, dan dalam dua minggu ini akan berhenti jadi masalahku dan mulai jadi proyeknya.
Dan aku tahu—dengan kejelasan yang membuatku tidak nyaman—bahwa sebagian dari diriku menginginkan itu.
Itu alasan ketiga, yang paling jujur, dan yang membuatku tidak bisa tidur sampai jam dua.
Aku tidak cerita karena aku takut betapa mudahnya menyerahkan ini.
“Teh Clara.”
“Hm.”
Hari Jumat. Toko sepi. Tari sedang mengganti air ember.
“Kita pindah, ya?”
Aku mengangkat kepalaku.
“Kamu tahu?”
“Aku baca suratnya.”
“Tari.”
“Suratnya di laci meja kasir. Aku ngambil gunting.” Dia mengangkat bahu. “Dan itu tulisan tangan, Teh. Orang nulis tangan cuma buat dua hal: undangan sama kabar buruk.”
Aku meletakkan penaku.
“Belum tentu pindah,” kataku. “Kalau yang beli mau nerusin sewa—“
“Teh.”
“Iya?”
Tari mematikan selangnya dan berjalan mendekat dan bersandar di sisi meja kasir.
“Kalau harus ngurangin orang, aku duluan,” katanya.
“Tari.”
“Aku serius. Aku udah mikirin dari Rabu.” Dia menatap ke arah teras. “Aku bisa kerja di tempat lain. Sepupu aku kerja di gudang ekspedisi, katanya lagi butuh. Gajinya lebih gede, malah.”
“Kamu benci gudang ekspedisi. Kamu pernah bilang gudang itu tempat orang jadi nomor.”
“Aku pernah bilang gitu?”
“Bulan Juni.”
“Ya ampun.” Dia menggosok wajahnya. “Aku emang kebanyakan ngomong.”
Dan lalu dia diam beberapa saat, dan waktu dia bicara lagi suaranya berbeda.
“Teh, aku udah dua tahun di sini.”
“Aku tahu.”
“Dan Teteh nggak pernah sekali pun nanya kapan aku dapet kerjaan beneran.”
Aku tidak menjawab.
“Semua orang nanya,” katanya. “Bapak aku nanya. Temen SMA aku nanya. Tante aku nanya sambil bilang ’masa jualan bunga terus’.”
Dia menoleh ke arahku.
“Teteh nggak pernah nanya. Dan aku nggak akan lupa itu.”
Aditya datang hari Sabtu sore.
Dia membawa dua gelas kopi dari kedai yang dua blok dari sini—yang bukan alasan, yang bukan barang yang perlu diperbaiki, cuma kopi—dan menyerahkan satu padaku.
“Aku beli dua.”
“Aku lihat.”
“Bukan buat dibales.”
Dan aku menerimanya, dan tertawa, dan menyadari betapa jauh kami sudah berjalan sejak seseorang harus membawa engsel stainless untuk bisa masuk ke teras ini.
Kami duduk di dua kursi plastik.
Dan aku hampir cerita.
Kalimatnya sudah terbentuk. Aditya, Pak Haji mau jual rukonya. Sembilan kata. Tidak sulit.
Aku menahannya di tenggorokan.
“Ra.”
“Hm.”
“Kamu ada apa-apa?”
Aku menoleh.
“Kenapa nanya gitu?”
“Karena kamu udah nyusun ulang rak yang sama tiga kali minggu ini.” Dia meminum kopinya. “Dan kamu nggak pernah nyusun ulang rak kalau nggak lagi mikirin sesuatu.”
Aku menatap gelas kopiku.
Dan ada sesuatu yang sangat lucu—dalam arti yang tidak lucu sama sekali—tentang duduk di teras tokomu sendiri sambil menyadari bahwa orang yang kau sembunyikan sesuatu darinya sudah menghabiskan tiga bulan mempelajari polamu dengan cara yang sama persis seperti kau mempelajari polanya.
“Ada,” kataku.
“Oke.”
“Tapi aku belum mau cerita.”
Dan aku menahan napas setelah mengucapkannya.
Aditya mengangguk.
“Oke.”
“Bukan karena aku nggak percaya.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma—“ Aku memutar gelas di tangan. “Aku belum selesai mikirin sendiri. Dan kalau aku cerita sekarang, aku bakal berhenti mikirin sendiri.”
Dan Aditya menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.
“Itu kalimat aku,” katanya.
“Apa?”
“Itu kalimat yang selalu aku pakai di kepala.” Dia tersenyum, dan senyumnya lambat dan tidak dinyalakan. “Aku nggak pernah ngomongin ke siapa-siapa. Tapi itu persis kalimatnya.”
Kami duduk beberapa saat.
“Ra.”
“Hm.”
“Kalau kamu udah selesai mikirin, dan ternyata kamu tetap nggak mau cerita—“
“Aditya—“
“Dengerin dulu.” Dia meletakkan gelasnya di lantai teras. “Itu juga nggak apa-apa. Aku nggak mau kamu ngerasa ada tenggat.”
Dan aku duduk di kursi plastik di teras tokoku yang empat setengah bulan lagi mungkin bukan tokoku, dan aku menyadari sesuatu yang membuat mataku panas.
Dia memberiku persis apa yang selama ini kuberikan padanya.
Dan ternyata, dari sisi ini, rasanya sama sekali tidak seperti kebaikan.
Rasanya seperti berdiri di ruangan yang pintunya terbuka lebar dan tidak ada satu pun yang mendorongmu keluar, dan menyadari bahwa satu-satunya yang menahanmu di dalam adalah kakimu sendiri.
Malam itu, sebelum pulang, dia berhenti di depan pintu gudang seperti biasa.
Tapi dia tidak langsung menciumku.
“Ra.”
“Hm.”
“Aku mau kasih tahu sesuatu, dan aku nggak mau kamu nganggep ini tekanan.”
“Oke.”
“Ada map di laci ruang kerja aku.” Dia menatap ke suatu tempat di atas bahuku. “Isinya laporan polisi. Lima tahun aku nggak buka.”
Aku tidak bergerak.
“Aku nggak akan buka sekarang,” katanya. “Aku belum bisa. Tapi aku mau kamu tahu bahwa itu ada, dan bahwa aku tahu persis di laci mana.”
“Kenapa kamu kasih tahu aku?”
Dan Aditya menatapku, dan menjawab dengan kalimat yang akan kubawa terus sampai berbulan-bulan kemudian:
“Karena kalau ada yang tahu bahwa itu ada, aku nggak bisa pura-pura lupa lagi.”
Lalu dia menciumku, lama, dengan kedua tangan di sisi wajahku.
Dan aku menurunkan rolling door dan berdiri di dalam toko yang gelap dengan amplop cokelat di laci meja kasir yang belum kuceritakan pada siapa pun.
Dua orang. Dua laci. Dua hal yang kami berdua tahu ada dan belum sanggup dibuka.
Aku mengunci pintu dan pulang.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji reading
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu