← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Two

Yang Tidak Kutanyakan

POV: Clara


Ada satu hal yang tidak diajarkan siapa pun waktu kau memutuskan berjualan bunga: kau akan menghabiskan lebih banyak waktu memperhatikan yang sekarat daripada yang mekar.

Pagi itu aku menemukan aglonema di rak kedua sedang sekarat.

Dari luar dia baik-baik saja. Daunnya masih tegak, warnanya masih pekat, masih ada semburat merah muda di tulang daun yang bikin orang mau membelinya tanpa pikir panjang. Kalau ada pelanggan datang jam itu, dia akan bilang tanamannya bagus, dan aku akan setuju, dan tidak ada yang bohong.

Tapi aku menekan pangkal batangnya dengan ibu jari, dan rasanya tidak seperti seharusnya. Terlalu memberi. Seperti menekan buah yang sudah lewat matang lewat kulitnya yang masih mulus.

Aku menariknya dari pot. Akarnya cokelat, lembek, sebagian sudah lepas sendiri di tanah.

“Yah.” Tari muncul di sebelahku, membawa dua gelas teh yang salah satunya untuk dirinya sendiri. “Padahal kemarin masih ganteng.”

“Kemarin dia udah begini. Cuma belum kelihatan.”

“Kok bisa sih, Teh? Kan kelihatan seger.”

“Karena daunnya yang terakhir tahu.” Aku meletakkan batang itu di koran. “Yang di bawah udah bubar duluan. Daun itu masih pakai sisa air yang ada. Begitu habis, baru dia layu—dan pas itu udah nggak bisa diapa-apain.”

Tari menatap tanaman itu dengan ekspresi yang agak terlalu tersinggung untuk sebuah aglonema.

“Jahat, ya,” katanya.

“Bukan jahat. Cuma nggak punya cara lain buat kasih tahu.”

“Ya tapi kan bisa. Bisa layu sedikit-sedikit dari awal, biar kita curiga.”

Aku ingin bilang bahwa yang layu sedikit-sedikit itu justru yang paling gampang diselamatkan, dan bahwa masalahnya selalu yang tetap tegak sampai detik terakhir. Tapi Tari sudah pindah topik ke drama yang dia tonton semalam, jadi aku membuang akar itu ke ember kompos dan mencuci tangan, dan pagi itu berlanjut.


Kembang Kata bukan toko besar.

Empat meter kali delapan, ditambah teras depan yang secara teknis milik ruko sebelah tapi Pak Haji tidak pernah keberatan selama tanaman-tanamanku tidak menghalangi orang mengambil laundry. Aku membukanya empat tahun lalu dengan modal yang setengahnya pinjaman dan setengahnya nekat.

Sekarang toko ini menghidupi dua orang: aku, dan Tari yang katanya kerja di sini sambil menunggu panggilan kerja yang lebih serius. Dia sudah menunggu dua tahun. Aku tidak pernah menanyakan sudah sampai mana pencariannya, dan dia tidak pernah menyinggungnya, dan begitulah kami bekerja sama dengan baik.

Aku tidak suka bertanya. Itu kelemahanku yang paling nyaman.


Pelanggan pertama hari itu datang jam sebelas: seorang bapak-bapak dengan kemeja batik yang jelas baru saja keluar dari kantor pemerintahan.

“Mbak, saya butuh bunga.”

“Untuk apa, Pak?”

“Untuk istri saya.”

“Ulang tahun?”

Dia diam sedikit terlalu lama. “Bukan.”

“Anniversary?”

“Bukan juga.”

Tari, dari balik rak, mengangkat dua jempol ke arahku dengan ekspresi yang jelas berarti tuh kan.

Aku menyiapkan mawar merah muda dan eustoma, yang selalu jadi pilihan aman untuk kategori ini, dan bapak itu membayar sambil bertanya apakah menurutku ini cukup.

“Cukup buat apa, Pak?”

“Ya... cukup.”

“Bunga nggak pernah cukup buat apa pun, Pak. Dia cuma bikin orang mau dengerin lima menit lebih lama.”

Dia menatapku, lalu tertawa, lalu bilang bahwa lima menit sudah lebih dari yang dia punya sekarang, dan pergi dengan langkah orang yang sedang menyusun kalimat di kepalanya.

Itu bagian dari pekerjaan yang tidak ada di rencana bisnis waktu aku membuka toko ini. Orang datang membeli tangkai, tapi yang sebenarnya mereka beli adalah izin untuk mengatakan sesuatu yang tidak sanggup mereka katakan dengan mulut sendiri. Aku memberi mereka objeknya. Sisanya urusan mereka.

Empat tahun begini, dan aku jadi cukup ahli membaca orang dari cara mereka menyebutkan untuk siapa bunganya.

Yang tidak menyebutkan untuk siapa—itu kategori tersendiri.


Dia masuk pukul dua kurang seperempat.

Aku sedang membelakangi pintu, sedang menghitung ulang stok kertas cokelat yang jumlahnya tidak pernah cocok, dan bel di atas pintu berbunyi.

“Selamat siang.”

Suaranya ramah. Bukan ramah yang basa-basi—ramah yang benar-benar terdengar seperti orang yang senang berada di dalam ruangan. Aku menoleh, dan dalam setengah detik pertama aku sudah punya kesan yang lengkap: laki-laki, awal tiga puluhan, kulit sawo matang, kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, wajah yang jelas sudah biasa disukai orang.

Dan satu hal lagi, yang tidak masuk dalam daftar itu, yang baru kusadari beberapa detik kemudian.

Senyumnya datang setengah detik terlambat.

Bukan lambat seperti orang yang sedang sedih. Justru sebaliknya—begitu datang, senyum itu penuh, hangat, benar-benar sampai ke matanya. Yang aneh adalah jedanya. Seperti ada yang harus dinyalakan dulu.

Aku tidak memikirkan itu saat itu juga. Aku hanya mencatatnya, seperti orang mencatat bahwa langit agak mendung.

“Siang,” kataku. “Ini toko bunga, kan?”

Dia bercanda. Aku membalas. Dia tertawa dengan mudah, dan aku tertawa juga, dan dalam dua menit pertama dia sudah berhasil membuat siang Selasa yang membosankan jadi terasa agak menyenangkan.

Dia bagus dalam hal itu. Sangat bagus. Itu juga kucatat.


Yang membuatku mulai benar-benar memperhatikan adalah tangannya.

Tangannya tidak pernah kosong.

Waktu masuk, dia memegang kunci mobil. Waktu menyandar di meja, dia memindahkan tangannya ke saku—lalu keluar lagi, memutar kunci itu sekali di jari, lalu berhenti seperti sadar dan menghentikan diri sendiri. Waktu aku mulai memilih krisan, dia mengambil struk kosong dari meja kasirku dan melipatnya. Dua. Empat. Lalu dibuka lagi. Lalu dilipat lagi.

Orang yang santai tidak melakukan itu.

Orang yang gugup melakukan itu, tapi orang gugup juga bicaranya kacau, dan bicaranya sama sekali tidak kacau. Kalimatnya rapi. Leluconnya jatuh di tempat yang benar. Dia bahkan tahu kapan berhenti supaya aku sempat menyahut.

Jadi bukan gugup. Sesuatu yang lain, yang tidak muncul di mulutnya sama sekali dan keluar semuanya lewat tangan.

Lalu aku bilang tujuh tangkai, dan dia memotongku.

“Sembilan.”

Terlalu cepat. Dan yang lebih penting: nadanya berubah. Cuma sekejap, cuma satu kata, tapi ada baja tipis di sana yang tidak ada di seluruh percakapan sebelumnya.

Dia langsung menutupnya. “Angka favorit. Saya sedikit takhayul.”

Dan senyum itu lagi, tepat waktu, tepat lebar.

Aku tidak menjawab. Aku tahu apa yang biasanya orang lakukan di jeda seperti itu—mengisinya, meratakannya, membiarkan orangnya lewat. Tapi aku sudah pernah meratakan jeda semacam itu untuk seseorang, bertahun-tahun lalu, berkali-kali, sampai jedanya berhenti muncul karena orang itu berhenti bicara sama sekali.

Jadi aku diam. Kubiarkan menggantung satu detik lebih lama dari yang sopan.

Dan aku melihatnya menyadari itu.

Bukan panik. Cuma sesuatu yang bergeser sedikit di belakang matanya, cara orang menaikkan volume musik di mobil waktu ada bunyi aneh dari mesin.

“Sembilan, siap,” kataku, dan berbalik ke ember.


Dia memuji bunganya empat kali sambil aku membungkus.

Tidak sekali pun dia menyentuhnya.

Itu bagian yang paling lama menempel di kepalaku sesudahnya. Semua orang menyentuh. Itu refleks—orang mengulurkan tangan, meraba kelopaknya, memutar tangkainya untuk melihat dari sisi lain. Anak-anak mencabut daun. Ibu-ibu menekan-nekan kepala bunga untuk mengecek kesegarannya, yang sebenarnya merusak, dan aku tidak pernah menegur karena itu bagian dari pekerjaan.

Dia berdiri satu meter dari meja, memuji warnanya, bertanya berapa lama tahannya kalau ditaruh di luar—di luar, bukan di dalam ruangan—dan tangannya tetap sibuk melipat struk yang sudah lecek.

Dia baru menyentuh buket itu setelah aku selesai mengikat talinya. Setelah bunganya jadi barang, bukan bunga lagi.

Dan ada satu hal lagi, yang baru kusadari setelah dia pergi.

Waktu masuk tadi, di tiga langkah pertama, dia menahan napas.

Aku hanya sempat melihatnya sekilas—bahunya naik sedikit dan tidak turun sampai dia sampai di depan meja. Aku pikir dia sedang menahan bersin. Orang sering begitu di sini; serbuk sari, tanah basah, semprotan pengawet. Tapi dia tidak bersin. Dia cuma berhenti menahannya, pelan-pelan, waktu mulai bicara.

Orang tidak menahan napas di toko bunga. Orang menghirup dalam-dalam. Itu hal pertama yang dilakukan semua orang begitu masuk ke sini, sampai-sampai aku sudah bisa menebak kapan bunyi tarikan napasnya terdengar—biasanya di langkah kedua, setelah pintu tertutup.

Dia melakukan yang sebaliknya, dan dia melakukannya seperti orang yang sudah lama berlatih.

Waktu aku menawarkan baby’s breath, dia menolak sebelum aku selesai menyebut harganya. Bukan dengan kasar. Tapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya selama seperempat detik sebelum dia bilang, bukan soal harga.

Putih saja. Biar rapi.

Aku mengangguk dan tidak mengejar. Aku tidak pernah mengejar. Aku sudah belajar, dengan harga yang cukup mahal, bahwa mengejar orang yang sedang menutup pintu cuma bikin dia mengunci pintunya.

Masalahnya, aku juga belum pernah menemukan apa yang harus dilakukan selain itu.


Dia membayar. Aku memberi kembalian. Dia memasukkannya ke saku tanpa menghitung—enam ribu tujuh ratus, dan dia tidak melihatnya sama sekali.

“Makasih, ya. Kayaknya saya bakal balik lagi.”

Dan entah kenapa, yang keluar dari mulutku adalah:

“Bulan depan?”

Aku tidak berencana mengatakannya. Sungguh. Aku sudah empat tahun berlatih untuk tidak mengatakan hal-hal semacam itu, dan hari itu, kepada orang yang baru kulihat lima belas menit, aku mengatakannya.

Dia berhenti. Setengah langkah dari pintu.

Aku pura-pura sibuk dengan gulungan kertas cokelat, karena kalau aku menatapnya saat itu, semuanya jadi terlalu jelas—dia akan tahu bahwa aku memperhatikan, dan orang seperti dia, kalau tahu diperhatikan, akan berpindah toko.

“Kenapa bulan depan?”

“Nggak apa-apa.” Aku mengangkat bahu. “Biasanya orang yang beli sembilan krisan putih itu punya jadwal.”

Hening dua detik.

Lalu: “Aman, kok.”

Bel berbunyi. Pintu menutup. Dan aku berdiri di belakang meja kasirku dengan gulungan kertas yang tidak perlu dirapikan sambil merasa seperti orang yang baru saja menekan pangkal batang dan menemukan bahwa batangnya terlalu memberi.


“Ganteng.”

Tari muncul dari gudang belakang membawa satu ember kosong, dengan waktu yang terlalu presisi untuk bisa disebut kebetulan.

“Kamu dari tadi di belakang?”

“Aku ambil ember.”

“Ember itu ada di depan dari jam sepuluh.”

“Ya makanya aku ke belakang buat cari yang lain, terus nggak ada, terus aku balik, terus—“ Tari meletakkan embernya. “Teh Clara, dia ganteng.”

“Dia beli bunga.”

“Ganteng-ganteng beli bunga. Itu langka. Biasanya yang beli bunga tuh om-om yang abis dimarahin istrinya.”

“Tari.”

“Beneran! Minggu lalu ada yang sampai nanya bunga apa yang artinya maaf aku salah tapi bukan salahku. Aku bilang nggak ada, Pak, itu mah harus ngomong sendiri.”

Aku tertawa. Tari selalu berhasil, dengan cara yang sama sekali tidak dia sadari.

“Dia pakai cincin nggak sih?” Tari melanjutkan, sekarang bersandar di meja dengan seluruh tubuhnya. “Aku nggak sempet lihat.”

“Nggak pakai.”

Aku menjawabnya terlalu cepat, dan Tari langsung menoleh dengan ekspresi yang membuatku menyesali seluruh hidupku.

“TEH.”

“Aku memperhatikan tangannya karena dia terus main sama struk.”

“Iya, terus?”

“Terus nggak ada cincinnya.”

“Iya, terus?”

“Terus kamu sapu teras.”

Tari mengambil sapu sambil menggumamkan sesuatu tentang bagaimana dia akan menjadi saksi di hari pernikahanku, dan aku mengusirnya keluar, dan toko itu jadi sunyi lagi.


Sore harinya, waktu Tari sudah pulang dan aku tinggal sendiri menunggu jam tutup, aku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Aku membuka buku catatan pesanan—buku bergaris biasa yang kupakai untuk mencatat siapa pesan apa untuk tanggal berapa—dan membalik ke halaman kosong di belakang.

Lalu aku menulis: 9.

Cuma itu. Satu angka, di halaman kosong, di buku yang tidak akan pernah dibaca siapa pun kecuali aku.

Aku menatapnya beberapa saat, lalu menutup bukunya, lalu merasa bodoh.

Karena aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Aku sudah pernah melakukannya.

Enam tahun lalu, usaha keluarga kami kolaps. Bukan bangkrut yang dramatis—tidak ada penyitaan, tidak ada orang berteriak di depan rumah. Cuma pelan-pelan mengempis selama delapan bulan sampai tidak ada lagi yang bisa dijual. Kak Rendy yang memegang semuanya waktu itu. Umurnya dua puluh tujuh.

Dan selama hampir setahun sesudahnya, dia baik-baik saja.

Itu bagian yang masih tidak bisa kupercaya sampai sekarang. Dia tetap datang ke acara keluarga. Dia tetap jadi orang yang paling banyak bicara di meja makan. Dia mengirim stiker lucu di grup keluarga jam dua pagi, dan aku melihat jam pengirimannya, dan aku berpikir kok belum tidur, dan aku tidak melakukan apa-apa dengan pikiran itu.

Aku memperhatikan. Aku selalu memperhatikan. Dia mulai menurun berat badannya. Dia mulai punya jawaban yang terlalu siap. Kalau ditanya soal kerjaan, dia langsung balik bertanya soal tokoku—dan aku, dengan bangganya, menjawab panjang lebar, karena rasanya menyenangkan punya kakak yang peduli.

Aku menyimpan semuanya di kepalaku selama berbulan-bulan seperti orang yang menabung untuk sesuatu.

Dan waktu tabungan itu akhirnya kupakai, aku memakainya dengan cara yang salah.

Aku tidak bertanya. Aku menuduh. Aku datang ke kosnya dengan seluruh daftar itu di tangan—tanggal, jam, berat badan, semuanya—dan aku menuntut penjelasan seperti orang yang merasa dibohongi. Aku bilang aku capek dibohongi. Aku bilang kalau dia nggak percaya sama aku, ya sudah.

Dia tidak melawan. Dia cuma bilang iya, maaf, dengan suara yang sangat tenang, dan sejak hari itu dia berhenti mengirim apa pun ke grup keluarga.

Tiga bulan kemudian dia kolaps di kamarnya dan dibawa ke rumah sakit karena tubuhnya sudah berhenti mau bekerja sama. Dia pulih. Butuh waktu lama, tapi dia pulih.

Yang tidak pulih adalah kami.

Kami masih menelepon. Dua kali setahun. Suaranya sopan.

Aku memasukkan buku catatan itu ke laci dan menutup laci itu agak terlalu keras.

Bukan urusanku, kataku pada diriku sendiri, sambil mematikan lampu rak dan menurunkan rolling door setengah. Orang beli bunga. Orang punya alasan. Orang punya tanggal. Itu bukan berarti apa-apa dan aku bukan siapa-siapa dan yang paling penting, aku tidak akan mengulanginya.

Aku mengunci pintu.

Lalu, di trotoar, sambil memasukkan kunci ke tas, aku sadar aku sedang menghitung.

Tiga puluh hari. Kurang lebih.