← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Twenty One

Yang Kamu Simpan

POV: Aditya


Aku tahu ada sesuatu dari cara dia memotong batang.

Itu terdengar berlebihan sampai kau pernah menonton orang memotong batang selama tiga bulan. Clara punya ritme. Ambil, putar, potong, letakkan. Kecepatannya konstan sampai membosankan, dan aku sudah cukup lama duduk di kursi plastik hijau itu untuk hafal bunyinya.

Hari Kamis itu ritmenya patah.

Ambil, putar, berhenti. Ambil, potong dua kali. Ambil, letakkan tanpa dipotong sama sekali.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan aku hampir membiarkannya.

Aku ingin mencatat itu, karena penting: aku hampir membiarkannya. Aku sudah lima tahun jadi orang yang membiarkan. Aku ahli dalam membaca nggak apa-apa dan menghormatinya, karena kalau aku menghormatinya, orang akan menghormati nggak apa-apa-ku juga. Itu perjanjian yang tidak pernah ditandatangani siapa pun tapi selalu berlaku.

“Ra,” kataku lagi.

Dia meletakkan guntingnya.

“Aku lagi mikirin apakah aku harus cerita sesuatu,” katanya. “Dan aku udah mikirin ini dari Rabu, dan aku belum selesai mikirin.”

“Sekarang hari Kamis.”

“Iya.”

“Berarti udah delapan hari kamu—“

“Dua hari.”

“Rabu ke Kamis itu satu hari.”

“Aku ngitung malemnya dua kali.”

Dan aku tertawa, dan dia tidak tertawa, dan tawaku berhenti.

“Ceritain aja,” kataku.

Clara mengambil napas.

“Rabu kemarin ada yang dateng ke sini,” katanya. “Namanya Sarah.”


Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Cukup lama sehingga ada motor lewat, dan lalu satu lagi, dan lalu ada anak-anak yang mulai berkumpul di lapangan seberang.

“Oh,” kataku.

“Aditya—“

“Nggak apa-apa.” Aku tersenyum. Aku merasakan senyum itu menyala setengah detik terlambat dan aku tidak bisa melakukan apa pun tentang itu. “Dia baik-baik aja?”

“Dia baik.”

“Bagus.”

“Dia nggak ngelarang apa-apa,” kata Clara cepat. “Dia bilang itu dari awal. Dia bilang dia bukan orang yang mau kamu sendirian selamanya.”

“Iya, dia emang gitu.”

“Dan dia minta maaf sama aku, dua kali, buat hal-hal yang sebenernya nggak—“

“Iya.”

“Aditya.”

“Iya, Ra.”

Aku berdiri.

Aku berdiri untuk mengambil sesuatu, dan aku baru menyadari di tengah gerakan bahwa tidak ada yang perlu diambil, jadi aku menyelesaikan gerakan itu dengan berjalan ke rak dan memindahkan satu pot dua puluh sentimeter ke kiri.

“Kamu marah,” katanya.

“Nggak.”

Dan aku mengucapkannya dengan sangat jujur, karena itu memang jujur, karena aku tidak marah dan tidak pernah marah dan itu justru bagian yang paling membusuk dari seluruh diriku.

“Aku nggak marah,” kataku lagi. “Aku cuma—“

Aku berhenti dengan tangan masih di pot itu.

“Aku cuma nggak tahu harus taruh di mana.”


Dia tidak mengejar.

Itu bagian yang membuatku hampir tidak bisa bernapas.

Clara tidak berdiri. Dia tidak berjalan ke arahku. Dia tidak bilang ceritain dong, atau kamu boleh cerita ke aku, atau salah satu dari kalimat yang membuat orang harus membayar dengan cerita.

Dia mengambil guntingnya lagi dan melanjutkan bekerja.

Ambil, putar, potong, letakkan.

Ritmenya kembali.

Dan aku berdiri di depan rak itu selama mungkin dua menit dengan punggung menghadap ke arahnya, dan lalu aku kembali ke kursi plastik hijau dan duduk dan berkata:

“Dia yang paling deket sama Naya.”

Clara tidak mengangkat kepalanya.

“Beda dua tahun,” lanjutku. “Waktu kami nikah, Sarah masih kuliah. Aku yang nganterin dia tiap pagi selama setahun.”

“Dia cerita.”

“Dia cerita?”

“Iya. Dia bilang kampusnya nggak searah sama kantor kamu.”

Aku menggosok wajahku dengan kedua telapak tangan.

“Empat puluh menit,” kataku. “Berangkat lebih pagi.”

“Kenapa kamu lakuin?”

Dan aku, yang biasanya punya jawaban untuk segalanya, duduk di kursi plastik hijau dan tidak punya jawaban.

“Nggak tahu,” kataku. “Karena bisa, kali.”

Clara berhenti memotong.

Cuma sebentar. Lalu dia melanjutkan.


Aku pulang lebih cepat malam itu.

Jam setengah delapan, bukan setengah sembilan. Aku bilang ada tiket klien yang harus dikejar, dan itu bohong yang begitu tipis sehingga aku yakin dia bisa melihat tembus.

Dia tidak menahanku.

Dia mengantarku ke pintu, menciumku, dan bilang “Hati-hati di jalan.”

Dan aku menyetir pulang dengan seluruh isi kepalaku menyala penuh.


Ini yang terjadi di rumah malam itu.

Aku masuk. Aku menyalakan lampu satu per satu—teras, ruang tamu, dapur—dan berhenti di dapur dan berdiri di depan ambang jendela.

Sansevieria. Tutup botol berisi air. Mangkuk biru gompel di rak.

Dan aku memikirkan satu kalimat yang terus berputar sejak jam empat sore.

Aku nggak tahu harus taruh di mana.

Aku mengucapkannya tanpa merencanakannya, dan begitu keluar aku menyadari bahwa itu kalimat paling jujur yang pernah kuucapkan pada siapa pun dalam lima tahun.

Karena sistemnya rusak.

Selama lima tahun aku punya dua ruangan yang benar-benar terpisah. Ada ruangan yang isinya Naya dan Bumi dan tanggal sembilan dan pintu putih di ujung lorong dan hari Minggu pagi. Dan ada ruangan yang isinya semua orang lain—Bram, Bu Yuli, Kayla, klien, tetangga.

Aku tidak pernah membuka kedua pintu itu bersamaan. Tidak sekali pun. Itu seluruh arsitektur hidupku dan aku merancangnya dengan sangat baik.

Dan hari Rabu kemarin, tanpa aku hadir sama sekali, adik istriku duduk di kursi plastik di teras toko pacarku.

Dua ruangan itu bertemu tanpa izinku.

Dan yang membuatku duduk di lantai dapur jam sepuluh malam bukan kemarahan. Bukan kesedihan.

Yang membuatku duduk di lantai dapur adalah kesadaran bahwa aku tidak punya rencana untuk ini.

Aku punya rencana untuk semuanya. Aku punya rencana untuk apa yang harus kukatakan kalau Kayla bertanya kenapa Om Adit tidak punya anak. Aku punya rencana untuk telepon Ibu setiap bulan. Aku punya tiga versi jawaban untuk kalau ada yang bertanya kenapa aku tidak menikah lagi.

Aku tidak punya rencana untuk dua ruangan yang bertemu.


Aku kembali ke toko keesokan harinya.

Jumat. Bukan hari kami.

Aku sampai jam sebelas pagi, dan Tari yang pertama melihatku, dan sesuatu di wajahnya berubah dengan cara yang membuatku sadar bahwa dia juga tahu.

“Mas.”

“Tari.”

“Teh Clara di gudang.”

“Oke.”

“Mas.”

Aku berhenti.

Tari berdiri di sana dengan sapu di tangan, dan wajahnya adalah wajah orang berumur dua puluh dua tahun yang sedang mencoba mengucapkan sesuatu yang terlalu besar untuk perlengkapan yang dia punya.

“Maaf ya,” katanya.

“Buat apa?”

“Yang waktu itu. Aku nanya Mas dulu nikah apa nggak.” Dia menggenggam gagang sapu lebih erat. “Aku nanya sambil ketawa.”

Dan aku berdiri di teras toko bunga di Sukaluyu jam sebelas pagi hari Jumat dan merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan dalam lima tahun.

Aku tidak ingin memaafkannya.

Bukan karena aku marah. Karena memaafkan berarti mengambil sesuatu darinya, dan yang dia rasakan sekarang adalah miliknya, dan aku sudah terlalu sering mengambil hal-hal seperti itu dari orang dan menyebutnya kebaikan.

“Tari,” kataku.

“Iya?”

“Kamu nanya karena kamu merhatiin.”

Dia mengerjap.

“Itu bukan hal jelek.” Aku menepuk bahunya sekali. “Tapi kalau kamu ngerasa nggak enak, ya nggak apa-apa ngerasa nggak enak. Aku nggak akan bilang kamu nggak salah.”

Tari menatapku selama beberapa detik.

Lalu dia mengangguk, sekali, dan berjalan menyapu teras dengan sangat tekun, dan aku masuk ke dalam.


Clara di gudang, sedang memindahkan tanah ke polybag.

“Kamu bukan hari ini,” katanya, tanpa menoleh.

“Iya.”

“Ada apa?”

Aku bersandar di kusen pintu gudang.

“Aku pulang cepet kemarin karena aku nggak tahu harus ngomong apa,” kataku. “Bukan karena marah. Aku beneran nggak marah. Aku cuma—“

“Aditya.”

“Iya?”

Dia berdiri, mengelap tangannya ke celemek, dan berbalik.

“Kamu nggak perlu jelasin.”

“Aku perlu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku nggak jelasin, kamu bakal nyimpen.” Aku mengangkat bahu. “Dan kamu udah bilang sendiri apa yang terjadi kalau kamu nyimpen.”

Dan Clara berdiri di gudang dua kali dua meter itu dengan tangan yang masih ada tanahnya dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.

Lalu dia berjalan tiga langkah dan menciumku.


Ini berbeda dari yang sebelumnya.

Yang sebelumnya selalu di depan pintu gudang, setelah rolling door turun setengah, empat detik, dengan urutan yang sudah kami bangun tanpa membicarakannya.

Yang ini di dalam gudang, jam setengah dua belas siang, dengan pintu terbuka dan Tari menyapu di teras dan tangannya masih ada tanahnya.

Dia mendorongku ke rak besi.

Sesuatu jatuh—gulungan kawat florist, tentu saja gulungan kawat florist—dan tidak ada satu pun dari kami yang berhenti.

Dan di detik ketiga, mesinnya tidak menyala.

Aku menunggunya. Bagian dari kepalaku benar-benar menunggu, dengan cara orang menunggu bunyi rem yang selalu terdengar di tikungan yang sama.

Tidak ada.

Detik keempat, kelima, kesepuluh. Tanganku di punggungnya, tangannya di tengkukku, tanah dari jarinya pasti berpindah ke kerah kemejaku dan aku tidak peduli sama sekali.

Aku tidak tahu berapa lama.

Yang aku tahu adalah waktu kami berhenti, napasku tidak rata, dan dahinya di dahiku, dan dia berbisik:

“Kamu kesini karena Sarah?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak mau kamu nunggu sampe Kamis buat tahu aku nggak marah.”

Dan dia menutup matanya dan menempelkan wajahnya ke leherku, dan kami berdiri di gudang itu selama entah berapa lama, sampai Tari berteriak dari teras bahwa ada pelanggan.


“AKU NGGAK LIHAT APA-APA.”

“Tari, kamu di depan pintu.”

“Aku menghadap ke luar!”

“Kamu menghadap ke dalam.”

“Itu bayangan!”

Clara mengejarnya dengan gulungan kawat florist yang tadi jatuh. Aku berdiri di ambang gudang dan tertawa sampai harus memegang kusen pintu.

Dan pelanggan yang baru masuk—seorang ibu-ibu berumur lima puluhan—berdiri di tengah toko menyaksikan seluruh kejadian dengan ekspresi orang yang sedang mempertimbangkan untuk pindah toko.

“Maaf, Bu,” kata Clara, langsung profesional dalam waktu satu detik. “Cari apa?”

“Bunga.”

“Untuk?”

“Ulang tahun cucu.”

“Umur berapa, Bu?”

“Empat.”

Dan aku, yang sedang berdiri di ambang pintu gudang sambil tertawa lima detik sebelumnya, berhenti tertawa.

Tidak ada yang melihat. Clara sedang menghadap ke rak. Tari sedang mengambil kertas.

Aku berjalan ke luar, ke teras, dan berdiri di sana selama sekitar satu menit sambil melihat ke arah lapangan yang kosong karena anak-anak belum pulang sekolah.

Lalu aku masuk lagi dan menawarkan diri mengangkatkan pot ibu itu ke mobilnya.


Malamnya, di mobil, di depan gerbang kos, Clara menggenggam tanganku sebelum turun.

“Aditya.”

“Hm.”

“Tadi siang, waktu ibu itu bilang umur empat.”

Aku menoleh.

“Aku lihat,” katanya.

Dan aku menatap setir dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Kamu nggak harus ngomongin,” lanjutnya cepat. “Aku cuma nggak mau kamu mikir aku nggak lihat.”

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu tahu apa yang paling aneh?”

“Apa?”

Aku memegang setir dengan dua tangan meskipun mesinnya mati.

“Selama lima tahun, yang paling aku takutin itu ada orang yang lihat,” kataku. “Aku ngatur seluruh hidup aku supaya nggak ada yang lihat. Aku milih temen yang nggak nanya. Aku milih toko bunga yang penjualnya nggak nanya.”

“Terus?”

“Terus sekarang ada orang yang lihat semuanya.” Aku menoleh ke arahnya. “Dan aku nggak lari.”

Clara diam.

“Dan aku nggak ngerti kenapa,” kataku. “Dan itu bikin aku takut lebih dari sebelumnya.”

Dia mengangkat tanganku ke bibirnya dan menciumnya sekali, di punggung tangan, dan tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

Lalu dia keluar dari mobil.

Dan aku duduk di sana sampai lampunya menyala, seperti biasa, dan lalu tiga menit lebih lama dari biasa.


Aku sampai di rumah jam sepuluh.

Aku duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan selama empat puluh menit.

Lalu aku membuka chat Sarah—yang terakhir diisi tanggal empat Oktober, dengan tiga pesannya dan satu balasanku yang berisi iya, insyaallah—dan aku mengetik:

Sar, Minggu aku ke Cimahi ya. Ada waktu?

Terkirim jam sebelas kurang.

Balasannya masuk dua menit kemudian, dan aku bisa melihat dia mengetik dan berhenti dan mengetik lagi selama hampir seluruh dua menit itu.

Iya, Mas. Ada.

Dan lalu, tiga puluh detik kemudian, satu pesan lagi:

Aku tunggu.

Aku meletakkan ponsel di meja dan duduk di ruang tamu yang gelap dan merasakan tanganku bergetar dengan cara yang sudah lama tidak kurasakan.

Lima tahun.

Lima tahun aku memakai setiap pintu keluar yang dia sediakan.