← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Sixteen

Kata Ganti

POV: Aditya


Yang pertama berubah adalah kata gantinya.

Aku tidak merencanakannya. Aku mengucapkannya di pagar besi di jalan turun Lembang tanpa menyadari sampai beberapa jam kemudian, dan sesudah itu tidak ada jalan kembali—kau tidak bisa mengembalikan seseorang jadi Mbak setelah kau memanggilnya kamu satu kali.

Tapi butuh empat hari sebelum aku bisa melakukannya tanpa berhenti setengah detik.

“Kamu udah makan?”

“Belum.”

“Ya udah, aku—“ Berhenti. “Saya beliin.”

“Mas.”

“Iya, aku. Aku beliin.”

Clara tertawa dari balik meja kasir.

“Susah, ya.”

“Tiga puluh dua tahun saya ngomong ’saya’. Sekarang harus ’aku’.” Aku duduk di kursi plastik hijau. “Ini kayak ganti tangan buat nulis.”

“Nggak harus, sebenernya.”

“Harus.”

“Kenapa harus?”

Dan aku hampir menjawab dengan lelucon—itu masih refleks pertamaku, masih akan jadi refleks pertamaku untuk waktu yang lama—tapi aku menahannya di tenggorokan dan menjawab yang benar.

“Karena kalau aku masih bilang ’saya’, aku masih bisa berdiri di luar.”

Clara meletakkan penanya.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma menatapku beberapa saat, lalu kembali ke bukunya, dan aku melihat sudut bibirnya.


Tari tahu di hari Selasa.

Tepatnya, Tari sudah tahu sejak hari Kamis malam waktu dia kembali mengambil helm, tapi hari Selasa adalah hari dia memutuskan untuk merayakannya.

“MAS ADITYA.”

“Tari.”

“Selamat ya, Mas.”

“Selamat apa?”

“Ya... itu.” Dia menggerakkan tangannya ke arah kami berdua secara umum. “Itu.”

“Tari,” kata Clara.

“Aku nggak bilang apa-apa! Aku cuma bilang selamat! Orang boleh bilang selamat!”

“Selamat atas apa?”

“Atas... hari Selasa.” Tari mengangkat kedua tangan. “Selamat hari Selasa, Mas Aditya.”

“Makasih.”

“Sama-sama.” Dia mengambil sapu. “Oh iya, aku udah cerita ke grup alumni.”

“TARI.”

“Cuma dua puluh tiga orang, Teh! Itu kecil!”

Clara mengejarnya sampai ke teras. Aku duduk di kursi plastik hijau dengan gelas kopi di tangan menonton seorang perempuan berumur dua puluh delapan tahun mengejar karyawannya sendiri dengan gulungan kertas, dan aku tertawa sampai tersedak.

Dan kemudian, sekitar dua detik setelah tawanya selesai, ada sesuatu yang datang.

Selalu ada sesuatu yang datang.

Bentuknya bukan kalimat. Bukan gambar. Cuma perubahan tekanan—seperti pintu yang terbuka di ruangan lain dan kau merasakannya di telinga sebelum mendengarnya.

Aku meletakkan gelas kopiku, dan mengeluarkan ponsel, dan pura-pura membaca sesuatu selama empat puluh detik sampai perubahan tekanan itu lewat.

Lalu aku kembali menonton.


Bentuk minggu-minggu itu berubah.

Kamis tetap Kamis. Tapi sekarang ada Selasa juga, dan kadang Sabtu sore, dan sekali Rabu karena tidak ada alasan sama sekali.

Kami tidak pernah menyebutnya kencan. Kata itu terlalu besar untuk apa yang sebenarnya kami lakukan, yaitu: duduk di toko, makan mi ayam di trotoar, dan sekali dalam dua minggu pergi ke pasar bunga jam tiga pagi.

Yang berubah adalah hal-hal kecil.

Dia mulai menyimpan gelas kopi di rak bawah kasir—gelas yang bukan gelas toko, yang dia beli entah kapan, yang tidak pernah dipakai siapa pun kecuali aku.

Aku mulai punya tempat parkir. Bukan tempat parkir resmi. Cuma bahwa kalau ada motor yang parkir di depan ruko, Tari akan keluar dan bilang “Mas, geser dikit, itu buat mobil,” dan orangnya akan menggeser.

Aku mulai tahu di mana barang-barang disimpan. Gunting cadangan di laci kedua. Tali rafia di kotak biru. Kunci gudang digantung di paku di belakang pintu, bukan di gantungan kunci resmi yang ada di dinding, karena gantungan resmi itu terlalu tinggi untuk Tari.

Dia mulai tahu bahwa aku tidak minum es.

Dia tidak pernah bertanya kenapa. Dia cuma berhenti membelikan es teh dan mulai membelikan teh hangat, sekitar minggu kedua, tanpa satu kalimat pun.

(Alasannya bodoh, sebenarnya. Naya yang tidak suka es. Aku ikut berhenti sekitar tahun kedua pernikahan karena lebih gampang pesan satu jenis untuk berdua. Sekarang aku tidak bisa lagi mengingat apakah aku sebenarnya suka es atau tidak, dan sudah terlambat untuk mencari tahu.)

Dan sekitar minggu kedua, aku mulai menciumnya di depan pintu gudang sebelum pulang.

Selalu di situ. Selalu setelah rolling door turun setengah dan sebelum dia mengambil tasnya. Sekitar empat detik, kadang lebih.

Aku tidak tahu kenapa selalu di situ. Mungkin karena di sana tidak ada jendela.


Ini yang tidak kuceritakan pada siapa pun.

Setiap kali aku menciumnya, ada dua detik di awal yang benar-benar bersih.

Dua detik di mana tidak ada apa pun di kepalaku. Bukan tenang—kosong, dalam arti yang baik, cara ruangan kosong sebelum ada yang masuk.

Dan lalu, di detik ketiga, mesinnya menyala lagi.

Kamu sedang berdiri di toko bunga di Sukaluyu mencium seseorang.

Hari ini tanggal berapa.

Kamu tahu apa yang kamu lakukan.

Aku belajar mengelolanya. Aku selalu bisa mengelola apa pun—itu keahlianku, itu satu-satunya keahlian yang tersisa dari orang yang dulu merancang sistem. Aku menarik diri satu detik lebih cepat dari yang kuinginkan. Aku bilang sesuatu yang ringan. Aku menyetir pulang.

Clara tidak pernah menyebutkannya.

Tapi ada satu malam, sekitar minggu ketiga, waktu aku menarik diri dan dia tidak melepaskan tanganku dari tengkuknya.

Cuma menahannya di sana. Dua detik lebih lama.

Dan dia tidak berkata apa-apa, dan aku tidak berkata apa-apa, dan lalu dia melepaskannya.

Aku memikirkan dua detik itu sepanjang perjalanan pulang.


Kayla datang hari Sabtu dengan pertanyaan.

“Om Adit.”

“Kayla.”

“Kata Bu Yuli, Om Adit punya pacar.”

Aku sedang mengganti lampu teras rumah Pak Herman. Aku hampir menjatuhkan obengnya.

“Bu Yuli bilang gitu?”

“Iya. Ke Mamahku. Aku denger dari dapur.”

“Kayla.”

“Bener nggak?”

Aku turun dari kursi.

Ada beberapa cara untuk menjawab pertanyaan anak enam tahun. Sebagian besarnya melibatkan pengalihan, dan aku sangat bagus dalam pengalihan.

“Bener,” kataku.

“Yang tante bunga?”

“Iya.”

“Yang tinggi itu?”

“Iya.”

Kayla mempertimbangkan ini dengan sangat serius, dengan cara anak enam tahun mempertimbangkan hal-hal, yaitu dengan mengerutkan seluruh wajahnya.

“Berarti Om Adit nggak sendirian lagi.”

Aku berdiri di teras rumah Pak Herman dengan obeng di tangan.

“Kayla dari mana tahu Om sendirian?”

“Ya keliatan.”

“Keliatan gimana?”

Dan Kayla, yang belum belajar bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dikatakan, mengangkat bahunya dan berkata:

“Lampu rumah Om nyalanya satu-satu.”

Lalu dia naik ke sepedanya dan pergi.

Aku menyelesaikan lampu Pak Herman dalam sepuluh menit, dan pulang, dan berdiri di ruang tamuku sendiri.

Lalu aku menyalakan seluruh lampu rumah sekaligus.

Semuanya. Teras, ruang tamu, lorong, dapur, ruang kerja, kamar. Enam saklar dalam empat puluh detik.

Rumahnya jadi sangat terang dan sangat kosong, dan aku berdiri di tengahnya selama mungkin dua menit, dan lalu aku mematikan semuanya lagi satu per satu dengan urutan yang biasa.


Bram bertemu dengannya di minggu keempat.

Itu tidak direncanakan. Bram menelepon jam tujuh malam bilang dia di daerah Sukaluyu dan mau mampir ke tempatku, dan aku bilang aku tidak di rumah, dan dia bertanya di mana, dan aku diam terlalu lama.

Dia sampai dua belas menit kemudian.

“Halo.” Dia menyodorkan tangan ke Clara sebelum aku sempat memperkenalkan siapa pun. “Bram. Temennya Adit dari kuliah. Saya udah denger banyak.”

“Denger dari mana?” tanyaku.

“Dari lo.”

“Gue nggak pernah cerita apa-apa.”

“Nah, itu.” Bram sudah duduk di kursi plastik hijau—kursiku—dengan kenyamanan orang yang tidak pernah meminta izin untuk apa pun. “Lima tahun ini kalau gue nanya lo lagi ngapain, jawabannya ’nggak ngapa-ngapain’. Delapan minggu terakhir jawabannya ’lagi di toko’.”

“Itu bukan cerita.”

“Itu cerita paling panjang yang lo kasih sejak—“

Dan dia berhenti.

Rem otomatis. Aku sudah kenal bunyinya.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, remnya berbunyi di depan orang lain—dan aku melihat Clara mendengarnya.

Dia tidak bereaksi. Dia mengambil dua gelas dan bertanya apakah Bram mau kopi atau teh, dan Bram bilang kopi, dan percakapan berlanjut.

Tapi aku melihat dia mendengar.


Bram tinggal sampai jam sembilan.

Dia lucu. Dia selalu lucu; itu bagian dari kenapa aku bisa tetap berteman dengannya selama lima tahun tanpa harus menjadi orang yang harus dikasihani. Dia menceritakan kisah tentang aku di semester tiga yang aku sendiri sudah lupa, dan Clara tertawa sampai harus meletakkan gunting, dan Tari—yang seharusnya sudah pulang—memperpanjang keberadaannya di toko selama empat puluh menit ekstra dengan berbagai alasan yang makin lama makin tidak masuk akal.

“Jadi ini anak,” kata Bram, sambil menunjuk ke arahku dengan gelas kopi, “semester tiga, ikut lomba desain sistem. Timnya lima orang. Empat orang tidur di lab, dia sendirian ngerjain sampe pagi.”

“Nggak sendirian.”

“Sendirian, Dit. Gue salah satu yang tidur.”

“Nah, itu.”

“Terus paginya,” lanjut Bram ke Clara, “kita bangun, sistemnya udah jalan. Kita menang. Dan pas naik panggung, dia dorong gue ke depan buat presentasi.”

“Kenapa?” tanya Clara.

“Katanya gue lebih ganteng.”

“Itu bener,” kataku.

“ITU BOHONG.” Bram meletakkan gelasnya. “Dia bilang gitu supaya gue nggak ngerasa nggak berguna. Gue baru sadar sepuluh tahun kemudian.”

Ruangan itu tertawa. Aku ikut tertawa.

Dan aku melihat Clara berhenti tertawa sekitar satu detik lebih cepat dari yang lain.

Dia tidak menatapku. Dia menatap gelasnya, dan wajahnya biasa saja, dan sepersekian detik kemudian dia sudah bertanya pada Bram tentang anaknya.

Tapi aku melihatnya berhenti satu detik lebih cepat.

Di parkiran, waktu Bram mau pulang, dia menepuk bahuku.

“Dia bagus, Dit.”

“Iya.”

“Serius. Gue nggak cuma basa-basi.” Dia membuka pintu mobilnya. “Gue merhatiin satu hal dari tadi.”

“Apa?”

“Dia nggak sekali pun ngeliatin lo pas lo lagi ngomong.”

Aku mengerutkan kening. “Itu bagus?”

“Iya.” Bram masuk ke mobil. “Semua orang ngeliatin lo pas lo lagi ngomong, Dit. Nyokap lo, Sarah, gue. Kita semua ngecek muka lo.”

Dia menutup pintu, lalu menurunkan kaca.

“Dia ngeliatin lo pas lo lagi diem,” katanya.

Dan dia pergi.


Malam itu aku pulang dan duduk di ruang tamu tanpa menyalakan lampu.

Jam sebelas lewat.

Aku memikirkan kalimat Bram, dan aku memikirkan dua detik yang ditahan, dan aku memikirkan bahwa aku baru saja menghabiskan dua jam di ruangan yang sama dengan dua orang yang membuatku tertawa dan aku tidak sekali pun mengecek jam.

Lalu aku mengambil ponsel dan membuka galeri.

Aku tidak tahu kenapa. Itu bukan sesuatu yang kulakukan. Foto-foto di ponsel ini semuanya dari lima tahun terakhir—tangkapan layar, foto kerusakan pompa air Bu Yuli, dokumentasi kabel sebelum dan sesudah.

Aku menggulir ke bawah. Terus ke bawah.

Sampai batasnya.

Foto paling lama di ponsel ini diambil empat tahun sembilan bulan lalu. Foto kunci rumah, dikirim ke tukang duplikat.

Semua yang lebih tua dari itu ada di laptop di rak bawah lemari ruang kerja. Laptop yang kucas setiap dua minggu dan tidak pernah kubuka.

Aku duduk di ruang tamu yang gelap dengan ponsel di tangan selama entah berapa lama.

Lalu aku berdiri, dan berjalan ke ruang kerja, dan berlutut di depan rak bawah.

Laptopnya ada di sana. Hitam, engselnya longgar, ada stiker konferensi tahun 2017 di sudutnya yang sudah menguning.

Aku mengeluarkannya.

Aku meletakkannya di meja.

Aku duduk di depannya selama dua puluh menit dengan kedua tangan di paha.

Lalu aku memasukkannya kembali ke rak bawah lemari, dan menutup pintu lemarinya, dan pergi tidur.


“Mas.”

“Hm?”

Kamis berikutnya. Toko sepi. Clara sedang memindahkan sirih gading ke pot yang lebih besar dan aku sedang memegang potnya supaya tidak miring.

“Kamu tidur jam berapa semalem?”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Kamu ngecek aku?”

“Nggak.” Dia menekan tanah di sekeliling akar. “Aku cuma nanya.”

Dan aku tahu—dengan sangat jelas, dengan cara yang membuat sesuatu di dadaku hangat dan panik sekaligus—bahwa itu bohong. Bahwa dia mengecek. Bahwa dia sudah mengecek selama berminggu-minggu, dari balik meja kasir, dengan cara yang tidak pernah sekali pun terasa seperti dicek.

“Jam dua,” kataku.

“Ngapain?”

Dan ini bagian yang penting, dan aku ingin mencatatnya dengan benar:

Aku hampir bilang nggak ngapa-ngapain.

Kalimatnya sudah ada. Sudah lengkap. Sudah dipakai lima tahun.

Yang keluar adalah: “Aku ngeluarin sesuatu dari lemari terus masukin lagi.”

Clara berhenti menekan tanah.

Dia tidak menoleh. Dia tidak bertanya apa. Dia tidak bertanya kenapa.

Dia cuma bilang, sambil melanjutkan pekerjaannya:

“Berapa lama duduknya?”

“Dua puluh menit.”

“Oke.”

Dan itu saja.

Kami menyelesaikan sirih gadingnya. Kami memindahkan tiga pot lain. Jam enam Tari pulang, jam delapan kami menutup toko, dan aku menciumnya di depan pintu gudang selama empat detik.

Di detik ketiga, mesinnya menyala seperti biasa.

Tapi malam itu, di dalam mobil dalam perjalanan pulang, aku menyadari sesuatu yang membuatku hampir menepi.

Aku sudah memberi tahu seseorang tentang laptop itu.

Tidak sepenuhnya. Tidak isinya, tidak nama-namanya, tidak satu pun dari hal-hal yang sebenarnya.

Tapi aku sudah bilang bahwa ada lemari, dan ada sesuatu di dalamnya, dan bahwa aku duduk di depannya selama dua puluh menit.

Dan tidak ada yang runtuh.

Dan aku menyetir pulang di tiga puluh delapan kilometer per jam dengan perasaan yang begitu tidak wajar sehingga butuh sampai perempatan Antapani sebelum aku bisa menamainya.

Aku sedang berharap besok cepat datang.

Aku tidak pernah berharap besok cepat datang. Bukan sekali pun, tidak dalam lima tahun. Besok selalu cuma hari lain yang harus dilewati dengan cara yang sama seperti hari ini.

Aku menepi di depan minimarket dan duduk di sana selama beberapa menit sampai bisa bernapas dengan benar.