Chapter Thirty Four
Jarak
POV: Aditya
Aku baik-baik saja selama enam hari.
Itu bukan sarkasme. Enam hari itu sungguhan.
Aku bangun. Aku bekerja. Aku ke rumah sakit hari Selasa dan membawa buku mewarnai dan spidol dua belas warna, dan Kayla memakai gendongan di lengan kirinya dan menunjukkan padaku bagaimana dia bisa mewarnai dengan tangan kanan lebih bagus dari sebelumnya.
Aku membetulkan sepeda itu hari Rabu.
Aku membetulkannya dengan sangat baik. Aku mengganti kabel rem depan dan belakang, meskipun yang depan tidak apa-apa. Aku mengganti kampasnya. Aku melumasi rantainya. Aku menurunkan sadelnya dua sentimeter lagi karena aku menghitung ulang dan ternyata masih terlalu tinggi.
Aku menghabiskan empat jam untuk pekerjaan empat puluh menit.
Sebagian besar dari empat jam itu bukan pekerjaan.
Aku duduk di garasi dengan sepeda biru itu di atas dua kursi terbalik dan menekan tuas remnya. Melepas. Menekan lagi. Menghitung berapa banyak gerakan tuas sebelum kampasnya menggigit.
Setelah kabelnya kuganti: dua per sepuluh perjalanan tuas.
Sebelumnya: setengah.
Selisih tiga per sepuluh perjalanan tuas rem sepeda anak.
Itu selisih antara berhenti di ujung turunan dan tidak berhenti di ujung turunan. Itu selisih antara anak berumur enam tahun yang sedang mewarnai dengan tangan kanan di kamar rumah sakit dan sesuatu yang lain.
Aku duduk di garasi dan menekan tuas itu mungkin dua ratus kali.
Dan waktu selesai, aku membawanya ke rumah Kayla dan menyerahkannya ke ibunya, dan ibunya bilang aduh Mas Adit nggak usah repot-repot, dan aku bilang nggak repot.
Dan aku pulang dan duduk di garasi selama satu jam.
Aku ke Cikutra setiap hari selama enam hari itu.
Bukan Kamis. Setiap hari.
Clara tidak berkomentar. Tari berkomentar—“Mas, kok tiap hari?”—dan aku bilang lagi sepi kerjaan, dan dia menerima itu, karena Tari selalu menerima apa pun yang tidak masuk akal dari orang yang dia sukai.
Aku memasang gantungan di gudang. Aku mengganti stopkontak yang goyang. Aku membuat rak kecil di bawah meja kasir untuk buku pesanan, yang sebenarnya tidak dibutuhkan siapa pun.
Dan pada hari keenam, hari Minggu, aku sedang memasang lampu tambahan di teras waktu Clara berkata:
“Aditya.”
“Hm.”
“Turun dulu.”
Aku turun dari tangga.
“Kamu udah masang tiga hal minggu ini yang aku nggak minta,” katanya.
“Empat.”
“Nah.”
Dan dia berdiri di teras dengan tangan di pinggang dan menatapku dengan cara yang sudah kukenal.
“Aku nggak bilang berhenti,” katanya. “Aku cuma bilang aku lihat.”
Dan aku bilang oke, dan naik lagi ke tangga, dan menyelesaikan lampunya.
Hari ketujuh, semuanya berhenti.
Aku bangun jam empat pagi hari Senin dan berbaring di kasurku sendiri—aku di rumah, Clara di kosnya, itu hari pertama dalam seminggu kami tidak bersama—dan aku menatap langit-langit.
Dan sesuatu di dalam kepalaku sudah selesai menghitung.
Itu yang paling menakutkan, kalau aku jujur: tidak ada momen di mana aku memutuskan apa pun.
Perhitungannya berjalan sendiri, di latar belakang, selama enam hari sementara aku memasang lampu dan mengganti kabel rem dan tertawa dengan Tari.
Dan pagi itu hasilnya keluar.
Hasilnya berbentuk seperti ini.
Lima tahun aku percaya bahwa aku sudah menjadi orang yang berbeda. Bahwa yang terjadi lima tahun lalu adalah kecelakaan yang menimpa versi lama diriku, dan bahwa versi baru ini—yang menyemen halaman, yang menyetir di enam puluh, yang datang jam lima sore ke tahlilan dan mencuci gelas—versi baru ini sudah belajar.
Tanggal sepuluh Maret membuktikan bahwa itu bohong.
Bukan bohong dalam arti aku menipu orang lain. Bohong dalam arti aku menipu diriku sendiri, selama lima tahun, dengan sangat rapi.
Karena diberi kondisi yang sama—diberi seseorang yang bergantung padaku, sebuah bagian mekanis yang perlu diperiksa, dan hidup yang sedang berjalan cukup baik sehingga aku sedang senang—
Aku melakukan hal yang sama persis.
Lima kali.
Dan yang menyelamatkan Kayla bukan aku. Yang menyelamatkan Kayla adalah seorang bapak-bapak bernama Deni yang kebetulan sedang menyetir pelan di tikungan itu.
Sejengkal.
Kalau Pak Deni sedang menelepon. Kalau Pak Deni sedang lelah. Kalau Pak Deni tipe orang yang belok tanpa menurunkan kecepatan.
Sejengkal.
Aku berbaring di kasurku jam empat pagi dan mengerti bahwa selama lima tahun aku bukan orang yang sudah pulih.
Aku orang yang beruntung.
Dan keberuntungan bukan sifat. Keberuntungan habis.
Ini bagian yang harus kuceritakan dengan jujur, meskipun tidak ada yang bertanya.
Aku tidak memutuskan untuk pergi.
Aku memutuskan sesuatu yang jauh lebih kecil, dan yang kedengarannya jauh lebih masuk akal, dan yang aku tahu—bahkan saat memutuskannya—adalah bentuk yang sama.
Aku memutuskan untuk lebih hati-hati.
Itu saja. Empat kata.
Dan hati-hati, dalam bahasa yang sudah kubangun selama lima tahun, berarti: jangan sampai ada lagi orang yang bergantung padamu di tempat yang tidak bisa kau kontrol.
Aku mulai dengan hal-hal kecil.
Hari Senin aku tidak ke Cikutra.
Aku mengirim pesan jam empat sore: Ra, hari ini aku nggak bisa. Ada kerjaan.
Ada kerjaan. Itu benar. Ada tiket dari klien Singapura yang deadline-nya hari Kamis, dan aku menyelesaikannya hari Senin itu dalam enam jam.
Balasan Clara: Oke. Jangan lupa makan.
Hari Selasa aku datang, tapi jam enam, bukan jam empat.
Hari Rabu aku datang jam empat dan pulang jam delapan, tapi aku tidak mengantarnya pulang karena motornya sudah keluar dari bengkel.
Itu benar juga. Motornya memang sudah keluar dari bengkel.
Semua alasanku benar.
Itu keahlianku. Aku tidak pernah berbohong—berbohong itu berisiko, berbohong bisa ketahuan. Aku cuma menyusun kebenaran-kebenaran kecil dalam urutan tertentu sampai bentuknya jadi sesuatu yang lain.
Hari Kamis dia menahanku.
Bukan secara fisik. Dia menutup buku pesanannya jam setengah delapan dan berkata:
“Duduk.”
Aku duduk di kursi plastik hijau.
“Kamu jarak-jarakin aku,” katanya.
“Nggak.”
“Aditya.”
“Ra, aku ada kerjaan tiga hari ini—“
“Senin kamu nggak dateng. Selasa kamu dateng jam enam. Rabu kamu nggak nganter aku pulang.” Dia melipat tangan. “Dan tadi kamu udah lihat jam tiga kali dalam empat puluh menit.”
Aku tidak menjawab.
“Aku nggak marah,” katanya, dan nadanya benar-benar tidak marah, dan itu yang membuatnya lebih buruk. “Aku cuma mau kamu tahu aku lihat.”
“Aku tahu kamu lihat.”
“Terus?”
Dan aku duduk di kursi plastik hijau di teras toko yang catnya kubantu kerjakan sendiri, dan aku berkata:
“Aku lagi mikirin sesuatu.”
“Mikirin apa?”
“Belum selesai.”
Dan Clara menatapku selama beberapa detik.
Lalu dia mengangguk, dan berkata: “Oke.”
Dan dia mengucapkannya dengan cara yang persis sama seperti aku mengucapkan oke di lantai kamar itu enam hari lalu.
Kami berdua tahu apa artinya.
Tidak ada yang menyebutnya.
Sabtu, Bram menelepon.
“Dit.”
“Bram.”
“Lo di mana?”
“Rumah.”
“Gue mau ngomong.”
“Ngomong aja.”
“Nggak lewat telepon.”
Dia sampai empat puluh menit kemudian dan duduk di sofaku dan tidak menyentuh air yang kubuatkan.
“Gue denger dari Bu Yuli soal Kayla.”
“Iya.”
“Anaknya udah pulang?”
“Udah, Kamis kemarin.”
Bram mengangguk.
Lalu dia berkata: “Dit, gue mau nanya dan gue mau lo jawab sekali aja terus kita nggak usah bahas lagi.”
“Tanya.”
“Lo nyalahin diri lo sendiri?”
Aku menatapnya.
Dan aku menyadari, dengan bagian dari kepalaku yang tidak pernah berhenti bekerja, bahwa ada dua jawaban yang tersedia dan aku sudah menyiapkan keduanya.
Yang pertama adalah nggak.
Yang kedua lebih baik.
“Bram,” kataku, “sepedanya udah gue betulin hari Rabu. Kabel rem depan belakang gue ganti. Kampasnya gue ganti. Sadelnya gue turunin dua senti lagi.”
Bram menunggu.
“Anaknya baik-baik aja,” lanjutku. “Selangka retak, enam minggu, dokternya bilang anak umur segitu tulangnya nyambung cepet.”
“Dit—“
“Dan gue udah ngobrol sama bapak yang bawa mobil,” kataku. “Namanya Pak Deni. Dia nggak salah apa-apa. Gue bilang gitu ke dia dan dia keliatan lega.”
Bram meletakkan gelasnya.
“Gue nggak nanya itu.”
“Gue tahu.”
Hening.
Dan lalu Bram berkata sesuatu yang tidak pernah dia katakan dalam lima tahun.
“Dit, gue capek.”
Aku menoleh.
“Gue capek jadi orang yang berdiri di sebelah lo terus nggak dikasih apa-apa,” katanya. Suaranya tidak keras. “Lima tahun, Dit. Gue nanya sekali di tahun kedua dan lo jawab dengan sangat bagus dan gue nggak pernah nanya lagi. Dan gue pikir itu sopan.”
Dia menggosok wajahnya.
“Terus bulan lalu gue liat lo di Cikutra ngecat dinding sambil ketawa,” katanya, “dan gue mikir, oh, akhirnya. Akhirnya ada orang yang bisa masuk.”
Aku memandang meja.
“Dan sekarang gue liat lo duduk di sofa ini,” katanya, “dan lo lagi ngelakuin hal yang sama persis kayak lima tahun lalu, dan lo bahkan lebih jago sekarang.”
Aku mengantarnya ke mobil jam sembilan.
Di pagar, dia berhenti.
“Dit.”
“Hm.”
“Gue nggak bakal maksa lo cerita apa-apa.”
“Iya.”
“Tapi gue mau lo tahu satu hal.” Dia membuka pintu mobilnya. “Gue berdiri di belakang lo di kantor polisi lima tahun lalu.”
Aku tidak bergerak.
“Gue baca laporannya dari belakang bahu lo,” katanya. “Gue baca bagian bannya.”
Ada bunyi jangkrik dari halaman tetangga.
“Dan gue nggak pernah sekali pun mikir itu salah lo,” katanya. “Dan gue tahu itu nggak ngaruh. Gue udah lima tahun tahu itu nggak ngaruh.”
Dia masuk ke mobil.
“Tapi gue ngomong aja,” katanya, lewat jendela. “Sekali seumur hidup. Terus udah.”
Dan dia pergi.
Aku masuk ke rumah dan menyalakan lampu satu per satu.
Teras. Ruang tamu. Dapur.
Aku berdiri di depan ambang jendela dapur.
Sansevieria. Tutup botol berisi air—airnya sudah habis, dan aku sudah tiga minggu tidak mengisinya. Mangkuk biru gompel di rak.
Dan aku berdiri di sana dan menyadari bahwa aku sedang menghitung ulang untuk kesekian kalinya.
Kalau kau pergi sekarang, dia akan sakit selama beberapa bulan.
Kalau kau tinggal, dan suatu hari nanti kau bilang besok tentang sesuatu yang penting—
Aku memegang tepi wastafel dengan kedua tangan.
Dan yang membuatku hampir muntah bukan perhitungannya.
Yang membuatku hampir muntah adalah bahwa aku bisa merasakan seluruh sistem lama menyala kembali, satu demi satu, dengan bunyi yang sangat halus dan sangat familiar—seperti rumah yang listriknya dinyalakan kembali setelah mati lama, dengan semua alat yang masih tertancap di stopkontak sejak dulu.
Halaman yang disemen. Enam puluh kilometer per jam. Kolom di sebelah setiap tindakan.
Semuanya masih di sana.
Tujuh bulan aku pikir aku sedang membongkarnya.
Aku cuma mematikan sakelarnya.
Aku mengisi tutup botol itu dengan air.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku berdiri di dapur jam sepuluh malam dan mengisi tutup botol plastik dengan air keran dan meletakkannya kembali di sebelah sansevieria yang tidak membutuhkan apa pun dari siapa pun.
Lalu aku mengambil ponsel dan mengetik.
Ra, besok aku ke Cikutra ya. Jam empat.
Terkirim.
Balasannya masuk dalam sepuluh detik.
Iya. Aku tunggu.
Dan aku menatap dua kata itu lebih lama daripada yang seharusnya, karena aku sudah tujuh bulan mengenal perempuan ini dan aku tahu persis apa yang dia lakukan.
Dia tidak menulis oke.
Dia menulis aku tunggu.
Dan itu, dari orang yang tidak pernah sekali pun meminta apa pun dariku dalam tujuh bulan, adalah hal paling mirip permohonan yang pernah dia kirimkan.
Aku meletakkan ponsel di meja dapur.
Dan aku berdiri di sana, di rumahku yang seluruh lampunya menyala, dan untuk pertama kalinya sejak tanggal sepuluh Maret aku menangis sendirian—berdiri, dengan tangan di wastafel, tanpa bunyi.
Karena aku tahu aku akan datang besok.
Dan aku tahu aku sudah mulai pergi.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak reading
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu