← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Forty

Panggilan dari Kemang

POV: Clara


Bu Ratna menelepon tanggal dua belas Agustus, jam dua siang, hari Selasa.

Aku sedang membungkus pesanan dan aku melihat namanya di layar dan aku membiarkannya berdering dua kali sebelum mengangkat.

“Bu Ratna.”

“Clara! Kamu sibuk?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Bagus.” Ada bunyi kursi digeser di seberang. “Saya nggak akan basa-basi. Yudi resign.”

Aku meletakkan gunting.

“Yudi yang—“

“Yudi yang itu. Yang kamu bilang nggak perlu nanya ke saya.” Suara Bu Ratna terdengar lelah. “Dia buka usaha sendiri di Tangerang. Saya nggak bisa nahan dan saya nggak mau nahan.”

“Selamat buat dia.”

“Iya, selamat buat dia, dan sekarang saya kacau.”

Aku bersandar ke meja kasir.

“Clara, posisinya kosong.”


Ini yang tidak kuduga: aku tidak merasakan apa-apa.

Bukan senang. Bukan takut. Bukan bahkan godaan.

Aku berdiri di belakang meja kasir tokoku sendiri di Cikutra dengan ponsel di telinga dan pesanan setengah bungkus di depanku, dan yang kurasakan adalah semacam kelegaan kosong, cara orang merasa lega waktu antrean akhirnya bergerak setelah berdiri lama.

Bukan lega karena tawarannya.

Lega karena akhirnya ada sesuatu yang terjadi.

“Bu—“

“Saya belum selesai.” Bu Ratna menarik napas. “Clara, saya mau jujur. Ini bukan tawaran yang sama kayak Januari.”

“Kenapa?”

“Karena Januari saya nawarin partner. Sekarang saya butuh orang yang bisa mulai September.”

“September?”

“Tiga minggu.”

Aku menutup mataku.

“Saya tahu itu nggak masuk akal,” katanya. “Kamu baru pindah toko lima bulan lalu. Kamu punya kontrak. Kamu punya karyawan.”

“Iya, Bu.”

“Dan saya tetep nelepon.”

Ada jeda.

“Karena kamu satu-satunya orang yang saya kenal yang bisa langsung jalan tanpa saya ajarin,” katanya. “Dan karena saya udah lima belas tahun ngerekrut orang dan saya udah cukup tua buat nggak pura-pura nggak butuh.”


Aku minta waktu seminggu.

Dia memberiku sepuluh hari.

Dan aku menutup telepon dan berdiri di belakang meja kasir dan menyelesaikan bungkusan yang setengah jadi itu, dan melayani dua pelanggan, dan mengecek stok kertas cokelat yang jumlahnya tidak pernah cocok.

Dan jam empat sore aku duduk di kursi plastik hijau di teras dan menyadari bahwa aku sudah tiga jam tidak memikirkan tawarannya sama sekali.

Aku memikirkan hal lain.

Aku memikirkan bahwa kalau aku pergi, aku akan pergi dari kota di mana ada seseorang yang mungkin—suatu hari, mungkin, entah kapan—berdiri di depan tokoku.

Dan itu adalah alasan paling buruk yang bisa dimiliki manusia untuk tidak mengambil pekerjaan.


“Teh.”

“Hm.”

“Teteh dari tadi duduk.”

“Iya.”

Tari berdiri di ambang pintu dengan gunting di tangan.

“Teh Clara nggak pernah duduk.”

“Sekarang duduk.”

Dan Tari berjalan keluar dan duduk di kursi plastik hijau satunya.

Kursi itu.

Aku melihatnya duduk di sana dan sesuatu di dadaku menyempit, dan Tari melihat wajahku dan langsung berdiri lagi.

“Ya ampun. Maaf, Teh.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku pindah—“

“Tari, duduk.”

Dan dia duduk lagi, dengan hati-hati sekali, seperti orang yang duduk di kursi yang baru dicat.

“Bu Ratna telepon,” kataku.

“Yang Jakarta?”

“Iya.”

“Terus?”

“Ada posisi kosong. Mulai September.”

Tari tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia berkata: “Teteh mau ambil?”

Dan aku menoleh ke arahnya dan berkata yang sebenarnya:

“Aku nggak tahu.”


Sepuluh hari itu adalah sepuluh hari terburuk sejak bulan April.

Bukan karena keputusannya sulit.

Karena keputusannya tidak sulit, dan aku tidak bisa mengakui itu pada diriku sendiri.

Aku membuat kolom. Tentu saja aku membuat kolom—aku selalu membuat kolom, itu keahlian keluarga.

Kolom kiri: Cikutra. Kontrak sampai Maret tahun depan. Omzet naik sembilan persen. Empat puluh satu pelanggan tetap yang tiga puluh satu di antaranya sudah pindah. Tari. Pak Endang. Bu Rahma. Bapak-bapak yang membeli alstroemeria untuk istrinya di rumah sakit dan yang sekarang datang sendirian setiap dua minggu karena istrinya sudah meninggal bulan Juni dan yang tidak pernah kutanya kenapa dia masih membeli bunga.

Kolom kanan: Kemang. Angka yang tidak masuk akal. Cold room. Sistem. Lima puluh acara sebulan. Bu Ratna yang bilang dia sudah cukup tua untuk tidak pura-pura tidak butuh.

Dan di bawah kedua kolom, di ruang kosong yang seharusnya untuk kesimpulan, aku menulis satu kalimat dan langsung mencoretnya:

Kalau aku pergi, dia nggak bisa dateng.

Aku mencoretnya sampai kertasnya sobek.


Hari keempat, aku hampir menelepon Sarah.

Aku punya nomornya. Dia mengirimkannya bulan Desember, waktu Aditya memberikannya padaku dengan alasan yang sangat berputar tentang bagaimana kalau ada apa-apa.

Aku membuka kontaknya dan menatapnya selama beberapa menit.

Bukan untuk bertanya bagaimana keadaan Aditya. Aku tahu persis bahwa itu yang akan kutanyakan begitu teleponnya diangkat, apa pun yang kurencanakan sebelumnya.

Aku menutup kontaknya.

Hari kelima, Tari bertanya apakah dia harus mulai mencari kerja.

Dia bertanya dengan sangat tenang, jam sepuluh pagi, sambil menyortir. Bukan menuntut. Cuma bertanya, karena dia berumur dua puluh tiga tahun dan punya adik yang masih sekolah dan tidak bisa menunggu sampai orang lain selesai berpikir.

“Belum,” kataku.

“Teh, kalau Teteh pergi—“

“Kalau aku pergi, toko ini nggak tutup.”

Tari mengangkat wajahnya.

“Maksudnya?”

Dan aku, yang belum memikirkan ini sampai kalimatnya keluar dari mulutku sendiri, berkata:

“Kalau aku pergi, kamu yang pegang.”

Tari meletakkan krisannya.

“Aku nggak bisa, Teh.”

“Kamu bisa.”

“Aku nggak ngerti angka.”

“Kamu inget empat puluh satu pelanggan dari buku pesanan setahun ke belakang dalam satu malam.”

“Itu beda.”

“Itu persis sama.”

Dan Tari berdiri di belakang meja kasir dengan wajah yang tidak bisa dia atur sama sekali, dan aku menyadari—untuk pertama kalinya, dengan jelas—bahwa aku sudah mengajari orang ini selama dua tahun delapan bulan tanpa pernah menyebutnya mengajari.

“Teh.”

“Hm.”

“Kalau Teteh nawarin itu buat bikin Teteh lebih gampang pergi,” katanya, “itu curang banget.”

Aku berhenti.

Dan aku duduk di kursi kasir dan menyadari bahwa dia benar.


Aku ke pasar bunga hari Minggu.

Pak Endang sedang mengikat, seperti selalu.

“Neng Clara!”

“Pak.”

“Duduk, duduk.”

Dan aku duduk di kursi plastiknya dan minum kopinya yang terlalu manis dan mendengarkan tentang cucunya selama dua puluh menit sebelum akhirnya berkata:

“Pak, saya mau tanya sesuatu.”

“Tanya.”

“Kalau Bapak dikasih tawaran yang jauh lebih bagus dari kios ini, Bapak ambil nggak?”

Pak Endang berhenti mengikat.

“Bagus gimana?”

“Uangnya tiga kali lipat. Tempatnya bagus. Orangnya baik.”

“Di mana?”

“Jakarta.”

Dan Pak Endang tertawa sampai batuk.

“Neng, Bapak umur enam puluh tiga.”

“Ya kalau Bapak umur dua puluh delapan.”

Dia menyeka matanya.

“Kalau Bapak umur dua puluh delapan,” katanya, “Bapak ambil.”

Aku menatapnya.

“Beneran, Pak?”

“Beneran.” Dia melanjutkan ikatannya. “Bapak dulu di sini karena nggak ada pilihan lain, Neng. Bapak nggak sekolah. Ini satu-satunya yang Bapak bisa.”

Dia menarik simpulnya.

“Neng punya pilihan,” katanya. “Itu beda.”


Aku duduk di sana beberapa saat.

“Tapi—“ Pak Endang meletakkan ikatannya. “Neng nanya ke Bapak buat apa?”

“Maksudnya?”

“Neng udah tahu jawabannya.”

Aku memegang gelas kopiku.

“Orang yang belum tahu jawabannya nggak nanya ke tukang bunga, Neng. Dia nanya ke orang yang ngerti bisnis.” Dia mengangkat bahu. “Neng nanya ke Bapak karena Neng pengen ada yang bilang boleh.”

Dan aku duduk di kios Pak Endang di pasar bunga jam sepuluh pagi hari Minggu dan merasakan wajahku panas.

“Neng.”

“Iya, Pak.”

“Bapak nggak nanya-nanya.”

“Iya, Pak. Saya tahu.”

“Tapi Bapak mau bilang satu hal.” Dia mengambil ikatan berikutnya. “Empat tahun lalu Neng dateng ke sini tiap minggu buat bilang belum bisa bayar.”

“Iya.”

“Neng nggak ngilang.”

“Iya.”

Dia menyelesaikan simpulnya.

“Kalau Neng ke Jakarta,” katanya, “Neng tetep nggak boleh ngilang. Itu aja.”


Aku memutuskan hari kedelapan.

Malam Kamis, jam sebelas, di kamar kos, dengan laptop terbuka dan email setengah jadi di layar.

Aku menghapus semuanya.

Dan aku menulis email yang berbeda, yang isinya empat paragraf, dan yang paragraf pertamanya berbunyi:

Bu, saya ambil.

Aku menatapnya selama sepuluh menit.

Lalu aku menghapusnya juga.

Dan aku duduk di kasur kos jam setengah dua belas malam dengan laptop yang layarnya sudah kembali gelap, dan aku berkata—keras-keras, ke kamar kosong, seperti orang gila:

“Kenapa nggak bisa.”

Dan aku menunggu jawabannya.

Dan jawabannya datang, dan jawabannya bukan yang kuduga.


Jawabannya bukan Aditya.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena selama sepuluh hari aku yakin jawabannya adalah Aditya, dan aku sudah menyiapkan seluruh rasa malu untuk itu.

Jawabannya adalah bahwa aku tidak ingin pergi.

Bukan tidak ingin pergi dari kota ini.

Tidak ingin pergi dari ini—dari empat meter kali delapan, dari Tari, dari empat puluh satu nama di buku catatan, dari bapak-bapak yang masih membeli alstroemeria untuk istrinya yang sudah tidak ada, dari Pak Endang yang tidak pernah menagih siapa pun selama lima belas tahun.

Dari pekerjaan di mana aku memegang guntingnya sendiri.

Aku sudah tahu ini di bulan Januari. Aku sudah mengujinya waktu itu—aku membayangkan Aditya tidak ada dan jawabannya tetap tidak.

Dan sekarang Aditya benar-benar tidak ada.

Dan jawabannya tetap tidak.

Yang berarti jawabannya sungguhan.


Aku menulis emailnya jam satu pagi.

Tiga paragraf. Jujur. Aku bilang bahwa aku tidak akan mengambilnya, dan bahwa alasannya bukan karena aku takut atau karena aku tidak menghargai tawarannya, tapi karena aku sudah menguji ini dua kali dalam delapan bulan, sekali waktu aku punya alasan romantis dan sekali waktu aku tidak punya apa-apa, dan jawabannya sama.

Dan di paragraf terakhir aku menulis sesuatu yang tidak kurencanakan.

Bu, saya minta maaf karena bulan Januari saya bilang alasannya adalah gunting. Itu cuma sebagian. Yang sebenarnya adalah saya sedang bahagia dan saya takut mengganggunya. Sekarang saya sudah tidak bahagia, dan saya tetap tidak mau pergi. Jadi ternyata alasannya memang gunting.

Aku mengirimnya jam satu lewat dua puluh.

Dan aku menutup laptop dan tidur, dan aku tidur delapan jam untuk pertama kalinya sejak bulan April.


Balasannya masuk dua hari kemudian.

Satu paragraf.

Clara, saya lega kamu jawab begitu. Saya juga mau minta maaf: saya nelepon kamu bulan ini karena saya panik, bukan karena saya mikirin kamu. Kalau saya mikirin kamu, saya nggak akan nawarin posisi yang mulai tiga minggu lagi ke orang yang baru pindah toko lima bulan lalu. Jaga toko kamu. Dan tolong jangan berhenti motong batang, karena salah satu dari kita harus.

Aku membacanya di belakang meja kasir jam sepuluh pagi.

Dan aku menangis sedikit, dan Tari melihat, dan Tari tidak bertanya apa-apa—dia cuma mengambil selang dan menyiram rak teras yang sudah kusiram satu jam sebelumnya.


Hari itu hari Jumat, tanggal dua puluh dua Agustus.

Empat bulan persis sejak malam di teras.

Aku menutup toko jam delapan dan berdiri di teras dengan kunci di tangan, dan di sebelahku ada dua kursi plastik hijau dengan satu kaki yang lebih pendek.

Dan aku memikirkan satu baris yang kutambahkan ke catatan ponselku di bulan Juli.

Tapi jangan ngilang.

Aku mengambil ponsel.

Aku membuka chat yang terakhir diisi tanggal dua puluh dua April—pesannya jam empat sore, Ra, hari ini aku nggak bisa—dan aku menatap kolom kosong di bawahnya selama mungkin lima menit.

Dan aku mengetik sesuatu.

Bukan pertanyaan. Bukan ajakan. Bukan apa pun yang membuatnya harus membalas.

Aku mengetik:

Aku nggak jadi ke Jakarta. Aku nggak ngasih tau kamu buat minta apa-apa. Aku cuma nggak mau kamu tahunya dari orang lain.

Aku menatapnya selama satu menit penuh.

Lalu aku mengirimnya, dan mematikan ponselku, dan pulang, dan tidak menyalakannya lagi sampai besok pagi.