← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Six

Delapan Puluh Tangkai

POV: Aditya


Aku menyimpan nomor itu dengan nama Kembang Kata.

Bukan Clara. Aku sadar betul waktu mengetiknya, dan aku sadar betul kenapa, dan aku tetap mengetik Kembang Kata seperti orang yang mengarsipkan sesuatu supaya tidak perlu memikirkannya lagi.

Lalu aku mengirim foto tanaman.

Aku tahu itu konyol. Aku mengetahuinya bahkan sambil memotret. Aku berdiri di dapur jam satu siang, membungkuk sampai wajahku setinggi ambang jendela, memfoto selembar daun dari jarak lima sentimeter seperti orang yang sedang mendokumentasikan bukti.

Maaf ya, ganggu.

Itu bagian yang paling kusesali, sebenarnya. Bukan fotonya. Kalimat maafnya. Aku selalu meminta maaf terlalu cepat, seperti orang yang berjalan sambil membungkuk.

Balasannya datang cepat.

Nggak ganggu. Kalau ada apa-apa, tanya aja.

Lalu, beberapa detik kemudian:

Kalau bingung, foto aja lagi. Saya lebih gampang lihat daripada dengar.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu aku meletakkan ponsel di meja dan mencuci gelas yang sudah bersih, karena itu yang kulakukan kalau ada sesuatu di dalam dadaku yang tidak punya tempat.


Sabtu pagi, jam delapan lewat, Bram menelepon.

“Dit. Lo di rumah?”

“Iya.”

“Gue lagi di jalan. Mampir ya, ada yang mau gue omongin.”

“Tumben serius.”

“Gue selalu serius.”

“Lo pernah nangis nonton iklan biskuit.”

“Itu iklannya emang jahat.” Suara sein menyala di latar. “Lima belas menit.”

Dia sampai dua belas menit kemudian, dan langsung duduk di sofaku dengan cara yang menghabiskan seluruh sofa, dan langsung bilang:

“Sarah nyariin lo.”

Ada satu detik di mana suara kulkas terdengar sangat keras.

“Nyari gimana?”

“Dia telepon gue kemarin. Nanya lo apa kabar.” Bram mengangkat bahu. “Gue bilang baik. Terus dia diem lama, terus bilang oh, syukur.”

“Ya emang baik.”

“Dia nanyain soal tanggal.”

Aku berdiri, dan berjalan ke dapur, dan menuangkan air ke dua gelas yang tidak diminta siapa pun.

“Tanggal apa?”

“Dit.”

“Serius, tanggal apa?”

Bram tidak menjawab. Aku bisa merasakan dia menatap punggungku dari ruang tamu.

Lima tahun bulan Oktober nanti. Sarah pasti sudah menghitungnya juga; dia selalu menghitung, dia selalu yang mengirim pesan seminggu sebelumnya, setiap tahun, dengan kalimat yang berbeda-beda tapi selalu berakhir sama: kalau mau ngobrol, aku ada.

Dan setiap tahun aku membalas terima kasih, dan tidak pernah mengobrol.

“Dia mau bikin acara kecil,” kata Bram akhirnya. “Di rumah ibunya. Tahlilan biasa aja katanya.”

“Oke.”

“Oke apa?”

“Ya oke. Nanti gue kabarin.”

“Dit.”

“Bram.” Aku kembali membawa dua gelas air dan meletakkannya di meja, dan aku tersenyum, dan senyumnya sempurna karena aku sudah menyalakannya di dapur tadi. “Gue oke. Beneran. Ini udah lima tahun, bukan lima bulan.”

Bram menatapku beberapa saat.

Lalu dia mengambil gelasnya, dan minum, dan berkata: “Anak gue kemarin nanya kenapa Om Adit nggak punya anak.”

Ada sesuatu yang menutup di tenggorokanku.

“Terus lo jawab apa?”

“Gue bilang tanya sendiri sana.” Dia meletakkan gelasnya. “Bercanda. Gue bilang Om Adit sibuk.”

“Bagus.”

“Gue nggak tahu harus jawab apa, Dit.” Suaranya berubah, cuma sedikit, cuma setengah nada. “Gue nggak pernah tahu harus jawab apa.”

Dan di situ aku melakukan apa yang selalu kulakukan.

“Ya bilang aja Om Adit terlalu ganteng buat berkomitmen.”

Bram tertawa. Terlalu cepat, dan terlalu lega, dan aku tahu persis kenapa dia tertawa selega itu—karena aku baru saja memberinya izin untuk berhenti.

Kami membicarakan futsal setelah itu. Rencananya batal untuk kelima kalinya.


Ponselku berbunyi Selasa siang.

Mas Aditya, maaf ganggu. Mas bisa nyetir mobil bak nggak ya? Atau kenal orang yang bisa?

Aku menatap layar itu selama dua detik dan sudah mengambil kunci sebelum selesai membaca.

Bisa. Kenapa?

Ada pesanan besar mendadak. Supir langganan saya kecelakaan kecil kemarin, tangannya digips. Barangnya harus diambil di Lembang sore ini.

Berapa lama dari sekarang?

Mas nggak usah maksa. Saya cuma nanya.

Berapa lama dari sekarang, Ra.

Aku mengetiknya dan langsung menyadari apa yang baru saja kuketik.

Ra.

Aku tidak berencana. Aku bahkan tidak tahu dari mana asalnya—mungkin dari cara Tari memanggilnya Teh Clara dengan cepat sampai bunyinya menempel. Aku menatap layar dengan jempol menggantung di atas tombol hapus.

Terlambat. Centang dua.

Jeda cukup lama.

Sekarang juga, sebenernya.

Otw.


Pesanannya untuk resepsi hari Kamis. Delapan puluh tangkai mawar, ditambah hidrangea, ditambah entah apa lagi yang namanya tidak kuhafal.

Kami berangkat jam dua dengan mobil bak pinjaman dari ruko sebelah, yang koplingnya berat dan spionnya bergetar di atas empat puluh kilometer per jam. Clara duduk di kursi penumpang dengan buku catatan di paha, mencocokkan daftar.

“Mas beneran nggak apa-apa? Ini bisa sampai malam.”

“Saya nggak ada acara.”

“Selasa siang?”

“Selasa siang saya biasanya benerin sesuatu punya orang.” Aku memindahkan gigi. “Ini juga benerin sesuatu punya orang. Cuma lebih jauh.”

Dia tertawa pendek dan kembali ke bukunya.

Perjalanan ke Lembang butuh satu jam empat puluh karena macet di Setiabudi. Kami tidak bicara sepanjang waktu itu—bukan diam yang canggung, cuma diam. Dia menghitung sesuatu di buku. Aku menyetir. Radio menyala di volume rendah, memutar lagu-lagu yang tidak kukenali.

Sekitar Ledeng, dia berkata, tanpa mengangkat kepala:

“Makasih ya.”

“Aman.”

“Nggak, serius.” Dia menutup bukunya. “Saya nggak punya siapa-siapa buat ditelepon jam segitu. Tari nggak bisa nyetir. Kakak saya di Semarang.”

Kakak.

Aku mencatat itu. Aku tidak tahu kenapa aku mencatat itu.

“Orang tua?”

“Ada. Di Cirebon. Bapak saya nggak boleh nyetir jauh lagi.” Dia menatap ke luar jendela. “Jadi ya, gitu.”

Dan kalimat itu—jadi ya, gitu—punya bentuk yang kukenali dengan sangat baik. Bentuk kalimat yang menutup pintu tanpa membanting.

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Itu pertama kalinya, kupikir, aku melakukannya untuk orang lain.


Sekitar Cihideung, hujan turun.

Bukan hujan besar—gerimis yang cuma cukup untuk membuat kaca depan kotor dan wiper berdecit. Tapi aku menyalakan lampu, memperlambat, dan memindahkan gigi ke tiga di tikungan yang sebenarnya masih bisa dilewati di gigi empat.

Clara memperhatikan.

Aku tahu dia memperhatikan karena dia berhenti membalik halaman bukunya.

“Mas nyetirnya pelan banget.”

“Mobilnya bukan punya saya.”

“Bukan itu.”

Aku tidak menjawab.

“Tadi di Setiabudi juga,” lanjutnya, ringan, seperti orang membicarakan cuaca. “Ada motor nyalip dari kiri, Mas ngerem padahal jaraknya masih jauh.”

“Motor emang suka begitu.”

“Iya, sih.”

Dia kembali ke bukunya. Tidak melanjutkan. Tidak menyimpulkan apa-apa.

Aku menyetir sepanjang lima kilometer berikutnya sambil sangat sadar akan kedua tanganku di setir, dan sangat sadar bahwa aku sedang berusaha menyetir seperti orang normal, dan sangat sadar bahwa berusaha menyetir seperti orang normal adalah hal paling tidak normal yang bisa dilakukan seseorang.

Aku tidak pernah menyetir di atas enam puluh sejak lima tahun lalu. Bram pernah menyindirnya sekali—Dit, ini tol, bukan komplek—dan aku menjawab dengan lelucon soal harga bensin, dan Bram tertawa, dan urusan selesai.

Clara tidak menyindir. Dia cuma memperhatikan dan menyimpannya.

Entah kenapa itu terasa lebih menakutkan.


Kami sampai di kebun jam empat.

Yang tidak kuperhitungkan adalah bagian mengangkatnya.

Delapan puluh tangkai mawar bukan satu ikat. Itu enam ember besar, ditambah tiga kotak hidrangea, ditambah satu karung berisi entah apa yang beratnya seperti berisi batu. Semuanya harus diangkat dari gudang kebun ke bak mobil, melewati jalan setapak sepanjang tiga puluh meter yang becek karena hujan kemarin.

Clara mengangkat ember pertama sebelum aku sempat.

“Bentar—“

“Saya udah biasa.”

Dia memang biasa. Itu bagian yang membuatku harus menyesuaikan diri. Aku terbiasa jadi orang yang mengangkat; itu peranku, di komplek, di keluarga besar, di mana pun. Orang menyerahkan barang berat padaku dan aku mengangkatnya dan semuanya berjalan sesuai urutan yang benar.

Clara tidak menyerahkan apa pun. Dia mengangkat sisi satunya.

Jadi kami mengangkat bersama, dan itu ternyata butuh koordinasi yang tidak pernah kupikirkan—kapan mengangkat, kapan menurunkan, siapa yang mundur duluan di tikungan. Dua kali kami salah timing dan embernya miring dan air tumpah ke sepatuku.

“Maaf.”

“Aman.”

Ketiga kalinya dia yang kena.

“Nah,” kataku. “Impas.”

“Sepatu saya emang udah gitu dari lahir.”

Kami mengangkat enam ember dalam empat puluh menit. Di ember terakhir, punggung tanganku menempel di punggung tangannya selama mungkin lima detik penuh karena posisi pegangannya memaksa begitu, dan tidak ada satu pun dari kami yang memindahkan tangan.

Kami cuma mengangkat embernya, berjalan tiga puluh meter, dan menurunkannya.

Lalu Clara bilang, “Satu lagi,” dan kami kembali ke gudang.


Kami sampai kembali di toko jam tujuh lewat, dan jam sembilan malam pesanan itu belum selesai.

Tari sudah pulang jam delapan karena kosnya tutup gerbang jam setengah sembilan. Jadi tinggal kami berdua di toko yang lampunya menyala terang di jalan yang sudah gelap, di antara enam ember mawar dan meja kerja yang penuh potongan batang.

“Mas pulang aja.”

“Nanti.”

“Serius. Ini urusan saya.”

“Ra.”

Aku memanggilnya begitu untuk kedua kalinya, dan kali ini aku tidak bisa berpura-pura itu kecelakaan.

Dia mengangkat wajahnya.

“Saya nggak bisa pulang terus tidur kalau tahu ada orang masih ngerjain delapan puluh tangkai sendirian,” kataku. “Bukan soal Mbak Clara. Saya emang nggak bisa. Itu penyakit.”

Sesuatu di wajahnya bergerak.

Aku sudah menyiapkan diri untuk apa yang biasanya datang setelah kalimat semacam itu—kepala yang dimiringkan, nada yang turun setengah, kenapa nggak bisa?

Dia berkata: “Bisa potong batang?”

“Bisa belajar.”

“Empat puluh lima derajat. Di bawah air kalau bisa, tapi kalau nggak ya di udara cepet-cepet.” Dia menggeser gunting cadangan ke arahku. “Jangan diremes batangnya.”

Aku duduk di kursi plastik di seberangnya, dan mulai memotong.

Aku merusak sekitar dua belas tangkai di dua puluh menit pertama. Dia tidak menegur satu kali pun. Dia cuma mengambil yang rusak, memangkasnya lebih pendek, memasukkannya ke ember terpisah, dan berkata bahwa yang pendek nanti dipakai untuk vas meja.

“Mas tahu nggak,” katanya di tangkai ke sekian puluh, “sembilan puluh persen orang motong bunga dengan sudut yang salah?”

“Kenapa penting sudutnya?”

“Permukaan serap. Kalau dipotong lurus, batangnya nempel rata di dasar ember, terus nggak bisa minum.” Dia mengangkat satu tangkai, memiringkannya ke arahku. “Dipotong miring, ada celah. Dia bisa minum walaupun nempel.”

“Jadi bunga bisa haus.”

“Bunga selalu haus. Dia udah dipotong dari akarnya, Mas. Yang kita lakuin di sini cuma nunda.”

Aku memotong tangkai berikutnya dan tidak menjawab.

“Maaf,” katanya. “Itu kedengeran suram, ya.”

“Nggak.”

“Tari selalu bilang saya kalau ngomongin bunga jadi kayak pemakaman.”

Aku tertawa. Sungguhan, lagi. Ketiga kalinya minggu ini, dan aku sudah berhenti menghitung dengan waspada.

“Nggak suram,” kataku. “Cuma jujur.”

“Bedanya?”

“Suram itu kalau nggak ada gunanya tahu.” Aku meletakkan tangkai yang sudah kupotong ke tumpukan. “Ini ada gunanya. Makanya Mbak motongnya miring.”

Clara berhenti sebentar.

Lalu dia melanjutkan bekerja, dan tidak mengatakan apa-apa, tapi aku melihat sudut bibirnya waktu dia menunduk.

Jam sebelas kurang, kami selesai.

Aku menyandarkan punggung ke kursi. Tanganku bau batang mawar dan air ember. Ada lecet kecil di ibu jari kanan dari duri yang kelewat.

Clara duduk di seberang, di kursi plastik yang sama persis, dan kami berdua menatap enam ember yang sudah rapi tanpa mengatakan apa-apa selama mungkin dua menit penuh.

Lalu dia berkata:

“Mas nggak nanya-nanya, ya.”

“Hm?”

“Dari tadi.” Dia memutar gunting di tangannya. “Orang biasanya nanya. Ini buat siapa, resepsi siapa, kenapa mendadak.”

“Nggak penting-penting amat.”

“Iya.” Dia meletakkan guntingnya. “Enak, sih.”

Dan aku duduk di sana, di toko bunga jam sebelas malam, dengan tangan yang bau tanah dan lecet di ibu jari, dan menyadari bahwa aku sedang merasakan sesuatu yang sudah lima tahun tidak kurasakan.

Bukan bahagia. Aku sudah lupa bentuk bahagia.

Cuma: tidak sedang bekerja.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku duduk di ruangan bersama orang lain dan tidak sedang mengerjakan apa-apa. Tidak menghitung. Tidak menyiapkan jawaban. Tidak memantau apakah senyumku masih menyala.

Sekitar tiga puluh detik.

Lalu aku sadar aku sedang tidak mengerjakannya, dan seketika mulai mengerjakannya lagi.

“Ya udah,” kataku, berdiri, mengambil kunci. “Saya anter Mbak sampai kos ya. Udah malem.”

“Nggak usah, deket.”

“Malem-malem.”

Dia menatapku sebentar. Lalu mengambil tasnya.

“Ya udah.”

Dan di mobil, sepanjang tujuh menit perjalanan itu, aku tidak berkata apa-apa dan dia tidak berkata apa-apa, dan aku memegang setir dengan dua tangan seperti orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak bergerak.


Aku sampai di rumah jam setengah dua belas.

Rumahku gelap, seperti biasa. Aku menyalakan lampu teras, lalu ruang tamu, lalu dapur—selalu berurutan, selalu satu per satu, kebiasaan orang yang tidak suka melihat rumahnya utuh sekaligus.

Aku mencuci tangan. Bau batang mawar tidak hilang di cucian pertama.

Lalu aku berdiri di dapur, di depan wastafel, dan menyadari bahwa aku sedang tersenyum.

Bukan senyum yang kunyalakan. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Tidak ada yang perlu diyakinkan.

Aku berhenti.

Aku benar-benar berhenti—tangan masih basah, keran masih mengalir—dan sesuatu yang dingin naik dari perut ke dada dengan kecepatan yang tidak bisa kutahan.

Tanggal berapa hari ini.

Aku sudah tahu jawabannya sebelum selesai bertanya. Selalu tahu. Tapi aku tetap mengambil ponsel dengan tangan basah dan melihat layarnya, seperti orang yang berharap kalender salah.

Bukan tanggal sembilan. Bukan tanggal apa-apa.

Cuma hari Selasa biasa di mana aku menghabiskan sembilan jam bersama seseorang dan tertawa tiga kali dan pulang dengan lecet kecil di ibu jari, dan sama sekali tidak memikirkan mereka.

Sembilan jam.

Aku mematikan keran.

Lidah mertua itu ada di ambang jendela, di ujung penglihatanku, tegak dan hijau dan sama sekali tidak butuh apa-apa dariku.

Aku berdiri di dapur yang sunyi itu untuk waktu yang cukup lama, dan aku tidak menangis, karena aku sudah lama tidak bisa, dan itu justru bagian yang paling buruk.

Yang aku lakukan cuma mengambil lap, dan mengelap meja yang sudah bersih, dan berkata pelan sekali—pada siapa, aku tidak tahu:

“Maaf.”