← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Five

Hal-Hal yang Kubiarkan

POV: Clara


Aku menyisihkan bunganya sejak Selasa sore.

Itu yang tidak akan pernah kuakui pada Tari, dan yang Tari tentu saja langsung tahu, karena Tari punya kemampuan mendeteksi hal-hal yang tidak ingin dideteksi.

“Teh, ini yang di ember biru buat siapa?”

“Buat pesanan.”

“Pesanan siapa?”

“Pesanan besok.”

“Besok tanggal sembilan.”

“Oh ya?”

Tari menatapku dengan ekspresi yang membuatku ingin menyiramnya dengan selang.

“Teh Clara.”

“Kamu belum sapu belakang.”

“Aku udah sapu belakang.”

“Sapu lagi.”

Dia pergi sambil bersenandung, keras-keras, lagu dangdut tentang cinta yang tidak direstui, dan aku berdiri di sana dengan sembilan krisan putih terbaik yang kupunya di ember biru dan perasaan tidak nyaman yang tidak sepenuhnya bisa kutunjuk.

Karena begini: aku menyisihkan bunga yang bagus untuk pelanggan setia sepanjang waktu. Itu praktik bisnis normal. Bu Rahma yang pesan setiap Jumat dapat yang paling segar. Katering di ujung jalan dapat harga khusus.

Tapi aku tidak pernah, dalam empat tahun, menyisihkan sesuatu untuk pelanggan yang baru datang dua kali.


Toko sedang sepi Selasa itu, yang berarti Tari punya waktu untuk berteori.

“Teh, aku udah mikirin ini semalem.”

“Jangan.”

“Dengerin dulu.” Dia duduk di kursi plastik dengan gunting di tangan, yang selalu membuatku gugup. “Jadi menurutku Mas Aditya itu ada tiga kemungkinan.”

“Tari.”

“Satu: dia duda.”

Aku tidak menjawab.

“Dua: dia punya pacar yang tinggal jauh, terus bunganya dikirim tiap bulan. Tapi ini lemah, karena kalau dikirim, dia nggak perlu ambil sendiri.”

“Kamu—“

“Tiga—“ Tari mengangkat guntingnya seperti pembawa acara. “—dia punya tante kaya yang lagi sakit, dan dia lagi cari muka biar dapat warisan.”

Aku menatapnya.

“Yang ketiga dari sinetron, ya?”

“Sinetron itu berdasarkan kisah nyata, Teh.”

“Sinetron itu berdasarkan kebutuhan tayang.”

Tari mengibaskan tangan seperti orang yang argumennya terlalu maju untuk zamannya. Lalu, tiba-tiba lebih pelan:

“Tapi yang pertama sih paling masuk akal.”

“Kenapa?”

“Ya... nggak tahu. Cara ngomongnya.” Dia mengangkat bahu. “Ada orang yang kalau ngomong tuh kayak lagi jagain sesuatu di belakangnya.”

Aku berhenti sebentar.

Kadang Tari mengatakan hal-hal seperti itu—tepat, tanpa sengaja, di tengah-tengah omong kosong—dan lalu langsung kembali membicarakan drama Korea seolah tidak baru saja membelah sesuatu.

“Kamu sapu belakang.”

“AKU BARU—“

“Sapu lagi.”


Dia datang jam sembilan lewat empat.

Aku sedang di gudang, dan aku dengar Tari berteriak dengan volume yang bisa didengar sampai ruko sebelah, dan aku keluar sambil mengelap tangan dan berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang menunggu.

Dia lebih ringan hari itu. Itu hal pertama yang kusadari. Bercandanya lebih cepat datang, dan waktu Tari salah menyemprot sepatunya, dia bilang aman sebelum Tari selesai minta maaf.

Dan dia berhenti menahan napas di langkah keempat.

Aku memperhatikan itu tanpa maksud memperhatikan. Bahunya naik seperti biasa, lalu turun—terlalu cepat untuk orang yang sedang menahan bersin, terlalu sadar untuk kebetulan. Seperti orang yang baru ingat bahwa dia tidak perlu.

Kami mengobrol. Dia cerita soal pekerjaannya, dan aku bertanya lebih banyak daripada yang biasanya kutanyakan pada pelanggan mana pun, dan setiap kali aku menyadarinya aku berhenti sebentar dan menegur diriku sendiri di dalam hati.

Lalu dia cerita soal lampu jalan komplek. Pompa air tetangga. Aki mobil orang.

Dan aku berhenti menggunting.

Cuma sebentar. Aku menutupinya dengan cepat. Tapi ada sesuatu yang duduk salah di dadaku, dan butuh beberapa detik untuk mengenali apa.

Kak Rendy, di tahun terakhir sebelum semuanya kolaps, adalah orang yang paling sering ditelepon oleh seluruh keluarga besar. Om yang butuh bantuan mengurus pajak. Sepupu yang mobilnya mogok. Tetangga sebelah rumah orang tua kami yang anaknya butuh les gratis.

Dia tidak pernah menolak satu pun. Semua orang bilang dia luar biasa.

Aku ingat—dan ini yang paling tidak enak diingat—aku juga bilang begitu. Aku pernah bilang ke Mama, Kak Rendy tuh emang gitu orangnya, nggak bisa lihat orang susah.

Aku bangga waktu mengatakannya.


Dia membayar dengan uang pas.

Enam puluh tiga ribu, dilipat rapi, sudah disiapkan sebelum sampai—aku tahu karena dia mengeluarkannya dari saku kemeja, bukan dompet. Orang yang menyiapkan uang pas di rumah adalah orang yang tidak mau berlama-lama di tahap pembayaran.

Waktu aku menerimanya, jariku menyentuh telapak tangannya.

Setengah detik. Mungkin kurang.

Yang aneh bukan sentuhannya. Yang aneh adalah tidak ada yang terjadi sesudahnya. Tidak ada yang menarik tangan buru-buru. Tidak ada yang berdeham dan pura-pura melihat ke arah lain. Aku memasukkan uang ke laci, dia memasukkan tangan ke saku, dan percakapan berlanjut ke topik lain.

Baru sekitar dua puluh menit setelah dia pergi aku menyadari bahwa aku masih memikirkannya.

Aku sedang mengganti air di ember, tanganku masuk ke air dingin, dan tiba-tiba aku ingat bahwa telapak tangannya hangat dan agak kasar di bagian bawah jari—tangan orang yang mengangkat barang, memutar obeng, menyekrup sesuatu.

Aku mengangkat tanganku dari ember dan berdiri di sana seperti orang bodoh.

Empat tahun. Ratusan pelanggan. Ribuan kembalian.

Aku tidak pernah ingat tangan siapa pun.


Aku memberinya sansevieria karena aku memikirkannya sepanjang malam sebelumnya.

Bukan sepanjang malam, itu berlebihan. Tapi cukup lama sehingga aku bangun dan mengambil pot kosong dan memindahkan satu anakan dari induk yang ada di gudang, dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan, dan aku tetap melakukannya.

Aku memilih sansevieria dengan sangat sengaja.

Aku punya belasan tanaman yang bisa kuberikan. Aku memilih yang paling susah dibunuh. Yang bisa dilupakan sebulan dan masih hidup. Yang tidak akan pernah membuat orang merasa gagal.

Aku tidak memikirkan alasannya sampai jauh belakangan.

“Ini buat Mas.”

“Buat saya?”

Aku menjelaskan cara merawatnya. Aku bilang bonus. Aku bilang tidak usah bayar.

Dan lalu, karena mulutku memang tidak pernah bisa diam pada waktu yang tepat, aku bilang:

“Dan karena kalau ada orang yang tiap bulan beli bunga potong doang, biasanya rumahnya sepi.”

Kalimat penjual. Kalimat yang sudah kuucapkan ratusan kali, dengan variasi, ke ratusan orang. Ibu mau sekalian yang di pot? Biar rumahnya nggak kosong. Itu teknik jualan yang diajarkan siapa pun yang pernah jualan apa pun.

Aku melihat wajahnya waktu kalimat itu mendarat.

Tidak ada yang berubah. Itu bagian yang harus kutekankan: sama sekali tidak ada yang berubah di wajahnya. Senyumnya tetap. Postur tetap.

Yang berubah adalah tangannya.

Dia mengulurkan tangan ke pot itu, dan tangannya bergetar.

Halus. Bukan yang kentara. Tapi aku menghabiskan dua belas jam sehari melihat tangan orang—tanganku sendiri, tangan Tari, tangan pelanggan yang memilih tangkai—dan aku tahu bedanya antara tangan yang bergerak dan tangan yang tidak stabil.

Dia menariknya kembali.

Dan lalu dia pergi.

Bukan secara fisik. Badannya masih di sana, di seberang mejaku, satu meter dariku. Matanya masih terbuka. Tapi ada tiga detik di mana tidak ada siapa-siapa di dalam sana, dan aku berdiri di seberang meja itu dan menonton seorang laki-laki dewasa menghilang dari ruangannya sendiri sambil tetap berdiri tegak.

“Mas Aditya?”

Dia kembali.

Dan yang paling mengerikan bukan bagian menghilangnya.

Yang paling mengerikan adalah kecepatan dia kembali.

Satu detik dia tidak ada. Detik berikutnya senyumnya sudah menyala penuh, tepat lebar, tepat waktu, dan dia bilang kelilipan dengan nada yang begitu ringan sehingga kalau aku tidak sedang menatapnya, aku akan percaya.

Orang tidak bisa melakukan itu tanpa latihan.

Itu kalimatnya di kepalaku, persis begitu, waktu dia menggosok mata kanannya yang sama sekali tidak perlu digosok.

Orang tidak bisa melakukan itu tanpa latihan.


Dan di sini bagian yang harus kuceritakan jujur, walaupun tidak ada siapa-siapa yang mendengar.

Selama tiga detik itu, aku hampir bertanya.

Aku merasakannya naik. Kalimatnya sudah terbentuk penuh—Mas nggak apa-apa? Beneran?—dan berada di tempat di tenggorokan yang cuma butuh satu tarikan napas untuk keluar.

Enam tahun lalu aku juga merasakan yang seperti ini. Berkali-kali. Di meja makan waktu Kak Rendy tertawa sedikit terlalu keras. Di grup keluarga jam dua pagi. Di parkiran rumah sakit tempat kami mengantar Papa kontrol dan Kak Rendy tertidur di kursi setir selama empat puluh menit dan bilang cuma ngantuk.

Setiap kali, aku menelannya kembali.

Dan lalu, waktu akhirnya aku tidak menelannya lagi, yang keluar bukan pertanyaan.

Yang keluar adalah semuanya sekaligus. Delapan bulan tabungan. Aku datang ke kosnya dengan daftar—aku benar-benar membawa daftar, di catatan ponsel, dengan tanggal—dan aku membacakannya seperti jaksa. Aku bilang aku capek dibohongi. Aku bilang kalau dia nggak percaya sama aku ya sudah.

Dan Kak Rendy, yang waktu itu beratnya sudah turun sembilan kilo dan aku tahu persis sembilan karena aku mencatatnya, cuma duduk di kasurnya dan bilang:

“Iya. Maaf.”

Dua kata. Sangat tenang.

Aku pulang malam itu merasa lega. Merasa seperti orang yang akhirnya melakukan sesuatu.

Tiga bulan kemudian Mama menelepon jam empat pagi.


Jadi waktu Aditya bilang kelilipan, aku tidak bertanya.

Aku bilang sesuatu tentang daun yang lembek di pangkal. Aku bilang orang biasanya kebalik—lihat daunnya jelek terus disiram lebih banyak, padahal itu yang bikin mati.

Aku mengucapkannya sambil menutup laci kasir, dengan nada seorang penjual tanaman yang sedang memberi instruksi perawatan.

Dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Dia keluar. Bel berbunyi. Aku melihat dari balik kaca dia duduk di mobilnya selama beberapa menit sebelum menyalakan mesin.

Tari muncul di sebelahku entah dari mana.

“Teh.”

“Hm.”

“Dia kenapa tadi?”

Aku menoleh. Tari tidak sedang bercanda. Wajahnya lurus, alisnya sedikit berkerut, dan itu jarang.

“Kenapa gimana?”

“Ya... nggak tahu.” Tari mengangkat bahu, tidak nyaman dengan pertanyaannya sendiri. “Kayak ada yang aneh. Tapi aku nggak bisa bilang anehnya di mana.”

“Mungkin capek.”

“Iya, kali.”

Dan Tari kembali ke terasnya, dan aku berdiri di belakang meja kasirku, dan aku menyadari bahwa aku baru saja melakukan hal yang persis sama seperti yang dilakukan seluruh keluargaku enam tahun lalu.

Aku melihat sesuatu. Aku menamainya mungkin capek. Aku melanjutkan hari.


Malamnya, di kamar kos-kosan yang kusewa dua puluh menit dari toko, aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan selama lebih lama daripada yang masuk akal.

Kontak Kak Rendy ada di paling atas riwayat, dari Idulfitri lima bulan lalu. Terakhir kali kami bertukar total sebelas pesan. Aku menghitungnya sekali, di suatu malam yang tidak ingin kuingat.

Aku membuka chat-nya. Aku mengetik: Kak.

Aku menatapnya empat puluh detik.

Aku menghapusnya.

Karena aku tahu apa yang akan terjadi. Dia akan membalas dalam waktu dua jam dengan sopan. Dia akan bertanya kabar toko. Aku akan bilang baik. Dia akan bilang syukur. Dan lalu enam bulan lagi.

Kami tidak marahan. Itu bagian yang paling sulit dijelaskan ke orang. Tidak ada yang perlu dimaafkan, tidak ada yang perlu dibicarakan. Kami cuma dua orang yang salah satunya pernah membaca daftar dengan suara keras, dan sesudah itu tidak ada lagi cara untuk kembali menjadi dua orang yang sama.

Aku meletakkan ponsel telungkup di kasur.

Di ambang jendela kamarku ada tiga tanaman. Aku merawat semuanya dengan baik. Aku tahu persis kapan harus disiram, kapan harus dipindah, kapan harus dibiarkan.

Aku sangat bagus dengan tanaman.

Masalahnya, tanaman tidak pernah bilang bahwa mereka aman-aman saja.


Dua hari kemudian, hari Jumat, ada yang mengirimiku pesan dari nomor tidak dikenal.

Selamat siang. Ini Aditya, yang beli krisan. Nomor toko saya dapat dari struk. Mau tanya, ini normal nggak ya?

Di bawahnya ada foto.

Sansevieria itu, di ambang jendela dapur, difoto dari jarak yang terlalu dekat sehingga sebagian besar frame cuma daun. Di pojok kiri ada ujung wastafel dan sepotong lengan kemeja.

Aku memperbesar fotonya. Tidak ada apa-apa. Daunnya sehat, tanahnya lembap normal, warnanya bagus.

Aku mengetik: Normal, Mas. Sehat banget malah.

Terkirim. Centang dua, biru dalam tiga detik.

Oh. Soalnya ada bercak agak pucat di bagian bawah.

Itu memang warnanya.

Oh.

Lalu, setelah jeda cukup lama:

Maaf ya, ganggu.

Aku menatap layar itu lebih lama daripada yang perlu.

Karena ada orang yang, empat puluh delapan jam setelah menerima tanaman paling susah dibunuh yang ada di planet ini, sudah memfotonya dari jarak lima sentimeter untuk memastikan bahwa dia belum membunuhnya.

Dan orang itu meminta maaf karena bertanya.

Aku mengetik beberapa hal dan menghapus semuanya. Yang akhirnya kukirim adalah:

Nggak ganggu. Kalau ada apa-apa, tanya aja.

Dan aku menambahkan, sebelum sempat berpikir dua kali:

Kalau bingung, foto aja lagi. Saya lebih gampang lihat daripada dengar.

Dia mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.

Oke. Makasih ya.

Aku meletakkan ponsel, dan menyalakan kipas, dan berbaring memandang langit-langit kamar kos yang catnya sudah retak di sudut sejak tahun pertama aku pindah.

Saya lebih gampang lihat daripada dengar.

Aku mengucapkannya soal tanaman.

Aku berbaring di sana cukup lama sebelum akhirnya mengakui, pada diriku sendiri saja, bahwa aku tidak sedang mengucapkannya soal tanaman.