Chapter Forty Four
Nay
POV: Aditya
Aku membaca pesan kelimanya jam sepuluh lewat empat belas malam, tanggal dua puluh delapan November.
Aku membacanya di ruang tamu dengan lampu menyala semua, karena aku sudah dua bulan menyalakan lampu semua sekaligus dan sudah berhenti menganggapnya sebagai peristiwa.
Aku nggak nutup pintunya. Aku cuma berhenti ngetuk.
Kamu tahu kursinya di mana.
Aku membacanya sembilan kali.
Dan lalu aku meletakkan ponsel di meja dan berjalan ke garasi dan mengambil palu godam yang kupinjam dari tetangga Bram bulan Februari lalu dan tidak pernah kukembalikan.
Aku mulai jam sebelas malam.
Itu jelas bukan waktu yang masuk akal untuk membongkar semen, dan aku tahu itu, dan aku tetap melakukannya sampai jam sebelas lewat dua puluh sampai Bu Yuli keluar dengan daster dan senter dan berdiri di seberang pagar.
“MAS ADIT.”
“Bu.”
“Ini jam sebelas malam.”
“Iya, Bu. Maaf.”
“Mas Adit lagi ngapain?”
Dan aku berdiri di halaman rumahku sendiri dengan palu godam di tangan dan semen yang sudah retak dalam radius satu meter dan berkata:
“Saya mau bikin lubang, Bu.”
Bu Yuli mengarahkan senternya ke halamanku.
Lalu ke wajahku.
Lalu ke halamanku lagi.
“Ya udah,” katanya. “Tapi besok pagi aja. Kasihan Pak Herman, besok dia kerja.”
“Iya, Bu.”
“Mas Adit.”
“Iya?”
Dan Bu Yuli berdiri di seberang pagar dengan senter di tangan jam sebelas lewat dua puluh malam dan berkata:
“Ibu masih punya bibit cabai.”
Butuh tiga hari.
Aku tidak membongkar seluruhnya. Cuma bagian di sisi kanan, dekat pagar, sekitar dua meter kali satu setengah.
Semennya tebal—delapan sentimeter, dengan pasir dan batu di bawahnya, karena aku menyuruh tukang mengerjakannya dengan benar lima tahun lalu. Aku ingat berdiri di halaman ini di bulan Juni tahun pertama sambil menunjuk-nunjuk dan bilang bahwa saya mau semuanya, Pak, sampai pagar, jangan ada yang disisain.
Tukangnya bertanya kenapa tidak disisakan sedikit untuk tanaman.
Aku bilang saya tidak punya waktu untuk tanaman.
Butuh tiga hari untuk membongkar apa yang dia pasang dalam satu hari, dan tanganku melepuh di dua tempat, dan punggungku sakit selama seminggu.
Dan di bawah semennya ada tanah.
Tanah biasa. Cokelat kemerahan, padat, dengan akar rumput lama yang sudah mati dan beberapa potongan plastik dari zaman entah kapan.
Aku berjongkok dan memegangnya dengan tangan.
Dan aku duduk di halaman rumahku sendiri jam empat sore hari Minggu di bulan Desember dengan tanah di tangan dan menangis dengan cara yang cukup keras sehingga aku harus masuk ke dalam.
Bu Yuli datang keesokan harinya dengan enam polybag.
“Ini cabai rawit. Yang dua ini tomat, tapi Ibu nggak yakin hidup.” Dia berjongkok di sebelahku. “Mas Adit tahu cara nanam?”
“Nggak.”
“Bagus. Ibu ajarin.”
Dan Bu Yuli mengajariku menanam cabai di halaman rumahku sendiri selama empat puluh menit, dengan gaya mengajar yang seluruhnya terdiri dari mengambil alih pekerjaanku dan mengomel.
“Jangan ditekan gitu, Mas. Itu akarnya.”
“Iya, Bu.”
“Ini airnya kebanyakan.”
“Iya, Bu.”
“Mas Adit ini pinter komputer tapi nggak ngerti tanah.”
“Iya, Bu.”
Dan waktu selesai, dia berdiri dan menepuk celananya dan melihat ke enam polybag yang sudah pindah ke tanah.
“Dua minggu lagi kelihatan hidup apa nggak,” katanya.
“Kalau mati gimana, Bu?”
“Ya ganti.”
Dia mengucapkannya tanpa nada apa pun. Seperti orang yang menyebutkan harga.
“Gitu aja, Bu?”
“Ya iya. Emang gimana?” Bu Yuli mengangkat bahu. “Namanya juga nanam, Mas. Kadang mati. Terus ganti.”
Aku ke Solo tanggal sepuluh Desember.
Ibuku tinggal di sana sejak Bapak meninggal delapan tahun lalu, di rumah yang terlalu besar untuk satu orang, dengan adikku yang menelepon dari Balikpapan setiap Minggu dan aku yang menelepon setiap bulan.
Aku menginap empat hari.
Aku belum pernah menginap empat hari di rumah Ibu sejak lima setengah tahun. Aku selalu datang sehari, kadang dua, dengan alasan pekerjaan yang selalu benar.
Malam kedua, kami duduk di ruang tengah setelah Isya.
“Bu.”
“Hm.”
“Aku mau cerita sesuatu.”
Dan aku menceritakannya.
Semuanya. Sebelas hari. Kalimat terakhir Naya. Laporan polisi dan keterangan yang tidak kuingat kuberikan. Ponsel biru. Kasian dia.
Dan Clara.
Butuh satu jam lebih.
Ibuku mendengarkan tanpa memotong sekali pun, dengan tangan di pangkuannya, dengan cara perempuan berumur tujuh puluh satu tahun mendengarkan anaknya.
Dan waktu aku selesai, dia tidak berkata apa-apa selama mungkin satu menit.
Lalu dia berkata:
“Dit.”
“Iya, Bu.”
“Ibu udah tahu sebagian.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Bagian yang mana?”
“Bagian kamu nggak pernah cerita apa-apa.” Dia mengusap tangannya sendiri. “Itu Ibu udah tahu dari kamu SD.”
“Kamu inget nggak waktu kelas empat kamu jatuh dari pohon jambu belakang?”
“Inget.”
“Kamu masuk rumah, cuci tangan, terus makan siang.” Ibu menatap ke arah televisi yang tidak menyala. “Ibu baru tahu tangan kamu retak dua hari kemudian waktu Bu Guru telepon.”
“Aku takut dimarahin.”
“Ibu nggak pernah marahin kamu buat hal kayak gitu.”
“Iya.”
“Terus kenapa?”
Dan aku duduk di ruang tengah rumah ibuku di Solo pada malam bulan Desember dan berkata—untuk pertama kalinya dalam hidupku, keras-keras, kepada orang yang melahirkanku:
“Karena Bapak lagi sakit waktu itu.”
Ibu menoleh.
“Dan Ibu udah repot,” kataku. “Dan aku mikir kalau aku bikin satu masalah lagi—“
Suaraku berhenti.
Ibu tidak berkata apa-apa.
“Aku sembilan tahun, Bu,” kataku. “Aku sembilan tahun dan aku udah mikir kayak gitu.”
Dan ibuku, tujuh puluh satu tahun, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Kami tidak menyelesaikan apa pun malam itu.
Itu yang paling penting untuk kucatat: kami tidak menyelesaikan apa pun. Ibu menangis, dan aku menangis, dan besok paginya kami sarapan dan membicarakan tetangga dan harga beras.
Tapi di hari keempat, waktu aku mau pulang, dia menahan lenganku di depan pintu.
“Dit.”
“Iya, Bu.”
“Kamu telepon Ibu tiap bulan tanggal berapa?”
“Tanggal lima belas.”
“Sejak kapan?”
Aku berhenti.
“Lima tahun.”
“Lima tahun, tanggal lima belas, jam delapan malam.” Dia menepuk lenganku. “Nggak pernah telat sekali pun.”
“Iya.”
“Dit, Ibu nggak mau ditelepon tiap tanggal lima belas.”
Aku menatapnya.
“Ibu mau ditelepon waktu kamu lagi pengen nelepon,” katanya. “Walaupun jadinya dua bulan sekali. Walaupun jadinya jam dua siang hari Selasa.”
Dan dia melepaskan lenganku.
“Ibu udah lima tahun ditelepon sama jadwal,” katanya. “Ibu kangen ditelepon sama anak Ibu.”
Aku ke pemakaman tanggal dua puluh dua Desember.
Bukan tanggal sembilan. Itu disengaja—aku memilihnya dengan sengaja, dengan bantuan Bu Ratih, yang menanyakan apakah aku pernah datang ke sana di hari yang tidak berarti apa-apa.
Aku belum pernah.
Enam puluh sekian kali dalam lima setengah tahun, semuanya tanggal sembilan.
Aku sampai jam sepuluh pagi hari Minggu tanggal dua puluh dua Desember, hari yang tidak berarti apa-apa, dengan sembilan krisan putih yang kubeli di toko bunga di dekat pasar karena aku tidak mungkin membelinya di Cikutra.
Pak Salim sedang memotong rumput di jalur kelima. Dia melihatku dan mengangkat tangan dan tidak berhenti bekerja.
Aku berjalan ke sana.
Dan aku berjongkok di depan dua nisan itu dan membagi sembilan tangkai.
Lima di kiri. Empat di kanan.
Dan lalu aku duduk di rumput.
Aku duduk di sana selama dua jam.
Dan pada suatu titik—aku tidak tahu jamnya, mungkin jam sebelas, mungkin lebih—aku berkata:
“Nay.”
Dan kali ini aku melanjutkan.
“Aku ketemu orang,” kataku.
“Namanya Clara. Dia jualan bunga. Yang ini juga dari toko dia dulu, tapi sekarang nggak, karena aku nggak bisa ke sana.”
Ada bunyi mesin potong rumput dari jalur kelima.
“Dia lebih muda empat tahun dari aku. Tinggi. Kalau lagi mikir dia mindahin pot dua puluh senti ke kiri terus balikin lagi.”
Aku memegang rumput dengan satu tangan.
“Dia tahu semuanya, Nay. Semuanya. Termasuk yang sebelas hari.”
Aku menarik napas.
“Dan dia nggak bilang itu bukan salah aku.”
Matahari naik. Bayangan pohon bergeser.
“Aku mau bilang beberapa hal dan aku udah nyiapin ini selama dua bulan, jadi kalau kedengerannya rapi, maaf, aku nggak bisa ngomong dengan cara lain.”
“Yang pertama: aku minta maaf soal mobil.”
Aku menelan.
“Bukan minta maaf yang aku ucapin ke diri aku sendiri lima ribu kali. Yang ini beda. Yang ini aku ucapin ke kamu.”
Aku menutup mataku.
“Aku bilang minggu depan dan aku nggak lakuin, dan itu salah aku, dan itu tetep salah aku walaupun kamu bisa bawa sendiri dan walaupun bannya bisa pecah kapan aja dan walaupun kamu nyetir empat puluh kilometer per jam dan ngelakuin semuanya dengan bener.”
Aku membuka mataku.
“Itu salah aku dan itu bukan pembunuhan,” kataku. “Dan aku baru bisa megang dua kalimat itu barengan bulan lalu, Nay. Lima setengah tahun.”
“Yang kedua.”
Aku mengambil napas yang lebih dalam.
“Sarah kasih HP kamu.”
Aku memandang nisan sebelah kiri.
“Aku baca yang kamu tulis ke dia. Kasian dia.”
Ada sesuatu yang menutup di tenggorokanku dan aku menunggu sampai lewat.
“Nay, kamu nggak boleh gitu.”
Suaraku pecah.
“Kamu nggak boleh nahan-nahan gitu buat aku. Kamu nggak boleh mikirin perasaan aku waktu urusannya ban mobil sama anak kita di kursi belakang.”
Aku mengusap wajahku dengan lengan.
“Dan aku tahu kenapa kamu gitu,” kataku. “Aku tahu. Karena aku bikin kamu gitu. Karena tiap kali kamu nanya aku bilang aman, dan lama-lama kamu berhenti nanya, dan itu aku yang bangun.”
Aku duduk di rumput dengan kedua tangan di lutut.
“Jadi aku nggak lagi nyalahin kamu,” kataku. “Aku cuma mau bilang bahwa aku lihat sekarang. Aku lihat apa yang aku lakuin ke kamu selama lima tahun kita nikah, dan itu bukan hal yang sama sama sebelas hari, tapi itu ada, dan itu punya aku.”
“Yang ketiga.”
Dan ini yang paling sulit, dan aku sudah menyiapkannya selama dua bulan, dan aku tetap harus menunggu tiga menit sebelum bisa mengucapkannya.
“Aku mau bahagia lagi.”
Bunyi mesin potong rumput berhenti di jalur kelima.
“Dan aku nggak minta izin,” kataku. “Aku udah lima setengah tahun nunggu izin dan aku baru sadar aku nunggunya dari orang yang udah nggak bisa ngasih.”
Aku menatap dua nisan itu.
“Kamu nggak bisa bilang apa-apa. Bumi juga nggak. Dan aku bikin diem kalian jadi jawaban, dan jawabannya selalu nggak boleh, karena aku yang nulis jawabannya.”
Aku menelan.
“Jadi aku berhenti nanya,” kataku. “Aku bakal bahagia, Nay. Aku bakal nyoba. Dan kalau ternyata itu salah, itu salah aku, bukan salah kamu, dan aku bakal bawa itu sendiri.”
Aku duduk di sana sampai jam dua belas lewat.
Dan sebelum berdiri, aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan sama sekali.
Aku mengambil satu tangkai dari sisi kiri dan memindahkannya ke kanan.
Sekarang empat di kiri, lima di kanan.
Aku duduk dan menatapnya selama mungkin dua menit, menunggu perasaan salah itu datang seperti waktu aku mencobanya di tahun ketiga.
Perasaan itu datang.
Aku membiarkannya.
Dan aku tidak menukarnya kembali.
Aku berdiri dan membersihkan celanaku dari rumput.
Pak Salim lewat dengan mesinnya dan berhenti.
“Mas, tumben nggak tanggal sembilan.”
“Iya, Pak.”
“Sehat?”
“Sehat, Pak.”
Dan dia mengangguk dan melanjutkan memotong rumput, dan aku berjalan ke mobil.
Aku masuk. Aku memasang sabuk. Aku menyalakan mesin.
Dan aku duduk di parkiran itu dengan mesin menyala.
Aku melihat jam.
Dua belas lewat delapan belas.
Hari Minggu.
Dan di kepalaku ada satu kalimat, diketik oleh seseorang pada tanggal dua puluh delapan November jam sembilan malam:
Aku di Cikutra, jam sembilan sampai delapan, tiap hari kecuali Minggu setelah jam dua.
Aku duduk di parkiran itu selama empat menit.
Dan lalu aku memasukkan gigi dan keluar dari gerbang pemakaman dan berbelok ke kanan, ke arah kota, ke arah Cikutra.
Empat puluh menit perjalanan.
Aku sampai jam satu lewat lima.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay reading
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu