Chapter Forty Two
Sesi Ketiga
POV: Aditya
Namanya Bu Ratih.
Aku sudah lupa namanya sampai resepsionis mengucapkannya di telepon, dan begitu diucapkan aku langsung ingat seluruhnya: rambut pendek, kacamata baca yang digantung di leher, dan cara dia menuliskan sesuatu di buku tanpa memutus kontak mata.
“Sesinya hari Rabu jam empat, Pak. Ini pasien lama atau baru?”
Aku memegang ponsel dengan dua tangan.
“Lama,” kataku.
“Terakhir kapan, Pak?”
“Lima setengah tahun lalu.”
Ada jeda di seberang. Bunyi mengetik.
“Ada, Pak. Dua sesi, bulan Maret dan April.” Bunyi mengetik lagi. “Ada satu janji yang nggak hadir.”
“Iya.”
“Baik, Pak. Rabu jam empat, ya.”
Dan aku menutup telepon dan duduk di sofa dengan map cokelat di meja dan ponsel biru di sebelahnya dan menyadari bahwa yang paling sulit dari seluruh proses itu adalah kalimat ada satu janji yang nggak hadir, yang diucapkan dengan nada sangat netral oleh seseorang yang membaca dari layar komputer dan yang tidak bermaksud apa-apa sama sekali.
Lima setengah tahun.
Dan sistem mereka masih menyimpannya.
Ruangannya tidak berbau lavender lagi.
Itu hal pertama yang kusadari waktu masuk, dan aku hampir mengatakannya keras-keras.
“Pindah gedung tahun 2021,” kata Bu Ratih, waktu aku menyebutkannya. “Yang lama kena proyek jalan.”
“Oh.”
“Dan saya berhenti pakai difuser karena ada pasien yang alergi.” Dia duduk. “Bapak inget baunya?”
“Iya.”
“Menarik.”
Dan dia menuliskan sesuatu di buku tanpa memutus kontak mata, persis seperti dulu, dan aku merasakan seluruh tubuhku menegang.
Sesi pertama berjalan seperti yang kuduga, sampai menit ketiga puluh.
Aku bagus. Aku selalu bagus. Aku menjelaskan kronologinya dengan urutan yang rapi—Naya, Bumi, tanggal, ban, sebelas hari. Aku menyebutkan bahwa aku pernah menjalani satu tahun yang sulit dan kemudian kembali berfungsi. Aku memakai kata berfungsi.
Aku bahkan membuat dua lelucon.
Dan pada menit ketiga puluh, Bu Ratih meletakkan pulpennya.
“Pak Aditya.”
“Iya.”
“Bapak sudah pernah cerita ini berapa kali?”
Aku berhenti.
“Maksudnya?”
“Cerita yang barusan. Yang tiga puluh menit.” Dia menyandarkan punggungnya. “Susunannya rapi sekali. Ada urutan, ada jeda di tempat yang tepat, ada dua bagian di mana Bapak sengaja bikin saya ketawa supaya saya nggak menyela.”
Aku tidak menjawab.
“Itu bukan cerita orang yang baru pertama kali cerita,” katanya.
“Saya belum pernah cerita ini ke siapa pun.”
“Saya percaya.” Dia mengangguk. “Tapi Bapak sudah menceritakannya ke diri sendiri ribuan kali. Dan Bapak sudah mengeditnya.”
Sesi kedua, minggu berikutnya, dia bertanya sesuatu yang membuatku hampir berdiri dan pergi.
“Pak, waktu 2019 Bapak datang dua kali terus berhenti. Bapak inget kenapa?”
“Saya sibuk.”
“Bapak baru kehilangan istri dan anak. Bapak nggak sibuk.”
Aku menatap meja.
“Saya nggak tahu.”
“Bapak tahu.”
Dan aku duduk di kursi di ruangan yang tidak berbau lavender lagi dan berkata:
“Karena Ibu bilang sesuatu di sesi kedua.”
“Apa?”
“Ibu bilang saya menjawab semua pertanyaan Ibu dengan sangat baik, dan bahwa itu yang bikin Ibu khawatir.”
Bu Ratih mengangkat alisnya.
“Saya bilang gitu?”
“Iya.”
“Wah.” Dia menuliskan sesuatu. “Itu agak kasar, ya.”
Aku tertawa. Refleks, sepenuhnya refleks.
“Nggak, Bu—“
“Pak Aditya.”
“Iya?”
“Bapak barusan ketawa buat bikin saya nggak merasa bersalah.”
Aku menutup mulutku.
“Itu ketiga kalinya hari ini,” katanya. “Saya hitung.”
Sesi ketiga adalah sesi di mana sesuatu pecah.
Bukan dengan cara yang dramatis. Aku tidak menangis di ruangan itu—aku tidak menangis di ruangan itu sampai bulan November, dan itu cerita lain.
Yang terjadi adalah dia mengajukan pertanyaan yang salah, dan pertanyaan yang salah itu ternyata pertanyaan yang benar.
“Pak, kalau ada teman Bapak—laki-laki, umur tiga puluh dua, cerita persis kejadian yang sama ke Bapak. Sebelas hari, ban, semuanya. Bapak bilang apa ke dia?”
Dan aku menjawab tanpa jeda:
“Saya bilang itu bukan salah dia.”
Bu Ratih diam.
Aku juga diam.
Dan lalu aku mendengar apa yang baru saja kuucapkan.
“Cepet ya, Pak,” katanya.
Aku memegang lengan kursi.
“Bapak nggak mikir sama sekali,” katanya. “Jawabannya udah ada di sana. Jadi Bapak bukan orang yang percaya kelalaian sebelas hari itu setara dengan pembunuhan. Bapak nggak percaya itu untuk siapa pun di dunia ini.”
“Kecuali saya.”
“Kecuali Bapak.” Dia mencondongkan badan. “Dan menurut Bapak, kenapa Bapak punya standar yang berbeda untuk diri sendiri?”
Dan aku duduk di kursi itu selama mungkin satu menit penuh.
“Karena kalau standarnya sama,” kataku akhirnya, “saya nggak punya kerjaan.”
Kami menghabiskan tiga sesi berikutnya di sana.
Ini bagian yang tidak bisa kuceritakan dengan rapi, karena tidak rapi. Tidak ada momen di mana sesuatu selesai. Ada beberapa sesi di mana aku keluar dari ruangan itu merasa lebih buruk daripada waktu masuk, dan aku menyetir pulang dan duduk di garasi selama satu jam dan bertanya pada diriku sendiri kenapa aku membayar orang untuk melakukan ini.
Bu Ratih menyebutnya dengan istilah yang tidak kusukai.
Aku bilang aku tidak suka istilahnya.
Dia bilang tidak apa-apa, kita tidak perlu memakainya, dan bahwa banyak orang lebih nyaman menyebutnya dengan kata-kata mereka sendiri.
Jadi aku menyebutnya dengan kata-kataku sendiri.
Aku menyebutnya: pekerjaan.
Selama lima setengah tahun aku punya satu pekerjaan tetap yang tidak pernah kutinggalkan, dan pekerjaan itu adalah membayar sesuatu yang tidak punya jumlah. Semua yang lain—klien Singapura, pompa air Pak Herman, lampu koridor komplek—semuanya cuma pekerjaan sampingan.
Dan yang paling menakutkan tentang berhenti bukan rasa bersalahnya.
Yang paling menakutkan adalah tidak punya kerjaan.
Ada satu sesi di bulan September yang paling kuingat.
Bu Ratih bertanya apa yang kulakukan setiap hari Minggu pagi.
Aku menjelaskannya. Ruangan, seprei, penyedot debu, empat puluh menit, urutan yang sama persis selama dua ratus delapan puluhan minggu.
Dia mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia bertanya: “Kalau Bapak nggak melakukannya minggu depan, apa yang terjadi?”
“Nggak ada.”
“Bapak yakin?”
“Ya nggak ada apa-apa, Bu. Debunya nambah dikit.”
“Terus kenapa Bapak nggak pernah nggak melakukannya?”
Dan aku duduk di kursi itu dan berkata: “Karena kalau saya berhenti, artinya saya udah lupa.”
Bu Ratih meletakkan pulpennya.
“Pak Aditya, boleh saya ajukan kemungkinan lain?”
“Boleh.”
“Kalau Bapak berhenti,” katanya, “artinya Bapak harus mengingat mereka tanpa pekerjaan.”
Aku tidak menjawab.
“Dan mengingat tanpa pekerjaan itu jauh lebih berat,” lanjutnya. “Karena nggak ada penyedot debu. Nggak ada empat puluh menit. Cuma Bapak dan ingatan Bapak, di ruangan yang sama, tanpa apa pun untuk dikerjakan dengan tangan.”
Aku memandang jendela.
“Bapak nggak takut lupa,” katanya. “Bapak takut inget dengan tangan kosong.”
Aku cerita ke Bram bulan September.
Kami di kafe yang sama, meja yang sama, dengan colokan yang banyak dan kopi yang biasa saja.
Aku sudah menyiapkannya selama dua minggu, yang berarti aku sudah menyusunnya, yang berarti Bu Ratih akan mencatat itu sebagai masih ada kalau aku menceritakannya minggu depan.
“Bram.”
“Hm.”
“Gue mau cerita sesuatu dan gue butuh lo diem sampe gue selesai.”
Bram meletakkan gelasnya.
“Oke.”
Dan aku menceritakan semuanya.
Sebelas hari. Hari Selasa. Bunyi getar. Minggu depan aku bawa ke bengkel. Telepon yang terakhir. Kalimat terakhir Naya.
Ponsel Naya. Kasian dia.
Laporan polisi. Keterangan pihak keluarga. Bahwa aku sudah mengatakannya di hari kedua dan lupa.
Dan Kayla. Lima kali. Tiga bulan dua hari.
Dan Clara.
Butuh empat puluh menit.
Bram tidak memotong sekali pun.
Waktu aku selesai, dia tidak berkata apa-apa selama mungkin dua puluh detik.
Lalu dia berkata: “Gue tahu bagian bannya.”
“Gue tahu lo tahu.”
“Gue nggak tahu bagian sebelas harinya.”
“Iya.”
Dan dia mengambil gelasnya, dan meletakkannya lagi tanpa minum.
“Dit, gue mau ngomong dua hal.”
“Ngomong.”
“Yang pertama, gue nggak akan bilang itu bukan salah lo.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Bukan karena gue mikir itu salah lo,” katanya cepat. “Tapi karena gue udah lima tahun lihat orang bilang itu ke lo dan gue lihat mukanya lo tiap kali.”
“Muka gue gimana?”
“Kayak orang yang lagi nunggu percakapannya selesai.”
Aku memandang meja.
“Yang kedua,” katanya, dan suaranya berubah. “Dit, lo tahu nggak lo baru aja ngasih gue sesuatu?”
“Maksudnya?”
Dan Bram, yang sudah sembilan belas tahun jadi sahabatku dan yang tidak pernah sekali pun menangis di depanku dalam sembilan belas tahun itu, mengusap matanya dengan punggung tangan dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat marah pada dirinya sendiri.
“Lima tahun gue duduk di sebelah lo,” katanya. “Lima tahun, Dit. Dan gue nggak pernah tahu gue lagi duduk di sebelah siapa.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Gue nggak lagi nyalahin lo,” katanya cepat. “Gue tahu lo bakal ngambil itu terus lo simpen. Jangan.”
“Bram—“
“Gue serius, Dit. Ini bukan tagihan.” Dia menarik napas. “Gue cuma seneng. Gue seneng banget dan gue nggak tau harus taro di mana jadi keluarnya jelek.”
Dan dia tertawa, dan tawanya basah, dan dia mengusap wajahnya lagi.
“Sialan,” katanya. “Gue di kafe.”
“Nggak ada orang.”
“Ada mbak-mbak kasir.”
“Dia lagi liat HP.”
“Dia liat gue tadi.”
Dan kami tertawa berdua di meja yang sama seperti sembilan belas tahun terakhir, dengan kopi yang sudah dingin, dan untuk sekitar dua menit tidak ada apa pun yang berat di meja itu.
Lalu Bram berkata, tanpa mengubah nada sama sekali:
“Dit, Sabtu depan futsal. Lo dateng.”
“Gue—“
“Gue nggak nanya.”
Aku menatapnya.
“Lima tahun gue nanya, dan lo nolak, dan gue terima.” Dia mengangkat bahu. “Sekarang gue nggak nanya. Sabtu, jam tujuh, lapangan yang deket Ujungberung. Lo dateng.”
Dan aku duduk di sana selama beberapa detik.
“Gue nggak bawa sepatu.”
“Gue punya cadangan.”
“Ukuran lo empat puluh tiga.”
“Lo pake kaos kaki tebel.”
Dan aku bilang iya, dan hari Sabtu aku datang, dan aku bermain empat puluh menit dan betisku sakit selama lima hari.
Aku pulang jam sembilan.
Dan di parkiran, sebelum masuk ke mobil, Bram menahan lenganku.
“Dit.”
“Hm.”
“Lo mau balik ke dia?”
Aku tidak menjawab langsung.
“Gue belum tahu,” kataku.
“Belum tahu apanya?”
“Belum tahu apakah gue balik buat tinggal, atau buat berhenti ngerasa jelek.”
Bram mengangguk pelan.
“Terus lo gimana tahunya?”
Dan aku berdiri di parkiran kafe di Bandung pada malam bulan September dan berkata:
“Gue mau bisa duduk di kursi plastik empat jam tanpa masang apa-apa dulu.”
Bram menatapku.
“Itu ukuran yang aneh banget.”
“Iya.”
“Tapi gue ngerti.”
Dan dia masuk ke mobilnya dan menurunkan kaca.
“Dit.”
“Hm.”
“Jangan kelamaan, ya.”
“Gue tahu.”
“Nggak, gue serius.” Dia menyalakan mesin. “Gue nggak lagi nyuruh lo buru-buru. Gue cuma mau bilang bahwa ’nanti kalau gue udah siap’ itu kalimat yang bisa dipakai sampe mati.”
Aku menyetir pulang di lima puluh empat kilometer per jam.
Aku menyadari angkanya di lampu merah Antapani dan aku tidak melakukan apa pun dengan informasi itu, dan itu sendiri sudah cukup untuk membuatku memegang setir lebih erat.
Di rumah, aku menyalakan lampu.
Semuanya. Sekaligus. Enam saklar dalam empat puluh detik, seperti malam bulan Oktober tahun lalu waktu Kayla bilang lampu rumahku menyala satu-satu.
Dan aku berjalan ke ujung lorong dan membuka pintu putih itu dan menyalakan lampunya.
Aku berdiri di tengah ruangan.
Dan aku berkata, keras-keras, ke ruangan yang bersih dan kosong itu:
“Aku bakal jual sepreinya.”
Suaraku terdengar konyol sekali.
“Bukan kamarnya,” kataku. “Kamarnya nggak. Cuma sepreinya. Yang aku ganti tiap Minggu selama lima tahun buat kasur yang nggak ada yang tidur di situ.”
Aku menelan.
“Aku bakal mulai dari situ.”
Dan tidak ada yang menjawab, karena tidak pernah ada yang menjawab.
Tapi aku mematikan lampunya dan menutup pintunya dan tidur jam sebelas, dan hari Minggu berikutnya aku tidak mengganti seprei itu.
Dan hari Minggu berikutnya lagi juga tidak.
Dan hari Minggu ketiga aku bangun jam delapan dan berdiri di depan pintu itu selama sepuluh menit dan lalu pergi sarapan di warung, dan itu adalah hari Minggu paling sulit yang pernah kualami sejak tahun pertama.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga reading
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu