← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Fifty Two

Yang Tak Pernah Layu

POV: Aditya


Kami menikah bulan Mei.

Aku tidak akan menceritakan harinya dengan detail, karena hari itu milik banyak orang dan sebagian besarnya tidak akan mengizinkan aku menuliskannya.

Yang bisa kuceritakan cuma potongan-potongan.

Bram menangis di menit kedelapan, jauh lebih awal dari yang dia perkirakan sendiri, dan menghabiskan sisa acara bersikeras bahwa itu karena ruangannya berdebu.

Tari mengurus seluruh bunga. Seluruhnya. Dia menolak bantuan Clara dengan kalimat yang kemudian dikutip ulang oleh empat orang berbeda malam itu: “Teh Clara hari ini nggak pegang gunting.”

Kayla, sembilan tahun sekarang, jadi pembawa bunga, dan berjalan terlalu cepat, dan sampai di depan enam belas detik sebelum siapa pun siap.

Ibuku datang dari Solo dan duduk di baris depan di sebelah Ibu Naya.

Aku tidak tahu siapa yang mengatur itu. Aku bertanya ke Sarah tiga minggu kemudian dan dia bilang tidak ada yang mengatur, mereka bertemu di pintu dan Ibu Naya bilang “duduk sini, Bu,” dan itu saja.

Dan Pak Endang datang dengan batik dan menyerahkan amplop yang isinya jauh lebih banyak dari yang seharusnya diberikan seorang pemilik kios pasar, dan berkata kepada Clara, keras-keras, di depan sekitar dua puluh orang:

“Neng nggak ngilang.”


Kami tinggal di rumahku.

Itu keputusan yang butuh empat bulan dan tiga sesi dengan Bu Ratih dan satu percakapan dengan Clara yang berlangsung sampai jam dua pagi.

Alternatifnya adalah pindah. Aku menawarkannya duluan, di bulan Januari, dan aku menawarkannya dengan sangat rapi, dan Clara mendengarkan seluruh penawaranku sampai selesai dan lalu bertanya satu pertanyaan yang meruntuhkan semuanya:

“Kamu mau pindah, atau kamu mau ngasih aku sesuatu?”

Dan aku duduk di teras selama beberapa detik sebelum menjawab: “Yang kedua.”

“Ya udah.”

“Ra, tapi—“

“Aditya, aku nggak keberatan sama rumah kamu.” Dia meletakkan guntingnya. “Aku keberatan sama rumah yang kosong. Rumah kamu udah nggak kosong sejak Agustus.”

“Fotonya—“

“Fotonya bagian dari nggak kosong.”

Dan lalu dia mengangkat bahu dan berkata sesuatu yang kemudian kutuliskan di catatan ponsel dan kuceritakan ke Bu Ratih hari Rabu berikutnya:

“Aku nggak mau tinggal di rumah yang pura-pura kamu baru mulai hidup di umur tiga puluh tiga.”


Kamar itu jadi kamar tamu.

Butuh waktu. Bukan waktu emosional—waktu logistik, karena Clara bersikeras bahwa mengubah ruangan bukan pekerjaan satu akhir pekan dan bahwa orang yang memaksakan perubahan besar dalam satu hari biasanya sedang lari dari sesuatu.

Jadi kami mengerjakannya sebulan.

Minggu pertama: seprei. Aku yang melepasnya. Clara ada di dapur dan tidak masuk sekali pun.

Minggu kedua: kasurnya keluar. Kami menyumbangkannya ke masjid komplek lewat Bu Yuli, yang mengurus seluruh urusannya dalam waktu dua jam dan tidak bertanya apa pun.

Minggu ketiga: cat.

Warnanya putih tulang. Sama seperti Cikutra.

Dan minggu keempat, Clara membawa satu pot dari toko dan meletakkannya di ambang jendela kamar itu—kamar yang selama lima setengah tahun tidak pernah punya satu pun benda hidup di dalamnya.

Aku berdiri di ambang pintu waktu dia melakukannya.

“Itu apa?”

“Sirih gading.”

“Kenapa itu?”

Dan Clara berkata: “Karena dia tumbuh ke mana-mana dan susah dibunuh dan nggak butuh matahari banyak.”

Dia mengelap tangannya ke celana.

“Dan karena kalau kamu lupa nyiram dua minggu, dia cuma bakal ngambek dikit.”


Nabil menginap di kamar itu bulan Juli.

Tiga malam, dengan Kak Rendy dan Wina, waktu mereka ke Bandung untuk kedua kalinya.

Dan di malam pertama, waktu aku lewat lorong jam sepuluh dan pintunya setengah terbuka, aku berhenti.

Anak berumur lima tahun tidur di kamar itu.

Aku berdiri di lorong rumahku sendiri selama mungkin empat menit.

Dan yang terjadi bukan yang kutakutkan selama sepuluh bulan sebelumnya.

Yang terjadi adalah aku menutup pintunya sampai celah yang benar—dua sentimeter, karena Wina bilang Nabil takut gelap tapi tidak mau mengaku—dan berjalan ke kamar dan tidur.

Dan besok paginya aku bercerita ke Clara sambil sarapan, dan dia mendengarkan, dan dia bertanya bagaimana rasanya.

Dan aku bilang: “Berat.”

Dan dia bilang: “Iya.”

Dan lalu aku bilang: “Tapi cuma berat.”

Dan Clara meletakkan sendoknya dan menatapku dan berkata: “Aditya, itu kalimat paling bagus yang pernah kamu ucapin.”


Toko pindah lagi bulan September.

Bukan pindah—melebar. Ruko sebelah kosong dan pemiliknya sama, dan Clara menyewanya dan membongkar sekat di antaranya.

Delapan meter kali delapan sekarang.

Setengahnya toko. Setengahnya ruang kelas, dengan enam meja panjang dan rak alat dan satu bak cuci besar yang salurannya kurancang sendiri setelah tiga kali salah dan satu kali banjir.

Kelasnya empat kali seminggu sekarang.

Tari yang mengajar dua di antaranya.

Itu terjadi tanpa upacara apa pun. Clara sakit tenggorokan di bulan Oktober dan tidak bisa bicara, dan kelas hari Sabtu sudah penuh delapan orang, dan Tari bilang “aku aja,” dan Clara bilang oke.

Dan sejak itu Tari mengajar.

Aku ada di sana di kelas pertamanya. Aku duduk di kursi plastik hijau di teras dan mendengarkan lewat pintu, dan dia menjelaskan tentang sudut empat puluh lima derajat dengan kalimat yang persis sama seperti yang dijelaskan Clara padaku dua tahun lalu, sampai kata terakhirnya.

Dan waktu selesai, dia keluar ke teras dan duduk di kursi sebelah dan berkata:

“Mas.”

“Hm.”

“Tangan aku gemeteran.”

“Kelihatannya nggak.”

“Aku nyembunyiin di belakang meja.”

Dan aku menoleh ke arahnya dan berkata: “Tari, itu bagus banget.”

Dan dia mulai menangis dan langsung marah pada dirinya sendiri dan bilang bahwa ini karena dia belum makan.


Aku menerima pekerjaan bulan November.

Bukan Nusantara Dev. Yang lain, lebih kecil, tiga hari seminggu, kontrak setahun.

Aku memikirkannya selama enam minggu dan membahasnya di terapi selama empat sesi dan menuliskan dua kolom di kertas seperti orang yang belajar dari istrinya.

Kolom kiri: alasan menerima.

Kolom kanan: alasan menolak.

Dan di bawah kolom kanan, dengan tulisan yang lebih kecil, satu baris tambahan yang kutulis sendiri dan yang tidak diajarkan siapa pun:

Cek: ada nggak yang bunyinya “kamu nggak pantes”?

Tidak ada.

Aku mengirim penerimaannya hari Selasa, dan hari Rabu aku menceritakannya ke Bu Ratih, dan dia mendengarkan sampai selesai dan lalu bertanya bagaimana perasaanku.

Dan aku bilang: “Aneh.”

Dan dia bilang: “Aneh kayak salah, atau aneh kayak baru?”

Dan aku duduk di kursi itu selama mungkin satu menit sebelum bilang: “Yang kedua.”


Bu Ratih dan aku selesai bulan Februari.

Bukan berhenti. Selesai—dia yang mengusulkannya, di sesi ke enam puluh tiga, dengan cara yang sangat tidak seremonial.

“Pak, menurut Bapak kita masih perlu ketemu tiap minggu?”

“Nggak tahu, Bu.”

“Bapak tahu.”

Dan aku duduk di kursi itu dan berkata: “Nggak.”

Kami turun ke sebulan sekali. Lalu tiga bulan sekali.

Di sesi terakhir yang mingguan, dia bertanya satu hal.

“Pak Aditya, kalau ada teman Bapak—laki-laki, umur tiga puluh empat, cerita persis kejadian yang sama ke Bapak. Sebelas hari, ban, semuanya.”

Aku sudah tahu pertanyaannya. Dia menanyakannya di sesi ketiga, dua tahun lalu.

“Bapak bilang apa ke dia?”

Dan kali ini aku tidak menjawab dengan cepat.

Aku duduk di kursi itu selama mungkin dua puluh detik.

Lalu aku berkata: “Saya nggak akan bilang apa-apa, Bu. Saya bakal duduk sama dia.”

Bu Ratih meletakkan pulpennya.

“Berapa lama?”

Dan aku berkata: “Selama yang dia butuhin.”


Tanggal sembilan Desember, tahun berikutnya.

Tujuh tahun.

Kami berangkat jam delapan pagi, seperti tahun lalu, dan toko tutup, seperti tahun lalu.

Tapi kali ini kami tidak berhenti di toko bunga dekat pasar.

Kami berhenti di Cikutra.

Dan Clara masuk ke gudang dan keluar membawa sesuatu yang sudah dia siapkan selama sebelas bulan tanpa pernah sekali pun menyebutkannya padaku.

Dua pot.

Bukan bunga potong.

Tanaman, dengan akar, di dalam polybag hitam yang sudah dia pindahkan ke pot tanah liat dua minggu sebelumnya.

“Ra.”

“Iya.”

“Ini apa?”

Dan Clara berkata: “Kamboja.”


“Aku tahu itu klise,” katanya cepat, sebelum aku sempat bicara. “Aku tahu semua pemakaman ada kambojanya dan aku tahu itu kayak pilihan paling males di dunia.”

“Ra—“

“Tapi aku milih ini bukan karena itu.” Dia meletakkan kedua pot itu di kursi belakang. “Aku milih ini karena kamboja itu susah banget dibunuh, Aditya. Dia bisa nggak disiram sebulan. Dia bisa kepanasan. Dia bisa dipotong sampai tinggal batang dan dia tumbuh lagi.”

Dia menutup pintu.

“Dan dia berbunga tiap tahun tanpa disuruh.”

Aku memegang setir dan tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Aditya.”

“Hm.”

“Kalau kamu nggak mau, kita beli krisan aja. Aku nggak akan tersinggung.”

Dan aku menoleh ke arahnya dan berkata: “Aku mau.”


Kami sampai jam sembilan lewat.

Pak Salim di jalur ketiga, dan dia melihat dua pot di tanganku dan mematikan mesinnya dan berjalan ke arah kami.

“Mau ditanam, Mas?”

“Iya, Pak.”

“Boleh.” Dia melihat ke arah dua nisan itu. “Yang di sisi mana?”

“Kiri sama kanan.”

“Bapak ambilin cangkul kecil.”

Dan dia berjalan ke gudang alat dan kembali dengan cangkul kecil dan sekop, dan menyerahkannya, dan berkata: “Jangan terlalu deket nisan, Mas. Nanti akarnya.”

“Berapa jaraknya, Pak?”

“Sejengkal aja.”

Dan dia kembali ke mesinnya dan menyalakannya lagi, dan tidak berdiri di sana untuk menonton, dan aku menyadari bahwa laki-laki ini sudah tiga belas tahun bekerja di tempat ini dan tahu persis kapan harus pergi.


Aku menggali.

Clara berjongkok di sebelahku dan tidak mengambil alih sekali pun, meskipun aku tahu dia bisa melakukannya empat kali lebih cepat, meskipun aku menggali lubang pertama terlalu dangkal dan harus mengulangnya.

“Segini?”

“Dua kali lipat.”

“Segini?”

“Iya.”

Dan aku mengeluarkan yang pertama dari potnya, dan akarnya keluar utuh dengan tanahnya, dan aku memegangnya dengan dua tangan.

Tanah di tanganku.

Enam tahun aku menghindari ini. Halaman yang disemen. Bibit cabai yang mati di kardus di rak paling atas garasi. Toko bunga yang kumasuki sambil menahan napas selama tiga langkah.

Dan aku berjongkok di rumput di depan nisan istriku dengan tanah sampai pergelangan tangan.

Aku meletakkannya di lubang.

Clara mendorong tanah dari sisi-sisinya dengan telapak tangan, dan aku ikut, dan kami memadatkannya bersama-sama tanpa ada yang memberi instruksi.

Lalu yang kedua.

Di sebelah kanan.

Sejengkal dari nisan bertuliskan Bumi Arsanta Wisesa.


Kami menyiramnya dengan air dari keran di jalur kedua.

Dan lalu kami duduk di rumput.

“Berapa lama sampai berbunga?” tanyaku.

“Yang ini udah ada kuncupnya.”

Aku menoleh.

“Yang mana?”

“Yang kanan.” Clara menunjuk. “Di ujung batang yang itu. Kecil banget.”

Aku merunduk dan melihatnya.

Kecil sekali. Hijau. Mungkin sebesar ujung jari kelingking.

“Berapa lama?”

“Tiga sampai empat minggu.”

“Kalau mati?”

Dan Clara berkata—tanpa nada apa pun, dengan cara orang menyebutkan harga, dengan cara Bu Yuli menyebutkannya di halaman rumahku dua tahun lalu:

“Ya ganti.”


Aku duduk di rumput sampai jam sebelas.

Clara di sebelahku, dengan tanah di kedua tangannya, tidak berkata apa-apa selama mungkin dua puluh menit terakhir.

Dan pada suatu titik aku memikirkan sesuatu yang dia katakan padaku dua tahun lalu, di malam kami memotong batang di bawah lima lilin waktu listriknya mati.

Bunga selalu haus. Dia udah dipotong dari akarnya. Yang kita lakuin di sini cuma nunda.

Enam puluh delapan kali.

Enam puluh delapan kali aku datang ke tempat ini membawa sesuatu yang sudah dipotong dari akarnya. Sesuatu yang sudah sekarat waktu kubeli. Sesuatu yang tugasku cuma menundanya.

Dan aku selalu membawa yang putih. Selalu sembilan. Selalu tanggal sembilan.

Dan setiap kali aku pulang, bunga itu mulai layu di belakangku, dan aku tahu itu, dan itu justru bagian yang membuatku bisa melakukannya.

Karena bunga potong itu punya tanggal kedaluwarsa, dan tanggal kedaluwarsa itu artinya aku harus kembali.

Enam tahun aku memberi mereka sesuatu yang dirancang untuk mati supaya aku punya alasan untuk terus datang.


Aku menoleh ke arah Clara.

“Ra.”

“Hm.”

“Yang ini nggak akan layu, ya.”

Dan Clara Wisesa—dia baru mengganti namanya tujuh bulan lalu dan aku masih belum terbiasa mendengarnya—menoleh ke arahku dengan tanah di kedua tangannya dan berkata:

“Nggak. Yang ini nggak dipotong.”

Dan aku memandang dua tanaman kecil di kiri dan kanan dua nisan itu, dengan satu kuncup sebesar ujung jari kelingking di ujung batang yang kanan.

“Dia bakal gugur tiap musim,” kata Clara. “Bunganya jatuh, daunnya rontok, batangnya kelihatan mati.”

“Terus?”

“Terus tumbuh lagi.”

Dia mengelap tangannya ke rumput.

“Itu bedanya, Aditya,” katanya. “Yang dipotong itu nggak layu karena dia jelek. Dia layu karena dia udah nggak punya akar.”


Kami berdiri jam sebelas lewat.

Aku membersihkan celanaku dari rumput dan Clara membersihkan tangannya dengan air dari botol, dan kami berjalan ke parkiran dengan cangkul kecil dan sekop yang harus dikembalikan ke Pak Salim.

Dan sebelum sampai di mobil, aku berhenti dan menoleh ke belakang.

Dua nisan.

Dan di kiri dan kanannya, dua tanaman setinggi lutut yang belum terlihat seperti apa pun, yang akan menghabiskan enam bulan pertama kelihatan seperti tidak melakukan apa-apa.

Aku berdiri di sana beberapa detik.

“Nay,” kataku, pelan sekali, cukup pelan sehingga Clara di depanku mungkin tidak dengar. “Aku bakal balik bulan depan. Bukan buat ngasih apa-apa.”

Aku memindahkan cangkul ke tangan satunya.

“Cuma buat lihat.”

Dan aku berjalan ke mobil.


Kami sampai di rumah jam dua belas lewat.

Clara langsung ke halaman depan, seperti selalu, karena cabainya sekarang dua puluh tiga pohon dan ada tomat—akhirnya ada tomat, tahun ketiga, empat pohon, dan yang paling besar sudah berbuah tujuh butir yang semuanya masih hijau.

Aku mencuci tangan di keran depan.

Dan aku berdiri di halaman rumahku sendiri—yang dulu disemen sampai pagar, seluruhnya, karena aku bilang pada tukangnya bahwa aku tidak punya waktu untuk tanaman—dan melihat istriku berjongkok di antara dua puluh tiga pohon cabai sambil menggerutu tentang kutu daun.

“Aditya.”

“Hm?”

“Ini ada kutu.”

“Parah?”

“Belum. Tapi kalau kamu nggak ngapa-ngapain sampai minggu depan, iya.”

Dan aku berdiri di sana dengan tangan yang masih basah.

Minggu depan.

Aku menunggu.

Aku benar-benar menunggu—berdiri di halaman itu selama mungkin lima detik, dengan seluruh tubuhku siap, seperti orang yang menunggu bunyi rem di tikungan yang sudah seribu kali dia lewati.

Dan yang datang cuma sedikit. Sangat sedikit. Seperti bunyi dari ruangan yang jauh.

Dan aku mendengarnya, dan aku mengenalinya, dan aku membiarkannya lewat.

Lalu aku berjalan ke garasi, dan mengambil botol semprot, dan mengisinya dengan air dan sabun sesuai takaran yang sudah diajarkan istriku enam belas kali, dan aku kembali ke halaman dan berjongkok di sebelahnya.

“Sekarang aja,” kataku.

Dan Clara menoleh, dan tersenyum, dan tidak mengatakan apa-apa.

Dan kami menghabiskan sore itu di tanah, di halaman rumah yang dulu tidak punya tanah sama sekali, dengan matahari yang turun pelan di belakang atap rumah Bu Yuli.

— TAMAT —