← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Fourteen

Boleh, Kok

POV: Aditya


Aku menghitung uangnya dua kali.

Bukan uang. Angka di layar aplikasi bank, jam satu siang hari Senin, dengan laptop terbuka di meja makan dan kopi yang sudah dingin di sebelahnya.

Delapan belas juta tidak akan terasa. Itu masalahnya.

Aku punya tabungan yang dibangun dari tiga belas tahun karier dan lima tahun hidup yang tidak membeli apa-apa. Aku tidak liburan. Aku tidak punya hobi. Rumahku sudah lunas. Mobilku sudah delapan tahun dan aku tidak berencana menggantinya.

Aku bisa mengirim delapan belas juta ke rekening Kembang Kata siang itu juga dan besok pagi saldoku tetap terlihat sama.

Aku menutup laptopnya.

Lalu aku membukanya lagi empat puluh menit kemudian.

Lalu menutupnya lagi.

Ini yang tidak bisa kujelaskan dengan benar, bahkan pada diriku sendiri: aku tidak menginginkannya untuk Clara.

Aku menginginkannya untukku.

Karena ada sesuatu yang salah bentuknya sejak jam empat pagi Sabtu itu, dan bentuk salah itu adalah bahwa aku memberikan sesuatu yang tidak bisa kuhitung. Aku memberikan dua menit dengan lengan di punggung seseorang. Tidak ada nilainya. Tidak bisa dicicil, tidak bisa dilunasi, tidak masuk ke neraca mana pun.

Delapan belas juta bisa.

Delapan belas juta adalah angka. Angka bisa ditransfer, dan begitu ditransfer, dia selesai, dan aku bisa kembali menjadi orang yang sudah membayar.

Aku tidak mengirimkannya.

Tapi aku duduk di meja makan sampai jam empat sore memikirkannya, dan itu sendiri sudah cukup memberitahuku sesuatu yang tidak ingin kuketahui.


Rabu, Bram menelepon.

“Dit, lo ke mana Sabtu kemarin? Gue chat nggak dibales sampe sore.”

“Gue kerja.”

“Kerja apa sampe nggak megang HP?”

Dan aku, karena aku sudah kehabisan tenaga untuk merancang jawaban, bilang yang sebenarnya.

“Gue di toko bunga dari jam dua belas malem sampe jam sebelas siang.”

Hening di seberang.

“...Ngapain?”

“Kiriman dia rusak. Enam puluh dua ikat mawar. Ada resepsi paginya.”

“Terus lo bantuin?”

“Iya.”

“Sebelas jam.”

“Iya.”

Bram diam cukup lama.

Lalu dia bilang, dan nadanya berubah jadi sesuatu yang tidak pernah kudengar darinya dalam lima tahun: “Dit, gue mau ngomong dan lo jangan marah.”

“Gue nggak pernah marah.”

“Nah, itu.” Dia menghela napas. “Itu masalahnya, sebenernya. Tapi bukan itu yang mau gue omongin.”

“Terus apa?”

“Lo tuh dari dulu selalu nolongin orang. Gue tahu. Semua orang tahu. Lo yang nganterin bokap gue ke rumah sakit waktu gue masih di Surabaya, lo yang ngurusin semuanya pas—“

Dia berhenti.

“Pokoknya lo selalu gitu,” lanjutnya. “Tapi lo selalu nolongin dari luar.”

“Maksudnya?”

“Lo dateng, lo beresin, lo pulang.” Suaranya pelan. “Lo nggak pernah tinggal, Dit.”

Aku memindahkan ponsel ke telinga satunya.

“Ini beda gimana?”

“Sebelas jam, Dit. Lo nggak beresin terus pulang. Lo tinggal sampe kelar.”

Aku tidak menjawab.

“Ya udah,” kata Bram akhirnya, kembali ke suaranya yang biasa. “Gue cuma mau bilang. Eh, futsal Sabtu jadi nggak?”

“Nggak akan jadi.”

“Iya sih.”


Kamis berikutnya aku datang jam empat dengan tangan kosong.

Kedua kalinya. Lebih mudah dari yang pertama, tapi tidak mudah.

Yang membuatnya lebih mudah adalah Tari, yang begitu melihatku langsung berteriak: “Mas, aku butuh bantuan.”

“Apa?”

“Angkat itu.” Dia menunjuk karung tanah. “Berat banget. Teh Clara nggak bolehin aku angkat sendiri.”

“Kamu memang nggak boleh angkat sendiri,” kata Clara dari dalam.

“Nah, makanya. Mas Aditya kan ada.”

Dan aku mengangkat karung tanah itu ke rak belakang dengan perasaan lega yang begitu memalukan sehingga aku hampir tertawa.

Waktu aku keluar dari gudang, Clara sedang menatapku.

Bukan dengan tuduhan. Dengan sesuatu yang lain—setengah geli, setengah lembut, seperti orang yang melihat kucing berpura-pura tidak tertarik pada sesuatu selama tiga menit lalu menyerah.

“Apa,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Ra.”

“Beneran nggak apa-apa.” Dia kembali ke potnya. “Karungnya emang berat.”


Jam tujuh malam, toko sepi.

Tari sudah pulang. Tidak ada pesanan besar besok. Clara sedang membereskan meja kerja dengan kecepatan orang yang sebenarnya sudah selesai tiga puluh menit lalu.

Aku duduk di kursi plastik hijau.

Dan aku menyadari bahwa aku sudah duduk di kursi ini selama dua jam empat puluh menit dan aku belum melakukan apa pun kecuali mengangkat satu karung tanah.

Sesuatu mulai naik di dadaku.

Aku kenal ini. Ini yang datang jam sepuluh pagi hari Minggu, atau jam tiga sore hari libur nasional, atau kapan pun ada terlalu banyak waktu yang tidak punya bentuk. Rasanya seperti berdiri di ruangan yang lantainya perlahan dimiringkan.

Aku berdiri.

“Ra, saya cek lampu teras dulu—“

“Lampu terasnya nyala.”

“Iya, tapi yang sebelah kiri agak—“

“Mas Aditya.”

Aku berhenti.

Dia meletakkan kain lapnya di meja dan menyandarkan pinggangnya ke sisi meja itu dan melipat tangan dan menatapku.

“Duduk.”

“Saya—“

“Duduk.”

Aku duduk.

Dan lalu kami berdua diam selama mungkin sepuluh detik, dan sepuluh detik itu terasa jauh lebih panjang daripada seluruh malam hari Sabtu itu.

“Susah, ya,” katanya.

“Apanya?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

Aku tidak menjawab.

“Mas tadi udah tiga kali berdiri.” Dia mengangkat jari. “Jam lima lewat, ngecek gembok. Jam enam, mindahin ember yang nggak perlu dipindahin. Sekarang, lampu.”

“Saya nggak sadar.”

“Saya tahu.” Nadanya sama sekali tidak menghakimi. “Makanya saya bilang.”

Aku memutar kunci mobil di jari. Berhenti. Memasukkannya ke saku.

Dan lalu, karena ruangannya sepi dan lampunya kuning dan aku sudah terlalu lelah untuk menjalankan seluruh prosedur, aku bertanya:

“Ra, saya boleh nggak dateng tapi nggak ngapa-ngapain?”


Aku mendengar diriku sendiri mengatakannya dan langsung ingin menariknya kembali.

Kedengarannya bodoh. Kedengarannya seperti anak kecil yang minta izin untuk bernapas. Aku laki-laki berumur tiga puluh dua tahun dengan rumah yang sudah lunas dan tiga belas tahun karier dan aku baru saja meminta izin untuk duduk di kursi plastik.

Clara tidak tertawa.

Dia juga tidak melunakkan wajahnya, yang lebih penting—dia tidak memberiku wajah kasihan, tidak memiringkan kepala, tidak melakukan satu pun dari hal-hal yang membuat pertanyaan seperti itu jadi terasa seperti pengakuan.

Dia cuma bilang, dengan nada orang yang menjawab pertanyaan soal jam buka toko:

“Boleh, kok.”


Dan sesuatu di dalam dadaku lepas.

Aku tidak punya cara yang lebih baik untuk mengatakannya. Ada sesuatu yang sudah lima tahun terpasang di sana—bukan sakit, bukan berat, cuma terpasang, seperti klip yang menjepit selang—dan selama dua detik setelah dia mengucapkan dua kata itu, klip itu lepas.

Aku menunduk dan pura-pura mengecek ponsel yang tidak ada notifikasinya.

“Oke,” kataku.

“Oke.”

“Ya udah.”

“Ya udah.”

Dan dia kembali membereskan meja yang sudah beres, dan aku duduk di kursi plastik hijau di teras toko bunga di Sukaluyu, dan selama sekitar setengah jam berikutnya aku benar-benar tidak melakukan apa-apa.

Bukan diam sambil menghitung berapa lama lagi diamnya bisa ditahan.

Diam.

Ada anak-anak main bola di lapangan seberang. Ada motor lewat. Ada bau tanah basah dari rak yang baru disiram dan bau gorengan dari gerobak di ujung jalan.

Dan aku duduk di sana, dan tidak ada yang jatuh, dan tidak ada yang rusak, dan lantainya tidak miring.

Sekitar setengah jalan, Clara duduk di kursi satunya.

Dia tidak membawa pekerjaan. Dia cuma duduk, dengan gelas air di tangan, dan menatap ke arah lapangan yang sama.

“Yang nomor sembilan itu bakal nangis,” katanya.

“Kenapa?”

“Dia dari tadi minta bola, nggak dikasih-kasih.”

Kami menonton.

Empat menit kemudian anak nomor sembilan itu duduk di rumput dan menendang tanah dan berteriak sesuatu yang tidak terdengar, dan salah satu anak yang lebih besar akhirnya mengoper bola ke arahnya dengan wajah orang yang sudah sangat capek.

“Nah,” kata Clara.

“Mbak sering nonton?”

“Tiap hari.”

“Serius?”

“Empat tahun.” Dia meminum airnya. “Saya hafal siapa yang curang.”

Aku tertawa. Dan aku menyadari, di tengah tawa itu, bahwa aku tidak sedang mencari kalimat berikutnya.

Itu hal kecil. Tapi selama lima tahun, setiap percakapan yang kujalani punya lapisan kedua yang berjalan bersamaan—bagian dari kepalaku yang menyiapkan kalimat berikutnya, mengecek arah pembicaraan, memastikan tidak ada belokan menuju hal-hal yang tidak boleh dilewati.

Lapisan itu tidak menyala.

Aku tidak tahu kapan tepatnya dia berhenti menyala. Aku cuma tahu bahwa aku duduk di kursi plastik hijau menonton anak-anak main bola dengan seseorang yang tidak menuntut apa-apa dariku, dan bahwa untuk pertama kalinya sejak sangat lama, seluruh isi kepalaku ada di tempat yang sama dengan badanku.


Kami menutup toko jam delapan lewat.

Aku mengangkat rak teras ke dalam—yang tidak dihitung, karena itu bagian dari menutup toko, karena Clara sendiri yang bilang begitu dua minggu lalu waktu aku mencoba menghitungnya.

Dia menurunkan rolling door sampai setengah, lalu berhenti, karena tali penariknya tersangkut di sesuatu di atas.

“Ah.”

“Mana?”

“Yang kiri. Talinya nyangkut di kanopi.”

Aku maju.

Talinya memang tersangkut—melilit di braket kanopi, sekitar dua meter dari lantai, di sudut yang tidak bisa dijangkau dari bawah tanpa berjinjit.

Aku berjinjit dan meraihnya.

Dan Clara, karena dia sedang memegang ujung tali yang satunya dan tidak tahu aku akan maju, bergerak ke arah yang sama.

Kami bertabrakan.

Bukan tabrakan keras. Bahunya menyentuh dadaku, dan dia mundur setengah langkah, dan aku menahan lengannya supaya dia tidak menabrak rak di belakang.

Dan lalu kami berdiri di sana.

Di bawah kanopi, di trotoar Jalan Sukaluyu, jam delapan lewat dua puluh malam, dengan rolling door setengah turun dan lampu toko yang masih menyala dari dalam sehingga cahayanya keluar dari celah bawah dan menerangi kaki kami saja.

Tanganku masih di lengannya.

Dia mendongak.

Aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas—cara napasnya berubah, cara pupilnya membesar di bawah cahaya jalan yang oranye, satu helai rambut yang menempel di pelipisnya karena seharian bekerja.

Aku menunduk.

Dia tidak mundur.

Jarak di antara kami mengecil dengan cara yang tidak bisa kutunjuk siapa yang melakukannya—sepuluh sentimeter, lalu lima, lalu cukup dekat sehingga aku bisa merasakan napasnya di daguku.

Dan lalu:

“TEH CLARA HELM AKU KETINGGALAN—“

Motor. Rem mendadak. Bunyi standar diturunkan dengan kekuatan berlebihan.

Kami melompat mundur seperti dua orang yang tersengat listrik dari sumber yang sama.

Tari berdiri di seberang jalan, masih di atas motornya, dengan satu kaki di aspal dan mulut yang perlahan-lahan menutup.

Hening total selama sekitar dua detik.

“...Helm,” katanya, dengan suara yang jauh lebih kecil dari sebelumnya.

“Di gudang,” kata Clara. Suaranya sangat rata dan sangat tinggi sekaligus, yang seharusnya tidak mungkin.

“Iya.”

“Ambil aja.”

“Iya.”

Tari turun dari motornya dan berjalan ke gudang dengan kecepatan orang yang sedang berjalan melewati ranjau darat, mengambil helmnya, dan berjalan keluar lagi.

Di ambang pintu, dia berhenti.

“Aku nggak lihat apa-apa,” katanya.

“Tari—“

“Aku beneran nggak lihat apa-apa. Aku buta. Ini turunan.” Dia memakai helmnya. “Mas Aditya, hati-hati di jalan. Teh Clara, besok aku dateng jam sembilan. Assalamualaikum.”

Dan dia pergi.


Kami berdiri di trotoar selama beberapa saat setelah suara motornya hilang.

“Dia bakal cerita ke semua orang,” kata Clara.

“Dia kenal siapa aja?”

“Dua puluh tiga orang di grup alumni SMA-nya.”

“Aman.”

Clara mulai tertawa. Aku juga. Dan tawa itu jadi terlalu besar untuk situasinya, dengan cara yang biasanya terjadi kalau dua orang sama-sama sedang tidak sanggup membicarakan hal yang sebenarnya.

Kami menurunkan rolling door sampai bawah. Menguncinya.

Di mobil, sepanjang tujuh menit, radio menyala dan tidak ada yang bicara.

Di depan gerbang kosnya, dia melepas sabuk pengaman.

“Mas.”

“Hm.”

Dan aku sudah menyiapkan semuanya. Aku akan bilang maaf. Aku akan bilang tadi itu refleks, atau kelelahan, atau apa pun yang bisa memasukkan kejadian itu kembali ke dalam kotak dan menutupnya.

Clara berkata: “Kamis depan jam empat, ya.”

“...Iya.”

“Nggak usah bawa apa-apa.”

“Iya.”

Dia keluar. Menutup pintu. Berjalan—tidak lari kecil, berjalan—ke gerbang, lalu berhenti di sana dan menoleh dan melambaikan tangan sekali.

Aku menunggu sampai lampunya menyala.

Lalu aku duduk di dalam mobil di depan gerbang kos itu selama sebelas menit, dengan kedua tangan di setir, dan mengucapkan dua kata itu di dalam kepala berulang-ulang sampai bunyinya berubah jadi bukan kata sama sekali.

Boleh, kok.

Dan yang paling menakutkan bukan bahwa aku hampir menciumnya.

Yang paling menakutkan adalah bahwa selama setengah jam sebelumnya, di kursi plastik hijau itu, aku sudah lupa untuk membenci diriku sendiri.


Di rumah, aku tidak langsung tidur.

Aku duduk di ruang tamu dengan lampu mati dan menunggu sesuatu datang.

Aku tahu bentuknya. Aku sudah kenal lima tahun. Setiap kali ada satu hari yang terlalu ringan, ada tagihan yang menyusul—biasanya malam, biasanya sekitar jam satu, berupa satu adegan yang diputar ulang dengan sangat detail sampai aku bangun jam empat dengan dada yang sakit.

Malam itu aku menunggunya.

Aku benar-benar duduk di sana menunggunya datang, seperti orang yang menunggu dokter memanggil namanya.

Jam dua belas lewat, belum datang.

Jam satu, belum.

Jam setengah dua, aku berdiri dan berjalan ke ujung lorong dan berdiri di depan pintu putih itu.

Hari itu Kamis.

Aku membukanya.

Ruangannya persis seperti Minggu lalu, dan Minggu sebelumnya, dan dua ratus enam puluh Minggu sebelum itu. Seprai yang tidak ditiduri siapa pun. Ambang jendela tanpa debu. Bau sabun cuci dan tidak ada bau lain sama sekali, karena bau lainnya sudah habis di tahun kedua dan aku menghabiskan sekitar sebulan mencoba tidak mempercepatnya.

Aku berdiri di ambang pintu dan tidak masuk.

“Aku ketemu orang,” kataku.

Suaraku terdengar aneh di ruangan sekecil itu.

Aku menunggu.

Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Aku sudah lima tahun berhenti percaya bahwa kata-kata dikirim ke suatu tempat.

Tidak ada apa-apa. Tentu saja tidak ada apa-apa. Cuma ruangan bersih dan bunyi kompresor kulkas dari arah dapur.

Aku menutup pintunya dan kembali ke kamar dan tidur, dan tidak ada yang datang malam itu, dan aku bangun jam tujuh pagi dengan perasaan yang butuh waktu lama sekali untuk kukenali.

Ternyata itu namanya bangun dengan cukup tidur.