Chapter Twenty Two
Cimahi
POV: Aditya
Hari Minggu aku bangun jam empat.
Aku mengerjakan urutannya lebih awal dari biasanya. Pintu putih itu jam lima pagi, di bawah lampu—untuk pertama kalinya aku menyalakan lampunya, karena jam lima masih gelap dan aku tidak mau menunggu sampai terang.
Ruangannya kelihatan berbeda di bawah lampu.
Aku tidak pernah menyadari itu. Dua ratus enam puluhan Minggu, semuanya di bawah cahaya jam delapan pagi yang masuk lewat tirai, dan aku tidak pernah tahu bahwa di bawah lampu kuning ruangan itu kelihatan seperti kamar biasa.
Aku menyedot debu. Aku mengganti seprai. Aku melipat yang lama dan memasukkannya ke mesin cuci bersama pakaianku sendiri.
Lalu, sebelum keluar, aku berdiri di tengah ruangan itu.
Aku belum pernah berdiri di tengahnya. Aku selalu bekerja dari pinggir, menghadap keluar, dengan pintu selalu di belakang punggungku dalam jangkauan tiga langkah.
Aku berdiri di tengah selama mungkin sepuluh detik.
Lalu aku keluar, dan mematikan lampunya, dan menutup pintunya.
Cimahi butuh lima puluh menit.
Rumah ibu Naya di gang yang mobilnya harus diparkir di mulut gang karena tidak muat masuk. Cat hijau muda. Pagar rendah. Ada pohon jambu di depan yang sudah ada di sana sejak sebelum aku kenal siapa pun di rumah itu.
Aku sampai jam sembilan.
Sarah membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk.
“Mas.”
“Sar.”
Dan kami berdiri di ambang pintu selama sekitar dua detik yang canggung sekali, dan lalu dia mundur dan bilang masuk.
Ibu sedang tidak ada.
“Ke rumah Bude, sampai sore,” kata Sarah, sambil meletakkan dua gelas teh di meja. “Sengaja.”
“Sengaja?”
“Iya.”
Aku duduk di kursi rotan yang sama seperti selalu. Ada foto pernikahan kami di dinding—aku dan Naya, sembilan tahun lalu, dengan wajah dua orang yang belum tahu apa-apa. Ada foto Bumi umur dua tahun di rak, di dalam bingkai plastik yang catnya sudah mengelupas di sudut.
Aku sudah lima tahun datang ke rumah ini empat sampai enam kali setahun dan tidak pernah sekali pun melihat lurus ke rak itu.
Aku melihatnya pagi itu.
Sarah memperhatikanku melihatnya.
“Mas mau minum dulu?”
“Nggak usah.”
“Mas.”
“Sar.” Aku meletakkan kedua tanganku di paha. “Kamu ke Bandung hari Rabu.”
Dia duduk di kursi seberang.
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan Sarah, yang sudah lima tahun menyediakan pintu keluar di ujung setiap kalimatnya, menatapku dan berkata:
“Karena Mas nggak akan pernah cerita sendiri.”
Aku tidak menjawab.
Ada bunyi ayam dari rumah sebelah. Ada bunyi anak Sarah yang sedang tidur siang terlalu pagi di kamar belakang, mengigau sesuatu, lalu diam lagi.
“Aku nggak minta maaf,” kata Sarah. “Aku udah minta maaf ke Mbak Clara dan itu emang perlu, karena aku dateng ke tempat kerja orang tanpa diundang. Tapi sama Mas aku nggak minta maaf.”
“Oke.”
“Mas mau tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku minta maaf, Mas bakal bilang nggak apa-apa.” Suaranya rata. “Terus urusannya selesai. Terus Mas pulang. Dan lima tahun ini selalu gitu.”
Aku memegang gelas teh yang tidak kuminum.
“Sar—“
“Mas selalu bilang nggak apa-apa.” Dia mencondongkan badan. “Tahun pertama, waktu Ibu marah-marah ke Mas soal kenapa Mas nggak nginep aja di sini biar nggak sendirian, Mas bilang nggak apa-apa. Waktu Om Tarno ngomong hal yang bener-bener nggak pantes di tahlilan kedua—Mas inget nggak?”
Aku ingat.
“Mas bilang nggak apa-apa, Sar, dia nggak maksud gitu.” Sarah menggeleng. “Dia maksud gitu, Mas. Dia bilang itu di depan dua puluh orang.”
“Itu udah lama.”
“Iya. Dan Mas masih nolongin dia pindahan tahun lalu.”
Aku meletakkan gelasnya.
“Aku mau tanya satu hal,” katanya, “dan aku udah nyiapin ini dari Rabu.”
“Tanya.”
“Mas inget nggak, dua minggu setelah kejadian, aku nginep di rumah Mas tiga hari?”
“Inget.”
“Malam kedua, jam tiga pagi, aku bangun dan Mas lagi ngepel dapur.”
Aku menatap meja.
“Aku tanya Mas lagi ngapain, dan Mas bilang nggak bisa tidur.” Sarah menelan. “Terus paginya Mas bikinin aku sarapan. Terus siangnya Mas nganterin aku ke stasiun. Terus di stasiun Mas bilang, maaf ya Sar, Mas nggak bisa nemenin lebih lama.”
Ada jeda.
“Dua minggu, Mas.” Suaranya mulai retak. “Dua minggu setelah kakak aku sama keponakan aku meninggal, Mas minta maaf ke aku karena nggak bisa nemenin aku lebih lama.”
Aku tidak bisa mengangkat kepalaku.
“Dan aku terima,” katanya. “Itu yang paling aku nggak bisa maafin dari diri aku sendiri. Aku terima permintaan maaf itu. Aku bilang iya, nggak apa-apa Mas, dan aku naik kereta.”
Kami duduk seperti itu untuk waktu yang cukup lama.
Aku mendengar suara motor lewat di gang. Aku mendengar Sarah menarik napas dua kali dengan cara orang yang sedang berusaha tidak menangis dan gagal sebagian.
“Mas.”
“Iya.”
“Kenapa Mas nggak pernah cerita apa yang sebenernya terjadi?”
Dan ruangan itu berubah tekanannya.
“Kamu tahu apa yang terjadi,” kataku.
“Aku tahu yang di berita.” Dia mengusap wajahnya. “Aku tahu yang polisi bilang. Hujan, jalan turun, ban belakang. Aku tahu itu.”
Sesuatu di dadaku berhenti bergerak.
“Ban belakang,” ulangku.
“Iya.” Sarah mengerutkan kening. “Di laporannya. Mas kan yang ngurus semuanya.”
Aku memegang lututku dengan kedua tangan.
Aku memang yang mengurus semuanya. Aku yang mengambil laporan. Aku yang menandatangani. Aku yang membaca kalimat itu di kantor polisi jam sepuluh pagi dengan Bram berdiri di belakangku, dan aku yang melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku dan tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun.
Ban belakang kanan. Retak di dinding samping. Pecah di jalan menurun dalam kondisi basah.
Aku tidak tahu Sarah tahu.
“Mas?”
“Iya.”
“Mas kenapa?”
Dan aku duduk di kursi rotan di ruang tamu ibu mertuaku, lima tahun setelah semuanya, dan menyadari sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.
Selama lima tahun aku menyimpan satu kalimat yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun. Aku menyimpannya seperti orang menyimpan sesuatu di dalam dinding. Aku merancang seluruh hidupku di sekitarnya.
Dan ternyata bagian faktanya sudah ada di laporan polisi yang bisa dibaca siapa saja.
Yang tidak ada di laporan polisi adalah bahwa aku sudah tahu tentang ban itu sejak sebelas hari sebelumnya. Bahwa Naya menyebutkannya. Bahwa aku bilang minggu depan. Bahwa minggu depan itu datang dan aku ada di kantor sampai jam sebelas malam empat hari berturut-turut.
Itu yang tidak ada di laporan.
Itu yang tidak akan pernah ada di laporan mana pun.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dan aku mendengar diriku sendiri mengucapkannya, dan Sarah mendengarnya juga, dan wajahnya berubah.
“Nah,” katanya.
Sangat pelan.
“Sar—“
“Nggak apa-apa.” Dia berdiri dan mengambil kedua gelas dari meja meskipun keduanya masih penuh. “Nggak apa-apa, Mas.”
“Sarah.”
“Aku ambilin teh baru.”
“Sarah, duduk.”
Dan dia berhenti di tengah ruangan dengan dua gelas di tangan.
Aku berdiri.
“Aku ketemu orang,” kataku.
Dia menoleh.
“Namanya Clara. Kamu udah ketemu.” Suaraku tidak stabil dan aku membiarkannya tidak stabil. “Aku ketemu dia Agustus. Aku sekarang ke tokonya tiga kali seminggu. Aku masakin dia makan malem tiga minggu lalu di rumah, di meja makan yang lima tahun nggak dipake.”
Sarah meletakkan gelasnya di meja.
“Dan aku nggak cerita ke kamu,” lanjutku. “Bukan karena aku pikir kamu bakal marah. Aku tahu kamu nggak bakal marah. Kamu nggak pernah marah, itu masalahnya.”
“Mas—“
“Aku nggak cerita karena kalau aku cerita, artinya beneran.” Aku menelan. “Selama nggak ada yang tahu, itu masih bisa aku bilang bukan apa-apa.”
Sarah berdiri di tengah ruang tamu ibunya sendiri dan mulai menangis.
Bukan menangis yang tertahan. Menangis yang jelek, dengan bahu yang berguncang, jenis yang tidak pernah dia tunjukkan padaku dalam lima tahun.
“Aku kira Mas bakal bilang nggak ada apa-apa lagi,” katanya.
Aku memeluknya.
Aku berlutut sedikit—dia lebih pendek dari Naya, selalu—dan memeluknya di tengah ruang tamu dengan foto pernikahan di dinding dan foto Bumi umur dua tahun di rak.
Dia menangis di bahuku selama mungkin tiga menit.
Dan aku, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tidak menepuk punggungnya sambil bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku cuma diam.
Kami duduk lagi setelahnya. Teh yang sudah dingin. Anak Sarah bangun dan merangkak ke pangkuan ibunya dan menatapku dengan curiga selama sekitar empat menit sebelum memutuskan bahwa aku boleh ada di sana.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku seneng.”
“Iya?”
“Iya.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan. “Dan aku nggak akan bilang ’Naya juga pasti seneng’, karena itu bukan hak aku dan Mas juga pasti udah muak denger orang ngomong gitu.”
Aku tertawa. Satu embusan. Basah.
“Iya,” kataku.
“Tapi aku seneng, Mas. Aku sendiri, sebagai aku.” Dia menggeser anaknya di pangkuan. “Lima tahun aku ngeliatin Mas jadi orang yang paling berguna di setiap ruangan yang Mas masukin. Dan aku nggak pernah sekali pun ngeliat Mas duduk.”
“Aku duduk.”
“Mas nggak duduk, Mas nunggu.” Dia menggeleng. “Ada bedanya.”
Aku memandang gelas tehku.
“Mbak Clara ngeliatin Mas duduk?”
Dan aku memikirkan kursi plastik hijau dengan satu kaki yang lebih pendek dan tulisan nama warung yang sudah pudar di sandarannya, dan setengah jam di mana aku tidak melakukan apa-apa dan tidak ada yang jatuh.
“Iya,” kataku.
Sarah mengangguk.
Dan lalu dia berkata sesuatu yang tidak kuduga sama sekali:
“Mas, kalau nanti Mas mau cerita ke dia yang lengkap—“
“Sar.”
“Dengerin dulu.” Dia memindahkan anaknya ke sofa. “Aku nggak tahu apa yang Mas simpen. Aku tahu ada. Aku udah tahu ada dari tahun pertama.”
Aku tidak menjawab.
“Dan aku nggak akan nanya,” katanya. “Tapi kalau Mas cerita ke dia, dan dia nggak lari—“
Dia berhenti.
“Kalau dia nggak lari, tolong jangan Mas yang lari.”
Aku pulang jam dua siang.
Di mobil, di mulut gang, aku duduk sekitar sepuluh menit sebelum menyalakan mesin.
Aku memikirkan laporan polisi yang dilipat empat dan disimpan di map cokelat di laci ruang kerja, di bawah dokumen rumah.
Aku memikirkan bahwa Sarah tahu tentang ban itu.
Dan aku memikirkan bahwa selama lima tahun aku percaya rahasiaku adalah faktanya—bahwa kalau ada yang tahu tentang ban, semuanya akan runtuh.
Ternyata mereka sudah tahu.
Ibu Naya mungkin tahu. Bram pasti tahu; dia berdiri di belakangku di kantor polisi itu. Om Tarno mungkin tahu.
Semua orang tahu bahwa ban itu pecah.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang menganggap itu artinya apa yang kuanggap.
Yang berarti bahwa selama lima tahun, satu-satunya orang yang menghukumku adalah aku.
Aku menyalakan mesin.
Dan di sepanjang lima puluh menit perjalanan pulang, aku menyadari bahwa pengetahuan itu sama sekali tidak membuatnya lebih ringan.
Karena mereka tidak tahu tentang sebelas hari.
Dan selama tidak ada yang tahu tentang sebelas hari, hukumannya masih sah.
Aku sampai di rumah jam empat dan langsung mengirim pesan.
Ra, besok aku dateng ya. Bukan Kamis.
Boleh. Kenapa?
Dan aku duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan dan mengetik empat versi berbeda sebelum akhirnya mengirim:
Nggak apa-apa. Cuma mau dateng.
Centang dua. Biru.
Ya udah, dateng.
Dan aku meletakkan ponsel di meja dan pergi ke dapur dan menyiram sansevieria yang sebenarnya belum waktunya disiram, dan aku berdiri di depan ambang jendela itu untuk waktu yang cukup lama.
Di laci ruang kerja, di bawah dokumen rumah, ada map cokelat yang tidak kubuka lima tahun.
Aku tidak membukanya malam itu.
Tapi untuk pertama kalinya, aku mengakui pada diriku sendiri bahwa aku tahu persis di mana map itu.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi reading
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu