Chapter Three
Titipan Bu Yuli
POV: Aditya
“Lo tuh masalahnya kebanyakan waktu luang.”
Bram bilang itu sambil menusuk es batu di gelasnya dengan sedotan, di kafe langganan kami yang kopinya biasa saja tapi colokannya banyak. Sudah delapan tahun kami duduk di meja yang sama—dulu setiap dua minggu, sekarang kadang sebulan sekali, kadang lebih.
“Gue kerja.”
“Lo kerja empat jam sehari terus sisanya jadi RT bayangan.” Dia menghitung dengan jari. “Kemarin lo benerin apa? Pompa air Pak Herman?”
“Pompa air Pak Herman rusak beneran.”
“Terus?”
“Terus gue benerin.”
“Nah.” Bram menyandarkan punggungnya, puas seperti orang yang baru memenangkan debat yang tidak sedang berlangsung. “Dit, lo ini insinyur. Lo pernah bangun sistem yang dipakai berapa juta orang? Sekarang lo nyabutin lumut dari pompa.”
“Lumutnya banyak, Bram. Itu tantangan tersendiri.”
Dia melempar tisu ke arahku. Aku menghindar. Semuanya berjalan seperti seharusnya.
“Serius, Dit. Kemarin ada yang nanyain lo.”
“Siapa?”
“Anak Nusantara Dev. Mereka lagi bangun tim platform, butuh orang yang pernah pegang skala gede.” Bram menyeruput kopinya. “Gue kasih nomor lo, ya.”
“Jangan.”
“Kenapa? Lo bahkan belum denger angkanya.”
“Angkanya nggak ngaruh.”
“Angkanya selalu ngaruh, itu gunanya angka.”
Aku tertawa, dan mengambil sedotan dari gelasku, dan melipat ujungnya. “Gue udah males rapat, Bram. Serius. Gue pernah tiga tahun idup dari rapat ke rapat. Sekarang gue kerja pakai kaus, jam sebelas gue masih di kasur, klien gue nggak pernah lihat muka gue. Itu surga.”
“Itu pensiun dini versi orang tiga puluh dua tahun.”
“Ya.”
“Lo tuh sayang banget.” Dia menggeleng. “Otak lo kepakai berapa persen sekarang? Lima belas?”
“Dua belas. Sisanya buat pompa air.”
Dia menyerah, seperti yang selalu terjadi, dan aku merasakan hal yang sama seperti setiap kali percakapan ini selesai—sedikit lebih ringan. Seperti orang yang baru saja membayar cicilan.
Ini yang tidak bisa kujelaskan pada Bram, dan tidak akan pernah kucoba: setiap tawaran yang kutolak terasa benar. Bukan menyakitkan. Benar. Ada semacam neraca di dalam sana, dan setiap kali aku menutup pintu untuk diriku sendiri, jarumnya bergeser sedikit ke tempat yang seharusnya.
Aku tahu itu tidak masuk akal. Aku bahkan tahu namanya, kira-kira—aku pernah membacanya, jam dua pagi, di tahun kedua, di forum yang tidak akan pernah kuceritakan pada siapa pun bahwa aku pernah membukanya.
Mengetahui namanya ternyata tidak mengubah apa-apa.
Ini yang tidak orang mengerti tentang Bram: dia satu-satunya orang yang masih memanggilku dengan nada yang sama seperti sebelum. Semua orang lain punya nada khusus untukku. Nada yang setengah nada lebih rendah, sedikit lebih hati-hati, seperti orang berjalan di lantai yang baru dipel. Bram tidak pernah punya nada itu. Bram tetap mengata-ngataiku soal pilihan hidup dan cara parkirku dan fakta bahwa aku minum kopi tanpa gula seperti orang yang punya sesuatu untuk dibuktikan.
Sekali, di tahun kedua, dia pernah mencoba. Dia bertanya dengan nada yang lain. Aku menjawab dengan cara yang membuat dia tidak pernah bertanya lagi—bukan marah, tidak, aku tidak pernah marah. Aku cuma menjawab dengan sangat baik, sangat lengkap, dan sangat kosong, dan dia keluar dari percakapan itu merasa sudah menanyakannya.
Itu keahlianku. Bukan berbohong. Berbohong itu berisiko. Aku cuma membalikkan pertanyaan.
“Anak lo gimana?” tanyaku sekarang. “Udah masuk SD, kan?”
Dan Bram, seperti biasa, langsung berangkat. Dua puluh menit tentang wali kelas yang menurutnya terlalu galak, tentang biaya seragam, tentang anaknya yang katanya sekarang punya pendapat tentang segala hal. Aku mendengarkan sungguh-sungguh. Itu bukan pura-pura. Aku benar-benar ingin tahu.
Cuma, di sela-sela itu, aku juga tahu persis apa yang sedang kulakukan.
Waktu mau pisah di parkiran, dia menepuk bahuku.
“Lo tuh orang paling bener yang gue kenal, Dit. Serius.”
“Aman, kok.”
Dia tertawa dan masuk ke mobilnya, dan aku berdiri di sana sebentar sambil merasakan kalimat itu turun.
Orang mengira pujian itu enak. Pujian itu tagihan. Setiap kali seseorang bilang aku orang baik, ada bagian dari kepalaku yang langsung menjawab: tapi tidak cukup baik untuk mereka. Selalu. Tanpa jeda. Seperti mesin kasir yang otomatis mencetak struk.
Aku menyalakan mobil. Sebelum keluar parkiran, aku turun lagi, mengecek tekanan ban depan kanan Bram yang tadi kelihatan agak kempes dari kejauhan.
Memang kempes. Aku mengiriminya pesan. Dia membalas dengan emoji yang tidak nyambung.
Bu Yuli menghadangku di depan pagar hari Kamis.
“Mas Adit! Kebetulan!”
Tidak ada yang kebetulan dengan Bu Yuli. Bu Yuli tahu jadwalku lebih baik daripada aku sendiri.
“Kenapa, Bu?”
“Ini, Sabtu kan ada pengajian di rumah. Ibu mau pesan bunga buat di meja depan, sama satu buat di ruang tamu. Tapi Ibu nggak ngerti bunga.”
“Ibu pesen aja online.”
“Aduh, Ibu nggak percaya yang online. Nanti fotonya bagus, dateng-dateng kayak rumput.” Dia melipat tangannya. “Mas Adit kan sering beli bunga.”
Aku berhenti setengah detik.
Setengah detik. Itu saja. Cukup untuk menyalakan lampunya.
“Sering gimana, Bu?”
“Ya Ibu pernah lihat Mas Adit bawa bunga. Beberapa kali.” Dia mengibaskan tangan. “Ibu nggak nanya, ya. Ibu bukan tipe yang nanya-nanya.”
Bu Yuli adalah tipe yang nanya-nanya. Bu Yuli adalah pusat informasi RW ini dan dia tahu siapa yang telat bayar iuran sampai tiga bulan. Tapi dalam lima tahun, tidak sekali pun dia bertanya tentang itu.
Kadang aku berpikir dia lebih tahu daripada yang dia tunjukkan, dan diamnya itu adalah bentuk kebaikan yang paling mahal yang pernah diberikan orang padaku. Kadang aku berpikir dia benar-benar tidak tahu apa-apa.
Aku tidak pernah mencari tahu yang mana.
“Ya udah, biar saya yang beliin,” kataku. “Sabtu pagi?”
“Jangan repot-repot—“
“Nggak repot. Saya lagi senggang.”
“Ya Allah, Mas Adit.” Bu Yuli menepuk lengannya sendiri, gestur yang entah artinya apa tapi selalu muncul kalau dia sedang terharu. “Ibu tuh sering bilang sama Bapak, coba semua tetangga kayak Mas Adit.”
“Nanti nggak ada yang kerja, Bu. Semuanya benerin pompa.”
“Ih, serius.” Dia menunjuk ke arah rumah Pak Herman. “Itu yang di ujung, dipanggil buat kerja bakti aja alasannya sepuluh. Ibu hafal. Sakit pinggang, ada tamu, mobil di bengkel—padahal mobilnya di garasi, Ibu lihat.”
“Mungkin garasinya bengkel, Bu.”
“Nah, itu juga bisa.” Bu Yuli mengangguk-angguk, lalu berhenti. “Eh, bukan gitu maksudnya.”
Aku tertawa. Bu Yuli ikut tertawa meskipun aku yakin dia tidak sepenuhnya tahu kenapa.
“Oh iya,” katanya kemudian, “mobil Ibu itu Sabtu depan mau ke Garut. Rombongan.”
“Sudah diservis?”
“Servis apa?”
“Rutin. Oli, rem, ban.”
“Ibu nggak ngerti begituan. Bapak yang ngurus, tapi Bapak juga nggak ngerti.”
“Bawa keluar bentar, Bu.”
Dia membawanya keluar. Aku berjongkok di sisi kiri, mengecek keempat bannya satu per satu dengan alat pengukur yang memang selalu ada di dashboard mobilku. Belakang kiri kurang. Belakang kanan kurang lebih banyak. Ada retak halus di dinding samping ban belakang kanan, jenis retak yang belum berbahaya tapi akan jadi berbahaya kalau dibiarkan enam bulan lagi dan dipakai ke Garut lewat jalur menurun.
“Ini diganti, Bu.”
“Masih bagus, kan? Masih tebel.”
“Tebalnya bukan itu masalahnya.” Aku menekan dinding ban dengan ibu jari, menunjukkan retaknya. “Yang ini yang jebol duluan. Dari dalam. Dari luar nggak kelihatan apa-apa sampai kejadian.”
Suaraku keluar lebih tajam daripada yang kumaksud. Bu Yuli mengerjap.
“Ya ampun. Serem, ya.”
“Nggak serem.” Aku berdiri, mengibaskan celana. “Cuma sayang aja kalau nunggu.”
“Ibu bawa ke mana?”
“Nanti saya kirimin alamatnya. Bilang aja titipan saya.”
“Mas Adit tuh kebangetan baiknya.”
Tagihan kedua minggu ini. Aku tersenyum dan bilang aman, kok, dan berjalan pulang sambil mengecek jadwalku yang memang kosong, karena selalu kosong, karena itu memang cara aku membangunnya.
Sabtu pagi aku sampai di Kembang Kata pukul sembilan.
Tokonya baru buka. Rolling door masih setengah, dan ada perempuan muda—bukan yang waktu itu—sedang menyeret ember besar berisi air ke teras dengan teknik yang secara struktural mengkhawatirkan.
“Bentar, Mas! Buka kok! Ini cuma—“ Ember itu miring. Air tumpah ke sandalnya. “—ini emang gini.”
“Saya bantu?”
“Nggak usah, ini udah biasa—“ Dia menarik lagi. Tumpah lagi. “Ya udah deh, boleh.”
Aku mengangkat sisi satunya. Kami memindahkannya ke sudut teras. Dia melihat sandalnya yang basah dengan ekspresi pasrah orang yang sudah mengalami ini sebelumnya.
“Makasih, Mas. Nama saya Tari.”
“Aditya.”
“Mas Aditya mau beli apa?”
“Bunga meja. Dua rangkaian. Buat pengajian.”
“Ohh.” Wajahnya langsung berubah jadi mode profesional yang bertahan sekitar dua detik. “TEH CLARA! ADA YANG NYARI!”
“Saya nggak nyari siapa-siapa—“
“Ada yang mau beli bunga!” Tari mengoreksi, dengan volume yang sama.
Dan dari dalam, suara yang kukenal: “Ya, sebentar.”
Clara. Namanya Clara.
Aku tidak tahu kenapa aku mencatat itu.
Dia keluar dari gudang belakang sambil mengelap tangannya ke celemek. Rambutnya diikat lagi, sama asalnya seperti dua minggu lalu. Ada bercak air di kaus lengan panjangnya.
Dia melihatku, dan sesuatu di wajahnya bergerak sedikit—bukan terkejut. Lebih seperti orang yang mencocokkan sesuatu.
“Pagi,” katanya.
“Pagi.” Aku sudah memasangnya sejak di mobil. “Saya balik lagi.”
“Belum sebulan.”
“Nah, itu.” Aku mengangkat kedua tangan. “Ini di luar jadwal. Titipan tetangga.”
Dia mengangkat alis sedikit, dan aku mendengar apa yang baru saja kukatakan.
Di luar jadwal.
Bodoh. Bodoh sekali. Aku memberikannya cuma-cuma, dan dia menangkapnya, aku bisa melihat dia menangkapnya—tapi dia tidak mengejar. Dia cuma mengambil buku catatan dari meja dan bertanya untuk acara apa dan berapa besar mejanya dan apakah ada warna yang harus dihindari.
Aku menjawab semuanya. Warna dihindari: Bu Yuli bilang jangan yang terlalu meriah.
“Pengajian?”
“Iya.”
“Almarhum siapa?”
“Bukan. Ini pengajian rutin ibu-ibu. Bulanan.”
“Oh, syukur.” Dia menulis. “Kalau gitu boleh agak hidup dikit. Nggak harus putih.”
“Bu Yuli bilang jangan meriah.”
“Nggak meriah. Cuma hidup.” Dia menoleh ke rak. “Ada bedanya.”
“Apa bedanya?”
Dia berhenti menulis, dan menatapku, dan untuk sesaat aku merasa pertanyaan itu jadi lebih besar daripada yang kumaksud.
“Meriah itu buat dilihat orang,” katanya. “Hidup itu buat ruangannya.”
Lalu dia kembali ke bukunya seperti tidak terjadi apa-apa, dan aku berdiri di sana dengan kunci mobil di tangan yang tiba-tiba terasa terlalu ringan.
Butuh empat puluh menit.
Aku tidak berencana menunggu. Rencananya adalah pesan, bayar DP, ambil sore. Tapi Tari bilang bisa langsung jadi kalau mau, dan aku bilang boleh, dan lalu aku berdiri di sana selama empat puluh menit menonton dua orang merangkai bunga.
Ini bagian yang tidak masuk akal, dan aku menyadarinya bahkan saat sedang melakukannya.
Aku menghindari hal-hal seperti ini. Tanah, tanaman, kebun—aku punya daftar panjang alasan praktis untuk semuanya, dan semua alasan itu terdengar sangat masuk akal kalau diucapkan keras-keras, dan tidak satu pun benar. Halaman rumahku disemen seluruhnya. Waktu Bu Yuli menawarkan bibit cabai tahun lalu, aku bilang terima kasih dan meletakkannya di garasi dan tidak pernah menyentuhnya lagi.
Toko bunga adalah satu-satunya pengecualian, dan itu pun aku masuk sambil menahan napas.
Tapi pagi itu aku tetap di sana. Bersandar di tepi meja, satu meter dari rangkaian yang sedang dibangun, memutar kunci mobil di jari sampai sadar dan berhenti.
Tari bicara sepanjang waktu itu. Tentang pelanggan yang minta bunga untuk minta maaf tapi tidak mau bilang salahnya apa. Tentang ojol yang salah alamat sampai tiga kali. Tentang teorinya bahwa orang yang beli bunga hari Senin pasti sedang bermasalah.
“Kalau hari Sabtu?” tanyaku.
“Hari Sabtu itu orang normal.”
“Syukur.”
“Kecuali kalau belinya pagi banget.” Tari menunjuk jam dinding dengan gunting. “Ini setengah sepuluh, Mas.”
“Berarti saya nggak normal.”
“Nggak nuduh, ya. Cuma data.”
“Datanya berapa sampel?”
“Satu.” Tari menunjuk aku dengan guntingnya lagi. “Tapi kuat.”
Aku tertawa sungguhan. Itu jarang. Sebagian besar tawaku adalah alat—bukan palsu, cuma dipakai untuk sesuatu—tapi yang ini keluar sendiri sebelum aku sempat mengurusnya.
“Mas Aditya kerjanya apa?”
“Bikin software.”
“Wih. Bikin aplikasi?”
“Kadang. Lebih sering benerin yang orang lain bikin.”
“Sama dong kayak Teh Clara.”
“Teh Clara bikin aplikasi?”
“Bukan.” Tari menarik satu tangkai dari ember. “Maksudku, dia juga kerjanya beresin barang yang udah kadung rusak dari sananya. Kayak kemarin ada yang beli tanaman di mana gitu, terus mati, terus dibawa ke sini buat diselametin. Padahal Teh Clara nggak jual tanaman itu.”
“Terus dia mau?”
“Ya mau. Dia selalu mau.” Tari menurunkan suaranya, yang berarti volumenya turun sekitar sepuluh persen. “Kadang aku bilang, Teh, itu bukan urusan kita. Terus dia bilang iya. Terus besoknya masih dia siramin juga.”
Dari sisi lain meja, tanpa mengangkat kepala: “Tari.”
“Aku nggak ngomongin apa-apa.”
“Kamu ngomongin aku.”
“Aku ngomongin tanaman.”
Aku melihat sudut bibir Clara naik sedikit, sebentar sekali, sebelum dia menekannya kembali dan melanjutkan memotong batang.
Ada sesuatu di ruangan itu yang membuatku ingin duduk. Bukan sesuatu yang bisa kutunjuk. Cuma kombinasi: bau tanah basah yang seharusnya kubenci, suara gunting, Tari yang tidak pernah berhenti bicara, dan perempuan yang bekerja tanpa perlu mengisi setiap jeda.
Aku sudah menahan napas waktu masuk tadi. Aku baru sadar, di menit ke tiga puluh sekian, bahwa aku sudah lama berhenti menahannya.
Clara, tanpa mengangkat kepala dari rangkaiannya, berkata, “Tari, kertasnya.”
“Iya, Teh.”
Dan Tari berangkat ke belakang, dan tokonya jadi lebih sepi, dan aku menyadari—dengan agak terlambat—bahwa itu bukan permintaan tentang kertas.
“Ini yang meja depan.” Clara meletakkan rangkaian pertama. “Ini yang ruang tamu, agak lebih rendah biar nggak ngalangin orang ngobrol.”
Bagus. Benar-benar bagus. Ada sesuatu di rangkaian itu yang tidak simetris tapi tidak salah, seperti ada yang sengaja dibiarkan miring.
“Bagus,” kataku.
“Makasih.”
“Serius bagus. Bu Yuli bakal ngomongin ini sampai pengajian bulan depan.”
“Itu target saya.” Dia mulai membungkus. “Total dua ratus delapan puluh.”
Aku membayar. Dia memberi kembalian. Aku memasukkannya ke saku.
Lalu, sambil menyerahkan rangkaian kedua, dia berkata—biasa saja, tanpa nada apa pun:
“Tanggal sembilan masih jalan?”
Ada dua ratus cara untuk menjawab itu, dan aku sudah menyiapkan seratus sembilan puluh sembilan di antaranya.
“Masih,” kataku.
Cuma itu.
Aku sendiri kaget. Aku menunggu diriku sendiri melanjutkan—melempar sesuatu yang ringan, memutar arahnya, membalikkan pertanyaannya seperti biasa. Kalimat-kalimatnya ada di sana, siap, tersusun rapi seperti kunci cadangan di laci.
Aku tidak mengambilnya.
Clara mengangguk sekali. Tidak bertanya lagi. Tidak melihatku dengan cara yang membuatku harus menjelaskan.
“Krisan lagi?”
“Iya.”
“Sembilan?”
“Sembilan.”
“Oke.” Dia menutup buku catatannya. “Saya siapin yang bagus.”
Dan itu saja. Percakapannya selesai. Dia sudah pindah ke pelanggan berikutnya yang baru masuk, dan aku keluar membawa dua rangkaian bunga untuk pengajian ibu-ibu.
Di mobil, aku duduk agak lama sebelum menyalakan mesin.
Ada yang salah, dan butuh waktu untuk mengenali apa.
Bukan karena dia bertanya. Orang bertanya sepanjang waktu. Aku punya sistem untuk itu, sistem yang sudah lima tahun berjalan tanpa satu pun kegagalan, dan sistem itu bekerja dengan cara membuat orang merasa sudah bertanya padahal belum.
Yang salah adalah aku tidak menggunakannya.
Aku bilang masih, dan tidak menambahkan apa-apa, dan tidak ada yang runtuh. Tidak ada tatapan iba. Tidak ada nada setengah nada lebih rendah. Dia cuma mencatat dan bilang akan menyiapkan yang bagus, seolah aku baru saja memesan galon.
Aku menyalakan mesin.
Setengah jalan pulang, di lampu merah dekat perempatan, aku menyadari sesuatu yang lebih tidak nyaman lagi.
Aku sudah tahu, di suatu tempat di kepalaku, bahwa aku akan kembali sebelum tanggal sembilan.
Aku belum tahu alasannya. Tapi aku sudah tahu bahwa aku akan mencarinya.
Pengajian Bu Yuli berjalan lancar.
Aku tahu karena aku ada di sana selama satu setengah jam, mengangkat kursi, memindahkan meja, dan memasang kabel speaker yang ternyata tidak rusak—cuma dicolok ke lubang yang salah.
Rangkaian bunga itu diletakkan di meja depan, dan tiga ibu-ibu berbeda bertanya beli di mana, dan Bu Yuli menjawab dengan nada orang yang menemukan tambang emas.
“Titipan Mas Adit. Toko di daerah Sukaluyu. Bagus, kan? Nggak meriah, tapi—“ dia mencari katanya, “—hidup.”
Aku berdiri di belakang, memegang gelas teh yang tidak kuminum, dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman naik di dada.
Bukan karena kata itu.
Karena aku menyadari bahwa aku sudah menceritakan tentang toko itu ke Bu Yuli. Dua kali. Tanpa ditanya.
Aku tidak pernah bercerita tanpa ditanya. Itu bukan gaya bicaraku—itu prosedur keamanan. Setiap kalimat yang keluar dari mulutku dalam lima tahun terakhir sudah lewat pemeriksaan lebih dulu: ini akan mengarah ke mana, pertanyaan apa yang akan muncul sesudahnya, apakah aku punya jawabannya.
Dan pagi itu aku bilang di luar jadwal pada seseorang yang seharusnya tidak tahu bahwa ada jadwal.
Aku meletakkan gelas teh itu di meja dapur Bu Yuli dan pamit lebih cepat dari biasanya.
Malamnya aku tidak bisa tidur sampai jam dua, dan bukan karena kesedihan, dan itu yang paling membingungkan. Aku sudah kenal betul bentuk malam yang tidak bisa tidur karena kesedihan. Yang ini bentuknya lain.
Yang ini bentuknya seperti orang yang lupa mengunci pintu, dan sudah berbaring, dan tidak yakin apakah harus bangun untuk mengeceknya.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli reading
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu