Chapter Forty Nine
Semarang Datang
POV: Clara
Kak Rendy menelepon bulan September dan bertanya apakah aku sibuk tanggal sebelas sampai tiga belas Oktober.
“Kenapa, Kak?”
“Ada kerjaan di Bandung. Tiga hari.”
“Nginep di mana?”
“Belum tahu. Hotel deket kantornya kali.”
Dan aku memegang ponsel dan berkata: “Kak, kos aku cuma satu kamar.”
“Aku tahu, Ra.”
“Aku nggak punya tempat.”
“Aku tahu,” katanya. “Aku nggak minta tempat.”
Dan aku duduk di belakang meja kasir dan menyadari sesuatu yang membuat mataku panas: kakakku sedang memberitahuku bahwa dia akan ada di kotaku selama tiga hari, tanpa meminta apa pun, dengan cara persis seperti yang kupakai kepadanya sebelas bulan lalu.
Aku nggak ngasih tau kamu buat minta apa-apa.
“Kak.”
“Hm.”
“Bawa Wina sama Nabil nggak?”
“Nggak. Kerjaan.”
“Bawa.”
Hening di seberang.
“Ra, tiket tiga orang—“
“Bawa, Kak.” Aku memegang meja kasir. “Aku belum pernah ketemu Nabil lebih dari tiga hari seumur hidup dia.”
Mereka datang tanggal sebelas.
Aku menjemput di stasiun—dengan mobil Aditya, karena aku tidak punya mobil, dan karena Aditya menawarkan mengantar dan aku bilang tidak dan dia bilang ya sudah bawa aja mobilnya dan aku bilang aku nggak bisa nyetir mobil dan lalu terjadi percakapan dua puluh menit yang berakhir dengan dia mengantar.
Dia menunggu di mobil.
Aku sudah bilang begitu di teras malam sebelumnya, dan aku sudah menyiapkan seluruh penjelasannya, dan aku tidak jadi memakainya.
Karena begitu aku bilang “kamu tunggu di mobil ya,” Aditya bilang “iya,” dan itu saja.
“Kamu nggak nanya kenapa?”
“Nggak.”
“Aditya.”
“Ra, kalau aku ikut, kakak kamu bakal ngobrol sama aku.” Dia mengangkat bahu. “Terus kamu bakal ngurusin dua orang. Aku duduk di mobil aja.”
Kak Rendy turun dari kereta membawa Nabil di gendongan dan tas ransel yang jelas terlalu berat, dan Wina di belakangnya dengan koper.
Nabil berumur empat tahun sekarang.
Empat tahun.
Aku menyadari angka itu di peron dan aku menyadari juga bahwa aku menyadarinya, dan aku menyimpannya, dan aku tidak mengatakan apa-apa.
“Ra!”
Dan Kak Rendy memelukku di peron dengan satu tangan karena tangan satunya memegang anaknya, dan Wina memelukku dengan dua tangan setelahnya, dan Nabil menatapku dengan curiga selama sekitar empat menit sebelum memutuskan bahwa aku boleh ada.
Kami berjalan ke parkiran.
Dan di parkiran, Kak Rendy melihat mobilnya, dan melihat orang di dalamnya, dan berhenti.
“Itu?”
“Iya.”
“Yang itu?”
“Kak.”
Dan Kak Rendy menyerahkan Nabil ke Wina dan berjalan ke arah mobil itu dengan kecepatan yang membuatku hampir berteriak.
Aditya keluar dari mobil.
Aku sampai di sana empat detik terlambat.
“Aditya,” kata Aditya, sambil menyodorkan tangan.
“Rendy.”
Dan mereka berjabat tangan di parkiran Stasiun Bandung, dan aku berdiri di sebelah mereka dengan seluruh tubuhku menegang.
“Makasih ya udah nganter,” kata Kak Rendy.
“Aman.”
“Kamu nggak ikut masuk tadi?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan Aditya berkata: “Karena ini bukan urusan saya.”
Kak Rendy menatapnya beberapa saat.
Lalu dia berkata: “Bagus.”
Dan itu saja. Mereka tidak bicara lagi selama seluruh perjalanan ke hotel, kecuali soal jalan mana yang lebih cepat, dan aku duduk di kursi depan dengan jantung yang butuh dua puluh menit untuk kembali normal.
Hari kedua, Kak Rendy ke kantor kliennya.
Wina dan Nabil ke toko.
Itu tidak direncanakan—Wina bilang dia bosan di hotel, dan aku bilang datang saja, dan jam sepuluh pagi ada perempuan berumur tiga puluh dua tahun dan anak berumur empat tahun di teras tokoku.
Tari langsung jatuh cinta pada Nabil dalam waktu delapan detik.
“YA AMPUN LUCU BANGET.”
“Tari—“
“Teh, ini kayak boneka.”
“Tari, dia denger.”
“Boneka juga denger, Teh.”
Dan Tari menghabiskan tiga jam berikutnya mengajari Nabil cara memotong batang dengan gunting plastik yang dia beli sendiri di warung seberang dalam waktu empat menit setelah kedatangan mereka.
Wina dan aku duduk di teras.
“Ra.”
“Iya, Mbak?”
“Aku boleh cerita sesuatu?”
“Boleh.”
Dan Wina, yang kutemui total mungkin lima kali seumur hidupku, menatap ke arah anaknya di dalam toko dan berkata:
“Aku nggak pernah kenal Rendy yang sebelum.”
Aku menoleh.
“Aku ketemu dia tahun kedua terapinya,” katanya. “Jadi buat aku, Rendy itu ya yang sekarang. Yang pelan, yang suka lupa, yang kalau capek langsung bilang.”
Dia memutar gelasnya.
“Dan tiap kali dia cerita soal kamu, aku selalu ngerasa aneh,” katanya. “Karena dia ceritanya kayak orang yang lagi cerita soal orang yang udah meninggal.”
Aku memegang gelasku lebih erat.
“Maaf, itu kasar,” katanya cepat.
“Nggak.”
“Aku cuma—“
“Nggak, Mbak. Itu bener.”
“Aku yang bilang ke dia,” lanjut Wina. “Dua tahun lalu. Aku bilang, Mas, adikmu itu masih hidup, dan dia di Bandung, dan nomornya ada di HP-mu.”
“Terus?”
“Terus dia marah dua hari.”
Aku tertawa.
“Iya, dia cerita.”
“Terus dia balik dari kamar dan bilang aku bener.” Wina mengangkat bahu. “Terus dia nggak ngapa-ngapain selama satu setengah tahun.”
“Kenapa?”
Dan Wina berkata: “Karena dia nggak tahu harus mulai gimana. Dan tiap tahun makin susah.”
Aku menatap jalan.
“Terus kamu telepon jam setengah tiga pagi,” katanya.
“Iya.”
“Ra, kamu tahu nggak dia ngapain setelah nutup telepon itu?”
Aku menoleh.
“Dia bangunin aku,” kata Wina. “Jam empat pagi. Terus dia duduk di kasur dan dia bilang—“
Dia berhenti.
“Dia bilang apa?”
Dan Wina berkata:
“Adikku nelepon aku.”
Aku menangis di teras tokoku sendiri jam setengah dua belas siang di depan istri kakakku yang baru kutemui lima kali seumur hidup.
Dan Wina tidak melakukan apa-apa yang dramatis. Dia memindahkan kursinya sepuluh sentimeter lebih dekat dan mengambil gelasku dan meletakkannya di meja supaya tidak tumpah, dan itu saja.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku—“
“Ra.” Dia menepuk lututku sekali. “Aku udah tiga tahun sama Rendy. Aku udah biasa.”
Dan dari dalam toko terdengar suara Nabil berteriak bahwa dia berhasil memotong sesuatu, dan Tari berteriak lebih keras, dan aku mengusap wajahku dengan lengan dan tertawa.
Sekitar jam satu, Nabil tidur siang di kursi panjang di dalam toko dengan jaket Tari sebagai bantal.
Dan Wina bertanya sesuatu yang tidak kuduga.
“Ra, kamu takut nggak?”
“Takut apa?”
“Sama yang di rumahnya.”
Aku meletakkan gelasku.
“Aku belum pernah ke sana,” katanya, seperti membaca pikiranku. “Aku cuma nanya karena Rendy cerita sedikit.”
“Aku nggak takut.”
“Beneran?”
Dan aku memikirkannya dengan sungguh-sungguh, karena Wina menanyakannya dengan sungguh-sungguh, dan karena dia satu-satunya orang yang pernah bertanya begitu.
“Ada satu hal,” kataku akhirnya.
“Apa?”
“Aku takut suatu hari nanti aku bakal ngerasa capek,” kataku. “Bukan capek sama dia. Capek sama jadi orang kedua di ruangan.”
Wina mengangguk pelan.
“Terus?”
“Terus aku bilang itu ke dia.”
“Kamu bilang?”
“Bulan Juni.” Aku mengangkat bahu. “Aturan nomor satu.”
“Dia jawab apa?”
Dan aku tersenyum, karena aku masih ingat persis wajahnya waktu mengatakannya, di teras, sambil memangkas daun kering.
“Dia bilang: Ra, kamu bukan orang kedua. Kamu orang pertama di ruangan yang beda.”
Wina diam sebentar.
“Itu bagus,” katanya.
“Iya.”
“Itu udah dipikirin sebelumnya, ya?”
“Banget.” Aku tertawa. “Dia ngaku. Aku tanya dia nyiapin berapa lama, dia bilang tiga minggu.”
Malam terakhir, kami makan di rumah Aditya.
Itu idenya. Bukan ideku.
Dia mengusulkannya hari Minggu sebelumnya, di teras, sambil memotong batang, dengan nada yang sangat biasa: “Ra, kalau kakak kamu ke sini, mau makan di rumah aku nggak? Aku masak.”
“Kamu masak buat lima orang?”
“Enam. Sama Tari.”
“Kamu ngajak Tari?”
“Ya masa nggak.”
Dan aku berhenti memotong dan menatapnya, dan dia melanjutkan bekerja seolah tidak ada apa-apa, dan aku menyadari bahwa laki-laki ini baru saja mengusulkan untuk memasukkan lima orang ke dalam rumah yang selama lima setengah tahun tidak pernah dimasuki siapa pun lewat jam sembilan malam.
“Aditya.”
“Hm.”
“Kamu yakin?”
Dan dia berkata: “Enggak.”
Dan lalu, setelah beberapa detik: “Tapi aku mau.”
Rumahnya penuh.
Aku ingin mencatat itu dengan tepat karena aku akan mengingatnya untuk waktu yang sangat lama: rumah itu penuh.
Enam orang di ruangan yang dirancang untuk satu. Nabil berlari dari ruang tamu ke dapur ke lorong dan kembali lagi dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tari berteriak. Wina tertawa. Kak Rendy dan Aditya di dapur, dan Kak Rendy memegang pisau yang jelas tidak dia butuhkan, dan mereka membicarakan sesuatu tentang sistem informasi rumah sakit selama dua puluh menit.
Dan di suatu titik, sekitar jam delapan, Nabil berhenti di lorong.
Di depan sepuluh foto.
Dan dia menunjuk salah satunya dan berteriak, dengan volume anak empat tahun:
“ITU SIAPA?”
Seluruh rumah diam.
Aku berdiri di ruang tamu dan seluruh tubuhku dingin, dan aku melihat Wina bergerak ke arah lorong dan aku melihat Kak Rendy keluar dari dapur.
Dan Aditya keluar duluan.
Dia berjalan ke lorong dan berjongkok di sebelah Nabil.
Selalu berjongkok. Selalu sejajar.
“Yang mana?”
“Yang itu.” Nabil menunjuk foto Bumi di kursi makan dengan bubur di seluruh wajah.
“Itu namanya Bumi.”
“Bumi?”
“Iya.”
“Kayak bumi yang bulet?”
“Iya. Kayak itu.”
Nabil mempertimbangkan ini dengan sangat serius.
“Dia ke mana?”
Dan aku berdiri di ruang tamu dengan tangan menutup mulut, dan Wina berhenti di tengah lorong, dan Kak Rendy tidak bergerak sama sekali.
Dan Aditya berkata—dengan suara yang sangat biasa, dengan nada orang yang menjawab pertanyaan anak kecil:
“Dia udah meninggal.”
“Meninggal itu apa?”
“Artinya dia udah nggak ada.”
“Kenapa?”
“Sakit.”
Nabil menatap fotonya lagi.
“Dia anak Om?”
“Iya.”
“Om sedih?”
Dan Aditya berjongkok di lorong rumahnya sendiri di depan anak berumur empat tahun yang baru dia kenal dua hari, dan berkata:
“Iya. Om sedih.”
Nabil mengangguk.
Lalu dia bertanya apakah boleh main di halaman, dan Aditya bilang boleh tapi jangan injak yang ada cabainya, dan Nabil berlari ke halaman.
Dan itu saja.
Aku menemukannya di dapur sepuluh menit kemudian.
Dia berdiri di depan wastafel dengan kedua tangan di pinggirannya.
“Aditya.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Aku belum nanya.”
Dan dia menoleh, dan wajahnya basah, dan dia tertawa satu embusan sambil mengusapnya dengan lengan.
“Aku beneran nggak apa-apa,” katanya. “Ini yang bagus.”
“Yang bagus?”
“Ra, itu pertama kali ada yang nanya soal Bumi dalam lima setengah tahun.”
Aku berhenti.
“Orang nggak pernah nanya,” katanya. “Mereka nunggu aku yang cerita. Dan aku nggak pernah cerita. Jadi lima setengah tahun nggak ada satu orang pun yang nyebut namanya di depan aku kecuali Sarah.”
Dia menarik napas.
“Dan barusan ada anak empat tahun nunjuk dia terus nanya itu siapa.”
Dan dia menutup keran yang bahkan tidak menyala.
“Dan aku bisa jawab, Ra.”
Kak Rendy mencegatku di teras jam sepuluh malam.
Wina sedang mengejar Nabil di halaman. Tari sudah pulang. Aditya di dalam, mencuci piring, dan menolak semua bantuan dengan cara yang menurut Kak Rendy “sangat familiar.”
“Ra.”
“Iya, Kak?”
Dan Kak Rendy berdiri di teras rumah Aditya dan berkata:
“Aku suka dia.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena dia jongkok.”
Aku mengerutkan kening.
“Waktu Nabil nanya,” katanya. “Dia nggak ngalihin. Dia nggak bilang ’nanti aja’. Dia nggak ngeliat ke arah kamu buat minta tolong.”
Kak Rendy memasukkan tangan ke saku.
“Dia jongkok dan dia jawab,” katanya. “Empat pertanyaan, empat jawaban, semuanya bener.”
Dia menoleh ke arahku.
“Ra, aku tiga tahun terapi buat bisa ngelakuin itu,” katanya. “Dan aku masih gagal kadang-kadang.”
Dan lalu dia berkata satu hal lagi, sebelum masuk ke dalam untuk mengambil tasnya, dengan nada yang sama sekali biasa:
“Kalian nggak sembuh, ya?”
“Nggak, Kak.”
“Bagus.” Dia membuka pintu. “Yang ngaku sembuh itu yang bikin aku ngeri.”
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang reading
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu