Chapter Seventeen
Yang Tidak Ada di Rumah Itu
POV: Clara
Aku pertama kali masuk ke rumahnya di minggu kelima.
Bukan undangan. Kami baru pulang dari pasar bunga jam lima pagi, dan ada dua ember yang harus dibawa ke pengantaran di daerah Antapani jam tujuh, dan rumahnya lebih dekat daripada toko.
“Numpang naruh sebentar,” katanya. “Terus kita berangkat lagi.”
“Boleh.”
Dan dia diam sekitar tiga detik terlalu lama sebelum membelokkan mobil.
Rumahnya di ujung blok, cat krem, pagar besi hitam yang engselnya jelas baru diminyaki.
Halaman depannya disemen seluruhnya.
Aku menyadari itu sebelum turun dari mobil. Bukan halaman yang dipaving—disemen, rata, abu-abu, dari pagar sampai teras, tanpa satu pun lubang untuk apa pun.
Aku bekerja dengan tanah selama empat tahun. Aku sudah melihat ratusan rumah. Orang yang tidak suka berkebun biasanya punya rumput yang tidak terurus, atau pot-pot mati di sudut, atau tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar.
Orang yang menyemen seluruh halamannya sudah membuat keputusan.
“Rapi banget,” kataku.
“Gampang dibersihin.”
Aku tidak menjawab.
Di dalamnya lebih bersih lagi.
Ini yang sulit dijelaskan tanpa terdengar berlebihan: rumahnya tidak berantakan, tapi juga tidak seperti rumah orang yang rajin. Rumahnya seperti unit yang sedang dipasarkan.
Sofa tanpa bantal yang penyok. Meja tanpa gelas. Rak TV dengan kabel yang diikat rapi ke belakang dengan pengikat kabel, tiga buah, jarak sama.
Tidak ada tumpukan surat. Tidak ada charger yang tertinggal. Tidak ada satu pun benda yang berada di tempat yang salah karena seseorang meletakkannya di sana dan lupa.
Dan dindingnya kosong.
Bukan minimalis. Kosong. Ada empat lubang paku kecil di dinding ruang tamu, di ketinggian yang jelas dulu ada sesuatu, dan lubang-lubang itu sudah ditutup dempul tapi tidak dicat ulang.
Aku berdiri di ruang tamu dengan ember di tangan dan merasa seperti orang yang masuk ke rumah yang penghuninya sudah pindah dan cuma meninggalkan perabot.
“Ra.”
“Hm?”
“Embernya di dapur aja, biar deket keran.”
“Oh. Iya.”
Dapurnya di belakang, lewat lorong.
Dan di lorong itu ada tiga pintu.
Aku tidak melihat. Aku benar-benar tidak melihat—aku berjalan lurus sambil membawa ember dan tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, dan aku melakukan itu dengan sangat sadar, dengan usaha yang sangat besar, seperti orang yang berjalan melewati pameran sambil menatap lantai.
Di dapur, ada sansevieria di ambang jendela.
Sehat. Hijau. Tanahnya lembap dengan kadar yang benar.
Dan di sebelahnya, di ambang jendela yang sama, ada sesuatu yang membuatku berhenti bergerak.
Sebuah tutup botol plastik. Berisi air.
Aku menatapnya beberapa saat sebelum mengerti.
Itu untuk mengukur kelembapan udara. Metode paling primitif yang ada—kalau airnya cepat habis, udaranya kering. Aku pernah menyebutkannya sekali, mungkin tujuh minggu lalu, sambil lalu, di tengah penjelasan tentang hal lain.
Dia memasangnya.
Untuk tanaman yang secara harfiah tidak akan mati apa pun yang terjadi.
“Ra?”
“Iya, bentar.”
Aku meletakkan embernya dan menyalakan keran dan berdiri di sana lebih lama daripada yang dibutuhkan untuk mengisi dua ember.
Dapurnya juga bersih. Tentu saja bersih.
Tapi ada satu hal di dapur itu yang berbeda dari seluruh rumah, dan butuh beberapa detik untuk kusadari apa.
Dapur itu dipakai.
Ada noda kecil di sisi kompor yang sudah lama dan tidak sepenuhnya hilang. Ada sendok kayu yang ujungnya sudah gosong. Ada rak piring dengan enam piring dan enam gelas—jumlah yang aneh untuk orang yang tinggal sendiri—dan di antaranya ada satu mangkuk keramik yang jelas bukan satu set dengan yang lain, warnanya biru pucat, pinggirannya sudah gompel sedikit.
Mangkuk itu ada di paling atas tumpukan. Yang berarti mangkuk itu yang paling sering dipakai.
Aku menutup keran.
Di rumah yang seluruh dindingnya kosong dan halamannya disemen, ada satu mangkuk gompel yang dipakai setiap hari dan tidak pernah diganti.
“Ra?”
“Iya, jalan.”
Kami berangkat lagi jam enam kurang.
Di mobil, dia bertanya apakah aku sudah sarapan, dan aku bilang belum, dan kami berhenti di warung bubur di perempatan.
Semuanya biasa saja.
Yang tidak biasa adalah bahwa selama empat puluh menit sesudahnya, aku terus melihat rumah itu di kepalaku dari sudut yang berbeda-beda.
Empat lubang paku yang ditutup dempul dan tidak dicat.
Halaman yang disemen sampai ke pagar.
Tiga pintu di lorong dan aku tidak melihat satu pun tapi aku tahu—dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, cara orang tahu ada seseorang di ruangan gelap—bahwa salah satunya tidak sama dengan yang lain.
Dan tutup botol berisi air di ambang jendela.
“Teh.”
“Hm.”
“Teteh dari tadi ngelamun.”
“Nggak.”
“Aku manggil tiga kali.”
Aku menoleh. Tari sedang berdiri di depanku dengan buku pesanan terbuka.
“Sori. Kenapa?”
“Ini yang pesenan Bu Hartini, jadi hari Selasa apa Rabu?”
“Rabu.”
“Di sini ditulis Selasa.”
“Berarti Selasa.”
Tari menatapku.
“Teh Clara.”
“Iya?”
“Teteh yang nulis.”
Aku mengambil bukunya. Memang tulisanku. Selasa.
“Rabu,” kataku. “Aku salah tulis.”
Dan aku mengoreksinya, dan Tari menutup buku itu, dan sebelum pergi dia berkata—tanpa menoleh, dengan nada yang jauh lebih hati-hati dari biasanya:
“Teh, kalau ada apa-apa, aku ada.”
“Nggak ada apa-apa.”
“Iya.”
Dan dia keluar.
Setengah jam kemudian dia kembali membawa dua bungkus cireng dan meletakkan satu di depanku tanpa berkata apa-apa.
“Aku nggak minta.”
“Aku tahu.”
“Tari, aku nggak lagi kenapa-kenapa.”
“Aku juga nggak bilang Teteh kenapa-kenapa.” Dia duduk dan membuka bungkusnya. “Aku cuma beli dua karena kalau beli satu nanti aku makan dua-duanya.”
“Itu logikanya kebalik.”
“Logika aku emang gitu.”
Kami makan cireng di belakang meja kasir jam dua siang seperti dua orang yang tidak sedang membicarakan apa pun.
“Teh.”
“Hm.”
“Mas Aditya baik, ya.”
“Iya.”
“Terlalu baik.”
Aku berhenti mengunyah.
“Maksudnya?”
“Nggak tahu.” Tari mengangkat bahu, mulutnya penuh. “Kayak... orang baik itu biasanya ada capeknya. Kayak Pak Endang, dia baik, tapi kalau lagi capek dia ngomel. Ibuku baik, tapi kadang dia nyuruh aku diem.”
Dia menelan.
“Mas Aditya nggak pernah capek.”
“Semua orang capek, Tari.”
“Iya. Makanya aneh.”
Dan dia meremas bungkus cirengnya dan berdiri dan pergi menyapu teras, meninggalkan aku dengan setengah cireng di tangan dan sesuatu yang dingin di perut.
Ini yang terjadi di kepalaku selama tiga hari berikutnya, dan aku ingin menuliskannya dengan jujur karena aku tidak bangga padanya.
Aku mulai menyusun.
Bukan sengaja. Itu bagian yang membuatku takut—aku tidak duduk dan memutuskan untuk menyusun apa pun. Tapi setiap kali ada waktu kosong, potongan-potongannya bergerak sendiri ke posisinya.
Halaman yang disemen. Dinding yang kosong. Tidak pernah menggendong Kayla. Enam puluh kilometer per jam. Sembilan krisan putih setiap tanggal sembilan. Hari Minggu yang tidak pernah ada. Menahan napas tiga langkah pertama. Tidak minum es. Tidak bisa menerima apa pun tanpa membalas lebih.
Saya bohong terus, ya.
Kalau nanti kamu tahu semuanya, kamu boleh berubah pikiran.
Aku bahkan sudah sampai ke bentuk kesimpulannya. Aku tahu bentuknya. Aku sudah tahu bentuknya sejak minggu ketiga, mungkin lebih awal, dan yang kulakukan selama ini adalah menolak untuk menyelesaikan kalimatnya di dalam kepalaku sendiri.
Malam Rabu aku duduk di kamar kos dan membuka aplikasi catatan di ponsel.
Layar kosong. Kursor berkedip.
Dan aku duduk di sana selama mungkin dua menit dengan jempol menggantung di atas keyboard.
Lalu aku menutup aplikasinya.
Dan aku menghapus aplikasi catatan itu dari ponselku.
Itu berlebihan. Aku tahu itu berlebihan. Aku bisa mengunduhnya lagi dalam empat puluh detik dan seluruh datanya masih ada di server entah di mana.
Tapi aku menghapusnya, dan aku menangis sedikit, dan lalu aku tidur.
Hari Kamis dia datang jam empat lewat sepuluh.
Aku sudah memutuskan sesuatu, dan aku sudah cukup lama mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa keputusan yang tidak segera dijalankan akan berubah bentuk dalam dua hari.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong.”
Dia meletakkan gelas kopinya, dan aku melihat sesuatu di bahunya menegang, dan aku benci bahwa aku bisa melihatnya.
“Bukan hal jelek,” kataku cepat.
“Oke.”
Aku duduk di kursi plastik satunya, menghadap dia.
“Aku pernah cerita soal Kak Rendy.”
“Iya.”
“Yang nggak aku ceritain adalah gimana rasanya di delapan bulan sebelumnya.” Aku menggenggam gelasku sendiri. “Aku ngumpulin. Tiap hari. Aku nggak nanya apa-apa, tapi aku ngumpulin semuanya.”
Aditya diam.
“Dan aku ngerasa aku lagi jadi orang baik,” lanjutku. “Karena aku nggak maksa. Aku sabar. Aku hadir. Aku bilang ke diri sendiri, Clara, kamu ngasih dia ruang.”
“Terus?”
“Terus ternyata aku bukan ngasih ruang. Aku lagi ngisi amunisi.”
Ada bunyi motor lewat di depan. Anak-anak mulai berkumpul di lapangan seberang.
“Minggu ini aku mulai lagi,” kataku.
Dia mengangkat wajahnya.
“Bukan soal Mas—maksudku, iya soal Mas, tapi—“ Aku menarik napas. “Aku mulai ngumpulin lagi. Di kepala. Aku nggak sadar sampai Rabu malem aku hampir nulisnya di HP.”
Hening.
“Terus?”
“Terus aku hapus aplikasinya.” Aku tertawa, dan tawanya keluar salah. “Yang mana konyol banget, tapi ya udah.”
Aditya tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.
Lalu dia bertanya, pelan: “Kenapa kamu cerita ini ke aku?”
Dan ini pertanyaan yang sudah kusiapkan jawabannya selama tiga hari.
“Karena kalau aku simpen sendiri, dia bakal numpuk,” kataku. “Dan aku udah tahu apa yang terjadi kalau numpuk. Jadi aku mau ngeluarin tiap kali dia masih kecil, walaupun malu-maluin, walaupun kedengerannya kayak aku lagi nuduh Mas padahal aku nggak.”
“Kamu nggak nuduh.”
“Aku tahu.”
“Ra.”
“Hm.”
Dan Aditya, yang duduk di kursi plastik hijau di teras tokoku dengan gelas kopi yang sudah dingin, mengatakan sesuatu yang membuatku harus menatap ke arah lapangan supaya wajahku punya tempat untuk pergi.
“Aku juga ngumpulin,” katanya.
“Ngumpulin apa?”
“Alasan buat pergi.”
Aku menoleh.
“Tiap hari,” lanjutnya, sangat tenang, dengan cara orang melaporkan cuaca. “Tiap kali kamu ngasih sesuatu, ada bagian di kepala aku yang nyatet dan bilang, nah, satu lagi yang nggak bisa kamu bales. Dan tumpukannya makin tinggi. Dan suatu saat nanti tumpukannya bakal cukup tinggi buat jadi alasan yang masuk akal.”
“Masuk akal buat apa?”
“Buat pergi sebelum kamu yang pergi.”
Anak nomor sembilan di lapangan seberang berteriak minta bola. Tidak ada yang mengoper.
“Aku bukan lagi ngancem,” katanya cepat. “Aku nggak bakal—Ra, aku cuma—“
“Aku ngerti.”
“Aku cuma mau kamu tahu bahwa itu ada.”
Dan aku duduk di kursi plastik di teras tokoku sendiri, jam setengah lima sore, dan menyadari bahwa kami berdua baru saja meletakkan senjata masing-masing di atas meja tanpa menyerahkannya.
Itu bukan penyelesaian.
Tapi setidaknya sekarang kami berdua tahu ada apa di tangan siapa.
Malamnya, sebelum pulang, dia mencium keningku di depan pintu gudang.
Bukan bibir. Kening. Lama sekali—mungkin enam detik, mungkin lebih—dengan kedua tangan di sisi wajahku.
“Ra.”
“Hm.”
“Hari Minggu aku ada acara.”
Aku menahan diri untuk tidak bertanya acara apa. Aku menahannya dengan seluruh tubuhku.
“Oke.”
“Bukan—“ Dia berhenti. “Tiap Minggu aku ada acara. Yang sama. Tiap minggu.”
“Aku tahu.”
Dia menatapku.
“Kamu tahu?”
“Delapan minggu, Mas.” Aku mengangkat bahu. “Aku jualan bunga. Kerjaan aku ngeliatin pola.”
Dan dia tertawa—satu embusan, bukan tawa yang dinyalakan—dan menempelkan dahinya ke dahiku.
“Suatu saat aku bakal cerita,” katanya.
“Iya.”
“Aku nggak tahu kapan.”
“Nggak apa-apa.”
Dan dia pergi, dan aku menurunkan rolling door, dan aku berdiri di dalam toko yang gelap selama beberapa saat sambil memikirkan tutup botol berisi air di ambang jendela dapur seseorang.
Di kos, sebelum tidur, aku melakukan satu hal lagi.
Aku mengunduh ulang aplikasi catatan itu.
Aku tahu. Aku tahu persis bagaimana kedengarannya. Tiga hari lalu aku menghapusnya sambil menangis seperti orang yang membakar surat, dan malam itu aku mengunduhnya kembali dalam empat puluh detik.
Tapi aku membukanya, dan membuat catatan baru, dan menulis satu hal saja:
Kalau kamu mulai ngumpulin lagi, bilang.
Bukan daftar tentang dia.
Instruksi untuk diriku sendiri.
Aku menyematkannya di paling atas supaya jadi hal pertama yang kulihat setiap kali membuka aplikasi itu, dan aku meletakkan ponselku telungkup di kasur, dan aku berbaring memandang langit-langit yang retak di sudut.
Dan aku memikirkan satu kalimat yang dia ucapkan di teras sore itu, yang belum bisa kuletakkan di mana pun sejak diucapkan.
Buat pergi sebelum kamu yang pergi.
Aku memutar kalimat itu beberapa kali sampai bentuknya jelas.
Karena begini: itu bukan kalimat orang yang takut ditinggalkan.
Orang yang takut ditinggalkan akan bilang aku takut kamu pergi.
Yang dia katakan adalah bahwa kepergianku sudah pasti, sudah dijadwalkan, dan yang belum diputuskan cuma siapa yang akan lebih dulu sampai ke pintu.
Dia tidak sedang khawatir.
Dia sedang menunggu.
Dan aku tertidur dengan kalimat itu masih terbuka di dalam kepalaku seperti pintu yang tidak jadi ditutup.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu reading
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu