← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Forty Three

Musim Sepi

POV: Clara


Dia tidak membalas.

Aku menyalakan ponsel jam tujuh pagi keesokan harinya dan tidak ada apa-apa, dan aku sudah menyiapkan diri untuk itu selama seluruh perjalanan pulang malam sebelumnya, dan ternyata menyiapkan diri sama sekali tidak membantu.

Centang dua. Biru.

Dibaca hari Minggu, jam sepuluh malam. Dua hari setelah dikirim.

Dan tidak ada apa-apa.

Aku menutup ponselnya dan menaikkan rolling door dan mengeluarkan rak teras dan menyalakan selang, dan toko buka jam sembilan.


September itu bulan tersepi dalam sejarah tokoku.

Bukan sepi karena sedih. Sepi karena September memang bulan sepi—tidak ada musim nikah, tidak ada hari besar, dan orang-orang baru selesai membayar sekolah anak.

Omzet turun tiga puluh satu persen dari Agustus.

Aku tahu itu akan terjadi. Aku sudah empat tahun tahu bahwa September turun. Aku sudah menyisihkan uangnya sejak Juli.

Tapi hari-harinya jadi sangat panjang.

Ada hari-hari di mana kami cuma melayani sebelas pelanggan sampai jam delapan malam, dan Tari sudah menyapu teras tiga kali, dan aku sudah menyusun ulang rak dua kali, dan masih jam empat sore.

Dan pada hari-hari seperti itu aku duduk di kursi plastik hijau dan tidak punya apa pun untuk dikerjakan dengan tangan.

Aku mulai mengerti sesuatu yang tidak pernah kumengerti sebelumnya.

Delapan bulan aku menonton seorang laki-laki mencari benda rusak di tokoku, dan aku selalu membacanya sebagai kebutuhan untuk membayar sesuatu.

Sebagian memang itu.

Tapi ada bagian lain yang baru kupahami di bulan September, sendirian, di kursi plastik yang sama, jam empat sore, dengan sebelas pelanggan dan lima jam tersisa.

Kalau tanganmu tidak punya kerjaan, kepalamu akan mencari kerjaan sendiri.

Dan kerjaan yang dipilih kepalaku selalu sama.

Aku memutar ulang malam di teras itu. Setiap kali. Kadang dari awal—dari Tari yang pulang jam setengah lima, dari cara Aditya bilang aman, kok—kadang cuma potongannya.

Yang paling sering kuputar adalah sepuluh detik waktu aku bilang bilang kamu nggak mau sama aku dan dia membuka mulutnya dan tidak ada satu pun suara yang keluar.

Aku memutarnya mungkin empat ratus kali di bulan September.

Dan setiap kali aku memutarnya, aku mencari hal yang sama: bagian di mana aku bisa melakukannya dengan berbeda.

Aku tidak pernah menemukannya.


Aku memulai kelas hari Sabtu.

Itu ide Tari, yang dia lemparkan sambil lalu di tengah bulan September sambil menyortir krisan.

“Teh, kenapa nggak bikin kelas aja?”

“Kelas apa?”

“Kelas ngerangkai. Buat orang biasa.” Dia mengangkat bahu. “Banyak yang nanya kok. Kemarin ada ibu-ibu nanya bisa diajarin nggak.”

“Bikinnya di mana?”

“Di sini.”

“Tokonya empat meter, Tari.”

“Empat orang aja.”

Dan aku bilang tidak, dan seminggu kemudian aku bilang iya, dan hari Sabtu tanggal dua puluh September ada empat perempuan duduk di teras Cikutra dengan ember di kaki masing-masing sementara aku menjelaskan kenapa batang harus dipotong empat puluh lima derajat.

Kelas pertama kacau. Aku bicara terlalu cepat dan lupa menyiapkan cukup gunting.

Kelas kedua lebih baik.

Kelas keempat penuh dan ada daftar tunggu.

Dan pada kelas kelima, di akhir sesi, seorang ibu berumur lima puluhan bertanya apakah aku pernah kepikiran mengajar di tempat yang lebih besar, dan aku bilang tidak, dan dia bilang sayang.

Dan aku duduk di teras setelah semuanya pulang dan menyadari bahwa aku baru saja menjawab tidak tanpa perlu berpikir sama sekali.


Aku ke Semarang bulan Oktober.

Tiga hari. Pertama kali dalam tujuh tahun.

Kak Rendy menjemputku di stasiun dan langsung mengambil tasku dari tanganku dengan cara yang membuatku hampir menangis di peron.

Rumahnya kecil. Anaknya tiga tahun dan berlari ke seluruh arah sekaligus. Istrinya—namanya Wina, dan aku baru bertemu dengannya dua kali seumur hidup—memelukku di pintu seperti orang yang sudah lama menunggu.

Malam pertama kami bertiga duduk di ruang tamu setelah anaknya tidur.

“Ra.”

“Iya, Kak?”

“Aku mau minta maaf.”

Aku meletakkan gelasku.

“Kak, aku yang—“

“Bukan soal itu.” Dia menggeleng. “Aku mau minta maaf karena enam tahun aku bales chat kamu tiga baris.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku tahu kamu mikir itu hukuman,” katanya. “Wina bilang gitu ke aku tahun lalu dan aku marah dua hari terus aku sadar dia bener.”

Wina, dari kursi seberang, mengangkat bahu tanpa mengangkat wajahnya dari ponselnya.

“Itu bukan hukuman, Ra.” Kak Rendy menatap gelasnya. “Itu karena aku nggak tahu harus ngomong apa sama orang yang lihat aku waktu aku paling jelek.”

“Kak—“

“Dan tiap tahun makin susah,” katanya. “Karena tiap tahun makin lama, dan tiap tahun makin aneh kalau tiba-tiba aku nulis panjang.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Sampe kamu telepon jam setengah tiga pagi.”


Hari kedua kami ke pasar.

Cuma berdua. Wina menjaga anaknya, dan Kak Rendy bilang dia butuh beli sesuatu yang ternyata tidak ada, dan kami berjalan di pasar Semarang selama dua jam tanpa membeli apa pun kecuali dua es dawet.

“Ra.”

“Hm.”

“Orang itu gimana?”

Aku memegang gelas dawetku.

“Nggak tahu, Kak.”

“Kamu nggak tahu?”

“Aku nggak ngehubungi dia sejak April.” Aku mengangkat bahu. “Kecuali sekali bulan Agustus, buat bilang aku nggak jadi ke Jakarta.”

“Dibales?”

“Nggak.”

Kak Rendy berjalan beberapa langkah tanpa berkata apa-apa.

“Ra, kamu mau denger sesuatu yang jelek?”

“Boleh.”

“Waktu aku kolaps,” katanya, “yang bikin aku akhirnya ke dokter bukan kamu, bukan Mama, bukan siapa-siapa.”

“Terus apa?”

“Aku nggak bisa buka tutup botol.”

Aku menoleh.

“Aku serius.” Dia tertawa, dan tawanya tidak ada senangnya sama sekali. “Botol air mineral. Aku duduk di kamar dan aku nggak bisa muter tutupnya. Bukan karena lemes. Karena aku nggak bisa mulai.”

Kami berhenti di pinggir jalan pasar.

“Dan aku duduk di situ sama botol itu selama mungkin empat puluh menit,” katanya. “Terus aku telepon kantor darurat rumah sakit.”

Dia meminum dawetnya.

“Jadi kalau kamu nanya kapan orang berubah, jawabannya bukan waktu ada yang ngomong hal yang bener,” katanya. “Aku udah denger semua hal yang bener. Kamu ngomong hal yang bener, cuma caranya salah. Mama ngomong hal yang bener dengan cara yang bener dan itu juga nggak ngaruh.”

“Terus?”

“Orang berubah waktu yang lama udah nggak bisa dipake lagi,” katanya. “Itu aja. Nggak romantis.”


“Terus aku ngapain, Kak?”

Aku bertanya itu di malam terakhir, jam sebelas, di ruang tamu, dengan Wina sudah tidur.

Kak Rendy memikirkannya cukup lama.

“Ra, kamu inget nggak apa yang bikin aku akhirnya bales chat kamu bulan Desember tahun lalu?”

“Yang video call?”

“Bukan. Yang sebelumnya. Yang kamu kirim jam sepuluh malem soal toko kamu pindah.”

“Inget.”

“Kamu tahu kenapa aku bales cepet?”

“Nggak.”

Dan Kak Rendy berkata: “Karena kamu nggak minta apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu nulis Kak, aku butuh bantuan, aku bakal bales juga.” Dia mengangkat bahu. “Tapi aku bakal bales sebagai orang yang lagi bayar utang. Dan aku udah enam tahun bayar utang ke kamu, Ra, dan itu capek banget.”

Dia menyandarkan punggungnya.

“Kamu cuma bilang tokomu pindah,” katanya. “Kamu ngasih aku kabar. Kayak orang ngasih kabar ke keluarganya.”

Dan dia menoleh ke arahku.

“Itu yang bikin aku bisa masuk,” katanya. “Karena pintunya nggak ada tagihannya.”


Aku pulang ke Bandung tanggal delapan Oktober.

Dan aku memikirkan kalimat itu selama seluruh perjalanan kereta, dan selama seluruh bulan Oktober, dan sebagian besar November.

Pintunya nggak ada tagihannya.

Aku sudah melakukannya sekali, di bulan Agustus. Aku mengirim satu pesan yang dirancang supaya tidak menuntut apa pun, dan aku mematikan ponselku, dan dia membacanya dua hari kemudian dan tidak membalas.

Dan selama dua bulan berikutnya aku membaca ketidakbalasan itu sebagai jawaban.

Tapi ada kemungkinan lain, dan aku baru bisa memikirkannya setelah tiga hari di Semarang.

Ada kemungkinan bahwa dia tidak membalas karena dia tidak punya apa pun untuk dibalaskan yang bukan cicilan.

Dan kalau itu benar, maka satu pesan dalam enam bulan bukan pintu.

Satu pesan dalam enam bulan itu ketukan.


Aku mengirim yang kedua tanggal dua puluh Oktober.

Bukan pertanyaan. Bukan ajakan.

Aku memfoto teras toko—rak yang sudah dikeluarkan, jalan di depan, warung kopi di seberang yang lampunya kuning—dan aku mengirimnya tanpa keterangan apa pun.

Lalu, di bawahnya:

Kelas ngerangkai hari Sabtu udah jalan lima kali. Idenya Tari. Aku ngerasa harus bilang ke seseorang.

Terkirim jam delapan malam.

Dibaca jam delapan lewat empat.

Tidak dibalas.


Yang ketiga tanggal empat November.

Bu Rahma nanya kabar kamu hari ini. Aku bilang baik. Aku nggak tahu itu bener apa nggak, jadi aku kasih tau kamu bahwa aku bilang gitu.

Dibaca. Tidak dibalas.

Yang keempat tanggal dua puluh dua November, jam sebelas malam, dan yang ini lebih pendek dari semuanya.

Hari ini capek banget. Nggak ada yang salah. Cuma capek.

Dibaca jam sebelas lewat dua.

Tidak dibalas.


Tari tahu.

Tentu saja Tari tahu; Tari selalu tahu, dan sudah tiga tahun aku berhenti mencoba menyembunyikan apa pun darinya.

“Teh.”

“Hm.”

“Teteh masih ngirim?”

“Kadang.”

“Dibales?”

“Nggak.”

Dan Tari, yang berumur dua puluh tiga tahun dan yang menurut sepupunya terlalu banyak bicara, meletakkan guntingnya dan berkata:

“Teh, aku boleh nanya sesuatu yang nyebelin?”

“Boleh.”

“Itu buat dia apa buat Teteh?”

Aku berhenti memotong.

“Kalau buat dia, ya udah lanjut,” katanya. “Tapi kalau buat Teteh—kalau Teteh ngirim supaya Teteh ngerasa masih nyambung sama sesuatu—“

Dia berhenti.

“Itu beda, Teh.”

Dan aku duduk di belakang meja kasir dengan gunting di tangan dan menyadari bahwa aku tidak tahu jawabannya.

Aku benar-benar tidak tahu.

Dan aku menghabiskan tiga hari berikutnya memikirkan itu, dan pada hari ketiga aku memutuskan sesuatu.


Aku mengirim yang kelima tanggal dua puluh delapan November.

Dan yang ini berbeda dari empat sebelumnya, karena yang ini punya tenggat.

Bukan tenggat untuknya.

Aditya, aku bakal berhenti ngirim.

Bukan karena marah. Aku nggak marah, beneran.

Tapi aku baru sadar aku ngirim ini setengahnya buat kamu dan setengahnya buat aku sendiri, dan yang setengah buat aku sendiri itu nggak sehat. Aku jadi punya kebiasaan ngasih kabar ke orang yang nggak ada. Itu bikin aku nggak bisa pindah dan nggak bisa tinggal.

Jadi ini yang terakhir.

Aku nggak nutup pintunya. Aku cuma berhenti ngetuk.

Kalau suatu hari kamu mau dateng, dateng aja. Aku di Cikutra, jam sembilan sampai delapan, tiap hari kecuali Minggu setelah jam dua.

Kamu tahu kursinya di mana.

Aku membacanya empat kali.

Dan aku mengirimnya jam sembilan malam tanggal dua puluh delapan November, dan aku mematikan ponselku, dan aku menutup toko, dan aku pulang.

Dan aku menangis di kamar kos selama mungkin dua puluh menit dan lalu tidur, dan bangun jam enam, dan membuka toko jam sembilan.


Dia membacanya jam sepuluh lewat empat belas malam itu.

Aku tahu karena aku mengecek keesokan paginya.

Dan tidak dibalas.

Dan aku menutup ponselnya dan menyiram rak teras dan melayani pelanggan pertama, dan Desember masuk, dan hujan mulai turun setiap sore jam empat dengan ketepatan yang membuat orang bisa menyetel jam.