Chapter Twenty Seven
Dua Hari di Jakarta
POV: Clara
Aku berangkat hari Selasa pagi dengan kereta jam tujuh.
Aditya mengantarku ke stasiun. Dia sampai di kosku jam setengah enam, empat puluh menit lebih awal dari yang dibutuhkan, dengan alasan bahwa jalan Bandung pagi hari tidak bisa diprediksi.
Jalan Bandung jam setengah enam pagi sangat bisa diprediksi.
Kami sampai di stasiun jam enam kurang dan duduk di mobil selama dua puluh menit.
“Kamu bawa jaket?”
“Bawa.”
“Jakarta panas, tapi keretanya dingin.”
“Aditya, aku pernah naik kereta.”
“Iya.” Dia memegang setir dengan dua tangan meskipun mesinnya mati. “Aku tahu.”
Dan kami duduk di sana beberapa saat lagi.
“Dua hari,” kataku.
“Iya.”
“Rabu malem aku pulang.”
“Iya.”
“Kamu jemput?”
Dia menoleh.
“Ya iyalah.”
Dan aku menciumnya di parkiran Stasiun Bandung jam enam kurang lima pagi, dan lalu aku turun dan mengangkat tasku dan berjalan masuk, dan waktu aku menoleh di depan pintu, mobilnya masih di sana.
Masih di sana waktu keretanya berangkat, kupikir. Aku tidak bisa melihat dari peron.
Tapi aku cukup mengenalnya sekarang untuk tahu.
Studio Bu Ratna ada di Kemang, di bangunan tiga lantai yang dulunya rumah.
Aku tahu itu bagus dari trotoar.
Bukan bagus dalam arti mewah. Bagus dalam arti benar—ada bak cuci besar di halaman samping dengan saluran yang dibuat khusus, ada dua kulkas industrial di lantai dasar, ada rak logam sepanjang dinding yang jaraknya diatur sesuai tinggi ember, bukan sesuai selera arsitek.
Orang yang mendesain tempat itu pernah bekerja di tempat yang salah desainnya.
“Clara!”
Bu Ratna sama sekali tidak berubah. Rambut pendek, celana kerja, sepatu bot karet di dalam ruangan.
“Bu.”
“Astaga, kamu makin tinggi.”
“Saya udah dua puluh delapan, Bu.”
“Ya orang tinggi terus tumbuh, saya nggak tahu.”
Dan dia memelukku, dan langsung menarik lenganku ke belakang untuk menunjukkan cold room, dan aku belum sempat meletakkan tas.
Dua hari itu bagus.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena akan lebih mudah kalau tidak bagus.
Aku ikut dua acara. Yang pertama gala dinner korporat di hotel di Sudirman, tiga ratus tamu, empat puluh meja, tim delapan orang bekerja dari jam sebelas malam sampai jam lima pagi.
Aku belum pernah melihat pekerjaan sebesar itu.
Dan yang membuat sesuatu di dadaku bergetar bukan skalanya. Yang membuatku bergetar adalah bahwa semuanya berjalan.
Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang panik. Ada satu momen di mana kiriman hydrangea kurang delapan tangkai, dan seseorang bernama Yudi mengecek papan di dinding, menelepon satu nomor, dan empat puluh menit kemudian delapan tangkai itu datang dari studio lain di Cipete yang punya perjanjian saling tukar.
Sistem.
Aku menghabiskan empat tahun menjadi sistem itu sendirian di dalam kepalaku.
“Gimana?” tanya Bu Ratna di mobil, jam enam pagi, dengan kopi kaleng dari minimarket.
“Bagus banget, Bu.”
“Bagusnya di mana?”
Dan aku, yang belum tidur dua puluh tiga jam, bilang yang sebenarnya:
“Bagusnya di Yudi nggak perlu nanya ke Ibu.”
Bu Ratna tertawa sampai harus menepi.
Acara kedua wedding di Menteng.
Lebih kecil, lebih cantik, dan di tengah pemasangan aku menemukan diriku berjongkok di samping tumpukan ember memotong batang dengan sudut empat puluh lima derajat sambil bercanda dengan dua orang yang baru kukenal enam jam.
Aku senang.
Itu juga harus kucatat. Aku senang, sungguhan, dengan cara yang sudah lama tidak kurasakan di pekerjaanku sendiri.
Karena di Sukaluyu, aku senang di sekitar sepuluh persen waktuku. Sembilan puluh persennya aku menghitung, mengejar, menagih, menunda, dan berdiri di belakang meja kasir memikirkan bulan depan.
Di sini, orang lain yang menghitung.
Aku cuma memotong batang.
Bu Ratna bicara serius hari Rabu sore, di kantornya di lantai dua, dengan kipas angin yang berputar terlalu keras.
“Saya nggak akan basa-basi, Clara. Saya butuh orang.”
“Iya, Bu.”
“Bukan butuh tangan. Tangan gampang.” Dia menyandarkan punggungnya. “Saya butuh orang yang bisa lihat barang hidup dan tahu dia mau apa. Itu nggak bisa diajarin.”
Aku diam.
“Kamu tahu berapa banyak orang yang bisa bikin rangkaian bagus?” lanjutnya. “Banyak. Ada di YouTube. Yang nggak banyak itu orang yang megang tanaman terus tahu dia bakal bertahan sampe jam berapa.”
“Bu—“
“Angkanya udah saya kirim.” Dia mengangkat tangan. “Itu bukan gaji. Itu pembagian. Tahun pertama kamu mungkin dapet lebih kecil dari angka itu karena investasi awal. Tahun ketiga kamu dapet dua kali lipat.”
Aku menatap mejanya.
“Bu, saya baru tanda tangan kontrak ruko baru.”
“Saya tahu.”
“Ibu tahu?”
“Saya nanya ke Pak Endang.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Pak Endang di pasar bunga Bandung?”
“Saya kenal Pak Endang lima belas tahun, Clara.” Bu Ratna mengibaskan tangan. “Siapa lagi yang tahu semua orang di Bandung.”
Dan lalu, dengan nada yang berubah:
“Dia cerita banyak soal kamu.”
“Cerita apa?”
“Dia cerita empat tahun lalu ada anak yang nggak bisa bayar dua bulan berturut-turut dan tetep dateng ke kiosnya tiap minggu buat bilang belum bisa bayar.” Bu Ratna menatapku. “Bukan buat ngutang lagi. Cuma buat bilang belum bisa.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Dia bilang itu yang bikin dia nggak pernah nagih.” Dia mengangkat bahu. “Katanya orang yang berani dateng buat bilang belum bisa itu jarang.”
Aku tidak menjawab tawarannya hari itu.
Bu Ratna tidak memaksa. Dia bilang aku punya waktu sampai akhir Januari, karena tim baru mulai bulan April dan dia butuh dua bulan untuk mengurus yang lain kalau aku menolak.
Dua bulan.
“Clara.”
“Iya, Bu?”
Aku sudah di ambang pintu dengan tas di bahu.
“Saya mau bilang satu hal dan ini bukan bagian dari tawaran.” Dia melepas kacamatanya. “Kamu nggak harus ambil ini.”
“Bu—“
“Saya serius. Saya udah lima belas tahun ngerekrut orang dan saya udah cukup sering ngerusak hidup orang dengan tawaran yang bagus.” Dia meletakkan kacamatanya di meja. “Toko kecil di Bandung itu bukan kegagalan. Saya yang dulu bilang jangan berhenti di toko, dan saya masih agak percaya itu, tapi saya juga udah lima belas tahun nggak pernah motong batang sendiri.”
Dia tersenyum.
“Saya kangen motong batang, Clara.”
Keretanya jam enam sore. Sampai Bandung jam sembilan lewat.
Aku duduk di kereta selama tiga jam dengan tas di pangkuan dan tidak membuka ponsel sekali pun.
Dan di suatu tempat setelah Purwakarta, dengan gelap di luar jendela dan lampu kabin yang terlalu terang, aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk sangat tegak.
Aku tidak sedang memutuskan antara dua pekerjaan.
Itu bagian yang kupikir sedang kulakukan selama sepuluh hari terakhir. Aku membuat kolom. Aku menghitung. Aku menimbang studio Kemang dengan cold room dan sistem dan Yudi yang tidak perlu bertanya, melawan ruko empat meter kali delapan di Cikutra yang lantainya kuning di sela-selanya.
Dan kalau itu memang perbandingannya, jawabannya sudah jelas sejak paragraf keempat email itu.
Tapi bukan itu perbandingannya.
Karena aku tidak pernah sekali pun, dalam sepuluh hari, membayangkan Jakarta tanpa membayangkan siapa yang tidak ada di sana.
Dan itu bukan hal yang boleh jadi dasar keputusan.
Aku sudah dua puluh delapan tahun dan aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa perempuan yang menolak pekerjaan terbaik dalam hidupnya karena seorang laki-laki akan bangun suatu pagi di tahun kelima dan menghitung ulang.
Dan aku juga tahu—dan ini yang membuatku duduk tegak di kursi kereta—bahwa perempuan yang mengambil pekerjaan itu untuk membuktikan bahwa dia bukan perempuan yang seperti itu juga sedang membuat keputusan berdasarkan laki-laki.
Cuma dengan tanda minus.
Dia ada di peron.
Bukan di parkiran. Di peron, di dalam, di ujung dekat pintu keluar, dengan kedua tangan di saku jaket dan wajah orang yang sudah berdiri di sana sejak jam delapan.
“Kamu masuk?”
“Tiket peronnya sepuluh ribu.”
“Kamu nunggu dari kapan?”
“Setengah sembilan.”
“Keretanya jam sembilan lewat.”
“Iya,” katanya. “Kereta suka lebih cepet.”
Kereta tidak pernah lebih cepat.
Aku menjatuhkan tasku di lantai peron dan memeluknya, dan dia memelukku balik dengan kekuatan yang membuat kakiku hampir terangkat, dan kami berdiri seperti itu di Stasiun Bandung jam sembilan lewat dua puluh malam sampai ada bapak-bapak yang harus lewat dan berdehem.
Kami tidak langsung pulang.
Ada tukang bubur di seberang stasiun yang buka sampai tengah malam, dan kami makan di sana, di meja plastik di trotoar, dengan tas ranselku di kursi ketiga.
“Gimana?”
“Bagus, Aditya.”
“Bagus gimana?”
Dan aku menceritakan semuanya.
Cold room. Rak yang jaraknya diatur sesuai tinggi ember. Yudi yang mengecek papan dan menelepon satu nomor. Gala dinner tiga ratus tamu. Wedding di Menteng di mana aku berjongkok di samping ember memotong batang dan senang.
Aku bercerita selama mungkin dua puluh menit tanpa berhenti.
Dan Aditya mendengarkan, dan sesekali bertanya sesuatu yang tepat, dan tidak sekali pun mengubah topik.
Waktu aku selesai, dia berkata:
“Kamu senyum terus dari tadi.”
“Iya.”
“Aku udah lama nggak lihat kamu ngomongin kerjaan sambil senyum.”
Aku meletakkan sendokku.
“Aditya.”
“Hm.”
“Kamu tahu apa yang aku sadarin di kereta?”
“Apa?”
Dan aku memandang mangkuk bubur yang sudah setengah dingin dan berkata:
“Bahwa aku nggak bisa mutusin ini sendirian, dan aku juga nggak boleh mutusin ini berdua.”
Dia tidak berkata apa-apa.
“Kalau aku mutusin sendirian, aku bohong,” lanjutku. “Karena kamu ada di semua hitungan aku, tiap kolom. Nggak mungkin aku pura-pura nggak.”
“Iya.”
“Tapi kalau aku mutusin berdua, dan lima tahun lagi ternyata salah—“ Aku mengangkat wajahku. “Aku bakal jadi orang yang nyalahin kamu. Dan aku nggak mau jadi orang itu.”
Aditya memutar gelasnya beberapa kali.
Lalu dia berkata: “Ra, kamu inget waktu kamu bilang soal kalau kamu nanya, itu jadi punya kamu?”
“Inget.”
“Ini kebalikannya.”
Aku mengerutkan kening.
“Kalau aku minta kamu tinggal, itu jadi punya aku,” katanya. “Dan kamu bakal bawa itu terus. Tiap kali ada yang nggak enak, itu ada di ruangan.”
“Iya.”
“Tapi kalau aku nggak ngomong apa-apa,” lanjutnya, “kamu bakal mutusin sambil nggak tahu satu hal yang paling penting.”
“Hal apa?”
Dan dia meletakkan gelasnya dan menatapku.
“Bahwa aku pengen kamu tinggal,” katanya.
Ada bunyi motor lewat. Tukang buburnya sedang mencuci mangkuk di ember.
“Aku nggak minta,” katanya. “Ini bukan permintaan. Aku cuma ngasih tahu satu data yang kamu butuhin buat ngitung, dan kamu boleh masukin ke kolom mana pun kamu mau, atau kamu buang.”
Aku menatapnya.
“Itu curang,” kataku.
“Iya.”
“Itu curang banget, Aditya.”
“Aku tahu.” Dia tersenyum, dan senyumnya lambat dan tidak dinyalakan. “Tiga bulan lalu aku nggak bakal bisa ngomong gitu.”
Dan aku duduk di meja plastik di trotoar depan Stasiun Bandung jam setengah sebelas malam dan menyadari bahwa dia benar.
Tiga bulan lalu, laki-laki ini akan bilang aku dukung apa pun keputusan kamu dengan wajah yang sempurna, dan pulang, dan mengecat pagar yang tidak perlu dicat sampai jam tiga pagi.
Dia mengantarku pulang jam sebelas.
Di depan gerbang kos, aku tidak turun.
“Aditya.”
“Hm.”
“Aku nggak mau pulang.”
Dia menoleh.
Dan aku menatap gerbang kos yang sudah empat tahun kumasuki setiap malam, dan lampu koridor yang selalu menyala setengah, dan kamar dengan langit-langit yang catnya retak di sudut.
“Aku dua hari di Jakarta,” kataku. “Dan tiap malem aku bangun jam tiga dan nggak tahu aku di mana.”
Dia tidak berkata apa-apa.
“Aku nggak mau pulang ke kamar yang gelap terus mikirin ini sendirian lagi,” kataku. “Aku udah sepuluh hari mikirin ini sendirian.”
Ada jeda yang panjang sekali.
Dan lalu Aditya berkata, sangat pelan:
“Ra, kalau kamu ikut aku—“
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Aku tahu,” kataku. “Aku dua puluh delapan tahun, Aditya.”
Dia memegang setir dengan dua tangan.
Dan aku duduk di kursi penumpang dan menunggu, dan tidak mengambil apa pun kembali, dan membiarkan kalimat itu berdiri sendiri di dalam mobil di depan gerbang kosku.
Lalu dia menyalakan mesin.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta reading
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu