Chapter Fifty One
Yang Aku Minta
POV: Clara
Aku tahu ada sesuatu dari bulan Desember.
Bukan karena dia berubah. Justru sebaliknya—dia tidak berubah sama sekali, dan itu yang membuatku curiga, karena laki-laki ini punya cara tertentu untuk tidak berubah waktu dia sedang membawa sesuatu.
Tangannya diam terlalu lama.
Itu tandanya. Dulu tandanya adalah tangan yang tidak bisa diam; sekarang, setelah setahun setengah, tandanya kebalikan. Kalau dia sedang menyimpan sesuatu, tangannya jadi terlalu tenang, seperti orang yang sedang berhati-hati agar tidak menjatuhkan gelas yang tidak dia pegang.
Aku menghitung sampai hari kesebelas.
Dan pada hari kesebelas, tanggal dua puluh dua Desember, aku bertanya.
“Aditya.”
“Hm.”
“Kamu nyimpen sesuatu.”
Dia meletakkan guntingnya.
Dan dia tidak menyangkal, dan dia tidak membuat lelucon, dan dia tidak berdiri untuk mengecek apa pun.
“Iya,” katanya.
“Udah berapa lama?”
“Empat bulan.”
Aku mengangkat alis.
“Aturan nomor satu bilang tiga hari.”
“Aku tahu.”
“Aditya—“
“Ra, aku ngelanggar,” katanya. “Aku ngelanggar aturan nomor satu selama empat bulan dan aku tahu persis apa yang aku lakuin tiap hari.”
Dan dia mengangkat kepalanya.
“Dan aku minta maaf,” katanya. “Beneran minta maaf, bukan yang refleks. Aku salah.”
Aku memegang guntingku.
“Terus?”
“Terus aku mau bilang sekarang.”
“Bukan di sini,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau di sini, kamu bakal ngerasa harus jawab, dan di belakang kamu ada rak yang harus disiram, dan Tari bakal keluar dalam empat menit.”
Aku menoleh ke pintu.
Tari keluar dalam tiga menit empat puluh detik dengan alasan yang tidak masuk akal tentang ember.
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung, Ra.”
Dan aku duduk di kursi plastik hijau dan menyadari bahwa dadaku berdetak dengan cara yang tidak masuk akal untuk seseorang berumur dua puluh sembilan tahun yang sudah tahu persis apa yang sedang terjadi.
“Kapan?”
“Malam Natal.”
“Kenapa Natal?”
Dan Aditya berkata: “Karena kamu Natalan, dan aku nggak, dan itu artinya kamu bakal ada di Cirebon.”
Aku mengerutkan kening.
“Terus gimana?”
“Ya makanya aku nanya sekarang,” katanya. “Kamu jadi ke Cirebon?”
“Jadi. Tanggal dua puluh tiga.”
“Oke.” Dia mengangguk. “Berarti sebelum tanggal dua puluh tiga.”
“Aditya.”
“Iya?”
“Sekarang tanggal dua puluh dua.”
Dan dia menatapku, dan wajahnya berubah, dan dia berkata—dengan nada orang yang baru saja melihat kesalahan di kolom spreadsheet:
“Oh.”
Kami tutup toko jam delapan.
Dan aku sudah tahu, dan dia tahu aku sudah tahu, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutnya selama dua jam terakhir.
Tari pulang jam enam sambil menatap kami berdua dengan wajah yang jelas berisi teori.
Jam delapan lewat, kami berdiri di teras dengan rolling door sudah turun.
“Ra.”
“Hm.”
“Ini bukan tempat yang aku rencanain.”
“Aku tahu.”
“Aku punya rencana. Rencananya bagus.” Dia memasukkan tangan ke saku jaketnya. “Ada tiga versi.”
“Tiga?”
“Bu Ratih bilang aku harus punya satu, tapi aku bikin tiga.”
Dan aku tertawa, dan aku menyadari di tengah tawa itu bahwa aku mulai menangis, dan aku belum tahu apa-apa.
“Ra, aku mau nanya sesuatu.”
“Iya.”
“Sebentar.”
Dan dia berdiri di teras toko bunga di Jalan Cikutra jam delapan lewat sepuluh malam tanggal dua puluh dua Desember dan menarik napas dengan cara yang membuat seluruh tubuhku ikut menahan napas.
“Aku mau ngomong dua hal dulu,” katanya. “Terus aku nanya. Boleh?”
“Boleh.”
“Yang pertama.”
Dia mengeluarkan tangannya dari saku. Kosong.
“Aku nggak sembuh,” katanya.
Aku memegang tanganku sendiri.
“Aku masih ngitung. Aku masih bangun jam tiga. Bulan lalu aku bilang besok ke Bu Yuli soal antena dan aku baru inget hari Kamis dan aku duduk di garasi satu jam.”
Dia menelan.
“Dan aku masih ke Bu Ratih tiap Rabu, dan mungkin aku bakal ke sana bertahun-tahun lagi, dan aku nggak tahu apakah ada titik di mana ini selesai.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Jadi aku nggak bisa janji aku bakal jadi orang yang gampang,” katanya. “Aku bisa janji aku bakal ngerjain. Itu aja yang aku punya.”
“Yang kedua.”
Dan suaranya berubah.
“Ra, aku nggak nanya ini buat nambal apa pun.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Aku udah mikirin ini empat bulan, dan tiga bulan pertama aku mikirin apakah aku nanya karena aku sayang kamu atau karena aku takut kamu pergi.” Dia menggeleng. “Karena itu dua hal yang beda banget, dan aku udah lima setengah tahun jago banget nyamarin yang kedua jadi yang pertama.”
“Terus hasilnya?”
Dan Aditya berkata:
“Bulan November aku ngebayangin kamu pergi.”
Aku menutup mataku.
“Aku ngebayangin kamu ambil Jakarta, atau kamu ketemu orang lain, atau kamu cuma capek dan kamu pergi.” Suaranya rata. “Aku ngebayangin itu selama dua minggu, tiap malam, sampe Bu Ratih nyuruh aku berhenti karena itu nggak sehat.”
“Terus?”
“Terus aku nyadar aku tetep pengen nikahin kamu di semua versi itu,” katanya. “Termasuk yang kamu pergi.”
Aku membuka mataku.
“Yang mana nggak masuk akal secara logika,” katanya, “karena kalau kamu pergi, ya nggak ada yang bisa dinikahin. Tapi perasaannya tetep ada di sana. Terus aku ngerti.”
“Ngerti apa?”
Dan dia berkata: “Bahwa itu bukan takut. Kalau itu takut, dia bakal ilang di versi di mana kamu udah pergi.”
Dan lalu dia berlutut.
Bukan dramatis. Dia berlutut dengan cara yang sudah kulihat ratusan kali dalam setahun setengah—cara orang yang selalu menurunkan tingginya sampai sejajar, di depan anak enam tahun, di depan kursi plastik, di depan pot tanaman.
Dan dia mengeluarkan kotaknya dari saku celana.
“Ra.”
“Aditya—“
“Sebentar. Aku belum nanya.”
Dan aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
“Aku cinta kamu,” katanya.
Aku menangis dengan cara yang sangat jelek di teras tokoku sendiri.
“Aku belum pernah bilang itu,” katanya, dan suaranya mulai tidak stabil. “Setahun setengah. Aku bilang sayang bulan Maret tahun lalu dan aku nggak pernah naik dari situ.”
Dia memegang kotak itu dengan dua tangan.
“Dan bukan karena aku nggak. Aku udah dari lama, Ra. Aku udah dari malam hujan itu, mungkin. Aku nggak tahu.”
Dia menarik napas.
“Aku nggak bilang karena kata itu cuma aku pakai sekali seumur hidup, buat satu orang, dan orang itu meninggal,” katanya. “Dan aku pikir kalau aku pakai lagi, artinya yang pertama jadi lebih kecil.”
Aku menggeleng dan tidak bisa bicara.
“Dan bulan lalu aku ngerti bahwa itu nggak gitu cara kerjanya,” katanya. “Bu Ratih yang bilang. Dia bilang: Pak, cinta itu bukan kuota.”
Dia tertawa satu embusan.
“Aku marah dua hari.”
“Terus?”
“Terus dia bener.”
Dan dia membuka kotaknya.
Cincinnya sederhana. Emas putih, tanpa batu besar, dengan satu titik kecil yang bahkan tidak berkilau di bawah lampu jalan.
“Ini bukan yang mahal,” katanya. “Aku bisa beli yang mahal. Aku sengaja nggak.”
“Kenapa?”
Dan Aditya berkata: “Karena aku takut kalau aku beli yang mahal, aku lagi bayar sesuatu.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan menangis di teras toko bunga jam delapan lewat lima belas malam.
“Ra.”
“Iya.”
“Aku belum nanya.”
“Aku tahu.”
“Boleh aku nanya sekarang?”
Dan aku mengangkat wajahku dan berkata: “Boleh.”
“Clara Evangelista.”
“Iya.”
“Kamu mau nikah sama aku?”
Dan aku berdiri di teras tokoku sendiri, di ruko bekas fotokopi yang lantainya kuning di sela-selanya, di sebelah dua kursi plastik hijau dengan satu kaki yang lebih pendek dan tulisan nama warung yang sudah pudar—
Dan aku berkata: “Iya.”
Dan lalu, karena ada hal yang harus kukatakan dan karena kalau tidak kukatakan sekarang aku tidak akan pernah mengatakannya dengan benar:
“Aditya, berdiri dulu.”
Dia berdiri.
Dan aku memegang kedua sisi wajahnya dengan tanganku.
“Aku cinta kamu,” kataku.
Dia menutup matanya.
“Aku udah cinta kamu dari lama,” kataku. “Dan aku juga nggak pernah bilang, dan alasan aku beda dari alasan kamu.”
“Apa alasannya?”
Dan aku menatap wajahnya di bawah lampu jalan yang oranye dan berkata:
“Karena aku takut kamu nganggep itu tagihan.”
Sesuatu di wajahnya bergerak.
“Setahun setengah aku nahan satu kata karena aku takut kamu bakal ngitung berapa yang harus kamu bayar,” kataku. “Dan itu bukan salah kamu. Itu keputusan aku, dan aku yang nanggung, dan aku baru sadar bulan lalu bahwa aku juga lagi nyimpen sesuatu selama setahun setengah.”
Aku menggeleng.
“Kita berdua ngelanggar aturan nomor satu, Aditya.”
Dan dia tertawa—basah, pecah, dengan mata yang tertutup dan tanganku masih di sisi wajahnya.
“Iya,” katanya.
“Jadi sekarang aku bilang.” Aku menempelkan dahiku ke dahinya. “Aku cinta kamu. Bukan buat dibales. Bukan buat dibayar. Kamu nggak ngutang apa-apa.”
Dan aku merasakan tangannya naik ke pergelangan tanganku dan menahannya di sana.
“Boleh, kok,” bisikku.
Dan dia menangis di teras toko bunga di Jalan Cikutra jam delapan lewat dua puluh malam tanggal dua puluh dua Desember, dengan kotak cincin yang masih terbuka di tangannya.
Cincinnya kekecilan.
Aku ingin mencatat itu karena kami menghabiskan empat puluh menit berikutnya mencoba memasangnya dan gagal, dan karena Aditya menyalahkan dirinya sendiri selama tiga menit sampai aku menyuruhnya berhenti.
“Kamu ngukurnya dari mana?”
“Dari cincin kamu yang di laci.”
“Aditya, itu cincin kelingking.”
“Oh.”
“Itu punya nenek aku.”
“Oh.”
Dan dia duduk di kursi plastik hijau dengan kotak di tangan dan wajah orang yang baru saja gagal ujian, dan aku duduk di kursi sebelahnya dan tertawa sampai perutku sakit.
“Ini bisa disesuaikan,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Tokonya buka besok jam sepuluh.”
“Aditya.”
“Iya?”
Dan aku memegang tangannya.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dan dia menoleh ke arahku.
Dan dia berkata—dan aku tahu, dari nadanya, bahwa dia sedang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh untuk pertama kalinya dalam seluruh hidupnya:
“Iya. Nggak apa-apa.”
Aku menelepon Kak Rendy dari kos jam sebelas malam.
Dia mengangkat di deringan kedua.
“Ra? Kenapa?”
“Kak.”
“Kamu nangis?”
“Iya.”
“Ra—“
“Kak, aku dilamar.”
Dan ada hening di seberang selama sekitar empat detik.
Lalu aku mendengar bunyi kasur, dan suara Wina bertanya sesuatu, dan Kak Rendy berkata—jauh dari mikrofon, dengan suara yang tidak dia sadari terdengar:
“Adikku dilamar.”
Dan aku duduk di lantai kamar kos dengan ponsel di telinga dan menangis untuk kesekian kalinya malam itu, karena aku sudah pernah mendengar kalimat dengan bentuk yang persis sama dua bulan lalu, diceritakan oleh istrinya di teras tokoku, tentang jam empat pagi.
Aku memberi tahu Tari besok paginya.
Dia sedang membuka rolling door waktu aku sampai, dan aku belum sempat turun dari motor waktu dia berteriak dari teras:
“TEH CLARA TANGAN TETEH KOSONG.”
“Tari—“
“AKU LIHAT DARI KEMARIN MALEM MAS ADITYA ANEH BANGET—“
“Tari, cincinnya kekecilan.”
Dan Tari berhenti.
Dan wajahnya berubah pelan-pelan, dari bingung ke mengerti ke sesuatu yang lain.
“Jadi—“
“Iya.”
“TEH.”
Dan dia menjatuhkan kunci rolling door di lantai teras dan memelukku di depan toko jam sembilan pagi, dan dia menangis jauh lebih keras dari yang kulakukan semalam.
“Tari.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Kamu nangis.”
“Ini karena aku belum sarapan,” katanya, ke bahuku.
Dan aku memeluk karyawanku yang berumur dua puluh empat tahun di depan toko bunga di Jalan Cikutra, dan di seberang jalan warung kopi mulai buka, dan hari itu hari Selasa biasa di bulan Desember.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta reading
- 52 Yang Tak Pernah Layu