← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Thirty Eight

Yang Tersisa

POV: Aditya


Ini yang kupelajari dalam tiga bulan pertama: pulih dan pulang ke posisi semula itu dua hal yang sangat berbeda, dan yang kedua jauh lebih mudah.

Aku pulang ke posisi semula dalam waktu sebelas hari.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Hari pertama sampai hari keempat, aku tidak bisa apa-apa. Aku bekerja dua jam sehari dan sisanya duduk. Hari kelima aku membetulkan pagar tetangga blok B yang engselnya turun. Hari ketujuh aku mengganti seluruh lampu koridor komplek dengan LED atas biaya kas RT, yang butuh dua hari dan tangga dan izin dari Pak RT yang bingung kenapa aku begitu bersemangat.

Hari kesebelas aku sudah punya bentuk lagi.

Bangun jam lima. Kerja empat jam. Keliling komplek. Cari yang rusak. Betulkan. Makan mi instan sambil berdiri. Tidur jam satu.

Dan hari Minggu, pintu putih itu.

Sistemnya masih ada di sana, seperti yang kuduga, dengan seluruh alatnya masih tertancap di stopkontak sejak dulu.

Aku cuma perlu menyalakannya kembali.


Yang tidak kuduga adalah bahwa kali ini sistemnya tidak bekerja.

Lima tahun pertama, sistem itu bekerja dengan sangat baik. Aku menyibukkan diri dan hari-hari lewat dan pada suatu titik aku menyadari bahwa sudah tiga tahun.

Kali ini tidak begitu.

Aku membetulkan hal-hal dan hari-hari tidak lewat. Aku mengganti lampu koridor dan pulang dan duduk di ruang tamu dan masih jam delapan malam. Aku mengecat pagar dan selesai jam empat sore dan tidak tahu harus apa dengan enam jam berikutnya.

Butuh waktu sebelum aku mengerti kenapa.

Karena lima tahun pertama, aku tidak tahu apa yang ada di sisi lain.

Aku tidak tahu bahwa ada versi hari Kamis yang isinya duduk di kursi plastik tanpa melakukan apa-apa. Aku tidak tahu bahwa ada versi rumah ini yang isinya dua piring. Aku tidak tahu bahwa ada versi diriku yang bisa tertawa tanpa mengecek dulu apakah tawanya sudah pantas.

Sekarang aku tahu.

Dan pengetahuan itu tidak bisa dikembalikan.


Bu Yuli tahu di minggu kedua.

Dia tidak bertanya. Bu Yuli tidak pernah bertanya—itu satu-satunya hal yang konsisten tentang dia selama lima setengah tahun.

Yang dia lakukan adalah mengirim makanan.

Setiap hari. Selama sembilan hari berturut-turut.

Hari kesepuluh aku menghadangnya di pagar.

“Bu.”

“Iya, Mas Adit?”

“Ibu nggak usah repot-repot.”

“Repot apa. Ibu masak banyak.”

“Bu Yuli masak buat dua orang.”

Dan Bu Yuli berdiri di depan pagarnya dengan piring di tangan dan menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Mas Adit,” katanya.

“Iya.”

“Ibu udah lima setengah tahun ngirim makanan ke rumah Mas.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Nggak tiap hari,” katanya. “Tapi tiap kali Ibu ngerasa perlu.”

Dia menyodorkan piringnya.

“Dan tiap kali, besoknya Mas Adit bawa galon, atau benerin sesuatu, atau nganterin Ibu ke pasar.” Dia tidak melepas piringnya. “Ibu nggak pernah minta itu, Mas.”

“Bu—“

“Ibu tuh cuma pengen masakan Ibu dimakan.”

Dan dia meletakkan piring itu di tanganku dan masuk ke rumahnya dan menutup pintu.

Aku berdiri di depan pagar dengan piring di tangan selama beberapa saat.

Malamnya aku memakannya. Seluruhnya.

Dan aku tidak membawa galon besoknya, dan itu adalah salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan, dan tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa itu terjadi.


Kayla gendongannya dilepas akhir April.

Aku tahu karena aku ada di sana. Aku mengantar mereka ke rumah sakit—aku menawarkan, dan ibunya menerima, dan aku menyetir di lima puluh delapan kilometer per jam sepanjang jalan.

Dokternya bilang penyembuhannya bagus. Anak umur enam tahun tulangnya menyambung cepat.

Kayla keluar dari ruang periksa sambil menggerak-gerakkan lengan kirinya seperti orang yang baru menemukan bahwa lengan itu miliknya.

“Om Adit! Lihat!”

“Wih.”

“Aku bisa gini.” Dia mengangkat lengannya ke atas kepala. “Sakit dikit.”

“Ya jangan dipaksa.”

“Boleh sepedaan lagi?”

“Kata dokter dua minggu lagi.”

“Om ikut?”

Dan aku berjongkok di lorong rumah sakit dan bilang iya.

Dan dua minggu kemudian aku ikut.

Aku berjalan di sebelah sepeda birunya menyusuri jalan komplek sampai ujung turunan blok C, dan di situ aku berhenti dan bilang bahwa Om tunggu di sini.

“Kenapa?”

“Om males lari.”

“Om bisa lari.”

“Om tua.”

“Om nggak tua.”

Dan Kayla turun sendirian dengan rem yang gigitnya di dua per sepuluh perjalanan tuas, dan berhenti dengan sangat rapi di ujung bawah, dan berbalik dan melambaikan tangan.

Aku berdiri di puncak turunan itu dan melambaikan tangan kembali.

Dan lalu aku berjalan pulang dan duduk di garasi selama satu jam.


Ini yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, dan yang akan kutulis di sini karena tidak ada gunanya berbohong pada halaman.

Aku memikirkannya setiap hari.

Bukan sesekali. Setiap hari, berkali-kali, dengan cara yang begitu detail sampai aku mulai takut pada diriku sendiri.

Aku tahu jam berapa dia membuka rolling door. Aku tahu jam berapa dia menyiram rak teras. Aku tahu bahwa hari Selasa pengiriman datang dan bahwa hari Kamis biasanya paling sepi.

Aku tahu semuanya dan aku tidak melakukan apa pun dengan pengetahuan itu.

Tiga kali aku menyetir lewat Cikutra.

Tiga kali, dalam tiga bulan, dan setiap kali aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu jalan yang paling masuk akal ke tempat yang kutuju, dan setiap kali itu bohong, dan setiap kali aku memperlambat tanpa sadar di dua ratus meter sebelum toko dan mempercepat lagi setelah lewat.

Sekali aku melihat Tari di teras.

Sekali aku melihat rak teras sudah dikeluarkan tapi tidak melihat siapa-siapa.

Dan sekali—satu kali, di bulan Juni, hari Kamis sore—aku melihatnya di perempatan.

Dia di motor, jalur seberang. Aku empat mobil dari lampu.

Aku tidak menoleh.

Aku duduk di mobilku selama empat puluh detik dengan tangan di setir dan tidak menoleh sekali pun, dan waktu lampunya hijau aku jalan, dan di dua ratus meter berikutnya aku harus menepi di depan bengkel motor dan menunggu sampai tanganku berhenti bergetar.


Bram berhenti mengajak futsal di bulan Juni.

Itu bukan pertengkaran. Kami tidak pernah bertengkar; itu bukan bentuk yang tersedia di antara kami.

Yang terjadi adalah dia mengajak enam kali dalam delapan minggu dan aku menolak enam kali dengan alasan yang semuanya benar, dan pada minggu kesembilan dia tidak mengajak lagi.

Dia masih mengirim pesan. Foto anaknya. Meme yang tidak lucu.

Aku masih membalas.

Tapi ada sesuatu yang berhenti, dan kami berdua tahu apa, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutnya.

Aku menghitung berapa lama dia akan bertahan.

Itu yang paling buruk dari semuanya: aku duduk di ruang tamu pada suatu malam di bulan Juli dan aku benar-benar menghitung, dengan angka, berapa lama lagi Bram akan bertahan sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya.

Dan angka yang kudapat adalah dua tahun.

Dan yang membuatku berdiri dan berjalan ke dapur dan berdiri di depan wastafel dengan kedua tangan di pinggirannya bukan angkanya.

Yang membuatku berdiri adalah bahwa bagian dari diriku merasa lega tentang angka itu.

Dua tahun lagi, dan tidak ada lagi yang tersisa yang bisa hilang.


Sarah menelepon tanggal empat Agustus.

Aku melihat namanya di layar dan aku mengangkatnya di deringan kedua, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri di bulan Februari bahwa aku tidak akan pernah lagi membiarkan namanya berdering sampai habis.

Itu satu-satunya janji yang masih kupegang.

“Sar.”

“Mas.”

“Kenapa?”

Ada jeda yang panjang.

“Mas, Ibu pindah bulan depan,” katanya. “Ke rumah aku. Rumah Cimahi mau dikontrakin.”

“Oh.” Aku duduk. “Butuh bantuan?”

“Nggak—maksudnya, iya, nanti. Bukan itu yang mau aku omongin.”

“Terus?”

Dan Sarah berkata: “Aku lagi beresin gudang.”

Sesuatu di dadaku turun.

“Mas.”

“Iya.”

“Aku nemu HP Naya.”


Aku tidak berkata apa-apa selama mungkin sepuluh detik.

“Mas?”

“Iya. Aku denger.”

“Yang lama. Yang biru.” Suaranya hati-hati sekali. “Ada di kardus yang isinya barang-barang dari kamar dia. Yang Mas kasih ke Ibu tahun pertama.”

Aku ingat kardus itu.

Aku ingat mengepaknya. Aku ingat bahwa aku melakukannya dalam waktu empat jam pada suatu Sabtu di bulan Januari tahun pertama, dan bahwa aku memasukkan semuanya tanpa melihat satu per satu, dan bahwa aku mengantarnya ke Cimahi hari itu juga karena kalau aku menunggu sampai besok aku tidak akan sanggup.

“Terus?” kataku.

“Aku charge.”

Aku menutup mataku.

“Sar—“

“Mas, aku nggak buka apa-apa.” Cepat, terlalu cepat, dengan nada orang yang sudah menyiapkan kalimat ini. “Sumpah. Aku cuma nyalain buat ngecek masih hidup apa nggak, terus kebuka layar kuncinya karena nggak dipassword, terus aku matiin lagi.”

“Oke.”

“Tapi aku lihat satu hal sebelum aku matiin,” katanya.

Ada bunyi anaknya di belakang. Sarah menjauh dari sana; aku bisa mendengar langkahnya, dan pintu yang ditutup.

“Mas.”

“Iya.”

“Ada chat aku sama Naya,” katanya. “Yang terakhir sebelum kejadian.”

Aku memegang meja dengan tangan yang bebas.

“Aku nggak baca semuanya,” katanya. “Aku baca empat baris terus aku taruh HP-nya di meja dan aku nangis empat puluh menit dan aku belum nyentuh lagi sampai sekarang.”

“Sar—“

“Mas, aku mau kasih HP-nya ke Mas.”

Hening.

“Nggak,” kataku.

“Mas.”

“Nggak, Sar.”

“Aku bawa besok.”

“Sarah, aku bilang nggak.”

Dan Sarah, yang lima tahun setengah menyediakan pintu keluar di ujung setiap kalimat yang dia ucapkan padaku, berkata:

“Aku bawa besok, Mas. Jam sepuluh.”

Dan dia menutup teleponnya.


Aku duduk di ruang tamu sampai jam dua pagi.

Aku tidak menyalakan lampu.

Dan yang terus berputar di kepalaku bukan isi HP itu, karena aku tidak tahu isinya dan tidak bisa membayangkannya.

Yang terus berputar adalah empat baris.

Sarah membaca empat baris dan menangis empat puluh menit.

Aku sudah cukup lama mengenal Sarah untuk tahu bahwa dia bukan orang yang menangis empat puluh menit karena kesedihan biasa. Dia menangis dua puluh detik dan marah pada dirinya sendiri, persis seperti Tari, persis seperti semua orang yang pernah kukenal yang belajar dari orang yang salah.

Empat puluh menit berarti sesuatu yang lain.

Empat puluh menit berarti sesuatu yang mengubah bentuk.

Dan aku duduk di ruang tamuku sendiri jam dua pagi di bulan Agustus dan menyadari bahwa aku takut.

Bukan takut membaca sesuatu yang menyakitkan.

Aku sudah lima setengah tahun hidup dengan hal yang paling menyakitkan; aku tahu bentuknya, aku tahu beratnya, aku sudah membangun seluruh rumah ini di sekitarnya.

Aku takut membaca sesuatu yang tidak muat di dalamnya.

Aku takut ada empat baris di dalam ponsel biru itu yang tidak bisa kumasukkan ke tempat mana pun di dalam bangunan yang sudah kubangun.

Karena kalau bangunannya tidak muat, bangunannya harus dibongkar.

Dan aku sudah lima setengah tahun tinggal di dalamnya.